APABILA KITA MERASA KESEPIAN DAN/ATAU PUTUS ASA, MAKA BERSERULAH KEPADA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa III – Sabtu, 1 Februari 2020)

Pada hari itu, menjelang malam, Yesus berkata kepada mereka, “Marilah kita bertolak ke seberang.” Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak  dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah topan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan memakai bantal. Lalu murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya, “Guru, tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa? Ia pun bangun, membentak angin itu dan berkata kepada danau itu, “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa  kamu begitu  takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain, “Siapa sebenarnya orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Mrk 4:35-41) 

Bacaan Pertama: 2Sam 12:1-7a,10-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:12-17 

“Guru, tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa?” (Mrk 4:38)

Teriakan para murid karena ketakutan dan frustrasi sebenarnya menggemakan teriakan kita kepada Tuhan Yesus manakala situasi-situasi dalam kehidupan kita menggoncang iman kita. Namun sekarang, seperti juga pada saat terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam Injil di atas, berbagai krisis sebenarnya memberikan kesempatan bagi kita untuk bertumbuh dalam rasa percaya kita kepada Tuhan Yesus selagi kita menyaksikan Dia bekerja dalam kehidupan kita. Memang kita sekali-kali dapat merasakan kesedihan mendalam, namun kita tidak pernah boleh melupakan fakta bahwa Yesus adalah Imanuel, Allah yang senantiasa menyertai kita.

Pengalaman-pengalaman para murid di tengah danau menunjukkan kepada kita bahwa Yesus menjunjung tinggi komitmen-Nya sebagai Tuhan (Kyrios) dan Juruselamat kita. Barangkali kita baru saja kehilangan seseorang yang sangat kita kasihi. Barangkali impian kita yang begitu lama tiba-tiba menjadi berantakan. Kita semua mengalami sakitnya patah hati dan setiap hari menghadapi berbagai tantangan hidup dalam dunia yang penuh kedosaan ini. Kadang-kadang rasa sakit kita begitu intens sehingga menutupi kasih besar dari Allah bagi kita. Kita dapat merasa ditinggalkan oleh-Nya dan  merasa heran mengapa Yesus meninggalkan kita justru pada saat-saat kita sangat membutuhkan pertolongan-Nya.

Namun ini bukanlah apa yang dimaksudkan oleh Allah bagi kita. Bapa surgawi ingin menunjukkan kepada kita bahwa Dia ada bersama kita setiap saat, bahkan ketika angin topan dan ombak kehidupan sedang mengamuk dengan dahsyat dan sangat mengancam keberadaan kita. Melalui sakit kita, kelemahan  kita, kekhawatiran dan keputus-asaan kita, Yesus ingin mengajar kita untuk mengandalkan diri kepada-Nya secara lebih total-lengkap lagi. Saat-saat penderitaan dan sakit adalah saat-saat di mana Allah menunjukkan kepada kita kasih-Nya kepada kita yang sejati dan bersifat mengikat.

Apabila anda merasakan kesepian, putus-asa, maka berserulah kepada Allah. Percayalah bahwa Dia akan menghibur anda dan menolong anda mengatasi kesulitan-kesulitan anda. Mohonlah kepada Roh Kudus untuk menghibur dan menyemangati anda setiap hari. Dia akan mengangkat diri anda dengan cara-cara yang tidak pernah anda harapkan. Kesampingkanlah masalah-masalah anda untuk waktu yang cukup lama agar anda dapat sepenuhnya memusatkan perhatian pada Tuhan selagi anda membawa berbagai masalah dan kebutuhan anda kepada-Nya. Dia adalah Tuhan yang berdaulat atas segenap ciptaan dan satu-satunya Allah bagi hidup anda. Apabila terjadi sesuatu yang menyakitkan hati, janganlah hal itu sampai memenjarakan kita sehingga kita tidak dapat berbuat apa-apa. Selagi kita menaruh rasa percaya kita kepada Yesus, maka kita pun akan dihibur menyaksikan bahwa Dia tidak pernah memungkiri janji-Nya kepada siapa pun dan Ia tidak pernah meninggalkan seorang pun.

DOA: Tuhan Yesus, Engkaulah andalanku. Aku menaruh segala sesuatu ke dalam tangan-tangan kasih-Mu. Berdirilah di sampingku, ya Yesus, selagi aku menghadapi kesulitan-kesulitan dan mengalami kepedihan. Aku sepenuhnya menaruh pengharapanku dalam diri-Mu, ya Yesus, karena aku mengetahui bahwa kasih-Mu kepadaku cukuplah untuk menolong aku keluar dari badai kehidupanku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:35-41), bacalah tulisan dengan judul “YESUS MEREDAKAN ANGIN RIBUT” (bacaan tanggal 1-2-20), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-1-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 30 Januari 2020 [Peringatan Wajib S. Yasinta Mareskoti, Perawan – OFS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS