Posts from the ‘18-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2018’ Category

BELAJAR DARI PENGALAMAN YAKOBUS DAN YOHANES

BELAJAR DARI PENGALAMAN YAKOBUS DAN YOHANES

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Rabu, 28 Februari 2018) 

Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan, “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Mereka akan menyerahkan dia kepada bangsa-bangsa lain, supaya diolok-olokkan, dicambuk dan disalibkan, tetapi pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.”

Kemudian datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus, “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya, “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum? Kata mereka kepada-Nya, “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka, “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang yang baginya Bapa-Ku telah menyediakannya.” Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata, “Kamu tahu bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa bertindak sebagai tuan atas rakyatnya, dan para pembesarnya bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mat 20:17-28) 

Bacaan Pertama: Yer 18:18-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:5-6,14-16 

Dalam perjuangan kita masing-masing untuk hidup sebagai seorang Kristiani yang bukan sekadar di KTP, sering kali kita harus berurusan dengan sikap dan perilaku mementingkan diri sendiri. Semoga cerita mengenai dua bersaudara anak-anak Zebedeus, Yakobus dan Yohanes, dapat memberikan pelajaran dan pengharapan bagi kita semua. Kedua orang ini adalah contoh sempurna dari orang-orang yang mengalami pertempuran berkesinambungan antara kodrat manusia yang cenderung buruk dan kodrat baru yang tersedia bagi setiap orang dalam Yesus.

Yakobus dan Yohanes adalah murid-murid terdekat Yesus. Mereka telah banyak berkorban untuk mengikuti Yesus, karena ayah mereka Zebedeus kelihatannya adalah nelayan cukup berada. Tetapi untuk pengorbanan-pengorbanan mereka itu Allah memberi ganjaran yang sepadan. Mereka tidak hanya diberi privilese untuk menjadi saksi dari mukjizat-mukjizat Yesus, melainkan juga  kemuliaan-Nya di atas gunung (lihat Mat 17:1-8). Sudah cukup lama dua kakak-beradik ini bergaul akrab dengan Yesus, namun tokh mereka masih datang dengan permintaan yang “nggak-nggak”, aneh dan terdengar agak kurang-ajar tentunya, apalagi dengan memanfaatkan juga bantuan (pengaruh?) Nyonya Zebedeus, mungkin agar hati Yesus menjadi lunak. Menghadapi sikap dan perilaku murid-murid seperti ini, kebanyakan guru tentunya akan merasa frustrasi atau marah besar. Tidak demikian halnya dengan sang Guru! Yesus tidak marah, malah Ia menggunakan kesempatan ini untuk mengajar para murid tentang jalan menuju keagungan yang sejati (lihat Mat 20:25-28).

Yakobus dan Yohanes telah terjebak dalam pemikiran dan sikap yang berpusat pada kepentingan diri sendiri, namun puji Tuhan, hal ini hanya berlangsung tidak untuk waktu yang lama (Bagaimana dengan kita?). Kita tahu bahwa dua kakak beradik ini terus berfungsi sebagai pilar-pilar Gereja. Kita semua harus belajar dari mereka! Walaupun kita telah “keluar rel”’, Allah bekerja dalam diri kita masing-masing untuk memisahkan daging dari roh – dosa dari kebenaran – di dalam diri kita. Dia tahu benar tentang segala dosa kita, namun tetap mengasihi kita dan terus mengajar kita, presis seperti Dia tetap setia bersama Yakobus dan Yohanes.

Allah ingin menunjukkan kepada kita segala dosa kita sehingga kita akan semakin teguh berpegang pada-Nya. Allah dapat membebaskan kita dari segala sesuatu yang menghalang-halangi kita untuk dekat dengan Dia. Yang diminta-Nya dari diri kita masing-masing adalah agar meninggalkan kedosaan kita dan berbalik datang kepada-Nya dalam kepercayaan dan ketaatan. Dari pengalaman kita masing-masing, tentunya kita dapat mengatakan bahwa permintaan-Nya ini sungguh tidak mudah untuk dilaksanakan. Yesus menawarkan kepada kita “cawan” sama dengan yang telah ditawarkan-Nya kepada Yakobus dan Yohanes (Mat 20:22). Ini adalah sebuah cawan penderitaan, pada saat yang sama “cawan berkat”. Selagi kita minum dari cawan ini, kita akan mengetahui manfaat-manfaat penuh yang kita nikmati sebagai anak-anak Allah. Kita akan mengenal Bapa surgawi secara akrab seperti Yesus mengenal secara akrab Bapa-Nya, walaupun selagi kita melihat dengan lebih jelas dosa-dosa kita dan segala pemberontakan kita terhadap Dia. Marilah kita membuka hati kita masing-masing dan memperkenankan Yesus untuk mengungkapkan dosa-dosa kita sehingga kita dapat dipenuhi dengan rahmat dan kasih-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat mengalami kasih-Mu setiap hari. Aku membawa semua dosaku ke hadapan hadirat-Mu agar Engkau dapat memurnikan aku dan mengajar aku untuk mengikuti jejak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 20:17-28), bacalah tulisan yang berjudul “MENYEDIAKAN WAKTU UNTUK MENDENGARKAN YESUS” (bacaan tanggal 28-2-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-3-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

YESUS INGIN AGAR KITA MEMILIKI KERENDAHAN HATI

YESUS INGIN AGAR KITA MEMILIKI KERENDAHAN HATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Selasa, 27 Februari 2018)

Lalu berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksudkan untuk dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terbaik di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil orang ‘Rabi.’  Tetapi kamu, janganlah kamu disebut ‘Rabi’; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Janganlah kamu menyebut siapa pun ‘bapak’ di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga. Janganlah kamu disebut pemimpin, karena hanya satu pemimpinmu, yaitu Mesias. Siapa saja yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Mat 23:1-12) 

Bacaan Pertama: Yes 1:10,16-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:8-9,16-17,21,23

Mengapa Yesus kelihatan sedemikian “sewot” dengan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang selalu saja menentangnya dan dengan menggunakan berbagai cara ingin menjebak serta menjatuhkan-Nya? Apakah kecemburuan dan iri hati mereka itu disebabkan karena Yesus ingin mengubah hal-hal yang “tidak pas” dalam masyarakat Yahudi, teristimewa yang berhubungan dengan adat-istiadat dan praktek keagamaan mereka? Atau, apakah karena mereka adalah contoh dari para religius ultra-konservatif, yang terus mau berpegang pada ide-ide “Perjanjian Lama” yang sudah “kuno”? Samasekali bukan! Justru karena orang-orang inilah yang memegang peranan penting dalam masyarakat, maka Yesus menegur mereka dengan keras sekali! Kepada mereka dipercayakan Hukum Musa, batu penjuru bagi Israel sebagai bangsa dan umat. Mereka telah membaktikan seluruh hidup mereka untuk itu, dan rakyat memandang mereka sebagai orang-orang yang sungguh memahami tradisi suci Israel.

Namun sungguh sayang sekali, para ahli Taurat dan Farisi ini telah salah jalan dalam mengemban tugas mereka. Barangkali kekuasaan telah membutakan mata mereka sehingga berpikir bahwa mereka superior ketimbang orang-orang lain. Barangkali para ahli Taurat dan Farisi itu tidak melihat bahwa mereka sebenarnya telah mulai menempatkan posisi mereka yang terhormat sebagai “yang lebih utama” daripada tanggung jawab mereka untuk melayani umat Allah. Yesus tidak bermaksud memojokkan mereka karena mereka mengajar Hukum Taurat, melainkan karena kehidupan mereka sama sekali tidak mencerminkan kerendahan hati yang justru coba diajarkan oleh Hukum Taurat.

Hampir semua yang diajarkan Yesus berkisar pada hal-ikhwal kerendahan hati. Dia ingin agar para murid-Nya (termasuk kita sekarang) memahami betapa pentingnya menjadi jujur di hadapan Allah. Seperti unta yang tidak dapat melewati pintu gerbang kota, kita juga tidak akan bisa masuk ke dalam kerajaan-Nya, kalau kita tidak menolak “kekayaan” berupa “kesombongan” atau “kebanggaan palsu” kita (lihat Mat 19:24). Kalau kita tidak mengakui kelemahan-kelemahan dan dosa-dosa kita, maka kita pun akan berjalan dalam kegelapan rohani (Mat 6:23), dan kita tidak akan mampu menolong para saudari dan saudara kita yang patut ditolong (lihat Mat 7:5).

Alasan sesungguhnya mengapa Yesus sangat menginginkan kita menjadi rendah hati adalah karena kita juga penting! Ia mempunyai suatu pekerjaan penting untuk kita lakukan. Rasul Paulus menulis, “Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula melalui Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya” (Ef 1:5), sehingga ……“boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya” (Ef 1:12). Apabila kita merangkul kerendahan-hati Yesus, maka kita akan mencerminkan rahmat-Nya dan menjadi bejana-bejana kuasa-Nya. Apabila kita memuji-muji dan menyembah Yesus dengan ketulusan hati, maka Dia pun akan memenuhi diri kita dengan cintakasih-Nya dan akan menarik orang-orang kepada-Nya melalui diri kita. Ganjaran terbesar bagi kita bukanlah memperoleh pengakuan dunia, melainkan untuk “duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa” (Mzm 91:1), untuk mengenal dan mengalami cintakasih-Nya, serta mensyeringkan cintakasih-Nya itu dengan orang-orang lain.

DOA: Tuhan Yesus, aku datang ke hadapan hadirat-Mu sebagai apa adanya diriku, tidak sebagaimana orang-orang lain memandang diriku. Tolonglah aku untuk mengenali serta mengakui kebesaran-Mu, sehingga Engkau menjadi semakin besar, tetapi aku menjadi semakin kecil. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 23:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “SEGEROMBOLAN ORANG-ORANG MUNAFIK” (bacaan tanggal 27-2-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-3-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

AJARAN YESUS ADALAH AGAR KITA MENCONTOH SIFAT ALLAH YANG PENUH DENGAN KEMURAHAN HATI

AJARAN YESUS ADALAH AGAR KITA MENCONTOH SIFAT ALLAH YANG PENUH DENGAN KEMURAHAN HATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Senin, 26 Februari 2018)

“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati.”

“Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: Suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam pangkuanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”  (Luk 6:36-38) 

Bacaan Pertama: Dan 9:4b-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 79:8-9,11,13 

Sepintas lalu kelihatan di sini bahwa Yesus sepertinya memberikan sebuah daftar yang berisikan sederetan hal-hal apa saja yang harus kita lakukan atau tidak boleh kita lakukan (do’s and don’ts). Hendaklah kamu berbela rasa … bermurah hati, jangan menghakimi, jangan menghukum. Karena ajaran-ajaran Yesus seringkali termasuk larangan-larangan terhadap perilaku yang merusak, maka tidak mengherankanlah apabila Yesus sering dipandang tidak lebih dari seorang guru moral. Namun orang-orang yang melihat secara lebih mendalam akan melihat bahwa pusat ajaran Yesus bukanlah perilaku manusia. Ajaran-Nya adalah agar para murid-Nya (umat Kristiani) mencontoh sifat Allah yang penuh dengan kemurahan hati.

Apabila kita hendak bermurah hati sama seperti Bapa bermurah hati, kita harus mengetahui  dan mengenal terlebih dahulu kemurahan hati Allah itu seperti apa. Mempraktekkan kemurahan hati yang mengabaikan aspek kesalahan dan tanpa menghiraukan rasa keadilan sungguh berbeda dengan kemurahan hati Allah. Memang kemurahan hati dicirikan oleh bela rasa dan sikap dan perilkau memaafkan orang-orang lain, namun hal ini tak berarti tidak adanya penghakiman bagi para pendosa. Kalau demikian halnya, maka kematian Yesus di kayu salib merupakan kesia-siaan belaka.

Allah adalah “penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (Mzm 103:8), akan tetapi hal ini tidak berarti bahwa Dia menutup mata terhadap ketidakadilan yang terjadi. Itulah sebabnya mengapa Dia mengutus Putera-Nya guna menanggung hukuman adil yang pantas bagi kita. Setiap tipu-menipu, setiap pemikiran jahat dan cabul, setiap pembunuhan, setiap kebencian dll. – hukuman untuk setiap dosa itu ditaruh di atas punggung Yesus selagi bergumul dalam taman Getsemani, pada waktu Dia memanggul salib sampai ke bukit Kalvari, dan kemudian tergantung di kayu salib. Hanya orang-orang yang mengakui dosa-dosa mereka dengan cara ini sampai pada pengenalan akan kemurahan hati penuh kelembutan dari Yesus. Dialah yang akan membuang kesalahan mereka dan membersihkan hati nurani mereka.

Allah ingin memberikan kepada kita banyak karunia (anugerah)-Nya. Apakah kita mengalami berkat-berkat ini dalam “takaran yang baik” (lihat Luk 6:38)? Melalui Yesus, Allah ingin mencurahkan kekuatan, konsolasi dan dorongan positif kepada kita semua dari takhta-Nya. Allah ingin melakukan itu lebih daripada yang kita sering harapkan sendiri. Sebenarnya apa yang kita harapkan? Kadang-kadang kita dapat membuat kabur pengalaman kita sendiri akan kemurahan hati Allah, karena kita masih belum bertobat sepenuhnya.

Kalau kita merasa haus dan lapar akan karunia-karunia dari Allah, kita harus memeriksa hati kita. Apakah masih ada dosa yang belum di bawa ke dalam suatu pengakuan yang serius. Apakah kita tidak memiliki bela rasa terhadap sesama? Apakah kita masih cepat dalam menghakimi dan menghukum orang lain? Apakah nafsu-nafsu, kebencian-kebencian atau kebohongan-kebohongan masih menjadi bagian dari pola hidup kita?

Marilah kita bergegas menghadap Bapa surgawi. Dengan rendah hati kita mohon pertolongan-Nya agar kita dapat menerima karunia-karunia-Nya dalam “takaran yang baik”.

DOA: Bapa surgawi, kasihanilah aku orang berdosa ini. Ajarlah aku bagaimana mengasihi orang lain seperti Engkau mengasihi. Ajarlah aku untuk dapat menunjukkan kepada orang-orang lain bela rasa-Mu. Aku mohon kepada-Mu agar hidupku dapat dipenuhi dengan kebaikan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Dan 9:4b-10) bacalah tulisan yang berjudul “MARILAH KITA BELAJAR DARI DANIEL” (bacaan tanggal 13-3-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-3-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TUJUAN AKHIR KITA BUKANLAH UNTUK MATI

TUJUAN AKHIR KITA BUKANLAH UNTUK MATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH II [Tahun B] – 25 Februari 201

Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaian-Nya sangat putih berkilauan. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat memutihkan pakaian seperti itu. Lalu tampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus. Kata Petrus kepada Yesus, “Rabi, alangkah baiknya kita berada di tempat ini. Biarlah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan. Lalu datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, dengarkanlah Dia.” Tiba-tiba sewaktu memandang sekeliling, mereka tidak melihat seorang pun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri.

Pada waktu turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka tidak menceritakan kepada siapa pun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati. Mereka memegang pesan itu sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan “bangkit dari antara orang mati”. (Mrk 9:2-10) 

Bacaan Pertama: Kej 22:1-2,9a,10-13,15-18; Mazmur Tanggapan: 116:10,15-19; Bacaan Kedua: Rm 8:31b-34 

Ketiga rasul “lingkaran dalam” Yesus ini mengalami suatu penglihatan yang luarbiasa. Yesus, sahabat dan Guru mereka, terlihat sedang berdiri di depan mereka dalam kemuliaan ilahi, dan Ia didampingi oleh dua orang pahlawan terbesar bangsa Israel, yaitu Musa dan Elia. Tidak begitu mengherankanlah kalau dalam situasi seperi itu Petrus menjadi tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

Hanya satu pekan sebelum peristiwa transfigurasi yang penuh kemuliaan ini terjadi, Yesus memberitahukan untuk pertama kalinya bahwa Dia harus pergi ke Yerusalem dan di sana menanggung banyak penderitaan dari para pemuka agama Israel, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari  (lihat Mrk 8:31). Sekarang Yesus mengajak ketiga orang rasul-Nya yang paling dekat untuk naik ke atas gunung dan memberikan kepada mereka bertiga kesempatan mencicipi alasan mengapa Dia harus menanggung penderitaan sedemikian. Untuk sekejab saja Yesus menunjukkan kepada mereka bagaimana kemanusiaan-Nya akan terlihat setelah ditransformasikan dalam kemuliaan.

Sebagai orang-orang yang berjuang menghayati hidup Injili secara radikal seturut teladan St. Fransiskus dari Assisi, kita cenderung untuk memfokuskan diri pada upaya melakukan pertobatan, puasa, doa, pemberian derma dan sejenisnya. Kita mencoba mengkontemplasikan “Sang Tersalib” sesering mungkin. Kita berbicara mengenai “memikul salib kita” atau “mati terhadap kedosaan manusia kita”. Akan tetapi, sebagaimana Petrus, Yakobus dan Yohanes, yang melihat kemuliaan Yesus sebelum mereka mengalami salib-Nya dan salib mereka sendiri, maka kita pun perlu juga mengarahkan pandangan kita ke surga “di atas sana” agar dapat melihat pancaran cahaya Yesus yang bangkit dalam kemenangan dan ditransformasikan dalam kemuliaan.

Allah ingin agar kita merasa yakin, bahwa tujuan akhir kita bukanlah untuk mati, melainkan untuk hidup! Kita tidak eksis untuk sekadar menjalani hidup  pertobatan, melainkan juga untuk hidup dengan Yesus dalam suatu ikatan kasih yang tak terpatahkan! Melalui transfigurasi-Nya, Yesus ingin memberikan kepada kita pandangan secara sekilas lintas tentang transfigurasi kita di masa depan, ketika kita akan hidup bersama-Nya dalam kemuliaan, tidak lagi di bawah beban dosa, melainkan ditinggikan oleh Roh Kudus.

Saudari-Saudara terkasih, selagi kita mendengarkan pembacaan Kitab Suci dalam Misa Kudus hari ini, baiklah kita memejamkan mata. Bayangkan diri kita bersama ketiga rasul di atas gunung itu. Biarlah Roh Kudus menunjukkan kemuliaan Yesus kepada kita. Marilah membayangkan apa yang dibicarakan Yesus dengan Musa dan Elia di atas gunung itu. Apakah Yesus sendiri menarik kekuatan dari pengalaman transfigurasi-Nya untuk hari-hari terakhir-Nya di atas bumi? Marilah sekarang kita bertanya kepada Yesus bagaimana seharusnya kita menjaga mata hati  kita agar tetap fokus pada kemuliaan yang dijanjikan-Nya, bukan pada segala kesulitan hari ini. Perkenankanlah Allah untuk syering dengan kita pemikiran surgawi apa saja yang Ia akan masukkan ke dalam pikiran dan hati kita masing-masing. Biarlah kebangkitan-Nya memberdayakan kita pada hari ini.

DOA: Segala kemuliaan dan pujian bagi-Mu, ya Yesus! Semoga kebangkitan-Mu senantiasa memberdayakan kami. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mrk 9:2-10), bacalah tulisan yang berjudul “TRANSFIGURASI PENUH KEMULIAAN DI ATAS GUNUNG YANG TINGGI” (bacaan tanggal 25-2-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-3-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 Februari  2018

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AGAR KITA DAPAT MENCERMINKAN KASIH ALLAH KEPADA MUSUH-MUSUH KITA

AGAR KITA DAPAT MENCERMINKAN KASIH ALLAH KEPADA MUSUH-MUSUH KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Sabtu, 24 Februari 2018)

Kamu telah mendengar yang difirmankan, Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu: Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari  bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.” (Mat 5:43-48) 

Bacaan Pertama: Ul 26:16-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1-2,4-5,7-8  

Dari berbagai perintah Yesus yang keras-keras, kiranya perintah untuk mengasihi musuh inilah perintah paling keras dan sulit yang harus kita laksanakan. Berapa banyak dari kita telah mendengar perintah Yesus ini memandangnya sebagai “terlalu idealistis”? Berapa banyak dari kita yang telah mendengar sabda Yesus ini dan merasa bersalah karena ketidakmampuan kita selama ini untuk setia pada perintah itu. Biar bagaimana pun, siapakah yang dapat sungguh mengasihi secara sempurna?

Kasih yang sempurna itu murah hati dan konstan. Karena didirikan di atas suatu komitmen interior (yang bersifat batiniah), maka kasih yang sempurna tidak berubah berdasarkan tindakan-tindakan orang yang kita kasihi. Mengasihi musuh-musuh kita juga bukan merupakan hasil dari kalkulasi cost and benefit seperti halnya rata-rata keputusan bisnis. Kalau kita sungguh mengasihi mereka, maka bukan berarti ada jaminan bahwa musuh-musuh kita kemudian menjadi kawan kita.

Tujuan utama dari “mengasihi musuh-musuh” adalah agar kita dapat mencerminkan kasih Allah kepada mereka. Tindakan kita tersebut kita membantu melembutkan hati mereka terhadap Allah. Allah ingin agar kita memandang musuh-musuh kita seperti Dia memandang mereka. Mereka adalah orang-orang yang dikasihi Allah seperti kita juga; orang-orang yang membutuhkan belas kasih Allah, seperti kita juga.

“Kasih sempurna” adalah kasih Allah yang ditunjukkan oleh-Nya pada waktu Dia mengutus Putera-Nya untuk menyelamatkan kita, meskipun kita masih menjadi musuh-musuh-Nya (lihat Rm 5:8-10). Sebagai anak-anak Allah sekarang kita turut serta dalam hidup ilahi-Nya. Ini adalah sumber “kasih sempurna”. Inilah yang akan memampukan kita untuk mengasihi musuh-musuh kita. Yesus tahu bahwa tidak mungkinlah mengasihi musuh kita berdasarkan sumber daya manusiawi yang terpisah dari Allah. Kita hanya dapat mengasihi seperti Yesus sendiri mengasihi, serta juga menanggapi rahmat yang mengalir dari kematian dan kebangkitan-Nya.

Semakin besar kita bertumbuh dalam kesatuan dengan Kristus, semakin besar pula kita akan mencerminkan “kasih sempurna”-Nya kepada setiap orang dalam kehidupan kita – baik musuh-musuh maupun kawan-kawan. Kasih Yesus yang “lebar” akan mengatasi kasih kita yang “sempit”. Hati-Nya yang lemah lembut akan mengalahkan hati kita yang keras. Sebagai akibatnya, kita akan mengalami sukacita besar ketika kita menyadari bahwa kita mengasihi orang-orang melebihi kemampuan alami kita sendiri.

DOA: Roh Kudus Allah, bukalah mataku agar dapat memandang orang-orang lain dengan kasih, dengan kasih mana Yesus sendiri memandang mereka. Perbaikilah kesempitan pandanganku dengan visi Yesus yang jelas mengenai kasih yang kekal-abadi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:43-48), bacalah tulisan yang berjudul “KITA TIDAK AKAN MAMPU MENGASIHI MUSUH KITA APABILA KITA HANYA MENGANDALKAN KEKUATAN KITA SENDIRI” (bacaan tanggal 24-2-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggL 11-3-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MEMERINTAHKAN KITA UNTUK MENGAMPUNI

YESUS MEMERINTAHKAN KITA UNTUK MENGAMPUNI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Jumat, 23 Februari 2018)

Aku berkata kepadamu: Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu ini jangan menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai habis. (Mat 5:20-26) 

Bacaan Pertama: Yeh 18:21-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 130:1-8 

Ada orang yang mengibaratkan persahabatan itu seperti porselen yang indah. Sungguh sesuatu yang sangat berharga, yang mudah pecah namun sulit diperbaiki. Kita semua mengetahui betapa sulitnya untuk mengampuni seseorang yang telah menyakiti kita,  menjatuhkan kita, katakanlah mendzalimi kita. Di samping luka yang kita derita  karena pengkhianatan sahabat kita, ada juga luka lain yang disebabkan oleh ketidakmampuan kita untuk mengampuni atau tidak adanya kemauan untuk berdamai dari pihak kita sendiri. Pada kenyataannya, dalam beberapa kasus, tidak mau mengampuni dapat menyebabkan luka yang lebih berat daripada tindakan awal orang lain yang membuat kita geram dan marah. Luka-luka kecil kalau dibiarkan saja dapat bertumbuh menjadi luka-luka yang lebih besar, konsekuensinya lebih sukar untuk disembuhkan.

Itulah sebabnya, mengapa Yesus memerintahkan kita untuk mengampuni. Namun pada saat yang sama baiklah kita ketahui bahwa Dia tidak memandang remeh sulitnya mengampuni orang lain yang telah mendzolimi kita. Bagaimana pun juga Yesus sendiri mengalami pengkhianatan dari seorang murid yang sangat dipercayai oleh-Nya. Sulit bagi kita untuk membayangkan bagaimana Hati Yesus meratapi Yudas Iskariot berkaitan dengan pengkhianatan murid yang satu ini. Meskipun Yesus tahu bahwa mengampuni itu sulit, tokh Ia mengajarkan kepada kita untuk mengampuni, untuk berdamai, untuk let go luka-luka lama. Dalam Doa ‘Bapa Kami’ yang diajarkan oleh Yesus sendiri, kita mendengar potongan kalimat seperti berikut: “Ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat 6:12). Doa ‘Bapa Kami’ itu segera disusul oleh dua ayat penting: “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang,  Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mat 6:14-15). Mengakhiri perumpamaan-Nya tentang pengampunan (Mat 18:21-35), Yesus bersabda: “Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu” (Mat 18:35).

Kita tidak dapat berdalih dalam hal pengampunan ini karena perintah Yesus begitu jelas dan gamblang. Terasa  berat memang, suatu tuntutan yang sulit dipenuhi. Dalam hal ini ingatlah belas kasih Yesus kepada kita sepanjang hidup kita. Tuhan Yesus menyediakan ‘segudang’ cintakasih-Nya bagi kita untuk menutupi kekurangan kita dalam hal mengasihi orang lain. Ia sungguh dapat menolong kita manakala hati kita sedang membeku-keras atau mengalami kepahitan dalam hidup ini.

Yesus tahu bahwa mengampuni itu sulit, tidak terjadi secara instan, seringkali bertahap. Bagi-Nya kurang penting apakah kita telah mengampuni setiap orang secara penuh, daripada kita memelihara hati lembut dan mohon kepada-Nya rahmat agar kita semakin lembut hari lepas hari. Dengan demikian, berdamailah dengan saudarI dan saudara kita! Biarlah kasih Kristus memenuhi diri kita masing-masing, sehingga kita dapat memberikan cintakasih dan belas kasih kepada semua orang dalam kehidupan kita.

DOA: Tuhan Yesus, hanya Engkau yang dapat membetulkan hati yang patah dan menyembuhkan jiwa-jiwa yang terluka. Buatlah aku utuh oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu. Berikanlah kepadaku rahmat untuk mengampuni. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:20-26), bacalah tulisan yang berjudul “MARILAH KITA BERPEGANG TEGUH PADA PERSATUAN DAN KESATUAN KRISTIANI” (bacaan tanggal 23-2-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-3-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PETRUS YANG DIPILIH OLEH YESUS

PETRUS YANG DIPILIH OLEH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA TAKHTA SANTO PETRUS, RASUL – Kamis, 22 Februari 2018) 

Gian Lorenzo Bernini’s sculpture behind the main altar in St. Peter’s Basilica is lit by candles on the Feb. 22 feast of the Chair of St. Peter, Apostle in this 2004 file photo. The annual feast day, celebrated since ancient times, marks the role of St. Peter and his successors as head of the church. (CNS photo/courtesy of Fabbrica di San Pietro) (Feb. 3, 2006) See VATICAN-LETTER Feb. 3, 2006.

Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia dan yang lain lagi mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Jawab Simon Petrus, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” (Mat 16:13-19) 

Bacaan Pertama: 1 Ptr 5:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6

Di dekat kota Kaisarea Filipi yang terletak di bagian utara sekali dari Israel, Yesus mengajukan sebuah pertanyaan yang bersifat sangat fundamental kepada para murid-Nya sehubungan pendapat orang tentang diri-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” (Mat 16:13). Pendapat umum tentang Yesus itu sudah tinggi pada saat itu, namun tidak seorang pun mengakui Dia sebagai sang Mesias. Yesus sudah dikait-kaitkan dengan Yohanes Pembaptis dan para nabi besar Perjanjian Lama, a.l. Elia, Yeremia, dll.

Lalu Yesus bertanya  kepada para murid-Nya: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (Mat 16:15). Sekarang giliran para muridlah untuk menjawab apa pendapat mereka sendiri tentang Yesus yang telah mereka ikuti untuk kurun waktu yang cukup lama. Seperti biasanya, Petrus mengambil fungsi sebagai “jubir” para murid (rasul), Petrus menjawab: “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16). Jawaban Petrus ini adalah pengakuan penuh akan Yesus sebagai Mesias – utusan Allah yang sudah lama dinanti-nantikan – dan Anak (Putera) Allah yang hidup – artinya seorang Pribadi yang memiliki relasi intim dan istimewa dengan Allah Bapa dan menyatakan kasih Allah kepada orang-orang di dunia.

Pengakuan Petrus ini mempunyai tempat istimewa dalam Injil Matius. Ayat-ayat Mat 16:17-19 hanya terdapat dalam Injil Matius ini. Pengakuan Petrus ini adalah akibat dari pernyataan dari Allah Bapa sendiri (Mat 16:17), dan Yesus menjanjikan kepada sang pemimpin para rasul ini suatu peranan penting dalam pembentukan komunitas Kristiani yang kita sebut Gereja (Mat 16:18). Yesus akan memberikan kepada Petrus kunci Kerajaan Surga: Apa yang kauikat akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga” (Mat 16:19; suatu kemungkinan alusi dengan Yes 22:15-25). 

Orang biasa mengatakan, bahwa kepada Petrus diberikan kunci-kunci kepada Kerajaan Surga dan otoritas untuk menggembalakan Gereja yang masih muda usia itu. Walaupun begitu, kita tidak boleh mengandaikan bahwa Petrus hanyalah seorang administrator. Petrus juga mewartakan Injil dan bekerja untuk memperkuat gereja-gereja lokal. Yang utama dalam hati Petrus ini adalah keprihatinan pembentukan Tubuh Kristus serta kesejahteraannya.

Yesus mengatakan kepada Petrus bahwa alam maut tidak akan menguasai Gereja (Mat 16:18). Hal ini telah terbukti kebenarannya. Tidak ada satu kekuatan pun, betapa jahat atau gelapnya, yang pernah berhasil menghancurkan Gereja yang didirikan oleh Kristus. Meskipun begitu, Gereja dapat diperlemah, teristimewa apabila umatnya tidak mengenal kebenaran Injil. Apabila hal ini terjadi, maka orang-orang Kristiani tidak dapat menghayati kehidupan yang sudah menjadi warisan mereka. Dan dunia pun mendapat kesan bahwa Allah itu jauh, mungkin hanya sekadar ide abstrak yang tidak atau sedikit saja memiliki nilai praktis.

Bilamana orang-orang tidak mengenal kuasa Injil, maka apa yang dapat mereka lakukan adalah meratapi kondisi dunia; mereka tidak dapat datang dengan solusi. Dengan berbicara mengenai dosa-dosa di dunia namun tidak mampu untuk mencerminkan kemuliaan Kristus, maka kita mencabut dunia dari kepenuhan firman Allah. Dengan memberikan solusi-solusi atas penyakit-penyakit sosial tanpa memproklamasikan kebenaran dan kasih Kristus, kita mencabut orang dari solusi-solusi yang berlaku untuk waktu lama. Gereja dimaksudkan sebagai kehadiran Kristus di dalam dunia. Kita semua dipanggil untuk menjadi Tubuh Kristus hari ini; kita melakukannya dengan mewartakan Injil dan menghayati kehidupan yang saleh dan suci. Oleh karena itu baiklah kita mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus sedemikian sehingga orang-orang memandang Gereja sebagaimana semula diniatkan oleh Allah.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengingatkanku lagi ketika membaca Injil hari ini bahwa Engkau juga mengajukan pertanyaan yang sama kepadaku: “Siapakah Aku ini?” Aku percaya bahwa Engkau adalah Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Utuslah Roh Kudus-Mu untuk bekerja di dalam hatiku dan mengubah diriku seperti Engkau telah mengubah Petrus. Bangkitkanlah para pelayan Sabda seperti rasul agung ini, untuk pergi mewartakan Kabar Baik-Mu dan menjadi saksi-saksi dari kuasa-Mu yang mampu mengubah manusia. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 16:13-19), bacalah tulisan yang berjudul “GEREJA KRISTUS DIBANGUN DI ATAS BATU KARANG PENGAKUAN IMAN KRISTUS” (bacaan tanggal 22-2-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-2-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Februari 2018 [HARI MINGGU PRAPASKAH I – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS