Posts from the ‘16-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2016’ Category

KAMPUNG HALAMAN SENDIRI

KAMPUNG HALAMAN SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Senin, 29 Februari 2016)

YESUS DITUDUH SEBAGAI PENGHUJAT ALLAHKata-Nya lagi, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Lagi pula, Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. Pada zaman Nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang disembuhkan selain Naaman, orang Siria itu. Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangkit, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi. (Luk 4:24-30)

Bacaan Pertama: 2 Raj 5:1-15a; Mazmur Tanggapan: Mzm 42:2-3; 43:3-4

Bagaimana perasaan anda ketika melakukan perjalanan pulang kampung? Dimulai sejak sebelum berangkat dari tempat anda berkarya – Jakarta – sepanjang perjalanan, pikiran anda tentu dipenuhi dengan banyak kenangan masa lalu dan bayangan sambutan macam apa yang anda akan terima setibanya anda di tempat tujuan. Sampai di tempat tujuan, anda mengalami betapa hangatnya sambutan keluarga, cipika-cipiki dan anda pun mulai sibuk membagi-bagikan oleh-oleh kepada orangtua anda, para keponakan anda dst.

Nah, apa yang terjadi dengan “manusia” yang paling agung yang pernah hidup di dunia – Yesus – ketika Dia pulang ke kampung halaman-Nya di Nazaret? Orang-orang sekampung-Nya menolak Yesus dan memperlakukan Dia dengan tidak sepantasnya. Mereka menolak mendengarkan apa yang diwartakan-Nya, pikiran dan hati mereka tertutup rapat-rapat, mereka menunjukkan kebencian dan kecemburuan, malah mereka bersekongkol untuk membunuh-Nya. Lukas mencatat: “Mereka bangkit, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu” (Luk 4:29). Pikiran kerdil dan hati yang tertutup rapat-rapat: pengalaman menyedihkan tidak bedanya dengan pengalaman para nabi Perjanjian Lama.

Sekarang, marilah kita (anda dan saya) bertanya kepada diri masing-masing: Apakah kita akan bersikap dan bertindak-tanduk secara jauh lebih baik seandainya Yesus datang ke kawasan Jakarta Selatan untuk mewartakan Kabar Baik,  walaupun di sini bukan kampung halaman-Nya?

Saudari dan Saudaraku, life is a matter of choice … hidup itu masalah pilihan! Kita mempunyai banyak kesempatan untuk menerima sang Putera Allah – atau untuk menolak Dia. Apakah kita lebih baik daripada para penduduk Nazaret? Bagaimana orang-orang Nazaret sampai-sampai menolak Yesus, seorang Pribadi, yang berkarya sebagai seorang Rabi keliling, sopan-santun, ramah-tamah, tegas, saleh, … Pencipta mereka sendiri, … Tuhan? Jelas dalam kota kecil Nazaret ada roh/semangat tertentu yang bersifat negatif, … yang berpandangan sempit, roh prasangka yang bertanggung jawab atas kesalahan kolektif mereka. Ini adalah roh kritik dan kecemburuan.

Setelah mendengar khotbah Yesus, orang-orang yang hadir dalam rumah ibadat membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu mereka berkata: “Bukankah Ia ini anak Yusuf?”  (Luk 4:23). Walaupun tak tercatat dalam Injil, kita seakan mendengar ocehan atau kasak-kusuk mereka: “Dari mana Dia memperoleh hikmat seperti itu? Kan ibu dan bapak-Nya bukan siapa-siapa? Pak Yusuf kan hanya seorang tukang kayu dan Ibu Maria seorang ibu rumah tangga biasa?” Orang-orang ini sungguh tidak mau percaya, mereka menolak melihat adanya hal-hal baik secara istimewa dalam diri orang-orang lain. Yesus kemudian menamakan mereka “orang buta yang menuntun orang buta” (lihat Luk 6:39).

Ini adalah roh kesempitan pandangan/pikiran dari orang-orang seperti penduduk Nazaret. Roh atau semangat gosip-gosipan kiranya juga menguasai diri mereka. Pada akhirnya keangkuhan dan kecemburuan membuat mereka menjadi pembunuh-pembunuh orang yang tidak bersalah. Jika tidak senantiasa waspada, semangat negatif ini mudah menguasai diri orang-orang, apakah mereka masih studi sebagai mahasiswi-mahasiswa ataupun sudah menjadi para wakil rakyat yang terhormat di dalam parlemen.

Santo Paulus mengingatkan kita: “… terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah” (Rm15:7). Jika kita keluar untuk menyakiti sesama kita, maka sebenarnya kita menyakiti diri kita sendiri.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahabaik, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau sudi mengambil kami ke dalam keluarga-Mu, sebagai anak-anak-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, kami memuji-muji nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 4:24-30), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG NAZARET MENOLAK UNTUK BERTOBAT” (bacaan tanggal 29-2-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 16-02  BACAAN HARIAN FEBRUARI 2016.

Cilandak, 26 Februari  2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

MELAKUKAN PERTOBATAN

MELAKUKAN PERTOBATAN

(Bacaan Injil Misa –  HARI MINGGU PRAPASKAH III [Tahun C], 28 Februari 2016) 

stdas0730Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampur Pilatus dengan darah kurban yang mereka persembahkan. Yesus berkata kepada mereka, “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya daripada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? “Tidak!”, kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian. Atau sangkamu kedelapan belas orang yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya daripada kesalahan semua orang lain yang tinggal di Yerusalem? “Tidak”, kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian.”

Kemudian Yesus menyampaikan perumpamaan ini, “Seseorang mempunyai pohon ara yang ditanam di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Lihatlah, sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan sia-sia! Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!” (Luk 13:1-9) 

Bacaan Pertama: Kel 3:1-8a,13-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,6-8,11; Bacaan Kedua: 1 Kor 10:1-6,10-12 

Dari media massa kita terus-menerus disuguhi dengan begitu banyak tragedi yang terjadi di seluruh dunia yang memakan begitu banyak korban hidup manusia dan juga uang: perang saudara di Suriah yang sudah berlangsung lebih dari dua tahun, bencana alam berupa gempa bumi, tanah longsor, banjir dlsb. yang terjadi di mana-mana. Tragedi-tragedi ini mengingatkan kita akan orang-orang yang disebutkan dalam bacaan Injil hari ini: Orang-orang Galilea yang dibantai oleh Pilatus dan 18 orang yang mati ditimpa menara dekat Siloam. Seperti juga orang-orang pada zaman Yesus, barangkali kita juga tergoda untuk merasa bahwa korban-korban tragedi-tragedi yang terjadi secara mendadak dan tidak diharap-harpkan itu menerima hukuman yang adil atas dosa-dosa mereka.

Namun dari bacaan Injil hari ini kita diperingatkan oleh Yesus – seperti juga sering dilakukan-Nya dalam bagian-bagian lain dari keempat kitab Injil – bahwa bukanlah hak kita untuk menghakimi orang-orang lain dan kesalahan-kesalahan mereka di mata Allah. Hanya Allah-lah yang sungguh mengetahui apa yang ada di dalam hati manusia. Daripada menghakimi korban-korban berbagai tragedi itu, kita seharusnya memanfaatkan pengalaman mereka dengan memperkenankan tragedi itu mengingatkan kita bahwa kita harus menghadapi hukuman mati abadi kita sendiri apabila kita tidak sungguh-sungguh melakukan pertobatan. Seperti diingatkan oleh Yesus: “Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian” (Luk 13:3,5).

Khotbah-khotbah yang berisikan “kata-kata keras dari Yesus” diperkirakan tidak begitu disenangi oleh umat, a.l. yang menyangkut “pertobatan.” Berikut ini adalah catatan “argumentasi” mereka: Tidak ada orang yang suka duduk di dalam gereja dan mendengar khotbah-khotbah seorang pendeta/imam yang berisikan pesan-pesan dari Kitab Suci yang merupakan prediksi-prediksi mengerikan menyangkut kutukan abadi. Bukankah, umat berada di dalam gereja karena mereka berupaya untuk menjadi manusia-manusia baik dan ingin menyenangkan Allah? Bukankah mereka bukan orang-orang kafir atau atheis? Bukankah mereka yang menghadiri Misa atau kebaktian di gereja adalah orang-orang kudus yang hidup, apabila dibandingkan dengan banyak orang lain di luar? Oleh karena itu, mengapa mereka harus mendengar khotbah-khotbah keras tentang pertobatan?

Yang sangat penting untuk kita sadari adalah kebenaran bahwa kita tidak dapat menjadi puas-diri. Rasa puas-diri akan menggiring kita kepada kesombongan, dan memang ada ungkapan dalam bahasa Inggris, “Pride comes before the fall” … kesombongan datang sebelum kejatuhan. Itulah sebabnya mengapa Santo Paulus mengingatkan kita: “… siapa yang menyangka bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” (1 Kor 10:12). Santo Paulus (lihat 1 Kor 10:1-6) juga mengemukakan bahwa Allah menunjukkan perhatian-Nya yang besar kepada umat-Nya dalam “keluaran” dari tanah Mesir, dan di padang gurun Ia memberi mereka makan lewat mukjizat. Mereka mengetahui bahwa mereka telah dipilih oleh Allah, namun tetap saja mereka mengecewakan hati Allah lewat gerutu dan sungut-sungut mereka dsb. Sikap memberontak orang-orang Israel itu tidak muncul secara tiba-tiba. Orang-orang Israel itu membuat diri mereka terbuai ke dalam semangat puas-diri dengan mana mereka merasa bahwa semuanya baik dalam kehidupan mereka, tokh Allah akan memperhatikan mereka, apa pun yang mereka lakukan atau tidak lakukan. Mereka percaya kepada diri mereka sendiri, oleh karena itu mereka mereasa superior atau lebih hebat dari orang-orang lain, dan dari ketinggian posisi kesombongan jatuhlah mereka di hadapan Allah yang merasa tidak senang dan kemudian menghukum mereka: “… Allah tidak berkenan kepada sebagian besar dari mereka, karena mereka dibinasakan di padang gurun” (1 Kor 10:5).

A WOMAN PRAYINGKita (anda dan saya) adalah umat pilihan yang baru. Kita telah melalui suatu “keluaran” pada saat kita dibaptis. Dalam padang gurun dunia ini kita diberi makan dengan tubuh dan darah Kristus sendiri. Kita adalah umat beriman – umat yang percaya -, namun di dalam “Konstitusi Sacrosanctum Concilium tentang Liturgi Suci” dikatakan, “Kepada umat beriman pun Gereja selalu wajib mewartakan iman dan pertobatan” (SC 9). Dengan demikian, kita semua pun tidak dapat membenamkan diri dalam sikap puas-diri. Memang benar dan samasekali tidak salah bahwa Allah itu senantiasa sabar terhadap kita yang suka “mbalelo”. Allah juga akan memberikan kepada kita banyak kesempatan untuk memperbaiki diri kita. Namun kita juga harus senantiasa mengingat bahwa Yesus memperingatkan kita bahwa apabila pohon ara tidak menghasilkan buah pada waktu yang baik, maka pohon ara itu pun akan ditebang (lihat Luk 13:7). Kita tidak mengetahui dan tidak pernah akan mengetahui berapa lama lagi Allah akan memberikan waktu kepada kita masing-masing, tetapi Allah – dalam dan karena kasih-Nya – memberikan kepada kita masa Prapaskah ini sebagai rahmat untuk melakukan pertobatan.

Pertobatan bukanlah terutama menyangkut pembayaran denda atas dosa-dosa kita di masa lampau, melainkan dimaksudkan untuk melakukan perubahan dalam hidup kita untuk menjadi lebih baik pada saat ini sehingga kita dapat berdiri tegak di masa depan. Pertobatan dimulai dengan suatu tindakan kerendahan-hati, secara jujur menerima  kenyataan bahwa tanpa Allah kita tidak pernah akan berhasil. Kejujuran yang rendah-hati tentunya harus mencakup suatu pemeriksaan batin secara terinci. Dan di samping puasa, pantang dan mati-raga lainnya, ada dua area yang patut disoroti selama masa Prapaskah ini, yaitu doa dan pemberian derma/sedekah.

Dalam hal berdoa, baiklah kita harus selalu mengingat dan melaksanakan apa yang diajarkan oleh Yesus sendiri (Mat 6:5-8). Bagaimana kita dapat menjadi lebih khusyuk dalam berdoa? Kita harus mencoba berpartisipasi secara aktif dan cerdas dalam doa-doa selama Misa. Kita membaca doa-doa itu dari lembaran-lembaran atau buku Misa, yang sekadar terdiri dari huruf-huruf mati. Jadi, tergantung kepada kita sendirilah untuk memberikan kehangatan dan makna kepada kata-kata itu. Doa juga tidak boleh dibatasi hanya pada saat kita berada di gereja. Doa harus menjadi bagian riil dari kehidupan kita sepanjang pekan berjalan, kemudian dilanjutkan dengan hari Minggu yang akan datang, dan seterusnya. Dalam satu suratnya yang lain, Santo Paulus mengingatkan kita begini: “Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Ucapkanlah syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (1 Tes 5:16-18).

Dalam hal pemberian sedekah, kita harus senantiasa mengingat dan melaksanakan ajaran Yesus sendiri (Mat 6:1-4). Bagaimana kita dapat menjadi lebih bermurah-hati dalam kegiatan memberi derma/sedekah? Kita harus secara tetap berjuang untuk semakin sedikit memikirkan diri sendiri dan semakin banyak memiliki keprihatinan terhadap kebutuhan-kebutuhan mereka dengan siapa kita hidup dan bekerja. Cintakasih kita kepada Allah harus mengalir ke dalam cintakasih kita kepada sesama. Akan tetapi dalam segala hal yang kita lakukan kita harus menggabungkan suatu keyakinan yang tak tergoyahkan akan Allah dengan rasa takut yang sehat akan kelemahan kita.  Itulah sebabnya mengapa kita dengan rendah-hati membuat pernyataan sebelum menyambut Komuni: “Ya Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.” 

Hari ini atau barangkali besok, kita mungkin akan mendengar lagi tentang tragedi kemanusiaan yang terjadi. Bukanlah hak kita untuk menghakimi para korban tragedi. Akan tetapi ketidakberuntungan mereka seharusnya mengingatkan kita semua akan sabda Yesus: “Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian” (Luk 13:3,5).

Oleh karena itu, Saudari dan Saudaraku, janganlah menunda-nunda. Saat untuk melakukan pertobatan itu adalah sekarang juga!

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, dalam Masa Prapaskah ini, terimalah pengakuan dosa-dosa kami yang tulus dan tegakkanlah kami yang selama ini tertindih oleh beban-beban dosa kami. Bimbinglah kami dalam doa-doa kami, puasa dan pantang serta pemberian derma yang kami lakukan. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Luk 13:1-9), bacalah tulisan yang berjudul “JIKALAU KAMU TIDAK BERTOBAT ……” (bacaan tanggal 28-2-16) dalam situs SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-02 BACAAN HARIAN FEBRUARY 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-3-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 Februari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ANAK YANG HILANG

ANAK YANG HILANG

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Sabtu, 27 Februari 2016)

 prodigal-son

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka. Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Ada seseorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh  bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang warga negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Lalu bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Ambillah anak lembu yang gemuk itu, sembelihlah dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Lalu mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar suara musik dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu yang gemuk, karena ia mendapatnya kembali dalam keadaan sehat. Anak sulung itu marah ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan membujuknya. Tetapi ia menjawab ayahnya, Lihatlah, telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu yang gemuk itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala milikku adalah milikmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” (Luk 15:1-3,11-32) 

Bacaan Pertama: Mi 7:14-15,18-20; Mazmur Antar-bacaan: Mzm 103:1-4.9-12

Perumpamaan di atas sungguh merupakan cerita tentang seorang ayah yang penuh pengampunan. Yesus menceritakan perumpamaan ini guna menunjukkan kepada kita bagaimana Allah merasakan isi hati siapa saja dari kita yang menyadari bahwa dirinya adalah pendosa, namun mengambil keputusan untuk kembali kepada Bapa. Allah sungguh mengasihi kita dan ingin merayakan kembalinya kita dengan penuh kebahagiaan kepada-Nya bersama dengan kita.

Bab 15 dari Injil Lukas memuat pengajaran Yesus lewat tiga buah perumpamaan secara berturut-turut: [1] Perumpamaan tentang domba yang hilang (Luk 15:3-7); [2] Perumpamaan tentang dirham yang hilang (Luk 15:8-10); [3] Perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk 15:11-32). Sungguh menarik untuk dicatat apa yang terjadi sebelum Yesus mengajar dengan tiga perumpamaan ini. Lukas mencatat bahwa para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia” (Luk 15:1). Mengapa?  Apakah yang telah dikatakan dan dilakukan oleh Yesus sehingga memikat para pendosa, padahal mereka dinilai rendah sekali oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dan membuat para pemuka agama tersebut bersungut-sungut? (lihat Luk 15:2).

Kiranya di sini Yesus mengundang para pendengar-Nya dan pada saat sama mengemukakan sebuah tantangan. Yesus telah mengajar para pendengar-Nya dengan perumpamaan tentang perjamuan besar (perumpamaan tentang orang-orang yang berdalih; Luk 14:15-24). Dalam perumpamaan itu Allah yang diibaratkan sebagai seorang raja mengundang banyak orang, namun mereka mengemukakan berbagai alasan untuk tidak hadir. Oleh karena sang raja mengutus para hambanya untuk mengundang orang-orang lain. Setelah perumpamaan ini, Yesus menantang para pendengar-Nya untuk berani menjadi murid-murid-Nya, karena mereka harus memikul salib bersama dengan-Nya (lihat Luk 14:25-27). Hal inilah yang menarik para pendosa untuk datang kepada Yesus! Yesus mengundang mereka dan pada saat sama menantang mereka untuk masuk ke dalam suatu hidup baru, suatu kehidupan yang jauh lebih besar daripada yang pernah mereka kenal selama ini.

Sekiranya ada dari para pendosa yang mendengarkan Yesus ini bertanya-tanya: “Apakah aku yang dimaksudkan oleh-Nya?”, maka Yesus datang dengan “Perumpamaan tentang anak yang hilang”, sebagai jawaban terhadap pertanyaan itu. Perumpamaan ini mengajarkan: “Biar bagaimana pun juga engkau berpikir bahwa engkau telah gagal, Bapamu di surga akan menerima engkau kembali dengan penuh kasih, dan Ia mengundang engkau masuk ke dalam suatu hidup baru dalam Dia dan bersama Dia.”

Itulah undangan dan tantangan yang diberikan oleh Yesus kepada kita masing-masing. Kasih Allah kepada kita masing-masing tidak pernah luntur dan tidak perlu dipertanyakan lagi. Dan kasih Allah itu digambarkan dalam perumpamaan anak yang hilang ini. Kita harus mencatat peranan dari si anak dalam cerita ini. Sang  ayah tidak dapat mengampuni anaknya apabila dia tidak kembali kepada ayahnya guna menerima pengampunan itu. Anak laki-laki itu terbuka dan siap menerima pengampunan, karena dia cukup jujur untuk melihat dirinya sebagai apa adanya. Dia melihat bahwa hidupnya sungguh kosong, bahwa dia telah melempar jauh-jauh berkat-berkat nyata yang diterimanya dan menggantikannya dengan “berkat-berkat palsu”, kemudian menyadari bahwa dirinya akan lebih baik tanpa batas jika kembali kepada Bapanya.

DOA: Tuhan Yesus, lewat perumpamaan ini kami disadarkan bahwa kami adalah orang-orang berdosa dan kami sungguh membutuhkan belas kasih Bapa surgawi. Terima kasih Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-3,11-32), bacalah tulisan yang berjudul “PENGAMPUNAN ALLAH ITU ADIL” (bacaan tanggal 27-2-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-3-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 Februari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KERENDAHAN HATI, KETEKUNAN DAN KETETAPAN HATI

KERENDAHAN HATI, KETEKUNAN DAN KETETAPAN HATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Jumat, 26 Februari 2016) 

jesus christ super star“Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan membuat pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain lagi dengan batu. Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak daripada yang semula, tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka. Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Inilah ahli warisnya, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. Apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?” Kata mereka kepada-Nya, “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya.” Kata Yesus kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari kamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.

Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya. Mereka berusaha untuk menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak itu menganggap Dia nabi. (Mat 21:33-43,45-46) 

Bacaan Pertama: Kej 37:3-4,12-13,17-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:16-21 

“Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru” (Mat 21:42; Mzm 118:22).

Sepanjang sejarah penyelamatan (keselamatan), kita lihat bahwa banyak “batu” telah ditolak, namun kemudian justru menjadi “batu penjuru” yang dipercaya dan dicintai. Manakala kita berpikir tentang “batu penjuru”, kita mungkin berpikir tentang tokoh-tokoh seperti Yusuf, Daud, atau Yeremia. Kita mungkin berpikir mengenai orang-orang kudus seperti Santo Fransiskus dari Assisi [1181-1226] atau Santa Teresa Benedicta dr Salib (Edith Stein) [1891-1942]. Tentunya kita juga berpikir tentang Yesus sendiri. Tetapi, bagaimana dengan diri kita sendiri (anda dan saya)? Pernahkah kita berpikir tentang diri kita sendiri sebagai sebuah batu penjuru?

PERUMPAMAAN - WICKED HUSBANDMENSaudara-saudara Yusuf menolak dia dan menjualnya sehingga menjadi budak di Mesir (lihat Kej 37:23-28). Namun kerendahan hati Yusuf dan kemauannya untuk menggantungkan diri sepenuhnya pada Allah memungkinkan dirinya untuk bangkit keluar dari jeratan perbudakan dan menjadi batu penjuru yang menyelamatkan keluaganya dan seluruh Mesir.

Karena dia berupaya untuk menghayati hidup Injili, Santo Fransiskus ditolak dan tidak diwarisi apa-apa oleh ayahnya (catatan: ayahnya adalah saudagar kaya di Assisi). Namun karena ketergantungannya pada Allah, Fransiskus mampu untuk mengabdikan hidupnya guna menyebarkan sabda Allah dengan penuh sukacita. Cinta kasihnya kepada Allah menolong dirinya mengatasi penolakan dari keluarganya (kecuali ibundanya) dan menjadi batu penjuru bagi Gereja pada abad pertengahan.

Dalam situasi-situasi ini dan banyak lagi, bukan penolakanlah yang crucial, melainkan kerendahan hati dan ketekunan dan ketetapan hati dari orang-orang yang ditolak. Inilah yang membuat orang-orang itu menjadi batu-batu penjuru iman dan saksi-saksi Injil.

Nah, apakah kita (anda dan saya) siap menjadi batu penjuru? Barangkali kita berpikir bahwa Allah tidak dapat menggunakan kita karena kita tidak cukup baik, tidak pintar-pintar amat, atau tidak cukup kaya. Akan tetapi, sesungguhnya kita tidak perlu mempunyai kekuasaan atau keberanian untuk melayani Allah. Yang kita butuhkan adalah kerendahan hati dan juga mau dan mampu untuk diajar. Atau, barangkali kita takut mengalami penolakan, seperti Yusuf dan Santo Fransiskus dari Assisi? Namun kita juga harus mengingat bahwa Allah berjanji bahwa Dia tidak akan pernah memperkenankan kita dicobai melampaui kemampuan kita untuk bertahan – dengan catatan kita bersandar pada-Nya dan kuat-kuasa-Nya (lihat 1Kor 10:13).

Saudari dan Saudaraku, dengan penuh keyakinan bahwa Allah senantiasa menyediakan segala kebutuhan kita dan dipenuhi hasrat untuk ikut membangun Gereja-Nya, marilah kita menaruh hidup kita di hadapan Tuhan Yesus dan mengatakan kepada-Nya bahwa kita ingin mengabdikan hidup kita untuk upaya memajukan Kerajaan-Nya di dunia ini.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Buatlah diriku seperti Engkau, sebuah pilar iman bagi orang-orang di sekelilingku. Aku ingin agar senantiasa mau bergantung pada-Mu. Bukalah mata dan telingaku, sehingga dengan demikian aku dapat lebih waspada guna menanggapi panggilan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kej 37:3-4,12-13,17-28), bacalah tulisan yang berjudul “WALAUPUN BERANTAKAN, TETAP ADA PENGHARAPAN (bacaan tanggal 26-2-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2016. 

Cilandak, 23 Februari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ORANG KAYA DAN ORANG MISKIN

ORANG KAYA DAN ORANG MISKIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Kamis, 25 Februari 2016)

 rich man and lazarus1

“Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Ada pula seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, Bapak Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang di sini ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain itu, di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, Bapak, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk ke dalam tempat penderitaan ini. Tetapi kata Abraham: Mereka memiliki kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkannya. Jawab orang itu: Tidak, Bapak Abraham, tetapi jika seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepada-Nya Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.” (Luk 16:19-31) 

Bacaan Pertama: Yer 17:5-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus mengungkap ketegangan yang ada antara kaum kaya dan kaum miskin di dalam dunia. Yesus jelas berpihak kepada orang-orang miskin. Kita juga dapat yakin seyakin-yakinnya bahwa Yesus akan tetap berbicara dengan cara yang sama pada hari ini. Barangkali ceritanya tidak sama, namun pesan-Nya tetap sama. Bagi mereka yang mempelajari bidang ekonomi, barangkali masih ingat buku tulisan almarhum Gunnar Myrdall yang diterbitkan di tahun 1960an: Asian Drama: An Inquiry into the Poverty of Nations, di dalam mana dia a.l. mengatakan bahwa akan terjadi kesenjangan kekayaan yang kian melebar antara negara-negara; yang kaya semakin kaya (the ever widening gap) dst. Itu adalah antara negara-negara. Jurang antara si kaya dan si miskin dalam masyarakat kita khususnya juga demikian, sangat lebar dan kiranya kian melebar.

Sebenarnya kita semua adalah anak-anak Allah, dan dalam keluarga-Nya kita adalah saudari dan saudara satu sama lain. Kita tidak dapat mentoleransi ketidakadilan – seperti yang sering diungkapkan oleh Bung Karno – di mana terjadi manusia mengeksploitasi manusia lain yang nota bene adalah saudari atau saudaranya sendiri, sehingga dia menjadi sengsara.

Yesus menantang kita untuk menghayati hidup Injili. Apakah kita benar-benar saksi-saksi dari ajaran-Nya, atau tidak?

Kita harus senantiasa mengingat bahwa orang miskin senantiasa ada di tengah-tengah kita (lihat Mrk 14:7; bdk. Yoh 12:8). Setiap kali kita melihat atau mendengar tentang seseorang lebih miskin daripada kita yang dapat kita tolong namun kita tidak menolongnya, Kristus hadir; Ia ada di tengah-tengah kita. Apabila kita tidak mengulurkan tangan-tangan kita dengan kasih yang murni, maka Dia ada di sana; tetap lapar dan haus dan telanjang (lihat Mat 25:31-46). Barangkali kita tidak mendengar bunyi sangkakala atau melihat  banyak malaikat beterbangan kian kemari, namun penghakiman terakhir terjadi sebagaimana digambarkan dalam perumpamaan Tuhan Yesus. Dalam hal ini jelas kita telah gagal.

Jadi, di manakah sesungguhnya Yesus hadir di antara kita? Dalam Ekaristi tentunya; juga dalam sabda-Nya yang ada dalam Kitab Suci. Namun bagaimana dengan kehadiran Yesus yang tidak kurang riilnya dalam diri Lazarus-Lazarus yang kita jumpai dalam masyarakat? Dalam Ekaristi, Yesus Kristus hadir dalam bentuk Roti. Dalam diri orang-orang miskin, Yesus hadir di tengah ketiadaan roti atau lauk pauk untuk dimakan.

DOA: Tuhan Yesus, penuhilah hatiku dengan bela rasa-Mu bagi orang-orang yang membutuhkan pertolongan: yang lapar, yang haus, yang sakit dst. Gunakanlah diriku sebagai instrumen-Mu guna menghibur dan menolong mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:19-31), bacalah tulisan yang berjudul  “HATI YANG SUDAH MEMBATU” (bacaan tanggal 25-2-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-3-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 Februari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MELAYANI ORANG-ORANG LAIN

MELAYANI ORANG-ORANG LAIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Rabu, 24 Februari 2016) 

KEMURIDAN - REQUEST BY MOTHER OF JAMES AND JOHNKetika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan, “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Mereka akan menyerahkan dia kepada bangsa-bangsa lain, supaya diolok-olokkan, dicambuk dan disalibkan, tetapi pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.”

Kemudian datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus, “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya, “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum? Kata mereka kepada-Nya, “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka, “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang yang baginya Bapa-Ku telah menyediakannya.” Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata, “Kamu tahu bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa bertindak sebagai tuan atas rakyatnya, dan para pembesarnya bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mat 20:17-28) 

Bacaan Pertama: Yer 18:18-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:5-6,14-16 

Dalam bacaan Injil hari ini kita dapat melihat bagaimana seorang ibu sungguh merasa prihatin terhadap masa depan kedua anak laki-lakinya yang dikasihinya. Perempuan itu mendatangi Yesus untuk memohon kedudukan/jabatan penting bagi kedua anaknya dalam “kabinet” pimpinan Yesus kelak. Dengan tegas Yesus menanggapi permintaan Nyonya Zebedeus dengan mengatakan bahwa kedua anak laki-laki mereka akan lebih baik apabila mengambil tempat duduk di belakang daripada tempat duduk  di depan dalam Kerajaan-Nya. Ketika sepuluh orang rasul lainnya menjadi marah, menggerutu dan bersungut-sungut terhadap dua orang kakak beradik itu terkait permintaan yang agak “nggak tahu diri” dari ibunda mereka, Yesus memberi tanggapan yang sama kepada mereka semua, “Belajarlah dari aku,” kata Yesus, “karena Aku lemah lembut dan rendah hati” (lihat Mat 11:29).

Kedinaan atau kerendahan hati adalah salah satu dari kata-kata yang hampir tidak laku dalam perbendaharaan kata-kata manusia modern. Hasrat untuk memiliki keutamaan seperti itu, atau bahkan untuk mempelajari hal-ikhwal kerendahan hati seakan-akan merupakan tabu dalam masyarakat yang sudah “pintar” ini. Orang-orang modern bertanya: “Siapa sih yang cukup gila untuk menerima berbagai pelecehan dan perlakuan tidak adil lainnya yang biasanya menimpa orang-orang yang dina/rendah hati? Kalau kita mau jujur, sebagian besar sikap tak peduli terhadap kedinaan/kerendahan hati sebenarnya suatu kesalahpahaman radikal tentang arti sebenarnya hal itu. 

Demi upaya pencitraan diri, seringkali kita justru menutup atau membuat kabur hal-hal terbaik dalam pengungkapan-diri manusia. Kerendahan hati yang sejati itu sebenarnya atraktif dan selalu akan begitu, dan kerendahan hati ini senantiasa akan menjaga orang yang bersangkutan dari kejatuhan yang sering kali terjadi dan tragis pula. Mengapa? Karena kerendahan hati ditopang oleh pilar yang kokoh berupa kejujuran yag asli dan mendalam. Suka atau tidak suka, generasi yang semakin “modern” ini harus kembali kepada keutamaan yang tak ternilai harganya ini, sebagai satu-satunya ekspresi otentik tentang yang terbaik dari kepribadian manusia.

Diskusi bebas memang diperlukan. Kita beruntung bahwa Nyonya Zebedeuslah yang memohon kepada Yesus kedudukan bagi kedua orang anaknya. Kasus ini memberikan kepada Yesus kesempatan untuk mengajar  suatu pelajaran yang paling penting. Sangat berhargalah untuk saling mendengar, untuk saling tidak sependapat, untuk merasakan adanya keperluan untuk saling meyakinkan. Namun – berkaitan dengan ajaran Yesus – hal itu hanya dapat berhasil apabila dilakukan dengan kasih mendalam dan sikap saling menghargai. Perhatikanlah kebaikan yang mendalam  dan realisme praktis dalam jawaban Yesus. Itu adalah jawaban dari seorang pribadi yang rendah hati secara mendalam, yang menghargai pengharapan-pengharapan dan aspirasi-aspirasi sesama-Nya.

Semua komunikasi dua arah yang berhasil menuntut adanya sikap terbuka dari orang-orang yang rendah hati. Kedinaan atau kerendahan hati yang sejati bukanlah seperti kayu lapis; tidak artifisial atau palsu.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau telah mengajarkan kepada kami bahwa barangsiapa mempunyai aspirasi untuk mencapai kebesaran harus melayani orang-orang lain, dan barangsiapa yang ingin menjadi yang pertama haruslah melayani kebutuhan-kebutuhan semua orang. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu ya Tuhan, karena penerapan dari ajaran-Mu akan mampu memecahkan banyak sekali masalah dalam hubungan kemanusiaan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 20:17-28), bacalah tulisan yang berjudul “JALAN SALIB SEBAGAI SEKOLAH PELAYANAN” (bacaan tanggal 24-2-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-3-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 Februari 2016   

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA MEMPUNYAI ROH KUDUS DALAM DIRI KITA

KITA MEMPUNYAI ROH KUDUS DALAM DIRI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Selasa, 23 Februari 2016) 

YESUS SANG RABBI DARI NAZARETLalu berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksudkan untuk dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terbaik di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil orang ‘Rabi.’  Tetapi kamu, janganlah kamu disebut ‘Rabi’; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Janganlah kamu menyebut siapa pun ‘bapak’ di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga. Janganlah kamu disebut pemimpin, karena hanya satu pemimpinmu, yaitu Mesias. Siapa saja yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Mat 23:1-12) 

Bacaan Pertama: Yes 1:10,16-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:8-9,16-17,21,23 

Kalau kita memperhatikan kenyataan dalam masyarakat dewasa ini, maka kelihatannya kerendahan hati merupakan suatu keutamaan yang sedang mengalami kemerosotan. Hampir di segala bidang kita melihat sikap mau menang sendiri, angkuh dlsb. Kelihatannya hanya yang kaya-raya, gagah-ganteng, yang kuat, yang memegang kuasa, yang cantik dan “yang kelihatan suci” sajalah yang “berhasil” maju dalam kehidupan ini.

Dengan demikian sungguh mengejutkan jika orang-orang mendengar apa yang dikatakan oleh Yesus seperti tercatat dalam bacaan Injil di atas. Semuanya adalah kebalikan dari kenyataan yang ada. Yesus memerintahkan: Jadilah rendah hati. Jadilah seorang hamba/pelayan. Rendahkanlah dirimu dan kamu akan ditinggikan. Reaksi alamiah dari kita ketika mendengar perintah-perintah Yesus ini adalah menggeliat di tempat duduk kita sambil berkata: “Semua itu terlalu sulit untuk dilakukan!” Rasa sombong datang kepada kita jauh lebih alamiah daripada kerendahan hati. Sekarang pikirkanlah pengalaman kita sendiri. Ketika seseorang mendzolimi kita (anda dan saya), apakah kecenderungan kita yang pertama adalah mengampuni orang yang menjahati kita itu? Atau apakah kita menyadari bahwa hasrat untuk membalas dendam menumpuk dengan cepat dalam diri kita – bahkan tanpa kita harus memikirkannya?

ROH KUDUS MELAYANG-LAYANG - 2Syukurlah bahwa kita tidak perlu menggantungkan diri pada upaya-upaya kita sendiri untuk bersikap dan bertindak dengan rendah hati. Kita mempunyai Roh Kudus di dalam diri kita masing-masing, yang menolong kita mengatasi kecenderungan-kecenderungan untuk mementingkan diri sendiri dan menggantikan semua itu dengan sifat Yesus sendiri. Roh Kudus menolong kita menolak hasrat untuk pertama-tama mementingkan diri sendiri sehingga dengan demikian kita dapat menjadi pelayan-pelayan yang penuh kasih dalam rumahtangga kita, di tempat kerja kita dan dalam komunitas kita masing-masing. Bagaimana Roh Kudus melakukan hal ini? Dengan menempatkan imaji Yesus di depan mata kita. Yesus adalah contoh sempurna dari kerendahan hati; Dia meninggalkan takhta-Nya di surga dan menggantikan kita dengan menerima kematian di kayu salib. Ia merendahkan diri-Nya sampai mengalami kematian. Yesus memenangkan bagi kita kemuliaan hidup kekal. Demi sukacita melihat diri kita dibersihkan dan ditebus, Yesus menjadi pelayan bagi kita semua.

Pada hari ini, marilah kita memohon agar Roh Kudus membuka mata kita agar dapat melihat kesempatan-kesempatan bagi kita untuk melayani, bukan untuk dilayani. Kita mohon agar Roh Kudus juga menolong kita memutuskan untuk mengasihi, bukan dikasihi. Selagi kita melakukan hal ini, kita tidak saja mengenakan kerendahan hati Yesus, melainkan juga menemukan damai-sejahtera memenuhi hati kita; dengan cara yang melampaui pemahaman kita. Damai-sejahtera tersebut akan meninggikan kita sampai kepada sukacita surgawi. 

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena teladan-Mu dalam hal kerendahan hati dan pengorbanan-diri. Oleh kuasa Roh Kudus, berilah kepadaku rahmat untuk mengasihi dan melayani sesamaku, sehingga dengan demikian akupun dapat semakin serupa dengan Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 1:10,16-20), bacalah tulisan yang berjudul “KITA SEMUA SANGAT BERHARGA DI MATA ALLAH” (bacaan tanggal 23-2-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2016.

Cilandak, 21 Februari 2016 [HARI MINGGU PRAPASKAH II – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS