MUKJIZAT PENYEMBUHAN SECARA BERTAHAP

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Rabu, 19 Februari 2020)

OFS: Peringatan Wajib S. Konradus dr Piacenza, Ordo III S. Fransiskus

Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Betsaida. Lalu orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon kepada-Nya, supaya Ia menyentuh dia. Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar desa. Lalu Ia meludahi mata orang itu dan meletakkan tangan-Nya atasnya, dan bertanya kepadanya, “Sudahkah kaulihat sesuatu?”  Orang itu memandang ke depan, lalu berkata, “Aku melihat orang-orang seperti pohon-pohon, namun aku melihat mereka berjalan-jalan.”  Yesus meletakkan lagi tangan-Nya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas. Lalu Yesus menyuruh dia pulang ke rumahnya dan berkata, “Jangan masuk ke desa itu!” (Mrk 8:22-26) 

Bacaan Pertama: Yak 1:19-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 15:2-5 

Yesus berulang kali mencoba untuk membuat para murid-Nya memahami siapa Dia sebenarnya, untuk apa dan siapa Dia datang dan apa arti menjadi murid-murid-Nya. Tetapi mereka tidak dapat mengerti. Hal itu tidak berarti bahwa keadaannya tanpa harapan. Markus datang dengan cerita orang buta yang disembuhkan oleh Yesus secara bertahap. Ini juga merupakan tanda bahwa Yesus juga dapat menyembuhkan pikiran dan hati yang tidak dapat memahami Dia.

Jadi, penyembuhan hari ini merupakan sebuah proses dan bukan penyembuhan seketika atau instan. Pemahaman spiritual kita juga merupakan suatu proses yang tergantung pada diri kita untuk mengakui bahwa kita tidak melihat secara jelas dan minta agar Yesus membuka mata kita dalam perjalanan hidup kita.

Ada beberapa hal yang sungguh menarik dalam bacaan Injil ini:

Pertama-tama kita melihat bagaimana pertimbangan-pertimbangan Yesus senantiasa bersifat unik. Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar desa (Mrk 8:23). Mengapa? Karena dengan demikian Ia dapat berdua saja dengan orang buta itu. Mengapa? Coba pikirkan. Orang itu buta dan kelihatannya dia buta sejak lahir. Apabila kepadanya diberikan penglihatan secara instan di tengah-tengah orang banyak, maka matanya yang baru saja melihat akan melihat banyak sekali orang dan hal-hal lainnya yang berwarna-warni. Ini sungguh akan mengagetkan orang bersangkutan. Yesus mengetahui bahwa jauh lebih baiklah bagi Diri-Nya untuk membawa orang buta ke sebuah tempat di mana mata yang baru dapat melihat itu tidak secara mendadak melihat banyak hal.

Setiap dokter dan guru yang hebat memiliki ciri pribadi yang sungguh luarbiasa. Dokter yang hebat mampu untuk masuk ke dalam pikiran dan hati pasiennya; dia memahami ketakutan-ketakutan yang melanda si pasien, juga harapan-harapannya. Dokter ini bersimpati, berempati dan menderita bersama si pasien. Guru yang hebat juga mampu masuk ke dalam pikiran dan hati muridnya. Guru itu melihat persoalan-persoalan muridnya, kesulitan-kesulitannya, berbagai penghalang yang dihadapinya. Itulah sebabnya mengapa Yesus itu adalah sungguh seorang Dokter dan Guru yang sangat hebat. Yesus mampu untuk masuk ke dalam pikiran dan hati orang yang ingin ditolong-Nya. Yesus dapat membuat pertimbangan-pertimbangan dengan sangat baik, karena Dia dapat berpikir dengan pikiran mereka dan merasakan sesuatu seperti mereka merasakannya. Allah menganugerahkan kepada kita karunia-karunia seperti yang dimiliki Yesus ini.

Kedua, Yesus menggunakan metode-metode yang dapat dimengerti oleh orang-orang. Dunia kuno percaya akan kuat-kuasa untuk menyembuhkan dari air liur/ludah. Kepercayaan seperti itu tidak begitu aneh jika kita mengingat naluri pertama kita adalah memasukkan jari kita yang terluka (karena teriris pisau atau terbakar) ke dalam mulut kita agar meringankan rasa sakit kita. Tentu saja si buta mengetahui hal ini, dan Yesus menggunakan suatu metode penyembuhan yang dikenal olehnya. Yesus memiliki hikmat ilahi. Dia tidak memulai proses penyembuhan dengan kata-kata dan dan metode-metode yang jauh melampaui pengertian orang-orang kecil bersahaja. Yesus berbicara kepada mereka dan melakukan tindakan atas diri mereka dengan menggunakan cara yang dapat dipahami  oleh orang-orang yang memiliki pikiran sederhana.

Ketiga. Dalam satu hal mukjizat penyembuhan kebutaan ini bersifat unik – ini adalah mukjizat satu-satunya yang dapat dikatakan terjadi secara bertahap. Biasanya mukjizat-mukjizat Yesus terjadi secara instan dan lengkap. Dalam mukjizat ini, penglihatan orang buta ini mengalami kesembuhan secara bertahap.

Ada kebenaran yang bersifat simbolis di sini. Tidak ada seorang pun melihat seluruh kebenaran Allah sekaligus. William Barclay, seorang pendeta dari Skotlandia yang terkenal, pernah menulis bahwa salah satu dari bahaya-bahaya evangelisme jenis tertentu adalah bahwa pewartaan sedemikian mendorong ide bahwa apabila seseorang telah memutuskan untuk mengikut Kristus, maka dia adalah seorang Kristiani yang dewasa-penuh (lihat THE DAILY STUDY BIBLE – The Gospel of Mark, hal.191). Dengan menjadi Kristiani bukanlah berarti seseorang sudah sampai di akhir perjalanan, melainkan baru saja mulai di awal perjalanan. Seorang Kristiani harus melakukan pertobatan  terus menerus, dari hari ke hari. Dia harus terus menerus bertumbuh dalam rahmat dan di bawah bimbingan Roh Kudus belajar untuk semakin serupa dengan Kristus.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, aku ingin mengalami kesembuhan yang penuh. Tunjukkanlah kepadaku apa saja yang sedang kulakukan atau telah lakukan, yang akan menghalang-halangi karya penyembuhan-Mu dalam diriku. Tuhan, tolonglah aku agar menjadi semakin serupa dengan Engkau! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:22-26), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG BUTA DISEMBUHKAN DI BETSAIDA” (bacaan tanggal 19-2-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2020. 

Cilandak, 18 Februari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS