Posts from the ‘11-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2011’ Category

KITA HARUS MENJADI SAKSI-SAKSI KABAR BAIK YESUS KRISTUS

KITA HARUS MENJADI SAKSI-SAKSI KABAR BAIK YESUS KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Hieronimus, Imam & Pujangga Gereja, Jumat 30-9-11)


“Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Akan tetapi pada waktu penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan daripada tanggunganmu. Dan engkau Kepernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati!

Siapa saja yang mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan siapa saja yang menolak kamu, ia menolak Aku; dan siapa saja yang menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.” (Luk 10:13-16)

Bacaan Pertama alternatif: Bar 1:15-22;  Mazmur Tanggapan: Mzm 79:1-5,8-9 

Dalam kuasa Roh Yesus memulai pelayanan-Nya di depan publik di Galilea. Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia (Luk 4:14-15). Sekarang, untuk terakhir kalinya mengunjungi kota-kota yang terletak di sepanjang pantai Danau Galilea, Yesus mengutus 70 orang murid-Nya untuk mempersiapkan orang-orang bagi kedatangan-Nya. Ia mengingatkan para murid-Nya tentang kemungkinan penolakan dari orang-orang terhadap mereka. Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya apa yang harus dilakukan oleh mereka seandainya ditolak oleh para penduduk kota tertentu: “Jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah: Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata kepadamu: Pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu” (Luk 10:10-12).

Khorazin terletak sekitar 3 km sebelah utara Kapernaum, termasuk kota yang diuntungkan oleh kedekatannya dengan beberapa kota yang lebih makmur. Betsaida menopang industri perikanan yang relatif besar, sementara Kapernaum – titik sentral pelayanan Yesus di Galilea – telah menjadi saksi dari begitu banyak mukjizat dan pendengar dari pengajaran-pengajaran Yesus tentang kerajaan Allah.

Jadi, penduduk Galilea memiliki setiap alasan untuk menerima ajaran-ajaran Yesus dan mengakui Dia sebagai Mesias karena mereka merupakan bagian dari umat pilihan Allah. Akan tetapi, walaupun mereka pada awalnya mempunyai entuasiasme dan kemauan untuk mengikuti Yesus berkeliling di daerah itu, hati mereka tetaplah tertutup. Pada akhirnya, Yesus menegur mereka untuk ketidakpercayaan mereka (Luk 10:13,15). Ia membandingkan mereka dengan orang-orang kafir yang hidup di kota perdagangan ramai seperti Tirus dan Sidon. Orang-orang di dua kota ini kurang kadar dosanya apabila dibandingkan dengan orang-orang Galilea, karena orang-orang kafir memang tidak pernah mendengar pesan keselamatan yang disampaikan oleh Yesus.

Bagaimana dengan kita sendiri, yaitu anda dan saya?  Kita adalah umat pilihan Allah juga! Kita kenal Yesus dan mempunyai begitu banyak kesempatan untuk mendengar dan membaca sabda Allah dan untuk menyaksikan karya penyelamatan Allah di tengah-tengah kita. Akan tetapi, kita seringkali mengabaikan untuk menanggapi sabda Allah dengan serius, termasuk panggilan-Nya kepada kita untuk bertobat dan undangan-Nya yang penuh kasih agar kita mengubah kehidupan kita.

Tidak seorangpun yang telah berjumpa dengan Yesus dikecualikan dari tugas untuk menjadi saksi Kabar Baik kerajaan Allah. Tidak semua kita diutus ke berbagai tempat (Luk 10:1 dsj.), seperti 12 (dua belas) rasul dan 70 (tujuh puluh) murid lainnya, akan tetapi kita dipanggil untuk memberikan testimoni di antara kita-kita sendiri – apakah di rumah, di tempat kerja, di sekolah, atau di paroki (wilayah, lingkungan). Kita harus menerima dan mengakui Yesus dan memperkenankan perubahan-perubahan bekerja di dalam kehidupan kita untuk menunjukkan kepada orang-orang lain tentang kebenaran Yesus dan cara-Nya untuk memanggil kita untuk menghayati kehidupan kita.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku sebuah hati yang terbuka untuk mendengar sabda-Mu yang menyelamatkan. Buatlah diriku menjadi seorang pribadi yang mau dan mampu untuk berterima kasih penuh syukur untuk sabda-Mu dan taat kepada sabda-Mu itu. Berikanlah juga kepadaku keberanian untuk memberitakan pesan keselamatan-Mu kepada orang-orang yang kujumpai. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 10:13-15), bacalah juga tulisan sehubungan dengan perikop padanannya dalam Injil Matius (Mat 11:20-24) yang berjudul “YESUS MENGECAM BEBERAPA KOTA” (bacaan untuk tanggal 12-7-11) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 11-07 BACAAN HARIAN JULI 2011. 

Cilandak, 5 September 2011 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PESTA TIGA MALAIKAT AGUNG

PESTA TIGA MALAIKAT AGUNG

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta S. Mikael, Gabriel, dan Rafael, Malaikat Agung, Kamis 29-9-11) 

Kemudian timbullah peperangan di surga. Mikael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya, tetapi tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di surga.  Naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.

Lalu aku mendengar suara yang nyaring di surga berkata, “Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara seiman kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. Mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai harus menghadapi maut. Karena itu, bersukacitalah, hai surga dan hai kamu sekalian yang diam di dalamnya, celakalah kamu, hai bumi dan laut! karena Iblis telah turun kepadamu, dalam geramnya yang dahsyat, karena ia tahu bahwa waktunya sudah singkat.” (Why 12:7-12)

Bacaan Pertama alternatif: Dan 7:9-10,13-14;  Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-5; Bacaan Injil: Yoh 1:47-51 

Yohanes (penulis Why) melaporkan sebuah peperangan di surga, antara Mikhael yang dibantu oleh para malaikat lainnya di satu pihak dengan Iblis yang dibantu oleh para malaikat pemberontak. Iblis dan para malaikat jahat akhirnya dikalahkan oleh darah Anak Domba (Why 12:7-11). 

Hari ini kita merayakan ‘Pesta S. Mikael, Gabriel, dan Rafael, Malaikat Agung’. Gereja selalu menegaskan keberadaan para malaikat. Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengatakan bahwa malaikat adalah makhluk rohani tanpa badan yang mempunyai akal budi dan kehendak. Malaikat adalah pelayan dan pesuruh Allah. Mereka adalah wujud pribadi dan tidak dapat mati. Mereka melampaui segala makhluk yang kelihatan dalam kesempurnaan (KGK 328-330). Pada hari yang khusus ini baiklah kita masing-masing merenungkan pertanyaan-pertanyaan berikut: Peranan apakah yang dimainkan para malaikat dalam rencana Allah bagi umat-Nya? Mengapa mereka penting? Apakah mereka mempunyai arti bagi kita dewasa ini? Bagaimana seharusnya kita memandang para malaikat itu dalam terang Yesus? Kristus adalah pusat dunia malaikat: “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya” (Mat 25:31; lihat KGK 331). 

Injil Matius mencatat tiga peristiwa di mana Yesus berbicara mengenai para malaikat dan apa yang dilakukan mereka (Mat 4:11; 18:10; 26:53). Saya petik salah satu saja sabda Yesus: “Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga” (Mat 18:10). Kata-kata Yesus ini menjadi latar-belakang dari kepercayaan banyak orang Kristiani bahwa sebagai ‘agen kasih Allah’, para malaikat memperhatikan setiap manusia di muka bumi ini. Semoga anda tidak melupakan ayat-ayat dalam mazmur yang kita selalu baca pada Ibadat Penutup setiap Minggu malam: “Sebab TUHAN (Yahwe) ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu, malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu; sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu” (Mzm 91:9-12).[1] 

Fungsi-fungsi ketiga malaikat agung ini sejalan dengan pelayanan Yesus, yaitu mewartakan kabar baik, menyembuhkan orang sakit dan membebaskan orang-orang yang tertindas. Gabriel (= Allah berkuasa) adalah pesuruh utama Allah untuk membawa kabar baik kepada umat-Nya. Dia membawa kabar kepada Maria bahwa dirinya akan melahirkan sang Juruselamat. Rafael (= Allah menyembuhkan) diasosiasikan dengan pelayanan kesembuhan yang dilakukan Yesus (lihat Kitab Tobit). Mikael (= yang menyerupai Allah) membebaskan umat Allah dari penindasan dengan melakukan pertempuran melawan Iblis (Why 12:7). Iblis dan malaikat-malaikat jahat di surga memberontak terhadap Allah (Why 12:3-9) karena kedengkian si Iblis terhadap manusia (lihat KebSal 2:23-24) yang seturut kehendak-Nya menjadi “anak sulung di antara semua ciptaan-Nya” (Yak 1:18). Jadi, kalau kita mau melindungi diri kita sendiri, kita perlu mengingat bahwa ‘perang roh’ (spiritual warfare atau spiritual battle) yang kita hadapi itu adalah sungguh riil. Yesus memang telah mengalahkan Iblis dan para malaikat pemberontak, tetapi mereka masih bebas untuk menggoda dan mencobai kita sampai Yesus datang dalam kemuliaan-Nya kelak. 

Pada saat kita melibatkan diri dalam ‘perang roh’ dari hari ke hari, ingatlah akan peperangan yang dilakukan antara kekuatan baik dan kekuatan jahat. Dengan memahami keseriusan peperangan atau pertempuran rohani dan bagaimana hal itu dapat membawa dampak pada kehidupan kita, maka kita dapat mempersenjatai diri kita dengan keyakinan, bahwa melalui Yesus kita ‘dimasukkan’ ke dalam komunitas Tritunggal. Dalam Kristus, tidak ada sesuatu pun yang dapat mengalahkan kita; kita bahkan dapat mengatasi setiap serangan. Para malaikat Allah selalu ada untuk membantu kita.  Kitab Suci mengatakan: “Bukankah mereka semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang akan mewarisi keselamatan?” (Ibr 1:14). 

Selagi kita merayakan Pesta ketiga malaikat agung hari ini, marilah kita menghadap Yesus dengan segala kerendahan hati. Marilah kita bersyukur dan berterima kasih kepada Yesus karena kasih-Nya yang  begitu besar kepada kita dan segala berkat yang dilimpah-limpahkan-Nya kepada kita. Kita mohon kepada Yesus agar Dia mengutus para malaikat-Nya untuk menolong kita dalam ‘perang roh’ hari demi hari. 

DOA: Bapa surgawi, aku bersyukur kepada-Mu untuk kemuliaan dan keagungan para malaikat-Mu, meskipun hanya ada tiga malaikat agung saja yang kuketahui namanya dari Kitab Suci. Perkenankanlah mereka menolong aku dalam ziarahku di dunia ini, yaitu dalam perjalanan pulangku kepada-Mu. Semoga selalu ada malaikat-Mu yang mendampingiku dalam ‘perang roh’ yang harus aku jalani setiap hari. Dengan penuh rasa syukur dan hati yang terbuka-lebar aku menyambut kedatangan para malaikat-Mu ke dalam tugas pelayananku, keluargaku serta Gereja, dan kehadiran mereka dalam masyarakat luas guna menolong siapa saja yang berkehendak baik. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan hari ini {Why 7:7-12), bacalah juga tulisan yang berjudul “PESTA TIGA MALAIKAT AGUNG [3]” (bacaan untuk tanggal 29-9-11) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 11-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2011. Bacalah juga tulisan dengan judul “PESTA TIGA MALAIKAT AGUNG [2]” (bacaan untuk tanggal 29-9-10) dalam situs/blog yang sama; kategori 10-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2010. 

(Tulisan ini merupakan revisi dari tulisan untuk bacaan tanggal 29 September 2009) 

Cilandak, 5 September 2011 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS


[1] Teks diambil dari ALKITAB (TB) terbitan Lembaga Alkitab Indonesia yang mempunyai nuansa/ perbedaan-halus dengan teks  yang digunakan dalam buku Ibadat Harian.

HAL MENGIKUT YESUS

HAL MENGIKUT YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI, Rabu 28-9-11) 

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seseorang di tengah jalan kepada Yesus, “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Lalu Ia berkata kepada seorang yang lain, “Ikutlah Aku!”  Tetapi orang itu berkata, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapakku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” Lalu seorang yang lain lagi berkata, “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” (Luk 9:57-62)

Bacaan Pertama: Neh 2:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 137:1-6 

Yesus “mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem”  (Luk 9:51)! Yesus tahu jalan ke sana akan menyakiti, namun Dia juga tahu bahwa Dia akan pulang dan akan membuka rumah-Nya bagi kita semua, para murid-Nya. Ketika Yesus mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem, Ia tidak hanya melihat kematian dan kebangkitan. Ia juga melihat kenaikan-Nya ke surga dan kita yang akan bergabung dengan-Nya di sana.

Itulah sebabnya mengapa Yesus menyerukan kepada para murid-Nya untuk meninggalkan segala sesuatu di belakang dan mengikut Dia. Dia ingin membakar hati kita dengan hasrat akan “hadiah panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Flp 3:14). Kita bukanlah sekadar warga dunia ini. “… kewargaan kita terdapat di dalam surga dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia”  (Flp 3:20-21). Dengan surga dalam hati kita, kita pun dapat mengarahkan pandangan kita kepada Allah dengan penuh pengharapan. Yesus tahu bahwa sebagai para murid-Nya yang mengemban misi-Nya, kita menghadapi berbagai macam halangan dalam hidup kita, oleh karena itu Dia ingin membuka mata hati kita terhadap pancaran warisan kekal yang disediakan bagi kita dan membuatnya menjadi kekuatan pendorong di belakang ketetapan hati kita. Allah selalu siap untuk menunjukkan kepada kita bahwa kita sangat berharga di mata-Nya, yang sudah ditentukan (‘ditakdirkan’) untuk mengambil bagian dalam kemuliaan kerajaan-Nya.

Memang perjalanan Yesus ke Yerusalem akan ‘berakhir’ dengan kematian-Nya. Dia selalu mengajarkan kepada para murid, bahwa mengikut Dia melibatkan suatu ‘biaya’ yang sangat besar. Dia menggunakan tiga macam ‘ibarat’ untuk membantu para pendengar-Nya melihat kerajaan Allah dari sudut-pandang yang baru. Pertama-tama Yesus mengatakan: “Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Luk 9:58). Pernyataan Yesus ini janganlah diartikan secara harfiah karena Yesus cukup sering diundang orang-orang berada dan menikmati hospitalitas mereka. Pernyataan Yesus di sini ditujukan kepada sesuatu yang lebih mendalam, yaitu masyarakat manusia (pemerintah dan orang-orang seiman dengan-Nya) yang akan menolak-Nya dan pada akhirnya membunuh Dia. Penggunaan ‘ibarat’ yang kedua adalah ketika Yesus mengatakan: “Biarlah orang mati menguburkan orang mati” (Luk 9:60). Penguburan orang mati merupakan suatu kewajiban sakral dalam agama Yahudi, namun yang dimaksudkan Yesus adalah supaya orang-orang mempertimbangkan hal-hal dari sudut pandang yang berbeda. Yesus tidak bermaksud untuk membebaskan seseorang dari kewajiban menguburkan orang-orang yang dikasihinya. Yang mau ditekankan Yesus adalah, bahwa hal mengikut Dia itu lebih fundamental daripada kewajiban keagamaan lainnya. ‘Ibarat’ yang ketiga memberi kesan seakan-akan para pengikut-Nya tidak diperbolehkan untuk say goodbye secara formal kepada anggota keluarga mereka (Luk 9:61). Dalam hal ini, semoga kita tidak lupa bahwa nabi Elisa saja diperkenankan untuk say goodbye kepada ayah-ibunya sebelum mengikuti nabi Elia (1Raj 19:19-21).

Ketiga macam ‘ibarat’ ini sebenarnya mengajak kita semua untuk memusatkan perhatian kita pada kenyataan betapa agungnya panggilan Kristus dan bagaimana kita harus menanggapi panggilan tersebut tanpa syarat apa pun. Dalam kondisi kita sebagai turunan Adam, kita memang suka tergoda untuk menghitung-hitung berbagai kemungkinan untung-rugi pengambilan keputusan kita ……, dalam hal ini kita sering memandang ‘biaya pemuridan’  (cost of discipleship) yang ada di depan mata dan dibuat ‘jeri’ olehnya. Sebagai murid Yesus, begitu banyak rintangan – besar dan kecil – yang harus kita hadapi. Sesungguhnya Yesus menawarkan kepada setiap orang suatu hidup baru yang penuh sukacita dan lengkap, tetapi terwujud dalam suatu ‘pemisahan total’ dari keberadaan orang itu sebelumnya. Jadi para murid meninggalkan segalanya untuk mengikut Yesus atas dasar satu alasan, yaitu bahwa yang ditawarkan-Nya jauh lebih baik daripada yang mereka miliki (lihat Yoh 6:68).

DOA: Tuhan Yesus, Engkau memanggilku menjadi murid-Mu. Tolonglah diriku agar tidak menginginkan apa pun kecuali Engkau saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini {Luk 9:57-62), bacalah juga tulisan yang berjudul “YESUS ITU SERIUS DAN TIDAK PERNAH BERSIKAP LEBAI” (bacaan untuk tanggal 28-9-11) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 11-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2011. 

(Tulisan ini merupakan revisi dari tulisan untuk bacaan tanggal 30 September 2009) 

Cilandak, 4 September 2011 [HARI MINGGU XXIII] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SELALU ADA JALAN LAIN DI LUAR JALAN KEKERASAN

SELALU ADA JALAN LAIN DI LUAR JALAN KEKERASAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Vinsensius de Paul, Selasa 27 September 2011) 

Ketika hampir tiba waktunya Yesus diangkat ke surga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata, “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Akan tetapi, Ia berpaling dan menegur mereka. Lalu mereka pergi ke desa yang lain (Luk 9:51-56).

Bacaan Pertama: Za 8:20-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 87:1-7 

Pelangi dari zamrud, tua-tua yang mengenakan mahkota emas, para kudus yang mengenakan pakaian putih, sebuah kota yang terbuat dari emas murni, sungai yang memberikan air kehidupan begitu jernih seperti kristal (bdk. Why 4). Dengan bayangan akan rumah surgawi-Nya yang sedemikian, tidak mengherankanlah apabila Yesus “mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem” (Luk 9:51)! Dia tahu jalan ke sana akan menyakiti, namun Dia juga tahu bahwa Dia akan pulang dan akan membuka rumah-Nya bagi kita semua. 

Kalau kita coba membaca keteguhan hati Yesus, kita dapat membayangkan bahwa Dia cuma menggertakkan gigi-Nya dan kemudian mengundurkan diri ke tujuan-Nya. Namun ketika Yesus mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem, Ia tidak hanya melihat kematian dan kebangkitan. Ia juga melihat kenaikan-Nya ke surga dan kita yang bergabung dengan-Nya di sana. 

Dalam jalan-Nya, Yesus tidak menunjukkan toleransi samasekali terhadap sikap dan perilaku yang menyangkut kekerasan. Kakak beradik putera-putera Zebedeus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges atau “anak-anak guruh” (lihat Mrk 3:17) menanggapi penolakan orang-orang Samaria, lalu minta izin kepada Yesus untuk membinasakan desa Samaria itu dengan menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka. Yesus dengan tegas menolak “usulan” kedua murid-Nya itu dan malah menegur mereka. Selalu ada alternatif lain dari jalan kekerasan! ……… dalam kasus ini: pergi ke desa yang lain (lihat Luk 9:53-56). 

Yakobus dan Yohanes bersama Petrus adalah tiga orang murid Yesus yang tergolong “lingkaran dalam”. Jika yang termasuk “lingkaran dalam” saja masih belum juga memahami serta menghayati segala pengajaran-Nya, bagaimana dengan para murid yang lain? Yerusalem sudah di depan mata! Itulah sebabnya mengapa pada waktu melanjutkan perjalanan mereka, Yesus melanjutkan pengajaran-Nya kepada mereka tentang pemuridan/kemuridan dalam hal mengikut Dia (lihat Luk 9:57-62). Yesus menyerukan kepada para murid-Nya itu untuk meninggalkan segala sesuatu di belakang dan mengikut Dia. Dia ingin membakar hati kita dengan hasrat akan “hadiah panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Flp 3:14). Kita bukanlah sekedar warga dunia ini. “… kewargaan kita terdapat di dalam surga dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia”  (Flp 3:20-21). Dengan surga dalam hati kita, kita pun dapat mengarahkan pandangan kita kepada Allah dengan penuh pengharapan. 

Dalam perjalanan keliling-Nya untuk melayani orang-orang (bukan untuk tebar pesona), Yesus menghadapi begitu banyak tentangan, perlawanan, sengsara dan bahkan kematian di kayu salib seakan penjahat kelas berat, namun Dia tidak pernah mundur. Ia tahu bahwa sebagai murid-murid-Nya kita pun menghadapi banyak tentangan dan halangan dalam kehidupan kita. Oleh karena itu Dia ingin membuka mata hati kita terhadap pancaran warisan kekal kita dan membuatnya menjadi kekuatan pendorong di belakang ketetapan hati kita. Allah selalu siap untuk menunjukkan kepada kita bahwa kita sangat berharga di mata-Nya, sudah ditentukan (“ditakdirkan”) untuk mengambil bagian dalam kemuliaan kerajaan-Nya. Melalui doa-doa harian, perhatian serius atas sabda Allah dalam Kitab Suci, rahmat sakramen-sakramen, kita semua dapat diperkuat dalam perjalanan kita. Marilah kita menghadap Yesus hari ini dan membuka hati kita bagi-Nya. 

DOA: Bapa surgawi, bukalah hati kami terhadap kemuliaan rumah surgawi kami. Semoga visi ini mendorong kami melangkah ke depan selagi kami mencari Yesus, Putera-Mu terkasih, mutiara yang begitu berharga. Yesus, kami ingin bersama-Mu selama-selamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 9:51-56), bacalah tulisan berjudul “JANGAN PERNAH MEMAKSA ORANG YANG TIDAK MAU MENERIMA KABAR BAIK YESUS KRISTUS” (bacaan untuk tanggal 27-9-11) dalam situs SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 11-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2011. 

(Tulisan ini merupakan revisi dari tulisan untuk bacaan tanggal 28 September 2010) 

Cilandak, 4 September 2011 [HARI MINGGU BIASA XXIII] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YANG TERKECIL DI ANTARA KAMU SEKALIAN, DIALAH YANG TERBESAR

YANG TERKECIL DI ANTARA KAMU SEKALIAN, DIALAH YANG TERBESAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI, Senin 26-9-11) 

Kemudian timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya , dan berkata kepada mereka, “Siapa saja yang menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.”

Yohanes berkata, “Guru, kami lihat seseorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” Yesus berkata kepadanya, “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.” (Luk 9:46-50)

Bacaan Pertama: Za 8:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 102:16-23,29 

Para murid Yesus telah melihat Ia berkhotbah tentang Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan, menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir roh-roh jahat yang merasuki orang-orang, membuat berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya. Setelah memberikan kepada mereka otoritas di atas roh-roh jahat dan kuasa untuk menyembuhkan berbagai penyakit, Yesus juga telah mengutus para murid untuk memberitakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang-orang sakit (Luk 9:1-2). Kecenderungan manusia adalah memperkenankan kuasa masuk ke dalam kepala kita. Dengan demikian, herankah anda kalau membaca bahwa belum apa-apa para murid Yesus sudah saling bertengkar tentang siapa yang paling besar di antara mereka? 

Kenyataan bahwa para murid yang sudah begitu dekat dengan Sang Guru, sekarang jatuh ke dalam situasi ‘persaingan tidak sehat’ satu dengan lainnya dapat menyebabkan kita bertanya-tanya apakah mungkin bagi kita bersikap dan berperilaku rendah hati seorang anak dan sepenuhnya tergantung kepada Allah sebagaimana diajarkan oleh Yesus? “Yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar” (Luk 9:48). Namun pengalaman para murid Yesus pertama itu sebenarnya dapat mengajarkan kepada kita pelajaran sebaliknya. Mereka belajar dari kegagalan-kegagalan mereka. Oleh kuasa Roh Kudus, mereka bertumbuh dalam kerendahan hati yang mereka butuhkan untuk peranan pelayanan bagi Kerajaan Allah. 

Sejak terkandung-Nya dalam rahim Perawan Maria, Yesus menjalani suatu kehidupan yang rendah hati secara lengkap. Santo Paulus menulis, bahwa Kristus Yesus, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa  seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp 2:6-7). Dengan rendah hati Yesus memperkenankan Bapa menjadi segalanya dalam apa yang dilakukan-nya (lihat Yoh 5:19). Dalam kerendahan hati penuh ketaatan sebagai manusia, Yesus sampai mati di kayu salib (lihat Flp 2:8). 

Rahasia untuk menjadi rendah hati terletak pada Yesus sendiri. Kepada siapa di antara kita yang merasa dibebani dengan kesombongan dan sikap serta perilaku mementingkan diri sendiri, Yesus bersabda, “Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku” (Mat 11:29). Dengan demikian, kita berada di jalan menuju kerendahan hati sementara kita memeditasikan Yesus dan semakin dekat dengan kasih-Nya kepada kita. Kunci terhadap kerendahan hati terletak pada kehadiran Yesus yang rendah hati untuk diam dalam hati kita Baiklah kita seringkali berpaling kepada-Nya, terutama pada hari ini dan berkata, “Buatlah diriku menjadi seperti Engkau, ya Yesus.” 

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami berdiam  dalam persekutuan dengan Allah, hal mana telah hilang melalui dosa kami namun diperbaharui bagi kami melalui kematian-Mu yang penuh kedinaan dan juga kebangkitan-Mu. Melalui persekutuan ini, semoga kami memperoleh kerendahan hati yang Engkau hasrati untuk kami miliki. Amin. 

Catatan: Bacalah juga tulisan berjudul “SIAPA YANG TERBESAR ???” (bacaan untuk tanggal 26-9-11) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 11-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2011. 

(Tulisan ini merupakan revisi dari tulisan untuk bacaan tanggal 27 September 2010) 

Cilandak, 4 September 2011 [HARI MINGGU BIASA XXIII] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERUMPAMAAN TENTANG DUA ORANG ANAK

PERUMPAMAAN TENTANG DUA ORANG ANAK

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVI, 25-9-11)

“Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal dan pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Anak itu menjawab: Baik, Bapa, tetapi ia tidak pergi. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka, “Yang pertama.” Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan pelacur akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan pelacur percaya kepadanya. Meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya” (Mat 21:28-32).

Bacaan pertama: Yeh 18:25-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-9; Bacaan Kedua: Flp 2:1-11

Yesus suka memberi pengajaran dengan merujuk kepada rupa-rupa karakter yang dimiliki manusia. Perumpamaan tentang dua orang anak ini menunjukkan bagaimana Yesus sungguh memahami manusia. Ada anak-anak yang mengatakan bahwa mereka taat serta patuh terhadap perintah-perintah orangtua mereka, namun mereka tetap saja melakukan apa saja yang mereka inginkan sendiri. Di lain pihak ada juga anak-anak yang menggerutu ketika diperintahkan sesuatu oleh orangtua mereka, namun mereka melakukan juga apa yang diinginkan orangtua mereka.

Yesus menceritakan perumpamaan ini untuk membenarkan orang-orang yang dipandang hina oleh para pemuka agama pada zaman-Nya. Orang-orang ini menolak kehendak Allah pada awalnya, namun kemudian bertobat dan hidup mereka benar di mata Allah. Di sisi lain, para pemuka agama itu berkhotbah serta mengajar orang-orang untuk mengikuti hukum Allah, namun pada kenyataannya membuat diri mereka sendiri HUKUM, yang harus diikuti oleh orang-orang. Yesus mengajarkan bahwa ketaatan serta kepatuhan kepada kehendak Allah bukanlah sekadar dalam ucapan kata-kata, melainkan harus diwujudkan dalam perbuatan.

Yesus memahami kita dan Ia tahu betapa sulit bagi kita untuk membuang egosentrisme serta egoisme dari diri kita, agar mampu merangkul sepenuhnya kehendak Allah. Namun demikian, Yesus menghendaki lebih dari sekadar ucapan kata-kata dari kita masing-masing. Dalam ‘Doa Bapa Kami’ kita memang mengatakan, “Terjadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga”, akan tetapi setelah mengucapkannya kita juga harus meneladan Yesus dalam arti sesungguhnya. Menjelang sengsara dan kematian-Nya Dia mengajar para murid-Nya: “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. …… Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang Kuperbuat kepadamu” (Yoh 13:13.15).

Walaupun Yesus memiliki kodrat ilahi, Dia juga memiliki kodrat insani. Dia menjadi manusia seperti kita kecuali dalam hal dosa (bdk. Ibr 4:15) dan ketaatan-Nya sebagai manusia terhadap kehendak Bapa-Nya membawa-Nya kepada kematian di kayu salib. Apakah hal ini mudah bagi Yesus. Tentu saja tidak!!!  Pada waktu Dia menderita di taman Getsemani pada malam hari sebelum kematian-Nya, Yesus seperti anak yang mengatakan, “Aku tidak mau” dalam perumpamaan di atas. Akan tetapi dari doa-Nya Yesus menemukan kekuatan untuk mengatakan kepada Bapa, “Ya Abba, ya Bapa, segala sesuatu mungkin bagi-Mu, ambillah cawan ini dari hadapan-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki” (Mrk 14:36). Kita semua tahu bahwa Yesus taat sampai titik terakhir, seperti ditulis oleh Santo Paulus: “… dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:8).

DOA: Tuhan Yesus, kami sungguh menyesali dosa-dosa kami karena segala ketidak-taatan kami kepada-Mu. Berikanlah kepada kami rahmat untuk menghayati suatu kehidupan Kristiani yang otentik, yang memberikan kemuliaan kepada nama-Mu. Amin.

Catatan: Bacalah juga tulisan berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG DUA ORANG ANAK YANG TIDAK SEMPURNA” (bacaan untuk tanggal 25-9-11) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 11-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2011.

(Tulisan ini merupakan revisi dari tulisan untuk bacaan tanggal 15 Desember 2009)

Cilandak, 4 September 2011 [HARI MINGGU BIASA XXIII]

Sdr.F.X. Indrapradja, OFS

PEMBERITAHUAN KEDUA TENTANG PENDERITAAN YESUS

PEMBERITAHUAN KEDUA TENTANG PENDERITAAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV, Sabtu 24-9-11) 

Ketika semua orang itu masih heran karena segala sesuatu yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Dengarlah dan perhatikanlah semua perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia. Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Namun mereka segan menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya (Luk 9:43b-45).

Bacaan Pertama: Za 2:1-5,10-11a; Mazmur Tanggapan: Yer 31:10-13 

Apa jadinya kalau ilmu kedokteran dan pengobatan berhasil mencapai puncaknya dan berhasil menghentikan semua sakit-penyakit? Tentunya hal seperti ini akan mendatangkan kegembiraan dan sukacita yang luarbiasa, namun tentunya – oleh iman – kita tahu bahwa hal itu tidak akan menjawab kebutuhan-kebutuhan spiritual kita. Hanya SALIB KRISTUS-lah yang dapat menjawab hasrat hati kita akan Allah. Lukas mengungkapkan pokok kebenaran ini dengan melakukan penjajaran antara “cerita tentang mukjizat Yesus” dengan “pemberitahuan kedua tentang penderitaan Yesus” (bacaan hari ini). Ketika Yesus mengusir roh jahat dan menyembuhkannya (lihat Luk 9:38-42), maka “takjublah semua orang itu pada kebesaran Allah” (Lukl 9:43a). Namun sementara orang banyak itu terpesona dan terkagum-kagum pada segala kebaikan yang diperbuat-Nya, Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Dengarlah dan perhatikanlah semua perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke tangan manusia” (Luk 9:43b-44). 

Sekali lagi, Yesus mengungkapkan realitas sentral dari misi-Nya kepada semua orang yang akan menjadi murid-murid-Nya. Salib Kristus adalah jalan penyelamatan dan kehidupan kekal. Kemuridan/pemuridan berarti kebersatuan dengan sang Guru, Yesus …… artinya kebersatuan dengan Allah, yang berarti kepenuhan hidup. Hal ini bukanlah sebuah hasil mukjizat-mukjizat atau pengajaran-pengajaran, melainkan didapat melalui ketaatan kepada panggilan Yesus: “Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk 9:23). 

Karena iman-kepercayaan mereka, para murid mampu untuk keluar “memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat” (Luk 9:6). Itu adalah buah dari panggilan mereka sebagai murid-murid Yesus, namun bukan hakekatnya. Kemuridan-penuh berarti memperkenankan salib Kristus untuk memisahkan kita dari kedosaan dan membuat kita lebih serupa lagi dengan gambar (imaji) sang Putera Allah. 

Ini adalah untuk kedua kalinya Yesus membuat prediksi (kalau tidak mau dikatakan “nubuat”) kepada para murid-Nya tentang sengsara dan wafat-Nya, namun Injil mencatat: “Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka sehingga mereka tidak dapat memahaminya” (Luk 9:45). Pada akhirnya, mereka harus mengalami kebangkitan Kristus dulu untuk dapat memahami benar apa arti sesungguhnya dari salib-Nya. Demikian pula kiranya dengan kita semua. Hanya oleh kuasa Roh Kudus-lah kita dapat mengalami arti kebebas-merdekaan dan pengharapan yang tersedia bagi kita semua, yaitu apabila kita memperkenankan salib Kristus untuk membinasakan segala jalan kedosaan di dalam diri kita. Dengan demikian, marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk membuka pikiran dan hati kita bagi kuasa yang dapat mengalir dari kebersatuan kita dengan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. 

DOA: Bapa kami yang ada di surga, Allah yang Mahabaik dan sumber segala kebaikan. Hanya Engkaulah yang baik. Bapa, tulislah pesan salib dalam hati kami masing-masing, agar kami dapat menjadi semakin matang dalam hidup kami dalam Roh, melalui kemenangan Putera-Mu terkasih atas dosa dan maut. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 9:43b-45), bacalah juga tulisan yang berjudul “KITA DIPANGGIL UNTUK MENGHAYATI KEHIDUPAN TERSALIB” (bacaan untuk tanggal 24-9-11) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 11-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2011. 

(Tulisan ini merupakan revisi dari tulisan untuk bacaan tanggal 25 September 2010) 

Cilandak, 4 September 2011 2011 [HARI MINGGU BIASA XXIII/ Hari Minggu Kitab Suci Nasional]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS