AKU DATANG DARI DIA DAN DIALAH YANG MENGUTUS AKU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Jumat, 5 April 2019)

Sesudah itu Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau berkeliling di Yudea, karena di sana para pemuka Yahudi berusaha untuk membunuh-Nya. Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun.

Tetapi, sesudah Saudara-saudara-Nya berangkat ke pesta itu, Ia pun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan melainkan diam-diam.

Kemudian beberapa orang Yerusalem berkata, “Bukankah Dia ini yang mau mereka bunuh? Namun lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya. Mungkinkah pemimpin kia benar-benar sudah tahu bahwa Dialah Kristus? Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya, sebaliknya bilamana Kristus datang, tidak ada seorang pun yang tahu dari mana asal-Nya.” Waktu Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berseru, “Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku.”

Mereka berusaha menangkap dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba. (Yoh 7:1-2,10,25-30) 

Bacaan Pertama: Keb 2:1a,12-22, Mazmur Tanggapan:  Mzm 34:17-21,23

Yesus berkata kepada orang-orang di Bait Allah yang sedang mendengarkan pengajaran-Nya: “Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku” (Yoh 7:28-29).

Ada pandangan orang-orang Yahudi pada zaman itu, bahwa manakala Mesias datang, tidak seorang pun mengetahui asal-usul-Nya (lihat Yoh 7:27). Akan tetapi, bukankah umat pilihan Allah ini telah mengetahui bahwa bilamana Mesias datang, maka Ia datang dari Allah yang mereka klaim mengenal-Nya dan menyembah-Nya? Namun demikian, Yesus berkata tentang Bapa yang mengutus-Nya, Allah dari Umat-Nya, yang mereka tidak kenal.

Ini tentunya bukanlah kesalahan para nabi dan para kudus Perjanjian Lama, yang senantiasa mendesak umat pilihan Allah ini untuk menaruh kepercayaan kepada YHWH, tidak kepada manusia. Dan apabila para penulis suci kelihatan terkadang memandang Allah dari kejauhan, menempatkan Dia terlalu jauh dari Umat-Nya, mereka dapat mengejutkan kita kemudian dengan membuat Dia terlalu manusiawi, berpikir tentang Dia dengan istilah-istilah yang sangat manusiawi dan membumi. Dan walaupun mereka belum/tidak siap untuk memahami misteri inkarnasi – Mesias sebagai Allah yang menjadi manusia – mereka sudah siap mengharapkan seorang Mesias yang manusia.

Lalu, mengapa mereka tidak mau menerima orang ini, yang telah diutus oleh Bapa surgawi?

Apakah karena Dia terlalu mirip dengan Allah yang mereka klaim mengenal-Nya, dan terlalu jauh dari standar-standar dunia yang telah ditetapkan bagi seorang Mesias oleh mereka? Bukankah ini kasus sebuah umat yang berkata – barangkali juga berpikir – bahwa mereka mengenal dan menyembah Allah yang benar, namun sesungguhnya mereka menyembah gambaran Dia yang salah?

Orang-orang Yahudi itu tidak dapat menerima “skandal” Yesus, “skandal” tentang Allah mereka, yang melepaskan diri-Nya dari kekayaan ilahi-Nya untuk menjadi satu dengan orang-orang miskin; Allah mereka, yang memilih untuk lahir ke dunia di tengah-tengah orang miskin dan mengenakan kemiskinan yang luarbiasa dan ketiadaan arti dalam masyarakat; Allah mereka, yang dalam kasih ilahi-Nya tidak dapat mengambil apa pun bagi diri-Nya sendiri, melainkan hidup dalam penghayatan suatu kehidupan yang memberikan diri-sendiri secara lengkap dan total.

DOA: Tuhan Yesus, apakah kami mengenal Engkau dengan lebih baik? Apakah kami sungguh menerima Engkau sebagai Mesias kami? Tuhan kami sungguh percaya bahwa Engkau adalah sungguh sang Mesias, Tuhan dan Juruselamat kami. Ampunilah kami yang terkadang kurang percaya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Keb 2:1a,12-22), bacalah tulisan yang berjudul “BERSIKAP DAN BERPERILAKU BERBEDA DENGAN KEBANYAKAN ORANG LAIN” (bacaan  tanggal 27-3-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-03 BACAAN HARIAN MARET 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-4-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 27 Maret 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS