YESUS MENGASIHI KITA DENGAN KASIH YANG DIMULAI SEBELUM PENCIPTAAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Kamis, 2 April 2020)

Peringatan Fakultatif S. Fransiskus dr Paolo, Pertapa

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” Kata para pemuka Yahudi kepada-Nya, “Sekarang kami tahu bahwa Engkau kerasukan setan. Sebab Abraham telah mati dan demikian juga nabi-nabi, namun Engkau berkata: Siapa saja yang menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. Apakah Engkau lebih besar daripada bapak kita Abraham, yang telah mati! Nabi-nabi pun telah mati; dengan siapa Engkau samakan diri-Mu?” Jawab Yesus, “Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikit pun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami, padahal kamu tidak mengenal Dia, tetapi Aku mengenal Dia. Dan jika Aku berkata: Aku tidak mengenal Dia, maka Aku adalah pendusta, sama seperti kamu, tetapi Aku mengenal Dia dan aku menuruti firman-Nya. Abraham bapakmu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita.” Lalu kata para pemuka Yahudi itu kepada-Nya, “Umur-Mu belum lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?” Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sebelum Abraham ada, Aku telah ada.” Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah. (Yoh 8:51-59) 

Bacaan Pertama: Kej 17:3-9, Mazmur Tanggapan: Mzm 105:4-9 

“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sebelum Abraham ada, Aku telah ada.” (Yoh 8:58)

Cukup sulit memang bagi orang-orang Yahudi pada zaman Yesus untuk menerima Dia sebagai seorang nabi, apalagi sebagai sang Mesias. Akan tetapi Yesus memberikan kepada mereka suatu tantangan yang bahkan lebih besar: untuk percaya bahwa Dia adalah Putera Allah sendiri, yang menggunakan kuasa Allah sendiri yang memberikan kehidupan: “Siapa saja menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya” (Yoh 8:51; bdk. 5:19-27). Suatu klaim sedemikian berarti bahwa Yesus memiliki suatu relasi dengan Allah yang tidak dimiliki oleh manusia yang mana pun. Yesus malah melangkah lebih jauh lagi dengan mengatakan kepada pada pendengar-Nya, bahwa walaupun katakanlah orang-orang itu adalah turunan Abraham, hal itu tidaklah berarti bahwa secara otomatis mereka mengenal Allah (lihat Yoh 8:55) – teristimewa tidak jikalau mereka menolak untuk menerima Dia sebagai Putera Allah. Kata-kata berani ini tidak bisa tidak akan menggiring Yesus ke dalam situasi yang sulit, namun Ia tetap mengucapkannya – straight to the point – tanpa tedeng aling-aling.

Ketika Yesus mengatakan, “Sebelum Abraham ada, Aku telah ada” (Yoh 8:58), sebenarnya Dia mengklaim lebih daripada sekadar sudah eksis sejak zaman Abraham. “Aku ada” adalah ungkapan Allah tentang diri-Nya (lihatlah Yes 41:4; 43:10; dan 45:18). Dengan menggambarkan diri-Nya sebagai “Aku ada”, Yesus jelas mengidentifikasikan diri-Nya dengan Allah.

Seperti “Hikmat” yang dipersonifikasikan dalam Kitab Amsal, Yesus hadir bersama Allah pada saat penciptaan (Ams 8:27-31). Ia senantiasa bersama Allah (Yoh 1:1-5). Ia tidak pernah berhenti sebagai Allah (Why 11:15). Rencana Allah untuk menyelamatkan umat-Nya dari cengkeraman dosa dan maut selalu melibatkan Putera-Nya. Putera-Nya selalu berelasi secara akrab, bersetuju secara paling lengkap, dengan Bapa sehubungan dengan penyelamatan yang harus dilaksanakan-Nya di dalam dunia.

Semua pokok yang baru dikemukakan ini mungkin terdengar terlalu teoretis dan abstrak, namun ada banyak hal di sini yang dapat membawakan penyembuhan dan janji kepada kita, apabila kita tinggal pada kebenaran-kebenaran ini dalam doa. Karena Yesus adalah Allah, maka kita dapat menaruh hidup kita dalam tangan-tangan kasih-Nya dengan penuh kepercayaan. Ia mengasihi kita dengan kasih yang dimulai sebelum penciptaan dan memanifestasikan dirinya secara paling penuh dalam kematian-Nya sebagai kurban tebusan bagi kita masing-masing. Yesus tidak akan membuang orang-orang yang menaruh kepercayaan kepada-Nya. Selagi kita menghadapi begitu banyak tantangan dari hari ke hari, iman-kepercayaan kita dapat mulai goyah. Untuk menjaga keseimbangan, marilah kita senantiasa mengingat, bahwa “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8).

DOA: Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah mengenal diriku sejak sebelum aku dilahirkan. Aku menaruh kepercayaan pada rencana-Mu untuk diriku. Aku pun percaya bahwa Engkau tidak akan pernah berubah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kej 17:3-9), bacalah tulisan berjudul “DIJADIKAN BAPA BANYAK BANGSA, NAMA ABRAM DIGANTI MENJADI ABRAHAM” (bacaan tanggal 2-420) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-04 BACAAN HARIAN APRIL 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-3-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  1 April 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS