PERISTIWA YANG DIALAMI SAULUS DI DEKAT KOTA DAMSYIK DAN PERTOBATANNYA

(Bacaan Pertama [Alternatif] Misa, Pesta Bertobatnya Santo Paulus, Rasul – Sabtu, 25 Januari 2020)

PENUTUPAN PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

Sementara itu hati Saulus masih berkobar-kobar untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, dan meminta surat kuasa untuk dibawa kepada rumah-rumah ibadat Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia dapat menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.

Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan mendengar suara yang berkata kepadanya, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus, “Siapa Engkau, Tuan?” Kata-Nya, “Akulah Yesus yang kauaniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.” Teman-teman seperjalanannya pun termangu-mangu karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang pun. Saulus bangkit berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik. Selama tiga hari ia tidak dapat melihat  dan selama itu juga ia tidak makan dan minum.

Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Tuhan berfirman kepadanya dalam suatu penglihatan, “Ananias!” Jawabnya, “Ini aku, Tuhan!” Firman Tuhan, “Bangkitlah dan pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sedang berdoa, dan dalam suatu penglihatan ia melihat bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi.” Jawab Ananias, “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem. Lagipula di sini dia memperoleh kuasa dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu.” Tetapi firman Tuhan kepadanya, “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku di hadapan bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.” Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya, “Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.” Seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis. Setelah ia makan, pulihlah kekuatannya.

Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik. Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Semua orang yang mendengar hal itu heran dan berkata, “Bukankah dia ini yang di Yerusalem mau membinasakan siapa saja yang memanggil nama Yesus ini? Dan bukankah ia datang ke sini dengan maksud untuk menangkap dan membawa mereka ke hadapan imam-imam kepala?” Akan tetapi Saulus semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias. (Kis 9:1-22)

Bacaan Pertama [alternatif]: Kis 22:3-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2; Bacaan Injil: Mrk 16:15-18

Cerita tentang pengalaman Saulus (Paulus) sebelum sampai sampai di kota Damsyik memberi kesan terjadinya perubahan secara mendadak. Namun dari awal harus kita camkan bahwa itu bukanlah suatu perubahan yang tiba-tiba datang entah dari mana. Kita ketahui bahwa Saulus mendengar kata-kata terakhir dari Stefanus dan orang Farisi ekstrim inipun telah berkontak dengan gerakan Kristiani yang awal. Benih-benih (untuk pertobatannya) telah ditaburkan. Secara perlahan tekanan yang terbangun dalam dirinya sudah seperti Gunung Merapi yang setiap saat dapat meletus sampai pada akhirnya meledak juga ke dalam kesadaran dirinya. Pergumulan batin sudah dapat  kita pastikan telah terjadi dalam dirinya, dan suara Tuhan yang didengarnya dalam peristiwa di dekat Damsyik itu membuat pengalamannya menjadi sempurna. Kita memang tidak pernah dapat menceritakan efek dari benih-benih yang kita taburkan dengan kata-kata dan teladan hidup kita.

Sebelum pertobatannya, Santo Paulus bertahun-tahun lamanya mempelajari Kitab Suci Ibrani (Perjanjian Lama). Ketika mendengar laporan-laporan orang-orang Yahudi yang memproklamasikan Yesus sebagai  Mesias, Paulus (waktu itu bernama Saulus) menjadi marah. Pesan orang-orang Yahudi itu secara total bertentangan dengan segalanya yang selama itu dipelajarinya dan dihayatinya dalam hidupnya. Maka, ia pun mulai misi satu orang untuk menghancurkan “gerakan” baru ini. Paulus menyebabkan banyak kesulitan bagi orang-orang Yahudi yang telah menyerahkan diri mereka kepada Yesus. Ia menangkap mereka, bahkan mencari jalan untuk membunuh mereka. Akan tetapi, ternyata Allah (yang Mahalain) mempunyai rencana lain untuk orang Farisi yang ekstrim ini: “…… orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku di hadapan bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel” (Kis 9:15). 

Dalam perjalanannya ke Damsyik (Damaskus; sekarang terletak di Suriah) untuk menangkap sejumlah orang yang telah menjadi pengikut Kristus dan membawa mereka kembali ke Yerusalem, “Kristus yang bangkit” menampakkan diri kepadanya dalam cahaya yang memancar dari langi. Langsung saja Paulus menjadi buta. Kebutaan mata Paulus ini mencerminkan kebutaan yang selama itu telah menyelubungi hatinya. Sang Farisi yang telah mengabdikan dirinya untuk mematuhi Hukum Taurat, ternyata tidak mampu mengenali dan mengakui Yesus sebagai Mesias, yaitu Dia yang menjadi pemenuhan segala pengharapan dan janji dari Hukum Taurat itu.

Di hari-hari setelah peristiwa di jalan menuju Damsyik itu, Paulus menyediakan waktunya untuk berdoa secara tetap. Tidak meragukan lagi, dalam suasana doa itu dia bergumul terus untuk merekonsiliasikan segala hal yang telah dipelajarinya dengan apa yang baru dialaminya. Allah tentunya mengetahui pergumulan anak manusia ini. Maka, Allah mengutus Ananias untuk berdoa dengan Paulus dan menolongnya agar mampu berpaling kepada Yesus dan menghadap-Nya. Secara ajaib, mata Paulus pun dicelikkan. Pada saat yang bersamaan tabir yang selama itu menyelubungi hatinya pun diangkat.

ADengan berjalannya waktu Paulus pun ditransformasikan menjadi bejana yang luarbiasa mengagumkan untuk karya Allah. Dengan tanpa takut Ia memproklamasikan kesetiaan Allah dan segala kebaikan-Nya bagi umat manusia. Pertobatan Saulus (S. Paulus) atau pertobatan siapa saja merupakan akibat dari banyak benih yang ditaburkan ke dalam diri banyak orang, barangkali tak diketahui/disadari, lewat kata-kata dan teladan hidup. Kita tidak pernah memprakirakan efek sepenuhnya dari benih-benih yang kita taburkan.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Putera-Mu yang tunggal untuk berjumpa dengan kami dalam perjalanan kami. Engkau telah memberkati kami secara berlimpah dan telah memanggil kami sebagai anak-anak-Mu yang terkasih. Dalam kasih-Mu, ya Bapa, singkirkanlah tabir yang masih menyelubungi hati kami dan menghalangi kami untuk mengenal siapa Engkau sesungguhnya. Kami sungguh ingin menjadi bejana-bejana roh Kudus-Mu dan saksi-saksi dari rahmat-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 22:3-16), bacalah tulisan yang berjudul “BERTOBATNYA RASUL PAULUS” dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-1-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 Januari 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS