Posts from the ‘17-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2017’ Category

MENGAPA KAMU MENCOBAI AKU, HARI ORANG-ORANG MUNAFIK?

MENGAPA KAMU MENCOBAI AKU, HAI ORANG-ORANG MUNAFIK?

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIX [Tahun A], 22 Oktober 2017) 

Kemudian pergilah orang-orang Farisi dan membuat rencana bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama para pendukung Herodes bertanya kepada-Nya, “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata, “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu.” Mereka membawa satu dinar kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka, “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Mat 22:15-21) 

Bacaan Pertama: Yes 45:1,4-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1,3-5,7-10; Bacaan Kedua: 1Tes 1:1-5b 

Sekarang kita memulai serangkaian debat (dialog) Yesus dengan para lawan-Nya: (1) dengan orang-orang Farisi (Mat 22:15-22); (2) dengan orang-orang Saduki (Mat 22:23-33); (3) dengan seorang ahli Taurat (dia seorang Farisi juga; Mat 22:34-40); (4) dengan orang-orang Farisi lagi, namun di sini yang mengambil inisiatif adalah Yesus sendiri (Mat 22:41-46).

Orang-orang Farisi mengirim beberapa orang murid mereka untuk menjerat Yesus lewat kata-kata yang diucapkan-Nya ketika mengajar. Orang-orang munafik itu bekerja sama dengan para pendukung Herodes, yang politik kolaborasinya  dengan penguasa Roma mereka benci, namun bantuan mereka diterima dengan segala senang hati dalam kasus ini. Orang-orang Farisi menentang pembayaran pajak kepada pemerintah Roma, di lain pihak para pendukung Herodus mendukungnya.

Ketidaktulusan orang-orang Farisi terasa sekali ketika mereka menyapa Yesus sebagai “Guru”, karena gelar “guru” dalam Injil Matius biasanya diucapkan oleh mereka yang sedikit saja memiliki iman atau samasekali tidak mempunyai iman kepada Yesus. Mereka “memuji” kejujuran Yesus dalam mengajar. Kehadiran orang banyak tidak disebut, namun kita dapat mengasumsikan debat atau dialog ini terjadi secara publik, dengan demikian membuat mereka berada di atas angin dengan mempermalukan Yesus, seandainya mereka menang dalam debat itu.

Dilema yang diajukan oleh mereka cukup cerdik dan sederhana. Jika Yesus mendukung pembayaran pajak kepada pihak Roma, maka Dia akan tidak disenangi oleh orang-orang Yahudi yang memang anti pajak Roma. Akan tetapi, jika Yesus mengambil posisi menolak pajak kepada pihak Roma, maka dengan mudah Dia dapat dituduh oleh para pendukung Herodus sebagai gara-gara atau biang keladi dari perlawanan terhadap Kaisar Roma, bahkan bisa dicap sebagai orang Zeloti, orang-orang militan yang melakukan gerakan perlawanan terhadap kekaisaran Roma.

Namun sebuah pertanyaan yang keluar dari hati yang tidak tulus tidak harus ditanggapi dengan jawaban yang tulus. Oleh karena itu Yesus menamakan mereka sebagai orang-orang munafik, dan dengan gaya bicara para Rabi, Dia melempar bola ke lapangan mereka sendiri. Yesus minta untuk ditunjukkan uang logam Romawi yang tidak dapat disangkal telah digunakan oleh mereka selama ini; padahal mereka menentang otoritas yang mengeluarkan uang logam itu. Dengan mengatakan “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat 22:21), Yesus tidak menyatakan yang mana adalah milik siapa, tetapi Dia mengakui hak-hak yang legitim dari masing-masing. Lebih penting lagi bagi orang-orang Farisi yang hadir, Yesus menantang mereka untuk memberikan kepada Allah yang selama ini mereka belum berikan.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahakuasa, dikuduskanlah nama-Mu! Aku berjanji, ya Bapa, untuk memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang wajib kuberikan kepada-Mu. Aku mengakui dan tunduk kepada kekuasaan-Mu yang mutlak atas segala bidang kehidupanku dan kehidupan manusia pada umumnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 22:15-21), bacalah tulisan yang berjudul “KEWAJIBAN KITA KEPADA ALLAH DAN NEGARA” (bacaan Injil tanggal 22-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-10-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

KERAJAAN ALLAH HADIR APABILA ROH KUDUS MEMILIKI KEBEBASAN UNTUK BEKERJA

KERAJAAN ALLAH HADIR APABILA ROH KUDUS MEMILIKI KEBEBASAN UNTUK BEKERJA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Sabtu, 21 Oktober 2017)

Ordo Santa Ursula (OSU): Hari Raya S. Ursula, Perawan, Pelindung Tarekat 

Aku berkata kepada-Mu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis di rumah-rumah ibadat atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu khawatir bagaimana kamu harus membela diri dan apa yang harus kamu katakan. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang yang harus kamu katakan.” (Luk 12:8-12) 

Bacaan Pertama: Rm 4:13,16-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:6-9,42-43 

Yesus mempercayakan para murid-Nya secara penuh kepada pemeliharaan Roh Kudus. Roh Kudus ini akan memimpin para murid ke dalam seluruh kebenaran (Yoh 16:13) dan mengingatkan mereka akan semua yang telah dikatakan Yesus kepada mereka (Yoh 14:26). Roh Kudus ini juga akan bersama para murid ketika mereka menghadapi kekuatan-kekuatan yang melawan mereka di dunia (Luk 12:11) Roh Kudus ini dijanjikan kepada semua orang yang percaya dan dibaptis (Kis 2:38-39), akan menjadi sebuah sumber kekuatan, hikmat dan penghiburan bagi mereka, selagi mereka berupaya mengikuti jejak Yesus dan tahap demi tahap menjadi semakin serupa dengan Dia. Untuk alasan inilah Yesus memperingati para pendengar-Nya agar jangan sekali-kali menghujat Roh Kudus (Luk 12:10).

Menolak hasrat Allah yang mau berdiam dalam diri kita dan membuat kita seperti Dia, berarti menolak kenyataan bahwa Dia memiliki kuasa untuk melakukan hal-hal yang ajaib dan menakjubkan. Kalau kita takut atau bingung, maka hal ini berarti secara diam-diam kita percaya bahwa Roh Kudus tidaklah cukup untuk menjawab doa-doa kita atau menguatkan kita dalam berbagai kesulitan. Demikian pula, kalau kita menjalani hari-hari kita seakan-akan sudah mempunyai jawaban atas segala kebutuhan kita, maka hal ini berarti bahwa Roh Kudus bukanlah kehidupan Allah yang diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan, tetapi sekadar sebuah pemberian ‘ekstra’, pemberian bagus dari Allah yang bersifat opsional, bukannya sumber kehidupan yang sebenarnya.

Seorang murid Yesus dapat menghadapi oposisi, baik internal maupun eksternal. Satu jenis oposisi saja sudah dapat merisaukan hatinya, melemahkan imannya, dan menggerus sukacitanya dalam mengikuti jejak Kristus. Namun demikian, percayalah bahwa janji Yesus tetap benar dan sangat dapat diandalkan, yaitu bahwa para murid tidak akan pernah ditinggalkan sendiri. Dalam satu kesempatan lain Yesus bersabda: “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu” (Luk 12:32). Kerajaan Allah hadir apabila Roh Kudus memiliki kebebasan untuk bekerja. Marilah kita – baik dalam hati maupun pikiran kita – tetap berpegang teguh pada kenyataan bahwa Roh Kudus telah diberikan kepada kita untuk mentransformasikan diri kita; Roh Kudus ada dalam Gereja untuk menguduskan umat, dan Roh Kudus ada di dalam dunia untuk membawa penebusan bagi semua orang yang mengikuti Kristus.

DOA: Ya Bapa surgawi, utuslah Roh Kudus-Mu. Penuhilah hati umat-Mu, nyalakanlah di dalamnya api cinta-Mu,  dan baharuilah seluruh muka bumi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:8-12), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS AKAN MENGAJAR KAMU APA YANG HARUS KAMU KATAKAN” (bacaan tanggal 21-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Oktober 2017 [Pesta S. Lukas, Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ALLAH MEMPERHITUNGKAN IMAN ABRAHAM SEBAGAI KEBENARAN

ALLAH MEMPERHITUNGKAN IMAN ABRAHAM SEBAGAI KEBENARAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Jumat, 20 Oktober 2017) 

Jadi, apa yang akan kita katakan tentang Abraham, bapak leluhur jasmani kita? Sebab jikalau Abraham dibenarkan berdasarkan perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. Sebab apa yang dikatakan nas Kitab Suci? “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan sebagai kebenaran. Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya: “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya; berbahagialah orang yang dosanya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya.” (Rm 4:1-8)  

Mazmur Tanggapan: Mzm 32:1-2,5,11; Bacaan Injil: Luk 12:1-7 

Selagi dia menjelaskan karunia keselamatan dalam Kristus yang dianugerahkan secara bebas, Santo Paulus menunjukkan kepada para pembaca suratnya suatu acuan kepada seorang “pahlawan-iman”: Abraham yang percaya kepada Allah, sehingga “Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran” (Rm 4:3; bdk. Kej 15:6).

Dalam artian ini yang dimaksudkan dengan “kebenaran” adalah keadaan seseorang yang dibebaskan dari dosa dan dibuat benar dalam pikiran dan hatinya. Abraham menerima “kebenaran” ini karena dia menaruh kepercayaan pada janji Allah kepadanya dan berupaya untuk bertindak sesuai dengan kepercayaannya itu. Melihat iman sedemikian, Allah menarik Abraham untuk berada dekat dengan hati-Nya dan menamakan dia sahabat-Nya.

Seorang pribadi yang “benar” bertindak seturut kehendak Allah. Namun justru di sinilah kita dapat menjadi bingung. Kita tidak menjadi “benar” karena tindakan-tindakan atau perbuatan-perbuatan kita. Tindakan-tindakan kita yang “benar” mengalir dari perubahan yang terjadi dalam diri kita, ketika kita merangkul Yesus. Setelah itu, hal-hal baik yang kita lakukan mencerminkan kebaikan yang dibawa Allah ke dalam hati kita masing-masing.

Apabila kita terus-menerus mencari Yesus dan Bapa-Nya, maka kita akan melihat dengan lebih jelas lagi, baik kebutuhan kita akan Allah dan kasih tanpa batas diri-Nya bagi kita semua. Kita akan berhenti mencoba bekerja keras dengan kekuatan kita sendiri guna memperoleh imbalan berupa kasih-Nya, sebaliknya kita akan datang untuk duduk bersimpuh dalam keheningan di hadapan hadirat-Nya karena kita dijamin oleh pengetahuan bahwa Dia telah berkemenangan atas dosa-dosa kita.

Ketika Roh Kudus menolong kita mengenali dosa-dosa kita atau kelemahan-kelemahan kita, kita dapat berbalik kepada Allah dengan hati yang bertobat dan menerima pengampunan yang telah dibuat-Nya tersedia melalui kematian Putera-Nya pada kayu salib di Kalvari. Suatu berkat sedemikian akan membawa kita menjadi sangat dekat dengan hati Bapa surgawi yang penuh kasih, dan mencairkan perlawanan kita terhadap panggilan-Nya untuk mengasihi dan mengampuni orang-orang dalam kehidupan kita yang berbuat salah kepada kita.

Dengan latar belakang peristiwa Lazarus yang dibangkitkan dari kematian, Yesus mengajarkan kepada Marta: “Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah” (Yoh 11:40). Abraham percaya, dan dia menyaksikan sendiri janji Allah diwujudkan dalam kelahiran anak laki-lakinya, Ishak. Kepercayaan kita sendiri akan Allah – dalam Yesus Kristus – akan menggiring kita kepada perwujudan janji-janji Allah perihal damai-sejahtera dalam kehidupan ini dan persatuan dengan Diri-Nya dalam keabadian. Oleh karena itu marilah kita senantiasa membuat Yesus Kristus sebagai batu penjuru kehidupan kita!

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk karunia kebenaran-Mu. Engkau menawarkan kepada kami kebebasan dan kedekatan dengan-Mu, sama seperti Engkau menawarkannya kepada Abraham, Bapak-iman kami. Tolonglah kami agar mau dan mampu percaya kepada-Mu dalam segala keadaan, seperti yang ditunjukkan oleh Abraham. Tolonglah kami juga untuk senantiasa memusatkan pandangan kami pada kasih-Mu yang agung. Terima kasih, ya Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 12:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “DENGAN PERTOLONGAN ALLAH KITA DAPAT MENGATASI RASA TAKUT KITA” (bacaan untuk tanggal 20-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 18 Oktober 2017 [Pesta S. Lukas, Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PEMBENARAN OLEH ALLAH MELALUI IMAN DALAM YESUS KRISTUS

PEMBENARAN OLEH ALLAH MELALUI IMAN DALAM YESUS KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Kamis, 19 Oktober 2017) 

Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat pembenaran oleh Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, yaitu pembenaran oleh Allah melalui iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan. Karena semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh anugerah telah dibenarkan dengan  cuma-cuma melalui penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi pendamaian melalui iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.

Jika demikian, apa dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan hukum apa? Berdasarkan perbuatankah? Tidak, melainkan berdasarkan iman! Karena kami yakin bahwa manusia dibenarkan karena iman, bukan karena melakukan hukum Taurat. Atau apakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga Allah bangsa-bangsa lain! (Rm 3:21-29)  

Mazmur Tanggapan: Mzm 130:1-6; Bacaan Injil: Luk 11:47-54 

Siapa sih yang tidak mau dibenarkan di hadapan Allah? Siapa sih yang tidak menginginkan keselamatan kekal? Catatan dalam Kitab Suci sudah jelas ketika mengatakan bahwa kita telah berdosa dan tidak sampai memenuhi standar kehidupan yang dimaksudkan Allah bagi kita-manusia. Merasa bahwa inilah kasusnya, maka kita seringkali mencoba untuk membenarkan diri kita-manusia melalui niat-niat dan perbuatan-perbuatan baik – suatu kecenderungan yang berukar-berakar secara mendalam dalam diri manusia. Paulus juga melihat hal ini dalam dirinya sendiri, namun dia hanya ingin “memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaran (ku) sendiri karena menaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan” (Flp 3:9).

Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Paulus mengajar tentang kebenaran yang datang dari Allah. Sang Rasul menulis bahwa kita hanya dapat dibenarkan dan dibenarkan di hadapan Allah melalui pencurahan darah Kristus di kayu salib, satu kurban-penebus untuk dosa-dosa kita. Semua dosa segenap umat manusia segala zaman telah diampuni melalui kematian Yesus Kristus. Melalui pengorbanan diri-Nya, kita ditebus. Akan tetapi, hal tersebut hanya diberikan melalui suatu relasi pribadi yang hidup dengan Yesus, suatu relasi yang berdasarkan iman kepercayaan.

Adalah sangat vital bagi kita untuk memahami bahwa keselamatan kita adalah suatu karunia yang dianugerahkan secara bebas oleh “seorang” Allah yang mengasihi kita dengan sangat mendalam. Karunia itu bukanlah hasil dari usaha kita sendiri; oleh karena itu kita menerima karunia agung ini dengan penuh kerendahan hati. Apa lagi yang lebih baik daripada karunia ini? Kita tidak perlu bekerja keras untuk membuktikan kebaikan kita di depan Allah. Yang dibutuhkan hanyalah, bahwa kita harus mengakui dosa-dosa kita dan menerima keselamatan yang telah memenangkan kita.

Banyak dari kita menerima karunia ini selagi kita masih kanak-kanak, ketika pada hari pembaptisan kita para orangtua kita memprofesikan iman mereka akan Yesus bagi diri kita. Pada peristiwa pembaptisan itu terjadilah transformasi yang riil: Kita dibebaskan dari dosa-asal, dan Allah menanamkan benih kehidupan-Nya sendiri ke dalam diri kita. Akan tetapi, pengakuan iman orangtua kita itu harus menjadi pengakuan iman kita sendiri sementara kita bertumbuh semakin dewasa dan menempatkan kepercayaan kita kepada Yesus setiap hari. Sementara kita menerima karunia keselamatan ini, kehidupan baru kita dalam Kristus mampu berakar di dalam hati kita. Kasih-Nya menjadi semakin riil bagi kita, dan kita memperoleh kedamaian-hati yang lebih besar karena mengetahui bahwa keselamatan kita telah tercapai. Terjamin dalam Kristus, kita sebenarnya menemukan diri kita sendiri melakukan lebih banyak pekerjaan-pekerjaan baik, bukan untuk mencapai keselamatan kita, melainkan karena kita berterima kasih penuh syukur untuk kasih-Nya.

DOA: Terpujilah Engkau, Allah Bapa di surga, untuk kebaikan hati-Mu, kerahiman-Mu! Engkau telah membuat kami benar di hadapan-Mu melalui Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 11:42-46), bacalah tulisan yang berjudul “KEMUNAFIKAN ITU BAGAIKAN SEBILAH PISAU BERMATA DUA” (bacaan tanggal 19-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 17 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HANYA LUKAS YANG TINGGAL DENGAN AKU

HANYA LUKAS YANG TINGGAL DENGAN AKU

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta Santo Lukas, Penulis Injil – Rabu, 18 Oktober 2017)

 

…Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah berangkat ke Tesalonika. Kreskes telah pergi ke Galatia dan Titus ke Dalmatia. Hanya Lukas yang tinggal dengan aku. Jemputlah Markus dan bawalah ia kemari, karena pelayanannya berguna bagiku. Tikhikus telah kukirim ke Efesus. Jika engkau kemari bawa juga jubah yang kutinggalkan di Troas di rumah Karpus dan juga kitab-kitabku, terutama yang  terbuat dari kulit.

Aleksander, tukang tembaga itu, telah banyak berbuat jahat terhadap aku. Tuhan akan membalasnya menurut perbuatannya. Hendaklah engkau juga waspada terhadap dia, karena dia sangat menentang ajaran kita. Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak seorang pun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku – kiranya hal itu jangan ditanggungkan atas mereka – tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya. Dengan demikian aku lepas dari mulut singa. (2Tim 4:10-17) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-13,17-18; Bacaan Injil: Luk 10:1-9

Kalau seorang nelayan miskin dan tak berpendidikan meninggalkan segalanya demi mengikuti sang Rabi dari Nazaret, pantaslah bagi kita untuk mengagumi keberaniannya. Namun bagaimana dengan seorang dengan latar pendidikan dan profesi sebagai dokter/ tabib yang sukses seperi Lukas? Rasa kagum kita meningkat menjadi terpesona. Kita hanya dapat mengatakan: Puji Tuhan, luar biasa. Apa sih motivasi yang ada dalam diri sang tabib sehingga dia mau membuat pengorbanan sedemikian besar?

Menurut tradisi, Lukas dilihat sebagai penulis “Injil Ketiga” dan “Kisah Para Rasul”. Dia adalah seorang tabib yang berhasil dalam profesinya. Dia bukanlah seorang Yahudi (lihat Kol 4:11,14). Ada tradisi yang mengatakan bahwa Lukas tidak pernah menikah, dan dia meninggal dunia penuh dengan Roh Kudus pada usia 84 tahun. Ada juga tradisi yang mengatakan bahwa Lukas adalah seorang pelukis. Memang dia menulis Injilnya seperti seorang yang orang menyusun album foto (bacalah sebuah buku yang baik karangan almarhum P. Tom Jacobs SJ, LUKAS PELUKIS HIDUP JESUS, 1988).

Tabib yang sangat berbakat ini barangkali juga bukan seorang miskin-uang, dengan demikian dapat mengecap kehidupan penuh kenikmatan sejalan dengan kesuksesan dunia. Namun Pak dokter Lukas ini justru memilih keras dan sulitnya perjalanan bersama Paulus dan mereka menghadapi segala bahaya yang mengancam suatu kehidupan misioner sebagai pewarta Kabar Baik Yesus Kristus. Lukas bahkan menemani Paulus ke Roma dan tinggal bersama Rasul itu selagi dalam tahanan rumah. Kesetiaan luar biasa Lukas kepada Paulus ini tentunya menghibur Paulus. Dalam surat kepada Timotius ini, Paulus mengungkapkan bahwa ada rekannya yang meninggalkan dia, ada  pula yang diutus pergi ke berbagai tempat. Paulus menulis: “Hanya Lukas yang tinggal dengan aku” (2Tim 4:11). Sebuah kalimat yang penuh arti.

Apakah yang menarik Lukas sehingga koq mau pergi “jalan-jalan” ke mana-mana bersama Paulus? Sebuah kehidupan yang penuh bahaya? Jawabnya: YESUS !!! Yesus telah   menangkap hati Lukas, dan dengan begitu sang dokter hanyalah dapat mengikut ke mana Yesus akan memimpinnya.

Kalau Yesus menangkap hati kita, kita juga akan mengalami apa yang dialami oleh Lukas – kasih Allah yang melimpah, dan kasih ini akan mengubah hati kita masing-masing. Kita tidak lagi ingin sekadar hidup untuk diri kita sendiri, tetapi untuk Yesus.  Kita akan berkeinginan keras untuk mengikuti Dia dan menjadi setia kepada sabda-Nya, apa pun yang akan terjadi. Kita akan mempunyai kerinduan mendalam akan Kerajaan-Nya, dan kita pun akan mengabdikan diri kita untuk pelayanan menyebarkan Kabar Baik-Nya.

Lukas dipenuhi dengan cintakasih Yesus dan juga bela rasa-Nya, dan semua ini dicerminkan dalam Injilnya yang indah itu. Misalnya, Injil Lukas adalah kitab Injil satu-satunya yang bercerita mengenai perumpamaan Yesus tentang “Orang Samaria yang murah hati” (Luk 10:25-37). Salah satu perumpamaan yang sulit untuk dilupakan! Hanya dalam Injil Lukas lah kita dapat membaca perumpamaan tentang “Anak yang hilang” (Luk 15:11-32). Ini juga sebuah perumpamaan yang indah. Akhirnya, Injil Lukas adalah kitab Injil satu-satunya yang bercerita tentang belas kasih Yesus kepada seorang kepala pemungut cukai yang bernama Zakheus, yang sangat dibenci oleh masyarakat banyak (lihat Luk 19:1-10). Juga hanya dalam Injil Lukas kita dapat membaca tentang si penjahat yang bertobat di kayu salib  (lihat Luk 24:33-43). Setelah membaca serta merenungkan keempat bacaan dari Injil Lukas ini, kita dapat merasakan betapa kita masing-masing berharga di mata Yesus dan kita sungguh sangat berarti bagi Dia. Kemudian, dengan rendah hati dan rasa syukur mendalam kita dapat berkata: “Tuhan Yesus, engkau adalah segalanya bagiku. Tidak ada pengorbanan yang terlalu besar untuk berada bersama-Mu.”

DOA: Roh Kudus Allah, banjirilah aku dengan suatu pewahyuan pribadi yang lebih mendalam tentang Yesus sebagai Juruselamat, Tuhan, Saudara dan Sahabatku. Bukalah mataku agar dapat melihat Yesus hadir di dekatku, dalam Kitab Suci, dalam Ekaristi dan dalam doa-doaku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:1-9), bacalah tulisan yang berjudul “SANG TABIB PENULIS INJIL DAN KISAH PARA RASUL” (bacaan tanggal 18-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Bandung, 15 Oktober 2017 [HARI MINGGU BIASA XXVIII – TAHUN A]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PENGHAYATAN IMAN YANG BENAR

PENGHAYATAN IMAN YANG BENAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ignatius dr Antiokhia, Uskup Martir – Selasa, 17 Oktober 2017) 

Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Ia masuk ke rumah itu, lalu duduk makan. Orang Farisi itu heran melihat bahwa Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan. Tetapi Tuhan berkata kepadanya, “Hai orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu. (Luk 11:37-41) 

Bacaan Pertama: Rm 1:16-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5

Tidak jarang kata-kata, sikap dan perilaku Yesus menyebabkan kontroversi di mata kaum Yahudi yang “saleh”, antara lain karena Dia tidak mengikuti semua praktek keagamaan tradisional yang berlaku pada zaman itu. Misalnya, orang Yahudi wajib untuk mematuhi seperangkat aturan yang kompleks berkaitan dengan bagaimana berperilaku dalam bermacam-macam situasi, untuk menjaga kemurnian ritual. Yesus dan para murid-Nya tidak selalu melaksanakan upacara cuci tangan sebelum makan (Luk 11:38). Dengan mengabaikan praktek-praktek sedemikian, Yesus mencoba mengajar apa yang sebenarnya bersifat sentral dalam penghayatan iman-kepercayaan sebuah agama.

Unsur-unsur eksternal dari praktek keagamaan telah begitu menjadi beban-berat bagi umat, sehingga mereka menjadi tidak fokus pada hakekat atau jiwa agama yang benar. Misalnya, seseorang diizinkan mempersembahkan harta-miliknya untuk Allah dan dengan demikian diperkenankan untuk tidak melakukan kewajiban membantu orangtuanya seandainya mereka mempunyai kebutuhan (Mat 15:3-6). Yesus mengajarkan bahwa praktek keagamaan dalam dirinya bukanlah tujuan, karena praktek tersebut harus dikaitkan dengan cintakasih kepada Allah dan sesama (baca: Luk 6:1-11). Allah  menghendaki belas kasihan dalam hati dan tindak-tanduk kita (lihat Mat 9:13).

Yesus memiliki keprihatinan besar terhadap orang-orang miskin, para pendosa, orang-orang yang terbuang, para janda, orang-orang asing dan mereka yang suka melawan. Ia mengajarkan bahwa mengasihi Allah dan sesama dengan sepenuh hati merupakan perintah hukum yang paling besar (lihat Luk 10:25-28). Mengasihi sesama merupakan penggenapan hukum (lihat Rm 13:8-10) sehingga tindakan karitatif merupakan sebuah tanda seseorang itu benar di hadapan Allah. Bagi Lukas, pemberian derma atau sedekah merupakan bagian hakiki dari kehidupan Kristiani dan suatu pencerminan keadaan hati yang benar dari seseorang (Luk 11:41).

Lukas secara istimewa memiliki keprihatinan atas kebutuhan orang-orang miskin. Injil yang ditulisnya sebenarnya ditujukan kepada sebuah komunitas yang sebagian besar anggotanya adalah non-Yahudi dan orang-orang kotaan (urban) yang mempunyai posisi relatif baik dalam masyarakat. Keprihatinan Lukas di sini adalah agar orang-orang “yang nggak miskin-miskin amat” ini juga percaya kepada Yesus dan menghayati kehidupan seperti Yesus yang mengasihi orang-orang miskin, “wong cilik” zaman itu. Cintakasih kepada orang-orang kecil itu dicerminkan dalam praktek pemberian derma atau sedekah.

Sebuah hati yang dipenuhi kuasa ilahi akan membawa cintakasih Kristus kepada orang-orang lain melalui tindakan kasih (karitatif), bela-rasa dan pewartaan Injil. Penghayatan iman dari sebuah agama yang benar akan membuat seseorang melakukan pembalikan total dalam sikap dan perilakunya, dari yang semula memusatkan segalanya kepada kepentingan diri sendiri, menjadi pemusatan segalanya kepada Allah dan tentunya orang-orang lain. Artinya, menjadi lebih terbuka kepada orang-orang lain, dan menanggapi secara positif terhadap kebutuhan-kebutuhan mereka. Tindakan-tindakan karitatif mencerminkan penghayatan iman yang benar manakala tindakan-tindakan itu dilakukan demi kemuliaan Allah dan didasarkan motivasi cintakasih kepada sesama (lihat misalnya Luk 21:1-4).

DOA: Tuhan Yesus, buatlah agar aku dapat bertumbuh dalam penghayatan iman yang benar. Semoga iman-kepercayaanku kepada-Mu mentransformasikan hatiku. Anugerahkanlah kepadaku, ya Yesus, cintakasih kepada sesamaku, teristimewa mereka yang miskin, tersisihkan dalam masyarakat, “wong cilik”, yang menggantungkan segala harapan pada Allah yang Mahapengasih; kaum “anawim” zaman ini. Semoga cintakasih kepada sesama yang Kauanugerahkan kepadaku dapat diungkapkan dalam kemauanku untuk memberi kepada mereka yang membutuhkan pertolongan. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 11:37-41), bacalah tulisan yang berjudul “TETAPI BAGIAN DALAMMU PENUH RAMPASAN DAN KEJAHATAN” (bacaan tanggal 17-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Oktober 2017 [HARI MINGGU BIASA XXVIII – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SELAIN TANDA NABI YUNUS

SELAIN TANDA NABI YUNUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Senin, 16 Oktober 2017)

 

Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus, “Orang-orang zaman ini adalah orang jahat. Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk orang-orang zaman ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!”  (Luk 11:29-32) 

Bacaan Pertama: Rm 1:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4

Kitab Yunus mengisahkan cerita tentang seorang nabi yang diutus Allah kepada kota kafir yang besar dan kuat, kota Niniwe. Seperti nabi-nabi Perjanjian Lama yang lain, pada mulanya Yunus merasa ragu-ragu. Dia bahkan mencoba melarikan diri. Setelah ‘retret’ selama tiga hari tiga malam di dalam perut seekor ikan besar, barulah Yunus yakin bahwa Allah sungguh serius dalam pengutusan dirinya. Bayangkanlah hasil akhirnya: Hanya beberapa patah kata yang diucapkan Yunus telah membuat seluruh kota melakukan pertobatan secara dramatis, dan lewat dirinya mereka pun diselamatkan dari penghakiman Allah (lihat Yun 3:4-6.10).

Sebagai seorang Yahudi saleh, Yesus tentu akrab dengan cerita nabi Yunus ini, demikian pula banyak orang lainnya di Israel. Oleh karena itu, ketika ada orang yang mencobai Dia dengan meminta suatu tanda, maka Yesus menggunakan cerita Yunus sebagai dasar dari jawaban-Nya. Yesus bersabda: “Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus” (Luk 11:29). Apakah yang dimaksud oleh Yesus dengan “tanda Nabi Yunus” ini? Mukjizat apa dalam cerita ini yang menunjuk kepada rahmat dan kuat-kuasa Allah? Memang luarbiasa Yunus itu, dia mampu survive di dalam perut seekor ikan besar selama tiga hari tiga malam! Tetapi yang lebih luarbiasa lagi adalah gerakan pertobatan di seluruh Niniwe, dimulai dengan sang raja sendiri (lihat Yun 3:6). Orang-orang Yahudi dapat dikatakan memahami bahwa pesan Yesus lewat kisah nabi Yunus adalah sebuah pesan agar mereka bertobat (lihat Luk 11:29.32).

Yesus mengatakan kepada orang banyak yang mengikuti-Nya, bahwa tanda satu-satunya yang akan diberikan oleh-Nya adalah tanda Nabi Yunus (Luk 11:29). Ia sendiri sebenarnya cukup sebagai tanda bagi mereka, seperti Yunus adalah sebuah tanda bagi orang-orang Niniwe. Pada waktu Yunus datang membawakan berita pertobatan yang sederhana kepada penduduk kota kafir ini, maka mereka menanggapi pemberitaannya dengan melakukan pertobatan secara mendalam dan iman yang mendalam kepada Allah. Yesus mewartakan pesan pertobatan yang sama kepada orang banyak yang mengikuti-Nya. Dengan menyebut mereka “generasi jahat” (lihat Luk 11:29) Yesus mengingatkan mereka, bahwa mereka akan dihakimi untuk kekerasan-kepala dan ketidak-percayaan mereka. Yesus juga menyebut Ratu Sheba, yang mengakui hikmat-kebijaksanaan Salomo (lihat Luk 11:31). Mengapa para pendengar-Nya tidak dapat mengakui hikmat-kebijaksaan Yesus yang jauh lebih besar daripada yang ada pada diri Salomo? Siapa yang menghakimi? Orang-orang Niniwe yang telah bertobat karena pemberitaan Yunus, karena “sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus” (Luk 11:32).

Dalam ajaran-ajaran dan tindakan-tindakan-Nya, Yesus adalah contoh paling sempurna, Dia menantang segala macam ketidak-kudusan dengan hidup-Nya yang murni dan kudus sebagai Putera Allah. Setiap hal yang dilakukan dan dikatakan Yesus menunjuk pada Bapa-Nya. Jauh lebih daripada Yunus, Yesus adalah suatu “tanda” yang mewujudkan Kerajaan Allah dan menyerukan agar orang-orang sungguh melakukan pertobatan. Kehadiran-Nya membuat setiap orang berada dalam situasi krisis, karena sebagai Terang Dunia Yesus mengungkap kondisi hatinya yang terdalam. “Tanda” ini dimaksudkan untuk memanggil orang-orang kembali kepada Allah. Oleh karena itu marilah kita mendengar baik-baik seruan Yesus agar kita melakukan pertobatan. Marilah kita mencari hikmat-kebijaksanaan dan bimbingan-Nya dalam hidup kita. Seperti orang-orang Niniwe yang melakukan pertobatan secara dramatis, maka kita pun harus meninggalkan segala sikap dan perilaku yang membuat-Nya sedih dan menyakiti mereka yang kita kasihi.

Dengan pertolongan Roh Kudus, marilah kita memohon kepada Tuhan agar kita dapat mengidentifikasikan dua atau tiga area dalam kehidupan kita di mana Yesus memanggil kita untuk melakukan perubahan. Kita mohon kepada Roh Kudus agar kepada kita diberikan kekuatan untuk dapat bertekun dan maju terus. Percayalah bahwa Allah sungguh mau menolong kita mengubah area-area kehidupan kita yang belum mencerminkan damai-sejahtera dan kasih-Nya. Sekarang, apakah kita sungguh terbuka terhadap undangan Allah kepada pertobatan?

DOA: Tuhan Yesus, seperti orang-orang Niniwe yang mendengarkan pesan pertobatan yang diserukan nabi Yunus, seperti Ratu Sheba yang mengakui hikmat-kebijaksanaan Salomo, maka aku berketetapan hati mendengarkan panggilan-Mu kepadaku untuk melakukan pertobatan dan mencari hikmat-kebijaksanaan-Mu dalam hidupku. Utuslah Roh Kudus-Mu kepadaku dan kepada semua orang hari ini guna membimbing kami semua. Semoga berkat rahmat-Mu aku mampu meninggalkan dosa-dosaku dan membalikkan hatiku kembali kepada-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk melihat uraian tentang Bacaan Injil hari ini (Luk 11:29-32), bacalah tulisan yang berjudul “MELEBIHI TANDA NABI YUNUS” (bacaan tanggal 16-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari sebuah tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS