Posts from the ‘17-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2017’ Category

ANDREAS DIPANGGIL OLEH YESUS MENJADI SALAH SEORANG MURID-NYA YANG PERTAMA

ANDREAS DIPANGGIL OLEH YESUS MENJADI SALAH SEORANG MURID-NYA YANG PERTAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Andreas, Rasul – Rabu, 30 November 2017) 

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur Danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya dua orang bersaudara yang lain lagi, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu ayahnya, lalu mengikuti Dia. (Mat 4:18-22) 

Bacaan Pertama: Rm 10:9-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Mengapa Andreas bersedia meninggalkan segalanya demi mengikuti Yesus? Bukankah hal tersebut sangat drastis? Apakah Andreas memang seorang “luntang-lantung” yang mempunyai banyak waktu? Bukan, tentunya! Barangkali bisnis-ikannya bersama saudaranya, Simon, cukup baik. Namun ada sesuatu dalam diri Yesus yang mendorong timbulnya hasrat kuat dalam hatinya, dan dia memperkenankan hasrat kuat itu untuk sungguh membakar hatinya.

Bahkan sebelum Andreas bertemu dengan Yesus, Allah telah menyiapkan dirinya. Andreas telah mengikuti Yohanes Pembaptis dan mengikuti panggilan Sang Nabi untuk melakukan pertobatan. Bersama Yohanes Pembaptis, Andreas menantikan kedatangan Dia yang akan membaptis tidak dengan air, melainkan dengan Roh Kudus (Yoh 1:33). Andreas mendengar pewartaan Yesus: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” (Mat 4:17) dan dia juga menyaksikan sendiri Kerajaan ini dalam mukjizat penangkapan ikan dengan jala (Luk 5:4-7). Andreas mengamati relasi pribadi Yesus dengan Allah dan dia juga menyadari bahwa Yesus menyerahkan hidup-Nya bagi siapa saja yang mengikuti jejak-Nya. Yesus menyatakan Kerajaan Surga dengan demikian jelasnya, sehingga ketika dia menceritakan kepada saudaranya Simon tentang Yesus, yang keluar dari mulutnya hanyalah beberapa patah kata penuh makna: “Kami telah menemukan Mesias (artinya Kristus)” (Yoh 1:41). Maka tak mengherankanlah kalau ketika Yesus memanggilnya, Andreas sudah siap untuk meninggalkan segalanya. Tidak hanya hidupnya saja yang berubah, Andreas menjadi seorang penjala manusia dalam arti sesungguhnya. Andreas menanggapi panggilan Yesus secara sangat langsung, dan dia pun menjadi seorang manusia yang baru.

Seperti Andreas, kita juga telah diundang untuk mengikuti Yesus. Kita telah mendengar Injil dan mengalami sentuhan Tuhan. Pertanyaan yang patut kita tanyakan kepada diri kita sendiri adalah, apakah iman kita kepada Yesus menghasilkan suatu perubahan dalam kehidupan kita. Apakah kita menanggapi panggilan Yesus untuk mengikuti Dia dengan melakukan hal-hal praktis, misalnya dengan syering Injil Yesus Kristus dengan orang-orang lain, memperbaiki hubungan yang retak, atau memberikan pelayanan kepada orang-orang yang membutuhkan? Apakah hati kita berkobar-kobar dengan cintakasih kepada Yesus? Siapkah kita mengorbankan diri kita sendiri bagi Kristus dan orang-orang lain?

Dalam masa Adven sebentar lagi kita memiliki banyak peluang atau kesempatan penuh kuasa bagi iman kita untuk menjadi hidup. Selagi kita memberikan diri kita kepada Yesus sepenuh-penuhnya, memakai waktu kita bersama dengan-Nya dalam masa Adven yang suci ini, Dia pun dapat mentransformasikan kita dan membuat kita menjadi suatu ciptaan baru, yang berguna bagi sesama kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku mendengar Engkau memanggilku. Aku ingin menanggapi panggilan-Mu itu, namun aku seorang pribadi yang lemah dan tak pantas. Di sini aku Tuhan! Lakukan apa saja yang Kaukehendaki atas diriku. Utuslah aku ke mana saja sesuai dengan kehendak-Mu. Aku hanya memiliki hasrat untuk mengikuti-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini [Rm 10:9-18],  bacalah  tulisan yang berjudul “ANDREAS: SALAH SEORANG MURID YESUS YANG PERTAMA” (bacaan tanggal 30-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com;  kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-1-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 28 November 2017 [Peringata S. Yakobus dr Marka, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

TETAP BERTAHAN SUPAYA MEMPEROLEH KEHIDUPAN

TETAP BERTAHAN SUPAYA MEMPEROLEH KEHIDUPAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Rabu, 29 November 2017] 

“Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh kehidupan.” (Luk 21:12-19) 

Bacaan Pertama: Dan 5:1-6,13-14,16-17,23-28 ; Mazmur Tanggapan: Dan 3:52-67

“Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh kehidupan.” (Luk 21:19)

Petikan bacaan Injil di atas adalah sebuah nasihat Yesus yang amat baik bagi kita semua. Kita semua kiranya telah mengalami situasi di mana kesabaran kita sungguh diuji. Misalnya, ketika menyetir mobil di pagi hari menuju tempat kerja, kita dipotong/disalib oleh seorang pengendara sepeda motor sehingga nyaris terjadi tabrakan. Contoh lainnya adalah ketika tingkah laku salah seorang anggota keluarga kita menyebabkan seluruh anggota keluarga terlambat menghadiri Misa Kudus pada suatu Minggu pagi. Tanpa mereka sadari, begitu sering anak-anak sungguh menguji kesabaran para orangtua mereka.

Satu area lagi yang membuat kesabaran kita diuji adalah kelemahan-kelemahan dan kegagalan-kegagalan kita sendiri. Kita kelihatan tidak pernah dapat mengatakan hal yang benar pada saat yang tepat, dlsb. Lagi dan lagi kita membuat resolusi untuk bersikap lebih baik dan santun terhadap seseorang, namun lagi dan lagi kita harus mengakui kegagalan kita. Dosa-dosa yang sama, lagi dan lagi.

Satu tes yang cukup berat atas kesabaran kita – tes yang tidak dapat kita kontrol – adalah penyakit. Bagaimana kita menerima suatu pencobaan sedemikian dari Allah atau tragedi-tragedi lainnya, kematian, berbagai kekecewaan? Kita telah bekerja keras tanpa menghasilkan buah apa pun dari kerja kita. Kita menanam benih-benih, namun curah hujan tidak memadai, bahkan dapat terlalu banyak. Kita bekerja keras di perusahaan dan berharap akan memperoleh promosi jabatan, namun karena sikon yang dihadapi perusahaan, kita harus di-PHK. Semua ini adalah tes sesungguhnya atas kesabaran kita. Hal itu tidak merupakan dosa, namun dapat menyeret kita kepada kesalahan-kesalahan seperti kemarahan, kepahitan, menggerutu terhadap Allah, dslb.

Kita juga harus mengingat bahwa menjadi sabar berarti lebih daripada sekadar menanggung sesuatu beban dan bersikap pasif tentang hal itu. Kesabaran adalah kasih (bdk. 1Kor 13:4), dan kasih menuntut tindakan. Hal ini berarti menyapa orang-orang lain dengan “Selamat Pagi” atau “Aku sungguh senang berjumpa lagi dengan kamu” yang keluar dari hati yang tulus, walaupun kita sedang merasa kecewa terhadap orang yang kita sapa karena sesuatu hal.

Marilah kita bayangkan betapa banyaknya konflik dalam sebuah keluarga dapat diselesaikan apabila terdapat kesabaran penuh kasih. Betapa orang-orang di tempat kerja dapat lebih merasa bahagia apabila mereka dapat bekerja bersama dengan sikap sabar satu terhadap lainnya. Betapa lebih bersatu lagi keluarga-keluarga, paroki-paroki dan komunitas-komunitas apabila terdapat keutamaan yang dinamakan kesabaran itu. Tes selanjutnya atas kesabaran kita sudah di ambang pintu. Sudah siapkah kita untuk menghadapinya?

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengingatkan kami bahwa kami harus senantiasa sabar dan penuh ketekunan dalam menghadapi berbagai pencobaan, di mana kesabaran kami diuji. Kami tidak merasa khawatir, ya Tuhan, karena kami percaya bahwa hidup kami berada sepenuhnya di tangan-tangan kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:12-19), bacalah tulisan yang berjudul “PANGGILAN KEPADA KEKUDUSAN” (bacaan tanggal 29-11-17) dalam situs/bloga PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 27 November 2017 [Pesta S. Fransiskus-Antonius Pasani, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TANGGAPAN KITA TERHADAP BERBAGAI NUBUATAN

TANGGAPAN KITA TERHADAP BERBAGAI NUBUATAN TENTANG AKHIR ZAMAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Selasa, 28 November 2017)

Keluarga OFM/OFMConv.: Peringatan S. Yakobus dr Marka, Imam

Ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah, betapa bangunan itu dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai-bagai barang persembahan, berkatalah Yesus, “Apa yang kamu lihat di situ – akan datang harinya ketika tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.”

Lalu mereka bertanya kepada Yesus, “Guru, kapan itu akan terjadi? Apa tandanya, kalau itu akan terjadi?” Jawab-Nya, “Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: ‘Akulah Dia,’ dan: ‘Saatnya sudah dekat.’ Janganlah kamu mengikuti mereka. Apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu takut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.”

Ia berkata kepada mereka, “Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang menakutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit. (Luk 21:5-11)

Bacaan Pertama: Dan 2:31-45; Mazmur Tanggapan: Dan 3:57-61 

“Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan.(Luk 21:5-10)

Bagaimana kita memberi tanggapan terhadap peringatan-peringatan profetis tentang akhir zaman? Apakah peringatan-peringatan itu menimbulkan rasa takut, kecemasan, atau pengharapan dalam diri kita? Orang-orang dalam setiap zaman sedikit-banyak memiliki semacam perasaan yang terkadang “mengganggu”, apakah achir zaman akan terjadi pada masa hidupnya, khususnya pada saat-saat mereka mengalami peristiwa seperti bencana alam yang sangat mengerikan.

Wabah “Maut Hitam” yang telah membunuh sepertiga penduduk benua Eropa di abad ke-14 dan gempa bumi dahsyat di California yang terjadi di awal abad ke-20 adalah beberapa contoh. Seorang suster Amerika turunan Vietnam yang pada tahun 2011 menginap di rumah kami menceritakan betapa dahsyat bencana yang dialaminya di New Orleans ketika badai Katharina mengamuk di sana. Rumah-rumah dalam sekejab saja dihanyutkan dst. Amerika Serikat yang sangat canggih dalam teknologi dan manajemen pencegahan dan penanggulangan bencana alam seakan tak berdaya menghadapi dahsyatnya alam.

Berbagai peperangan dan skala besar maupun kecil masih berlangsung sampai hari ini.

Saudaraku dan kawan sekamarku, seorang Fransiskan sekular dari Rwandha, pada waktu kapitel umum OFS di Brazil pada tahun 2011, bercerita bagaimana saling bunuh antara suku Hutu dan Tutsi berlangsung beberapa tahun silam di negerinya, dan ia adalah “basteran” antara ayah Hutu dan ibu Tutsi. Orang-orang seperti dia harus lari ke sana ke mari bersama keluarganya karena tidak diterima oleh dua suku yang sedang bertarung itu. Genosida yang terjadi di negara kecil itu memakan korban lebih dari satu juta jiwa orang. Dan menurut dia, ceritanya belum selesai sampai pada malam hari kami berdiskusi di Brazil itu. Hal-hal seperti ini menambah rasa takut dan kekhawatiran kita, apalagi ditambah oleh adanya berbagai ancaman terorisme yang berlatar belakang agama dan ancaman perang nuklir yang menghancurkan.

Sebagai umat Kristiani, kita tidak boleh sampai membiarkan rasa takut menguasai diri kita. Rasa takut dan kekhawatiran berlebihan hanya akan mengakibatkan iman mandul. Mereka yang mengenal kasih Bapa surgawi mengetahui dengan pasti bahwa Dia menginginkan semua orang diselamatkan – sehingga karena kasih-Nya itu Dia mengaruniakan Putera-Nya yang tunggal – Yesus Kristus – untuk menyelamatkan dunia (lihat Yoh 3:16). Oleh karena itu kita harus memandang segala bencana alam, bencana yang disebabkan oleh peperangan dlsb. sebagai kesempatan-kesempatan untuk membangunkan kita agar menjadi sadar, keluar dari comfort zone kita masing-masing dan turut ambil bagian dalam memenuhi kebutuhan dunia di sekeliling kita, kebutuhan akan makan-minum, kebutuhan untuk didengarkan, kebutuhan akan damai-sejahtera dalam keluarga dan lingkungan masyarakat.

Marilah kita memperkenankan “tanda-tanda zaman” mendorong kita kepada hidup pertobatan dan doa pengantaraan (syafaat) bagi orang-orang lain. “Kita harus senantiasa siap-siaga menantikan kedatangan kembali Yesus.” Apakah akhir zaman itu terjadi pada esok hari atau seribu tahun yang akan datang, disposisi hati kita selalu harus sama. Pada suatu hari, ketika Santo Fransiskus dari Assisi sedang bekerja merawat kebunnya, ada orang yang bertanya kepadanya apakah yang akan dilakukannya apabila hari akhir itu tiba. Orang kudus ini begitu yakin akan persiapan yang selama ini dikerjakannya dan dia juga sangat yakin akan kerahiman Allah. Maka, dengan sederhana dia menjawab bahwa dia akan melanjutkan pekerjaannya memotong rumput di kebunnya. Keyakinan seperti itu juga dapat menjadi keyakinan kita!

Yesus pasti akan datang kembali dalam kemuliaan-Nya. Kita memang tidak akan mengetahui kapan Ia akan datang kembali, namun kita mengetahui dari Kitab Suci bahwa pengadilan-Nya yang terakhir akan sangat keras atas orang-orang yang tidak mau bertobat dan pada saat yang sama penuh belas kasihan atas orang-orang yang telah bertobat. Melalui Ekaristi dan Sakramen Rekonsiliasi, baiklah kita memperkenankan darah Yesus membersihkan diri kita, mendoakan keluarga kita, teman-teman kita, kota tempat kita tinggal dan bahkan seluruh dunia. Kita tidak usah merasa takut! Sementara kita semakin dekat dengan Yesus – teristimewa pada masa-masa sulit – kita dapat menjadi duta-duta-Nya ke tengah dunia, memperkenalkan dan menawarkan keyakinan sama yang mengisi hati kita.

DOA: Bapa surgawi, aku menyesal, bertobat dan mohon ampun atas dosa-dosaku dan dosa-dosa orang-orang di sekelilingku. Dalam nama Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, datangkanlah kesembuhan, bimbingan dan pengarahan bagi kehidupan kami, sehingga kami semua dapat sungguh siap-siaga dalam menyambut kedatangan-Nya kembali kelak. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:5-11), bacalah tulisan berjudul “SESUNGGUHNYA KITA TIDAK PERNAH TAHU PERIHAL KEDATANGAN HARI ISTIMEWA ITU” (bacaan untuk tanggal 28-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 27 November 2017 [Peringatan S. Fransiskus Antonius Pasani, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEORANG JANDA MISKIN YANG MEMBERI LEBIH BANYAK DARIPADA ORANG-ORANG KAYA

SEORANG JANDA MISKIN YANG MEMBERI LEBIH BANYAK DARIPADA ORANG-ORANG KAYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Senin, 27 November 2017)

OFMConv.: Pesta S. Fransiskus-Antonius Pasani, Imam

 

Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua uang tembaga, ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan seluruh nafkah yang dimilikinya.” (Luk 21:1-4) 

Bacaan Pertama: Dan 1:1-6,8,20; Mazmur Tanggapan: Dan 3:52-56

Untuk memahami apa yang dimaksudkan oleh Yesus di sini, pentinglah bagi kita untuk menyadari betapa kecil nilai dua uang tembaga itu. Uang tembaga itu dikenal dalam bahasa Yunani dengan nama lepta; denominasi terkecil dari uang logam Yunani yang beredar pada waktu itu. Satu dinar (denarius) senilai dengan 128 lepta, upah sehari untuk seorang pekerja. Jadi apa yang dimasukkan sang janda miskin ke dalam peti persembahan itu bernilai 1/64 upah rata-rata sehari seorang pekerja. Hal ini menunjukkan betapa miskin janda itu. Mengapa sampai begitu miskin? Kita tidak tahu jawabnya. Yang diketahui adalah,  bahwa pada zaman Israel kuno, apabila seorang suami mati, warisannya diberikan kepada anak laki-laki tertua dan janda orang yang mati itu dibuat tergantung pada anaknya itu. Seandainya anaknya itu tidak baik atau jatuh miskin, maka susahlah hidup sang janda. Dalam bacaan hari ini, meskipun janda itu begitu miskin, hatinya  senantiasa memadahkan kebaikan dan kasih-setia Allah. Sungguh sebuah kehidupan yang patut diteladani oleh kita semua. Contoh dari seseorang yang sungguh mengenal Allah-nya, Dia telah mengalami kasih-setia Allah dan yakin benar bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkannya. Janda miskin ini mempraktekkan ketergantungannya kepada Allah secara radikal. Hal ini sangat bertentangan dengan sikap orang kaya yang hanya memberi dari kelebihan harta kekayaan mereka.

Kalau dia begitu miskin, mengapa Yesus mengatakan bahwa sang janda miskin telah memberikan lebih banyak daripada semua orang yang lain (beberapa di antaranya orang kaya)? Seperti biasanya, Yesus prihatin bahwa tindakan eksternal seseorang mencerminkan sikap hati orang itu terhadap Allah. Hati sang janda miskin begitu dipenuhi oleh kasih akan Allah sehingga mau mempersembahkan kepada-Nya seluruh nafkah yang dimilikinya. Bagi sang janda miskin, Allah jauh lebih berharga daripada dua keping uang tembaga terakhir yang dimilikinya, semua yang ada antara dirinya dan kelaparan. Perlu juga kita ketahui bahwa Yesus bukan tidak menghargai persembahan orang kaya. Namun, Yesus mengetahui isi hati mereka, dan Ia juga tahu bahwa mereka memberikan persembahan dari kelimpahan kekayaan mereka, sedangkan sang janda miskin memberikan persembahannya dari kekurangannya karena dia sangat mengasihi Allah.

Makna sesungguhnya dari setiap persembahan kita mengalir dari hati kita. Apakah kita mempersembahkan waktu, energi, uang, karena kita mengasihi Allah atau karena dengan memberi kita merasa baik atau kelihatan baik di depan orang-orang lain? Apakah kita memberi persembahan kita kepada Allah hanya dari kelebihan harta kekayaan kita? Ataukah kita seperti sang janda miskin, yang percaya bahwa sungguh pantas dan layak bagi Allah untuk menerima segalanya yang kita miliki?

Allah menciptakan kita bagi diri-Nya sendiri. Karena kasih Bapa kepada dunia, Yesus datang ke dalam dunia untuk menyelamatkannya dengan mati di kayu salib agar kita dapat diampuni dan memperoleh hidup kekal. Roh Kudus telah datang untuk memberikan kepada kita kehidupan baru dan untuk mengajar kita, memimpin kita, dan membimbing kita kepada Bapa surgawi.

Sekarang, marilah kita melihat betapa besar kasih Allah seperti dicerminkan dalam karya Allah Tritunggal dalam kehidupan kita. Setiap hal yang kita butuhkan telah disediakan oleh-Nya. Kalau kita percaya akan Allah, kita tidak perlu ragu-ragu untuk menaruh kepercayaan pada-Nya dan melayani-Nya tanpa reserve.

DOA: Tuhan Yesus, ampunilah aku atas segala jalan yang kutempuh untuk membatasi kasihku dan pelayananku kepada-Mu, dan memberi hanya dari kelimpahanku. Tolonglah aku menjadi seperti sang janda miskin dan memberi persembahanku karena aku mengasihi-Mu. Tidak ada yang kumiliki atau kuhasrati, selain Engkau, ya Tuhanku dan Allahku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:1-4), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBERI DARI KEKURANGANNYA” (bacaan tanggal 27-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabbda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2009) 

Cilandak, 24 November 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KASIH YANG SEJATI

KASIH YANG SEJATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM [TAHUN A] – Minggu, 26 November 2017)

 

“Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari yang lain, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Lalu Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu menjenguk aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Lalu orang-orang benar itu akan menjawab Dia, Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Kapan kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Kapan kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Raja itu akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah disediakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak menjenguk Aku. Lalu mereka pun akan menjawab Dia, Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Ia akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata, segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Orang-orang ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” (Mat 25:31-46) 

Bacaan Pertama: Yeh 34:11-12,15-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-3,5-6; Bacaan Kedua: 1Kor 15:20-26,28

Sebagai umat Kristiani kita seringkali berbicara mengenai kasih, dan hal itu tidaklah salah. Tidak diragukan lagi bahwa kasih bersifat hakiki. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, berbagai tulisan  orang-orang kudus, teologi pada zaman dahulu maupun modern, umat Kristiani maupun bukan, semua setuju tentang keutamaan kasih. Namun orang-orang seringkali berbicara begitu entengnya tentang kasih ini, seakan-akan topic tentang kasih ini sangat sederhana, seakan-akan tidak ada tuntutan-tuntutan selain membuang segalanya yang lain, seakan-akan itu merupakan obat penyembuh segalanya dan langsung.

Kasih adalah memang obat penyembuh segalanya, apabila kasih itu kasih yang sejati. Masalahnya adalah bahwa kita tidak dapat melepaskan diri kita dari pandangan kekanak-kanakan bahwa kasih adalah sekadar masalah emosi sesaat. Pandangan ini dapat dibenarkan dan didukung oleh cerpen-cerpen “romantis” dalam majalah-majalah, film-film, novel-novel, dan apa saja yang menjadi bagian dari sebuah budaya yang tergila-gila pada kenikmatan badani.

Sekarang ada pertanyaan yang harus kita jawab. Bukankah keutamaan atau kebajikan seharusnya menyenangkan? Jawabnya dapat “ya” dan dapat juga “tidak”. Dengan kecenderungan-kecenderungan dari segenap kedagingan manusia, maka kasih sejati dapat menyakitkan dan dapat pula menyenangkan. Tuntutan dari kasih yang sejati banyak menuntut dan terasa menakutkan: pemberian-diri secara total menuntut kesabaran yang luarbiasa, kerendahan hati yang tidak main-main dalam hal keputusan-keputusan yang sulit, dan seringkali dalam mengambil tindakan yang bertentangan dengan hasrat-hasrat kita yang mementingkan diri sendiri.

Tidakkah setiap pasutri pasti mempunyai “catatan” tentang pengalaman selama satu pekan setelah honeymoon? Jika sungguh ada kasih yang sejati dan kebahagiaan yang sesungguhnya, maka salah satu dari pasutri memberikan-dirinya. Tentunya, pemberian-diri menjadi sukacita dari kasih, namun siapakah yang menyangkal bahwa hal itu juga menyakitkan? Perhatian dan minat yang serius atas seorang pribadi yang lain seperti dituntut oleh kasih menyebabkan suatu keprihatin yang mendatangkan kecemasan. Namun hal ini bukanlah kecemburuan atau self-pity, melankan merupakan bentuk penderitaan yang riil. Kasih yang sejati mengalami/merasakan penderitaan yang diderita oleh dia yang kita kasihi.

DOA: Tuhan Yesus, Engkaulah Raja dan Hakim yang akan menghakimi kami masing-masing pada akhir zaman.  Jika kami sungguh menanggapi kasih-Mu dengan saling mengasihi antara kami, sekarang dan di dunia ini, maka kami percaya bahwa kamipun akan menerima berkat dari-Mu seperti ada tertulis dalam Injil: “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan”. Terima kasih, Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:31-46), bacalah tulisan yang berjudul “PENGHAKIMAN TERAKHIR OLEH SANG RAJA” (bacaan tanggal 26-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-11-14  dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 November 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BAGIAN AKHIR BUKU TENTANG KEHIDUPAN SESEORANG

BAGIAN AKHIR BUKU TENTANG KEHIDUPAN SESEORANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Sabtu, 25 November 2017)

OSF Sibolga: Pesta B. Elisabet dr Reute, Pelindung Kongregasi

FSGM: Hari berdiri Kongregasi

Kemudian datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya, “Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seseorang yang mempunyai saudara laki-laki, mati, sedangkan istrinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan istrinya itu dan memberi keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, merekanya semuanya mati tanpa meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristrikan dia.” Jawab Yesus kepada mereka, “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Mereka tidak dapat mati lagi, sebab mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam cerita tentang semak duri, di mana ia menyebut sebagai Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.” Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata, “Guru, jawab-Mu itu tepat sekali.” Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus. (Luk 20:27-40) 

Bacaan Pertama: 1Mak 6:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 9:2-4,6,16b,19

Apakah anda merupakan jenis pribadi yang membeli sebuah buku cerita dan membaca buku itu mulai dengan bab terakhir? Apakah anda adalah jenis pembaca yang berkata, “Saya tidak pernah membaca seluruh isi sebuah buku apabila saya tidak menyukai akhirnya?” Jika demikian halnya, maka ada orang-orang yang mengkritisi anda untuk hal tersebut, namun bagaimana pun juga anda dapat dikatakan cukup bijak.

Yesus kiranya mengatakan kepada kita masing-masing, “Janganlah membuka buku tentang kehidupanmu sebelum merencanakan akhir buku tersebut.”

Marilah kita perhatikan bagaimana Yesus menanggapi cerita dan pertanyaan menjebak dari kaum Saduki yang tidak percaya akan kebangkitan badan itu. Orang-orang Saduki itu seakan mengatakan: “Tuan, kami akan menjebak-Mu. Engkau berbicara mengenai kebangkitan. Oke, namun bagaimana dengan tradisi tua untuk seorang perempuan yang tidak/belum memperoleh anak untuk kawin kembali dengan adik laki-laki dari suaminya bilamana suaminya meninggal dunia?” Ini dikenal sebagai Hukum Levirat! Katakanlah perempuan itu harus kawin dengan tujuh laki-laki bersaudara, maka siapakah suaminya dalam hal kebangkitan?

Yesus seakan menjawab, “Masalahnya dengan kamu semua adalah bahwa kamu tidak memahami akhir buku yang kamu baca. Kamu tidak percaya pada happy-ending dari kehidupan, karena pemikiranmu tentang apa artinya kehidupan itu tidak pernah jernih. Namun Aku menjamin, bahwa apakah kamu memahaminya atau tidak, kebangkitan itu adalah riil. Pada kenyataannya, akhir buku yang penuh kemuliaan itulah yang memberikan arti kepada bagian-bagian lainnya. Tanpa kemenangan itu – kemuliaan kebangkitan – apakah ada kebaikan dalam hal penderitaan sengsara dan kematian? Bukankah bab terakhir merupakan bagian yang paling penting dari cerita kehidupanmu? Bukankah hal itu yang membuat perbedaan bagaimana kamu menghayati hidup dalam cerita bab-bab selebihnya?” Sekian puluh tahun kemudian, Santo Paulus menulis kepada jemaat di Korintus: “Bilamana diberitakan bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? Seandainya tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1Kor 15:12-14).

Marilah kita sadari sepenuhnya, bahwa kita bergabung dengan Yesus Kristus dalam kebangkitan-Nya hanya apabila kita bergabung dengan Yesus dalam segala hal lainnya yang dialami-Nya. Kalau begitu halnya, maka semua penderitaan dan kesedihan dan kesulitan hidup yang kita alami menjadi masuk akal. Tidak hanya itu, semua itu mempunyai makna yang besar-agung, mulia dan berkemenangan. Santo Paulus menulis kepada jemaat di Roma, “Jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya” (Rm 6:5).

Seorang Kristiani yang mengetahui akhir buku tentang kehidupannya dapat hidup berkemenangan bersama Yesus …… mengalahkan Iblis dan roh-roh jahatnya …… dan menjalani hidup sedemikian setiap hari.

DOA: Tuhan Yesus, ingatkanlah aku seringkali tentang apa dan bagaimana gambaran yang ada dalam bab terakhir buku tentang hidupku. Semoga dengan demikian aku dapat merencanakan bagian-bagian lain dari hidupku agar dapat sesuai dengan rencana-Mu atas diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 20:27-40), bacalah tulisan yang berjudul “PILIHAN-PILIHAN DAPAT MENYAKITKAN” (bacaan tanggal 22-11-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 22 November 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BAIT ALLAH ADALAH RUMAH DOA

BAIT ALLAH ADALAH RUMAH DOA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Andreas Dung Lac, Imam dkk. Martir –  Jumat, 24 November 2017)

Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka, “Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.”

Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa itu berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab semua orang terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia. (Luk 19:45-48) 

Bacaan Pertama: 1Mak 4:36-37,52-59; Mazmur Tanggapan: 1Taw 29:10-12 

Pada bagian awal-awal Injilnya, Lukas menunjukkan Yesus bersama dengan para guru agama di Bait Allah – mereka mendengarkan Dia dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada-Nya (lihat Luk 2:46). Menjelang akhir Injil Lukas, kita melihat lagi Yesus di Bait Allah, namun kali ini orang banyaklah yang mengelilingi-Nya untuk mendengarkan pengajaran-Nya. Sebaliknya sekarang para pemuka agama dan VIP negeri sangat memusuhi-Nya, sehingga malah mau membunuh-Nya (Luk 19:47-48). Pengajaran-Nya ini dilakukan-Nya setelah Ia menyucikan Bait Allah dan membersihkannya dari kaum pedagang yang melakukan transaksi jual-beli di situ.

Yesus adalah Bait Allah yang sejati. Ketika Dia memasuki Bait di Yerusalem, Bait itu dipandang sebagai apa yang selama ini dimaknai oleh umat, yaitu tempat bersemayam Allah – di mana umat datang untuk mendengarkan firman Allah yang diajarkan kepada mereka. Pada waktu Yesus menyucikan Bait Allah, Dia bersabda: “Ada tertulis: ‘Rumah-Ku adalah rumah doa’, namun kamu menjadikannya sarang penyamun” (Luk 19:46). Dengan berkata begitu, Yesus menggabungkan dua tradisi besar menyangkut Bait Allah yang sebenarnya kontras satu sama lain.

Tradisi pertama berkaitan dengan penglihatan dan sebuah janji yang diterima nabi Yesaya dari Allah tentang datangnya suatu hari di mana orang-orang non-Yahudi juga akan mencari Allah dan memelihara hari Sabat ……… “mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku, Aku akan berkenan kepada korban-korban bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa” (Yes 56:6-7). Visi Yesaya ini kontras dengan tradisi kedua seperti dicontohkan oleh khotbah nabi Yeremia di Bait Allah. Ketika Yeremia melihat kedosaan orang-orang yang bersembah-bakti di situ, dia berkhotbah seperti berikut: “Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: Ini bait TUHAN (YHWH), bait YHWH, bait  YHWH …… Sudahkah menjadi sarang penyamun di matamu rumah yang atasnya nama-Ku diserukan ini?” (Yer 7:4.11). Yesaya melihat potensi kebesaran Bait Allah, namun Yeremia melihat bagaimana orang berdosa dapat merusak/ mengotorkan bahkan tempat suci di mana Allah hadir.

Pada waktu Yesus mengusir para pendosa (para pedagang yang mengotori Bait Allah) keluar dari Bait, orang-orang yang tetap berada di dalam Bait Allah itu adalah orang-orang Israel yang setia (bdk. Yes 58:8). Orang-orang Yahudi yang mengikuti Yesus bersama-sama orang-orang bukan Yahudi yang percaya kepada-Nya menjadi Israel yang dipanggil Allah untuk “dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani” (1Ptr 2:5). Bilamana kita mendengarkan Yesus dan mengikuti jejak-Nya, kita semua – Yahudi, non-Yahudi, miskin, kaya, tua, muda, perempuan, lelaki, bersama-sama bergabung menjadi “Bait-Nya yang suci”, yang tidak lain tidak bukan adalah Gereja-Nya.

DOA: Ya Tuhan Allah, apabila Engkau mencariku, aku berdoa agar Engkau selalu menemukanku bersama dengan Yesus Kristus, Bait-Mu. Aku ingin bersama di sana mendengarkan-Nya dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada-Nya. Semoga kami semua yang bersama dengan Yesus Kristus sungguh menjadi “Israel Allah” yang berkumpul dalam nama-Nya. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 19:45-48), bacalah tulisan berjudul “RUMAH DOA” (bacaan tanggal 24-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 November 2017 [Peringatan SP Maria Dipersembahkan kepada Allah] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS