Archive for March, 2020

PERCAYA SEPENUHNYA KEPADA PERLINDUNGAN ALLAH

PERCAYA SEPENUHNYA KEPADA PERLINDUNGAN ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Rabu, 1 April 2020)


Berkatalah Nebukadnezar kepada mereka: “Apakah benar, hai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak memuja dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu? Sekarang, jika kamu bersedia, demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah menyembah patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?” Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”

Maka meluaplah kegeraman Nebukadnezar, air mukanya berubah terhadap Sadrakh, Mesakh dan Abednego; lalu diperintahkannya supaya perapian itu dibuat tujuh kali lebih panas dari yang biasa. Kepada beberapa orang yang sangat kuat dari tentaranya dititahkannya untuk mengikat Sadrakh, Mesakh dan Abednego dan mencampakkan mereka ke dalam perapian yang menyala-nyala itu.

Kemudian terkejutlah raja Nebukadnezar lalu bangun dengan segera; berkatalah ia kepada para menterinya: “Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu?” Jawab mereka kepada raja: “Benar, ya raja! Katanya: “Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat rupanya seperti anak dewa!”

Berkatalah Nebukadnezar: “Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah manapun kecuali Allah mereka. (Dan 3:14-20,24-25,28) 

Mazmur Tanggapan: Dan 3:52-56; Bacaan Injil: Yoh 8:31-42 

Dalam Kitab Daniel, kita membaca kisah tiga orang muda yang diikat dan dimasukkan ke dalam perapian akan dilumat habis oleh kobaran api dalam perapian itu. Namun, di dalam perapian itu mereka berjalan-jalan dengan bebas sambil mengangkat tangan mereka memuji-muji Allah. Bagaimana reaksi anda seandainya kasus sama atau serupa menimpa diri anda? Akankah anda berperilaku seperti ketiga orang muda itu, yang percaya sepenuhnya kepada perlindungan Allah? Percayakah anda bahwa tidak ada sesuatupun dalam segenap ciptaan yang dapat merusak rencana Allah Bapa bagi umat yang dikasihi-Nya?

Kadang-kadang Allah memperkenankan kita untuk mengalami berbagai pencobaan agar Ia dapat mencapai tujuan-Nya dalam diri kita. Dia kadang-kadang menggunakan “api” sedemikian untuk membebaskan kita dari ikatan yang membelenggu kita. “Api” ini dapat datang dalam banyak cara dan dari banyak sumber yang berbeda-beda. Misalnya, ada orang-orang yang yang memiliki sifat eksplosif atau ketiadaan bela rasa bagi sesama, dan hal itu menyeretnya ke dalam kesulitan. Ada orang-orang lain, seperti ketiga orang muda dalam bacaan hari ini, ditempatkan dalam kesulitan-kesulitan bukan karena kesalahan mereka sendiri, melainkan karena iman mereka dalam Kristus dan komitmen mereka pada Injil-Nya.

Apapun sumbernya, pencobaan-pencobaan mempunyai suatu cara untuk menyingkap kelemahan-kelemahan kita dan menggiring kita kepada Tuhan untuk memperoleh kesembuhan dan kekuatan. Oleh sifatnya yang hakiki, pencobaan-pencobaan membuat kita merasakan kebutuhan akan pertolongan dari Tuhan. Pencobaan-pencobaan menggiring kita kepada suatu persatuan yang lebih mendalam dengan Allah, selagi kita memperkenankan kehidupan lama kita disalibkan dengan Kristus secara lebih mendalam lagi. Pencobaan-pencobaan yang berapi-api itu dapat berjalan jauh dalam mentransformasikan “teologi” kita ke dalam pengalaman praktis.

Menurut Kitab Suci, Shadrakh, Mesakh dan Abednego keluar dari perapian dengan tubuh yang tidak mempan oleh api, rambut mereka pun tidak hangus, jubah mereka tidak berubah apa-apa, bahkan bau kebakaran pun tidak ada pada mereka (lihat Dan 3:27). Pernahkah kita bertemu dengan orang-orang yang mengalami serentetan penderitaan tanpa henti (layaknya doa litani), namun tetap saja memancarkan sukacita dan penuh semangat untuk hidup? Seringkali mereka berbicara mengenai betapa baik dan setia Allah kepada mereka, bahkan bagaimana penderitaan-penderitaan mereka telah menghasilkan buah – yang tak diharap-harapkan sebelumnya – dalam kehidupan mereka. Orang-orang seperti itu memberi kesaksian atas janji Allah yang mengatakan kalau kita mendekat kepada Dia dalam pencobaan yang berapi-api, maka kehadiran-Nya di dalam diri kita akan mentransformasikan hati kita dan bercahaya melalui kehidupan kita. Kehadiran Allah memiliki kuat-kuasa untuk mengusir segala akar kepahitan, merasa kasihan pada diri sendiri (self-pity), dan ketiadaan pengharapan – semua bau asap yang begitu mudah melekat pada diri kita.

DOA: Bapa surgawi, aku memuji Engkau untuk kasih-Mu yang setia dan berbelas kasih. Aku menyerahkan segalanya yang sulit dalam kehidupanku. Bebaskanlah aku dari belenggu yang mengikat diriku, yang menghalangi kehidupan-Mu dalam diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh  8:31-42), bacalah tulisan yang berjudul “JADI, APABILA ANAK ITU MEMERDEKAKAN KAMU, KAMU PUN BENAR-BENAR MERDEKA” (bacaan tanggal  1-4-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-04 BACAAN HARIAN APRIL 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul semua untuk bacaan tanggaal 10-4-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 30 Maret 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BILA KITA MEMANDANG SALIB KRISTUS, MAKA ALLAH MEMBERIKAN PENYEMBUHAN DAN KERAHIMAN-NYA

BILA KITA MEMANDANG SALIB KRISTUS, MAKA ALLAH MEMBERIKAN PENYEMBUHAN DAN KERAHIMAN-NYA

(Bacaan Pertama Misa, Selasa, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Selasa, 31 Maret 2020)

Setelah mereka berangkat dari gunung Hor, berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah Edom, maka bangsa itu tidak dapat lagi menahan hati di tengah jalan. Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak. Lalu TUHAN menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati. Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata: “Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan TUHAN dan engkau; berdoalah kepada TUHAN, supaya dijauhkan-Nya ular-ular ini dari pada kami. Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu. Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.”  Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup. (Bil 21:4-9) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 102:2-3,16-21; Bacaan Injil: Yoh 8:21-30 

Selagi mereka mendekati akhir dari perjalanan panjang mereka menuju “tanah terjanji”, orang-orang Israel – anak-anak dari generasi yang meninggalkan tanah perbudakan Mesir – tergoda untuk mengeluh kepada Musa: “Mengapa kamu memimpin kami kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? …… tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak” (Bil 21:5). Seperti orangtua mereka, generasi baru ini menjadi tidak sabar dengan waktu yang ditetapkan Allah. Mereka merasa dikhianati, walaupun Allah dengan setia telah menyediakan segala sesuatu yang mereka butuhkan. Sebagai akibat dari gerutu dan omelan mereka, Allah mengirim ular-ular tedung yang beracun itu ke tengah-tengah mereka. Hanya setelah banyak yang mati dipagut ular-ular tedung itu, mereka datang ke Musa mengakui kesalahan/dosa mereka dan memohon kepada Musa untuk berdoa syafaat kepada Allah untuk mereka.

Walaupun umat-Nya tidak menaruh kepercayaan pada-Nya, Allah tetap berkomitmen pada niat-Nya untuk memimpin mereka ke tanah terjanji. Orang-orang Israel itu pantas untuk dihukum dengan berat, namun Allah menolak untuk menyerah …… Dia tidak mau membuang orang-orang Israel! Allah malah mentransformasikan lambang penghukuman mereka (ular tedung) menjadi lambang pelepasan. Jika mereka memandang ular tembaga yang ditaruh pada sebuah tiang, maka orang-orang Israel akan bertumbuh dalam rasa percaya mereka pada TUHAN (YHWH). Lihatlah, bagaimana sabar Allah bekerja dengan mereka.

Memang ketika kita berada dalam masa-masa sulit, mudahlah bagi kita untuk melupakan karya Allah dalam kehidupan kita. Seperti juga orang-orang Israel, kita telah berdosa terhadap Allah, dan dengan demikian pantaslah apabila kita dipisahkan dari Allah untuk selama-lamanya. Namun begitu, bahkan ketika kita berada di bawah hukuman maut, Allah mengenal kita dan Dia tetap mengingat janji-janji-Nya kepada kita. Karena kerahiman-Nya, Dia senantiasa “mendengarkan doa orang-orang yang bulus, dan tidak memandang hina doa mereka” (Mzm 102:18).

Sesungguhnya Allah mengasihi kita dengan mendalam – pribadi lepas pribadi. Ia telah menyediakan bagi kita suatu masa depan yang dipenuhi dengan pengharapan! Ular-ular tedung yang pada awalnya berfungsi sebagai penghukuman atas orang-orang Israel menjadi tanda keselamatan mereka. Demikian pula dengan salib Kristus – sebuah instrumen penghukuman – telah menjadi tanda keselamatan bagi kita. Bila kita memandang salib Kristus, maka Allah memberikan penyembuhan dan kerahiman-Nya. Jika kita membuka hati kita dan menyerahkan diri kita kepada kasih-Nya dan berbagai karunia yang disediakan-Nya bagi kita, maka kita pun akan mengalami damai sejahtera-Nya dan dorongan-Nya dalam segala situasi yang kita hadapi.

DOA: Bapa surgawi, salib Putera-Mu adalah sumber kehidupan kami. Tolonglah kami untuk percaya kepada kuat-kuasa salib-Nya agar dengan demikian kami akan menerima berkat melimpah dalam kehidupan kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 8:21-30), bacalah tulisan yang berjudul “APABILA KAMU TELAH MENINGGIKAN ANAK MANUSIA” (bacaan tanggal 31-3-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-03 BACAAN HARIAN MARET 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-4-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 30 Maret 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MASIH TERUS MENANTIKAN KITA AGAR DATANG KEPADA-NYA

YESUS MASIH TERUS MENANTIKAN KITA AGAR DATANG KEPADA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Senin, 30 Maret 2020)

Lalu mereka pulang ke rumah masing-masing, tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun. Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Lalu ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berzinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus, “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika dia sedang berzinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian dengan batu. Bagaimana pendapat-Mu tentang hal itu?” Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka, “Siapa saja di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Ia membungkuk lagi dan menulis di  tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya, “Hai perempuan, di manakah mereka?” Tidak adakah seorang pun yang menghukum engkau?” Jawabnya, “Tidak ada, Tuan.” Lalu kata Yesus, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi.” (Yoh 8:1-11) 

Bacaan Pertama: Dan 13:1-9,15-17,19-30,33-62 atau Dan 13:41c-62; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6 

Dapatkah anda membayangkan emosi perempuan ketika dia didapati sedang melakukan perzinahan dengan seorang laki-laki yang tentunya bukan pasangan hidupnya (kalau pun ada)? Tentunya dia merasa serba salah dan malu. Akan tetapi di sini ada yang lebih menakutkan daripada penghinaan – dan perempuan itu pun tentunya tahu. Hukum Musa (lihat Im 20:10) menyatakan bahwa seorang pezinah haru dihukum rajam sampai mati. Jadi sangat mungkinlah rasa malu dlsb. dengan cepat diambil alih oleh rasa takut yang teramat sangat.

Ketika para ahli Taurat dan orang Farisi membawa perempuan itu kepada Yesus, sang Rabi dari Nazaret itu malah membuat diri-Nya berhadap-hadapan dengan para pemuka agama Yahudi tersebut. Yesus membuat mereka berkonfrontasi dengan dosa-dosa mereka sendiri. Sekarang merekalah yang “tertangkap basah” dan tanggapan mereka adalah pergi meninggalkan tempat itu, satu demi satu. Sungguh merupakan kelegaan luarbiasa (lahir dan batin) bagi si perempuan.

Namun demikian, ada satu hal penting yang dikatakan Yesus: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang jangan berbuat dosa lagi” (Yoh 8:11). Marilah kita coba membayangkan bagaimana perasaan si perempuan ketika mendengar kata-kata Yesus itu, yaitu selagi rasa takut dan terhinanya digantikan pertama-tama oleh kelegaan dan kemudian dengan rasa sukacita penuh syukur. Tidak hanya dia terbebaskan dari hukuman mati yang mengerikan; perempuan itu telah mengalami pengampunan ilahi langsung dari Putera Allah sendiri.

Tidak seperti perempuan itu, kita pada umumnya tidak dihadapkan dengan kematian fisik untuk dosa-dosa kita. Namun demikian, Santo Paulus mengingatkan kita bahwa upah dosa ialah maut (Rm 6:23). Jauh lebih buruk daripada akhir hidup kita adalah maut ini, karena hal itu berarti selamanya (kekal-abadi) dipisahkan dari kasih Allah dan kasih orang-orang di sekeliling kita.

Tidak mengherankanlah apabila cerita tentang perempuan yang kedapatan berzinah ini berbicara dengan penuh kuasa kepada kita yang membaca dan merenungkannya! Setiap hari, masing-masing kita mendapat kesempatan untuk mengalami perjumpaan yang memberi-hidup dengan Yesus. Setiap hari, Dia menawarkan kepada kita kasih dan belas kasih sama seperti yang diberikan-Nya kepada perempuan dalam bacaan Injil hari ini, kasih dan belas kasih yang akan memenuhi diri kita dengan pengharapan dan rasa syukur. Dosa membebani diri kita dan membuat kita kehilangan sukacita. Akan tetapi jika kita mengetahui bahwa kita telah diampuni, maka seluruh hidup kita berubah. Kita dibebaskan dari rasa bersalah yang berkepanjangan. Pandangan hidup kita juga berubah secara dramatis. Dst. Dlsb.

Dengan kontras sedemikian antara tetap terikat dalam dosa dan mengalami kuasa dari kasih dan belas kasih Allah, semoga tidak ada lagi penghalang terhadap upaya kita untuk menerima Sakramen Rekonsiliasi. Apa lagi yang mungkin menghalangi kita dari upaya datang kepada Yesus agar kita dapat mendengar kata-kata yang memberi-hidup dari Yesus: “Aku pun tidak menghukum engkau”? Yesus masih terus menantikan kita agar datang kepada-Nya dengan hati yang penuh penyesalan atas dosa-dosa kita.

DOA: Bapa surgawi, aku sungguh begitu berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau mengampuni setiap dosaku betapa besar sekali pun dosaku itu, asalkan aku mohon pengampunan kepada-Mu dalam penyesalan sejati. Anugerahkanlah karunia pertobatan kepadaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 8:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “PERGILAH, DAN MULAI SEKARANG, JANGAN BERBUAT DOSA LAGI” (bacaan tanggal 30-3-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-03 BACAAN HARIAN MARET 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-4-19 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 29 Maret 2020 [HARI MINGGU PRAPASKAH V – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

LALU MENANGISLAH YESUS

LALU MENANGISLAH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH V [TAHUN A] – 29 Maret 2020)

Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus, dari Betania, desa Maria dan saudaranya, Marta. Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya; Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu pun mengirim kabar kepada Yesus, “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.” Tetapi ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata, “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, supaya melalui penyakit itu Anak Allah dimuliakan.” Yesus memang mengasihi Marta dan saudaranya dan Lazarus. Namun setelah didengar-Nya bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat Ia berada; tetapi sesudah itu Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Mari kita kembali lagi ke Yudea.” Murid-murid itu berkata kepada-Nya, “Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?” Jawab Yesus, “Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari? Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk, karena ia melihat terang dunia ini. Tetapi jikalau seseorang berjalan pada malam hari, kakinya terantuk, karena tidak ada terang di dalam dirinya.” Demikianlah perkataan-Nya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka, “Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya.” Lalu kata murid-murid itu kepada-Nya, “Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh.” Tetapi sebenarnya Yesus berbicara tentang kematian Lazarus, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa. Karena itu Yesus berkata dengan terus-terang, “Lazarus sudah mati; tetapi aku bersukacita, Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya.” Lalu Tomas, yang disebut Didimus, berkata kepada teman-temannya, yaitu murid-murid yang lain, “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia.”

Ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur. Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira tiga kilometer jauhnya. Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. Ketika Marta mendengar bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. Lalu kata Marta kepada Yesus, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Tetapi sekarang pun aku tahu bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.” Kata Yesus kepada Marta, “Saudaramu akan bangkit.” Kata Marta kepada-Nya, “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.” Jawab Yesus kepadanya, “Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” Jawab Marta, “Ya Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, yang akan datang ke dalam dunia.” Sesudah berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya, “Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau.” Mendengar itu Maria segera bangkit lalu pergi mendapatkan Yesus. Tetapi waktu itu Yesus belum sampai di desa itu. Ia masih berada di tempat Marta menjumpai Dia. Ketika orang-orang Yahudi yang bersama-sama dengan Maria segera bangkit dan pergi keluar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ. Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, sujudlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.”

Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka sedihlah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata, “Di manakah kamu baringkan dia?” Jawab mereka, “Tuhan, marilah dan lihatlah!” Lalu menangislah Yesus. Kata orang-orang Yahudi, “Lihatlah, Ia sungguh mengasihi dia!” Tetapi beberapa orang di antaranya berkata, “Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?” Yesus sekali lagi sangat terharu, lalu pergi ke kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu. Kata Yesus, “Angkat batu itu!” Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya, “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.” Jawab Yesus, “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” Mereka pun mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata, “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena engkau telah mendengarkan Aku. Aku tahu bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras, “Lazarus, marilah keluar!” Orang yang telah mati itu datang keluar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kafan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka, “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi.”

Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. (Yoh 11:1-45) 

Bacaan Pertama: Yeh 37:12-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 130:1-8; Bacaan Kedua: Rm 8:8-11

“Lalu menangislah Yesus” (Yoh 11:35)

Yesus menangis. Apakah yang begitu menggerakkan hati sang Raja Alam Semesta sehingga Dia menangis? Kelihatannya Yohanes penulis Injil mengindikasikan bahwa hati Yesus tergerak ketika melihat Maria yang menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dengan dia (Yoh 11:33). Mungkinkah Yesus menangis bersama mereka karena kehilangan seorang kawan yang dikasihi, seorang sahabat?. Atau, barangkali Yesus menangis karena Dia melihat sekelompok orang yang atas diri mereka kematian itu kelihatannya berkemenangan atas kehidupan?

Sungguh sangat menghiburlah bagi kita untuk mengetahui bahwa manakala kita kehilangan seseorang yang kita kasihi karena maut, Yesus berdiri di sana bersama kita. Yesus mengambil bagian dalam penderitaaan dan rasa kehilangan kita dan ingin merangkul kita erat-erat dan menyerap segala rasa sakit dan kepedihan kita. Yesus ingin agar kita mengetahui bahwa berduka dengan perasaan sedih yang mendalam atas kematian seseorang yang kita kasihi bukanlah suatu tanda dari iman yang lemah. Apapun namanya, itu adalah suatu tanda betapa dalamnya kita mengasihi pribadi yang baru saja meninggalkan kita.

Yesus ingin sekali untuk menghibur kita bilamana seseorang yang dekat pada kita meninggal dunia, namun pada saat yang sama Dia juga ingin memenuhi diri kita dengan pengharapan akan janji kebangkitan. Setiap kehidupan ada di tangan-Nya. Tidak ada seekor burung pipit pun akan jatuh ke tanah tanpa sepengetahuan-Nya. Dengan demikian, bagaimana mungkin Dia tidak merangkul orang yang sedang meregang jiwa dan menawarkan sebuah tempat dalam Kerajaan-Nya? Kita harus memperkenankan Yesus menghibur kita dengan janji bahwa Dia tidak akan pernah membuang siapapun.

Yesus berkata kepada Marta: “Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan percaya kepada-Ku tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” (Yoh 11:25-26). Yesus ingin agar kita mengetahui bahwa walaupun kita menderita karena kehilangan seseorang yang kita kasihi dan ia percaya kepada Yesus, maka pribadi itu aman dalam tangan-tangan kasih-Nya.

Yesus ingin agar jaminan ini  memberikan rasa nyaman kepada kita di tengah kesedihan kita dan juga damai-sejahtera di dalam hati kita. Kita semua dapat mempercayai sabda Tuhan selagi Dia membawa kedamaian di tengah keputus-asaan, dan terang di tengah kegelapan.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Kami memuji Engkau karena Engkau memulihkan apa saja yang mati di dalam diri kami masing-masing dan kemudian membangkitkan kami kembali ke dalam hidup yang baru. Tuhan Yesus, kami percaya kepada-Mu. Kami ingin bangkit bersama-Mu.  Terpujilah nama-Mu yang kudus, ya Yesus, sekarang, selalu dan sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 11:1-45), bacalah tulisan yang berjudul “LAZARUS DARI BETANIA DIBANGKITKAN DARI KEMATIAN” (bacaan tanggal 29320) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-03 BACAAN HARIAN 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-4-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 27 Maret 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH YANG PENUH DENGAN KEJUTAN

ALLAH YANG PENUH DENGAN KEJUTAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Sabtu, 28 Maret 2020)

Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan itu, berkata: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.” Yang lain berkata, “Ia ini Mesias.” Tetapi yang lain lagi berkata, “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Bukankah Kitab Suci mengatakan bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari desa Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal?” Lalu timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia. Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh-Nya.

Kemudian penjaga-penjaga itu kembali kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak membawa-Nya?” Jawab penjaga-penjaga itu, “Belum pernah seorang pun berkata seperti orang itu!” Lalu jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka, “Apakah kamu juga disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!” Nikodemus, salah seorang dari mereka, yang dahulu datang kepada-Nya, berkata kepada mereka, “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dilakukan-Nya?” Jawab mereka, “Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea.” Lalu mereka pulang ke rumah masing-masing. (Yoh 7:40-53) 

Bacaan Pertama: Yer 11:18-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 7:2-3,9-12

Kadang-kadang kita dapat merasa seakan-akan kita berada dalam sebuah peti terkunci rapat-rapat, terjebak dalam suatu dilema tanpa mengetahui jalan keluar yang jelas. Tuhan kelihatannya mengunci pintu dan kita tidak mengetahui apa yang harus kita lakukan karena kita tidak tahu apakah ada pintu lain bagi Allah untuk membuka pintu itu. Kita biasanya ingin memperoleh jawaban-jawaban konkret – sekarang juga! Semuanya serba instan!  Dalam situasi buntu seperti ini betapa menggodanya bagi kita untuk merasa kecut, khawatir, bahkan putus asa.

Dalam keadaan seperti itu, baiklah kita mendengarkan apa yang ditulis oleh sang pemazmur: “Perisai bagiku adalah Allah, yang menyelamatkan orang-orang yang tulus hati” (Mzm 7:11). Allah yang kita sembah adalah Allah yang penuh dengan kejutan. Apabila kita berdoa dan menantikan jawaban-Nya, maka Dia pun akan menunjukkan kepada kita suatu cara baru untuk mendekati suatu masalah atau bereaksi terhadap situasi tertentu.  Alternatif-alternatif secara tiba-tiba bermunculan, alternatif-alternatif yang tak terbayangkan sebelumnya. Jadi, sangat pentinglah bagi kita untuk senantiasa memiliki pikiran dan hati terbuka, yang menaruh kepercayaan bahwa Allah akan menunjukkan jalan-Nya kepada kita.

Para imam kepala dan Farisi menghadapi dilema seperti ini. Mereka menyaksikan sendiri berbagai mukjizat penyembuhan dan tanda heran lainnya yang dibuat oleh Yesus. Namun menurut pandangan mereka mustahillah Yesus itu sang Mesias. Yesus kelihatannya tidak memenuhi persyaratan kalau diikut-sertakan dalam proses “fit and proper test”…… tidak akan qualified …… tidak akan lulus! Yesus datang dari Galilea, bukan kota Daud. Jelas di sini bahwa para pemuka agama Yahudi ini tidak pernah mendengar tentang kelahiran Yesus di Betlehem. Lihatlah apa yang dikatakan seseorang dari mereka: “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Bukankah Kitab Suci mengatakan bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari desa Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal?” (lihat Yoh 7:41-42). Mereka terlalu cepat membuat penilaian dan menggantungkan diri pada pemikiran manusia, bukannya menunggu Allah guna menolong mereka membentuk suatu penilaian atas situasi yang dihadapi. Bukankah kita pun tidak jarang bersikap dan berperilaku seperti mereka? Sikap dan perilaku seperti inilah yang menghalangi orang mengenali kehadiran Allah di tengah-tengah mereka.

P“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang diharapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak dilihat” (Ibr 11:1). Berjalan dalam iman seringkali berarti bukan memiliki jawaban-jawaban pada saat kita membutuhkan jawaban-jawaban itu. Berjalan dalam iman berarti melangkah, satu langkah demi satu langkah, sambil mengikuti sinar terang yang dipancarkan Tuhan di depan kita. Hal ini memang dapat menjadi sulit, membutuhkan kerendahan hati, karena dalam situasi-situasi ini kita harus berseru minta tolong kepada Allah selagi kita tertatih-tatih melangkah. Akan tetapi, selagi setiap kali kita melangkah dalam ketaatan kepada kehendak-Nya, maka iman kita pun bertumbuh. Kita menjadi lebih merasa yakin apabila kita harus berjalan dalam kegelapan, jika hal itu memang yang diminta oleh Allah itu dari kita. Pada suatu hari, pada saat Allah, terang itu akan bersinar penuh cahaya, dan kita pun akan melihat Yesus sedang memimpin kita kepada kemuliaan-Nya – karena memang itulah tujuan iman kita.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, Engkau adalah jalan, kebenaran dan terang. Tingkatkanlah imanku, agar aku dapat menggantungkan diri kepada Engkau dalam setiap situasi. Aku menyerahkan kepada Engkau seluruh hidupku, pikiranku dan segalanya yang membentuk diriku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 7:40-53), bacalah tulisan yang berjudul  “BELUM PERNAH SEORANG PUN BERKATA-KATA SEPERTI YESUS” (bacaan tanggal 28-3-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-03 BACAAN HARIAN MARET 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-4-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Maret 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AKU DATANG DARI DIA DAN DIALAH YANG MENGUTUS AKU

AKU DATANG DARI DIA DAN DIALAH YANG MENGUTUS AKU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Jumat, 5 April 2019)

Sesudah itu Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau berkeliling di Yudea, karena di sana para pemuka Yahudi berusaha untuk membunuh-Nya. Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun.

Tetapi, sesudah Saudara-saudara-Nya berangkat ke pesta itu, Ia pun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan melainkan diam-diam.

Kemudian beberapa orang Yerusalem berkata, “Bukankah Dia ini yang mau mereka bunuh? Namun lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya. Mungkinkah pemimpin kia benar-benar sudah tahu bahwa Dialah Kristus? Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya, sebaliknya bilamana Kristus datang, tidak ada seorang pun yang tahu dari mana asal-Nya.” Waktu Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berseru, “Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku.”

Mereka berusaha menangkap dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba. (Yoh 7:1-2,10,25-30) 

Bacaan Pertama: Keb 2:1a,12-22, Mazmur Tanggapan:  Mzm 34:17-21,23

Yesus berkata kepada orang-orang di Bait Allah yang sedang mendengarkan pengajaran-Nya: “Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku” (Yoh 7:28-29).

Ada pandangan orang-orang Yahudi pada zaman itu, bahwa manakala Mesias datang, tidak seorang pun mengetahui asal-usul-Nya (lihat Yoh 7:27). Akan tetapi, bukankah umat pilihan Allah ini telah mengetahui bahwa bilamana Mesias datang, maka Ia datang dari Allah yang mereka klaim mengenal-Nya dan menyembah-Nya? Namun demikian, Yesus berkata tentang Bapa yang mengutus-Nya, Allah dari Umat-Nya, yang mereka tidak kenal.

Ini tentunya bukanlah kesalahan para nabi dan para kudus Perjanjian Lama, yang senantiasa mendesak umat pilihan Allah ini untuk menaruh kepercayaan kepada YHWH, tidak kepada manusia. Dan apabila para penulis suci kelihatan terkadang memandang Allah dari kejauhan, menempatkan Dia terlalu jauh dari Umat-Nya, mereka dapat mengejutkan kita kemudian dengan membuat Dia terlalu manusiawi, berpikir tentang Dia dengan istilah-istilah yang sangat manusiawi dan membumi. Dan walaupun mereka belum/tidak siap untuk memahami misteri inkarnasi – Mesias sebagai Allah yang menjadi manusia – mereka sudah siap mengharapkan seorang Mesias yang manusia.

Lalu, mengapa mereka tidak mau menerima orang ini, yang telah diutus oleh Bapa surgawi?

Apakah karena Dia terlalu mirip dengan Allah yang mereka klaim mengenal-Nya, dan terlalu jauh dari standar-standar dunia yang telah ditetapkan bagi seorang Mesias oleh mereka? Bukankah ini kasus sebuah umat yang berkata – barangkali juga berpikir – bahwa mereka mengenal dan menyembah Allah yang benar, namun sesungguhnya mereka menyembah gambaran Dia yang salah?

Orang-orang Yahudi itu tidak dapat menerima “skandal” Yesus, “skandal” tentang Allah mereka, yang melepaskan diri-Nya dari kekayaan ilahi-Nya untuk menjadi satu dengan orang-orang miskin; Allah mereka, yang memilih untuk lahir ke dunia di tengah-tengah orang miskin dan mengenakan kemiskinan yang luarbiasa dan ketiadaan arti dalam masyarakat; Allah mereka, yang dalam kasih ilahi-Nya tidak dapat mengambil apa pun bagi diri-Nya sendiri, melainkan hidup dalam penghayatan suatu kehidupan yang memberikan diri-sendiri secara lengkap dan total.

DOA: Tuhan Yesus, apakah kami mengenal Engkau dengan lebih baik? Apakah kami sungguh menerima Engkau sebagai Mesias kami? Tuhan kami sungguh percaya bahwa Engkau adalah sungguh sang Mesias, Tuhan dan Juruselamat kami. Ampunilah kami yang terkadang kurang percaya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Keb 2:1a,12-22), bacalah tulisan yang berjudul “BERSIKAP DAN BERPERILAKU BERBEDA DENGAN KEBANYAKAN ORANG LAIN” (bacaan  tanggal 27-3-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-03 BACAAN HARIAN MARET 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-4-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 27 Maret 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KESAKSIAN YESUS TENTANG DIRI-NYA

KESAKSIAN YESUS TENTANG DIRI-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Kamis, 26 Maret 2020)

Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku tidak benar; ada yang lain yang bersaksi tentang Aku dan Aku tahu bahwa kesaksian yang diberikan-Nya tentang Aku adalah benar. Kamu telah mengirim utusan kepada Yohanes dan ia telah bersaksi tentang kebenaran; tetapi Aku tidak memerlukan kesaksian dari manusia, namun Aku mengatakan hal ini, supaya kamu diselamatkan. Ia adalah pelita yang menyala dan bercahaya dan kamu hanya mau menikmati seketika saja cahayanya itu. Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting daripada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku  bahwa Bapa telah mengutus Aku. Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nya pun tidak pernah kamu lihat, dan firman-Nya tidak menetap di dalam dirimu, sebab kamu tidak percaya kepada Dia yang diutus-Nya. Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa di dalamnya kamu temukan hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.

Aku tidak memerlukan hormat dari manusia. Tetapi tentang kamu, memang Aku tahu bahwa di dalam hatimu kamu tidak mempunyai kasih terhadap Allah. Aku datang dalam nama Bapa-Ku dan kamu tidak menerima Aku; jikalau orang lain datang atas namanya sendiri, kamu akan menerima dia. Bagaimana kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa? Jangan kamu menyangka bahwa Aku akan mendakwa kamu di hadapan Bapa; yang mendakwa kamu adalah Musa yang kepadanya kamu menaruh pengharapan. Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku. Tetapi jikalau kamu tidak percaya kepada apa yang ditulisnya, bagaimana kamu akan percaya kepada apa yang Kukatakan?” (Yoh 5:31-47) 

Bacaan Pertama: Kel 32:7-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:19-23 

Teguran Yesus kepada orang-orang Yahudi mengungkapkan “jurang” yang ada antara pandangan mereka sendiri tentang kesalehan dalam hidup berke-Tuhan-an dan hasrat paling akhir dari Bapa surgawi untuk mencurahkan hidup-Nya sendiri bagi umat-Nya. Sungguh mengejutkan, bahwa walaupun Yesus sedang menghadapi oposisi yang sangat keras dari lawan-lawannya, Dia tetap mengundang mereka untuk memilih keselamatan, hidup baru, dan dipermuliakan oleh Allah.

Cintakasih Yesus bagi domba-domba-Nya yang hilang mendesak diri-Nya bekerja tanpa lelah untuk membawa mereka kembali ke dalam Kerajaan Bapa-Nya. Yesus bahkan sangat rindu untuk melihat para pendakwa-Nya percaya pada testimoni-testimoni yang berkaitan dengan kuasa dan kasih-Nya – dari/lewat Bapa surgawi; Yohanes Pembaptis; karya-karya-Nya sendiri, penyembuhan-penyembuhan, dan banyak mukjizat serta tanda-heran lainnya yang diperbuat-Nya melalui kuasa Bapa; Kitab Suci dan kata-kata Musa – agar dengan demikian mereka akan percaya, melakukan pertobatan, dan menerima keselamatan. Cintakasih dan belas kasih (kerahiman) Yesus terus berlanjut bahkan pada hari ini, walaupun kita menentangnya. Allah memiliki hasrat mendalam untuk menyelamatkan setiap orang dari dosa dan kematian (maut).

Dalam hal ini, Santo Maximus [c.580-662], berkomentar sebagai berikut: “Kehendak Allah adalah menyelamatkan kita, dan tiada sesuatu pun yang menyenangkan-Nya selain kita kembali kepada-Nya dengan pertobatan sejati……. Sabda Allah Bapa yang ilahi hidup di tengah kita dalam daging (catatan: sebagai manusia) dan Ia melakukan, menderita, dan mengatakan semua yang diperlukan untuk mendamaikan kita dengan Allah Bapa, pada waktu kita berseteru dengan-Nya, dan untuk memulihkan kita kepada hidup penuh berkat dari mana kita sempat dibuang. Ia menyembuhkan sakit-penyakit fisik kita lewat mukjizat-mukjizat; Ia membebas-merdekakan kita dari dosa-dosa kita …… lewat penderitaan sengsara dan kematian-Nya, menanggung semuanya sendiri, seakan-akan Dialah yang bertanggung jawab, padahal Ia tanpa dosa” (diambil dari Epistola 11, teks bahasa Inggris).

Bilamana kita kembali kepada kawanan kita melalui pertobatan dan iman akan Allah, maka Bapa yang Maharahim tidak pernah ribut-ribut memarahi kita karena dosa-dosa masa lampau kita, melainkan Ia akan merangkul kita, memeluk kita erat-erat, memulihkan martabat kita sebagai anak-anak-Nya. Maka, tidak pernah akan terlambat bagi kita untuk kembali kepada-Nya. Dengan sabar Ia akan terus mencari kita, domba-domba yang hilang. Ketika Dia menemukan kita, maka Dia pun akan bergembira penuh sukacita. Apabila kita sudah lemas karena kelelahan, maka Yesus akan menggendong kita di atas pundak-Nya. Allah Tritunggal Mahakudus dan seluruh isi surga akan bergembira penuh sukacita setiap kali ada anak domba yang hilang kembali ke kawanannya.  Yesus bersabda: “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan” (Luk 15:7).

DOA: Tuhan Yesus Kristus, kami semua diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sendiri, namun kami telah berlumuran dosa. Tuhan, kami mengakui dan menyesali segala dosa kami di hadapan-Mu dan bertobat. Kami menerima undangan-Mu untuk menerima kehidupan sejati, kesembuhan, dan pengampunan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 5:31-47), bacalah tulisan yang berjudul “MEMPERKENANKAN ROH KUDUS BEKERJA DALAM DIRI KITA” (bacaan tanggal 26-3-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-03 BACAAN HARIAN MARET 2020). 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-4-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Maret 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS