BAGAIMANA KITA MENANGGAPI PERMOHONAN PERTOLONGAN DARI SESAMA KITA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IV – Selasa, 4 Februari 2020)

OFMCap.: Peringatan Wajib S. Yosef dr Leonisa, Imam-Biarawan

Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sementara Ia berada di tepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, sujudlah ia de depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya, “Anak perempuanku sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.” Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya.

Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menyentuh jubah-Nya. Sebab katanya, “Asal kusentuh saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Seketika itu juga berhentilah berhentilah pendarahannya dan ia merasa bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. Pada saat itu juga Yesus mengetahui bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berbalik di tengah orang banyak dan bertanya, “Siapa yang menyentuh jubah-Ku?” Murid-murid-Nya menjawab: “Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menyentuh Aku?” Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan sujud di depan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang terjadi. Lalu kata-Nya kepada perempuan itu, “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan damai dan tetaplah sembuh dari penyakitmu!”

Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata, “Anakmu sudah meninggal, untuk apa engkau masih menyusahkan Guru?” Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat, “Jangan taku, percaya saja!” Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Sesudah masuk Ia berkata kepada orang-orang itu, “Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!” Tetapi mereka menertawakan Dia.

Semua orang itu disuruh-Nya keluar, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu serta mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya, “Talita kum,” yang berarti, “Hai anak perempuan, aku berkata kepadamu, bangunlah!” Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorang pun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan. (Mrk 5:21-43) 

Bacaan Pertama: 2Sam 18:9-10,14b,24-25a,30-19:3; Mazmur Tanggapan: Mzm 86:1-6 

Kasus anak perempuan Yairus dan kasus perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan mempunyai arti sendiri-sendiri. Akan tetapi jika kedua kasus ini disatukan/digabungkan, maka akan mempunyai makna tambahan.

Kedua kasus ini mengedepankan (secara berdampingan) dua macam manusia yang membutuhkan pertolongan. Salah seorang dari mereka berdua adalah seorang kepala rumah ibadat yang tentunya merupakan kedudukan terhormat dalam masyarakat setempat. Jabatan kepala rumah ibadat (sinagoga) seringkali merupakan jabatan yang dipegang oleh orang yang cukup kaya sehingga dia diharapkan dapat membantu biaya untuk ibadat dan kegiatan sosial masyarakat Yahudi.

Seorang lagi yang juga memohon pertolongan Yesus adalah seorang perempuan yang kiranya adalah “wong cilik” yang sungguh miskin. Ia telah menghabiskan uangnya untuk berobat pada tabib-tabib. Mungkin saja ia adalah seorang korban malpraktek para tabib tersebut. Nampaknya perempuan itu tidak mempunyai sanak keluarga laki-laki yang dapat menjadi juru bicaranya, dan pendarahan yang dideritaanya membuatnya menjadi najis secara rituale – artinya  tidak boleh dijamah manusia lain.

Orang laki-laki itu cukup dikenal sehingga kita mengetahui namanya. Di lain pihak perempuan yang menderita sakit pendarahan itu tidak disebutkan namanya dalam Injil Markus. Kita boleh berkesimpulan bahwa perempuan ini hanyalah salah satu dari orang banyak; orang biasa-biasa saja. Namun demikian, justru dialah yang mendapat perhatian Yesus. Yesus membiarkan Pak Yairus menanti, sementara Dia bercakap-cakap dengan perempuan itu. Yesus menyapa perempuan itu dengan kata akrab “anak-Ku”: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan damai dan tetaplah sembuh dari penyakitmu!” (Mrk 5:34). Yesus tidak hanya menyembuhkan perempuan itu dari efek-efek dosa, melainkan juga menyembuhkan dosanya, dengan demikian membawanya kepada suatu relasi yang lebih mendalam dengan Allah.

Perempuan itu yang sebelumnya dipandang sebagai sampah masyarakat dan tidak bersih disambut oleh Yesus dan dipulihkan oleh-Nya kepada martabatnya semula. Siapa sebenarnya perempuan ini? Namanya adalah Berenike yang dalam tradisi Latin kita kenal sebagai Veronika. Kita akan selalu berjumpa dengan dia pada waktu kita melakukan devosi Jalan Salib (perhentian ke-VI).

Hal ini terjadi pada saat-saat (di tempat lain) anak perempuan Yairus sedang menghadapi maut yang semakin mendekat. Kiranya Yesus berlambat-lambat karena Dia mau agar supaya perempuan itu tidak hanya disembuhkan, melainkan juga secara publik diterima kembali ke dalam masyarakat. Baru kemudian Ia pergi untuk menyembuhkan anak perempuan Yairus.

Secara bersama-sama, kedua kasus ini dapat dikatakan merupakan teguran bagi kita semua yang seringkali suka melakukan pembedaan (memilah-milah) antara siapa orang yang penting dan siapa orang yang tidak penting; siapa yang perlu diperhatikan dan siapa yang tidak perlu diperhatikan; siapa yang harus diprioritaskan dan siapa yang tidak perlu diprioritaskan dll. Bagaimana dengan sikap dan perilaku kita masing-masing? Tanyakanlah kepada diri anda sendiri: “Apakah aku mempunyai pemikiran tertentu tentang siapa yang boleh mendapatkan perhatianku untuk ditolong dan siapa yang hanya membuang-buang waktuku saja untuk ditolong?”

DOA: Tuhan Yesus Kristus, berikanlah kepadaku cara-Mu dalam melihat kebutuhan orang lain dan menanggapi kebutuhan sesamaku dengan penuh kasih tanpa pamrih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 5:21-43), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS TIDAK AKAN MEMBIARKAN SIAPA SAJA YANG DATANG KEPADA-NYA PULANG DENGAN TANGAN KOSONG” (bacaan tanggal 4-2-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 20-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2020.

 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-2-19 dalam situs/blog SANG SABDA)

 

Cilandak, 3 Februari 2020 [Peringatan Fakultatif S. Blasius, Uskup-Martir]

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS