YESUS MASIH TERUS MENANTIKAN KITA AGAR DATANG KEPADA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Senin, 30 Maret 2020)

Lalu mereka pulang ke rumah masing-masing, tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun. Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Lalu ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berzinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus, “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika dia sedang berzinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian dengan batu. Bagaimana pendapat-Mu tentang hal itu?” Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka, “Siapa saja di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Ia membungkuk lagi dan menulis di  tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya, “Hai perempuan, di manakah mereka?” Tidak adakah seorang pun yang menghukum engkau?” Jawabnya, “Tidak ada, Tuan.” Lalu kata Yesus, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi.” (Yoh 8:1-11) 

Bacaan Pertama: Dan 13:1-9,15-17,19-30,33-62 atau Dan 13:41c-62; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6 

Dapatkah anda membayangkan emosi perempuan ketika dia didapati sedang melakukan perzinahan dengan seorang laki-laki yang tentunya bukan pasangan hidupnya (kalau pun ada)? Tentunya dia merasa serba salah dan malu. Akan tetapi di sini ada yang lebih menakutkan daripada penghinaan – dan perempuan itu pun tentunya tahu. Hukum Musa (lihat Im 20:10) menyatakan bahwa seorang pezinah haru dihukum rajam sampai mati. Jadi sangat mungkinlah rasa malu dlsb. dengan cepat diambil alih oleh rasa takut yang teramat sangat.

Ketika para ahli Taurat dan orang Farisi membawa perempuan itu kepada Yesus, sang Rabi dari Nazaret itu malah membuat diri-Nya berhadap-hadapan dengan para pemuka agama Yahudi tersebut. Yesus membuat mereka berkonfrontasi dengan dosa-dosa mereka sendiri. Sekarang merekalah yang “tertangkap basah” dan tanggapan mereka adalah pergi meninggalkan tempat itu, satu demi satu. Sungguh merupakan kelegaan luarbiasa (lahir dan batin) bagi si perempuan.

Namun demikian, ada satu hal penting yang dikatakan Yesus: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang jangan berbuat dosa lagi” (Yoh 8:11). Marilah kita coba membayangkan bagaimana perasaan si perempuan ketika mendengar kata-kata Yesus itu, yaitu selagi rasa takut dan terhinanya digantikan pertama-tama oleh kelegaan dan kemudian dengan rasa sukacita penuh syukur. Tidak hanya dia terbebaskan dari hukuman mati yang mengerikan; perempuan itu telah mengalami pengampunan ilahi langsung dari Putera Allah sendiri.

Tidak seperti perempuan itu, kita pada umumnya tidak dihadapkan dengan kematian fisik untuk dosa-dosa kita. Namun demikian, Santo Paulus mengingatkan kita bahwa upah dosa ialah maut (Rm 6:23). Jauh lebih buruk daripada akhir hidup kita adalah maut ini, karena hal itu berarti selamanya (kekal-abadi) dipisahkan dari kasih Allah dan kasih orang-orang di sekeliling kita.

Tidak mengherankanlah apabila cerita tentang perempuan yang kedapatan berzinah ini berbicara dengan penuh kuasa kepada kita yang membaca dan merenungkannya! Setiap hari, masing-masing kita mendapat kesempatan untuk mengalami perjumpaan yang memberi-hidup dengan Yesus. Setiap hari, Dia menawarkan kepada kita kasih dan belas kasih sama seperti yang diberikan-Nya kepada perempuan dalam bacaan Injil hari ini, kasih dan belas kasih yang akan memenuhi diri kita dengan pengharapan dan rasa syukur. Dosa membebani diri kita dan membuat kita kehilangan sukacita. Akan tetapi jika kita mengetahui bahwa kita telah diampuni, maka seluruh hidup kita berubah. Kita dibebaskan dari rasa bersalah yang berkepanjangan. Pandangan hidup kita juga berubah secara dramatis. Dst. Dlsb.

Dengan kontras sedemikian antara tetap terikat dalam dosa dan mengalami kuasa dari kasih dan belas kasih Allah, semoga tidak ada lagi penghalang terhadap upaya kita untuk menerima Sakramen Rekonsiliasi. Apa lagi yang mungkin menghalangi kita dari upaya datang kepada Yesus agar kita dapat mendengar kata-kata yang memberi-hidup dari Yesus: “Aku pun tidak menghukum engkau”? Yesus masih terus menantikan kita agar datang kepada-Nya dengan hati yang penuh penyesalan atas dosa-dosa kita.

DOA: Bapa surgawi, aku sungguh begitu berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau mengampuni setiap dosaku betapa besar sekali pun dosaku itu, asalkan aku mohon pengampunan kepada-Mu dalam penyesalan sejati. Anugerahkanlah karunia pertobatan kepadaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 8:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “PERGILAH, DAN MULAI SEKARANG, JANGAN BERBUAT DOSA LAGI” (bacaan tanggal 30-3-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-03 BACAAN HARIAN MARET 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-4-19 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 29 Maret 2020 [HARI MINGGU PRAPASKAH V – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS