KERAJAAN ALLAH DIMULAI DENGAN AWAL YANG PALING KECIL

(Bacaan Injil Misa Kudus – Peringatan Wajib S. Yohanes Bosko, Imam – Jumat, 31 Januari 2020)

Lalu kata Yesus, “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: Seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu bertunas dan tumbuh, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai  sudah tiba.”

Kata-Nya lagi, “Dengan apa kita hendak membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah kita hendak menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil daripada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ditaburkan,  benih itu tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.”

Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan kemampuan mereka untuk mengerti, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri. (Mark 4:26-34) 

Bacaan Pertama: 2Sam 11:1-4a,5-10a,13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-7,10-11 

“Beginilah hal Kerajaan Allah itu: Seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu bertunas dan tumbuh, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu.”  (Mrk 4:26-27)

Dengan mengajar lewat perumpamaan-perumpamaan, Yesus menggunakan imaji-imaji sederhana untuk menyampaikan kebenaran-kebenaran mendalam tentang Kerajaan Allah. Imaji benih-benih kecil, yang bertunas, tumbuh sampai masak dan dituai menjelaskan kepada kita sesuatu yang penting mengenai efek-efek transformasi dari sabda Allah. Seorang petani harus bekerja keras mempersiapkan tanah untuk ditanami, dan ia harus menjaga tanahnya bebas dari ilalang, hama dan gangguan lainnya. Akan tetapi, si petani tidak dapat membuat benih itu bertunas dan tidak memiliki kendali atas sinar matahari dan curah hujan.

Kerajaan Allah bekerja dengan cara serupa. Kerajaan Allah dimulai dengan awal yang paling kecil dalam hati manusia yang menerima sabda/firman Allah dan bekerja tanpa terlihat, membawa transformasi dari dalam. Sebagaimana sebutir benih yang samasekali tidak mempunyai kuasa untuk mengubah dirinya sendiri sampai saat ditanam ke dalam tanah, maka kita pun tidak dapat mengubah hidup kita untuk menjadi serupa dengan Yesus sampai kita menyerahkan hidup kita kepada Kristus dan mohon Roh Kudus mengubah kita dengan kuat-kuasa-Nya. Apabila benih-benih sabda Allah mulai berkecambah dan bertumbuh, hasilnya adalah tuaian yang berlimpah.

Orang dapat bertanya: “Apakah sabda Allah sunguh bekerja?” “Apakah iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus?” (Rm 10:17). “Apakah firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun?” (Ibr 4:12). Jika demikian halnya, mengapa kondisi dunia seperti sekarang, walaupun ada banyak gereja, ada banyak pengkhotbah, dan ada Alkitab (dengan berbagai versinya)? Jawaban Allah terhadap pertanyaan-pertanyaan sangat penting seperti ini adalah: “…… seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulutku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia; tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya” (Yes 55:10-11). Sabda Allah sungguh bekerja! Ingatlah apa yang dikatakan Paulus: “… firman Allah tidak terbelenggu” (2Tim 2:9).

Kitab Suci menceritakan kepada kita bagaimana sabda Allah menyebar dari Yerusalem ke kota-kota besar kekaisaran Romawi selagi benih-benih Injil tersebar jauh dan luas – kadang-kadang malah ke tempat-tempat yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Tentu saja para rasul Kristus yang pertama tidak mempunyai ekspektasi samasekali untuk memperoleh tuaian berlimpah lewat seorang Saulus dari Tarsus, yang sebelumnya merupakan seorang pengejar dan penganiaya Gereja. Demikian pula dengan Timotius, Titus dlsb. yang tidak pernah mempunyai hubungan dengan Yesus dalam pelayanan-Nya di depan umum. Biarpun begitu, tokh Allah memilih mereka untuk menyebarkan benih-benih Injil.

Kita mungkin saja tidak memiliki kharisma dan keberanian seperti Paulus, atau panggilan menjadi rasul seperti Petrus, namun kita dapat menyebarkan benih-benih sabda Allah yang telah dipercayakan kepada kita. Siapa yang dapat mengetahui di mana benih-benih yang kita sebarkan akan mulai berakar? Kita tidak usah terkejut apabila tanggapan-tanggapan datang dari tempat-tempat yang tidak diharap-harapkan, seperti kasir di supermarket tempat biasa kita berbelanja atau rekan-kerja kita yang sehari-hari yang kelihatan suka terbenam dalam kesibukan kerjanya. Siapa tahu? Bukankah kita hanya merupakan instrumen-Nya, keledai yang dikendarai oleh Yesus ketika memasuki kota Yerusalem? Biarlah Roh Kudus menunjukkan kepada kita (anda dan saya) bagaimana kita dapat menjadi penyebar benih sabda Allah.

Perlu kita ingat bahwa ketiadaan iman seorang pewarta/pelayan Sabda dapat membelenggu dirinya. Berbagi sabda Allah dengan orang-orang lain adalah bagaikan menabur benih di tanah. Seringkali kita sendiri tidak melihat efek-efek langsung dari pekerjaan kita (lihat Mrk 4:26 dsj.). Bahkan kalau pun kita dapat melihat hasilnya,  semua itu diawali dengan tindakan bagaikan menaburkan biji sesawi yang kecil di tanah (lihat Mrk 4:31). Agar bertekun dalam menyebarkan sabda Allah, kita harus menabur oleh/dalam iman dan bukan sekadar mengandalkan penglihatan kita (lihat 2Kor 5:7), Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” mengatakan: “… kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan beroleh hidup” (Ibr 10:39). Saudari dan Saudaraku, marilah kita bekerja dalam iman dan memberi kesempatan kepada sabda Allah untuk bekerja.

DOA: Bapa surgawi, oleh Roh Kudus-Mu, bukalah mataku agar mampu melihat kuasa-transformasi dari sabda-Mu. Tuntunlah aku dalam mensyeringkan Kabar Baik Yesus dengan orang-orang yang kujumpai. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Mrk 4:26-34), bacalah tulisan yang berjudul “BAGI ALLAH, KITA MASING-MASING SANGATLAH BERHARGA” (bacaan tanggal 31-1-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-2-19 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 29 Januari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS