SELAMA MEMPELAI ITU BERSAMA MEREKA, MEREKA TIDAK DAPAT BERPUASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Senin, 20 Januari 2020)

Peringatan Fakultatif S. Fabianus, Paus-Martir

Peringatan Fakultatif Sebastianus, Martir

Keluarga Fransiskan Konventual (OFMConv.): Peringatan S. Yohanes Pembaptis dr Triquerie, Imam-Martir

HARI KETIGA PEKAN DOA SEDUNIA

Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus, “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?”   Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sementara mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”  (Mrk 2:18-22)

Bacaan Pertama: 1Sam 15:16-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:8-9;16-17,21,23

Yesus membandingkan kehadiran-Nya di antara manusia selama pelayanan-Nya di depan umum dengan kehadiran seorang mempelai laki-laki dalam sebuah pesta perkawinan.

Pesta seperti ini adalah waktu untuk bersukacita bersama mempelai laki-laki. Mungkin saja di kemudian hari, pada saat-saat menghadapi realitas kehidupan sebagai seorang suami dan sebagai kepala keluarga, dia akan membutuhkan simpati dan belarasa. Namun sekarang, dalam pesta perkawinan ini, semuanya adalah sukacita.

Demikian pula dengan Yesus. Selama Dia masih bersama dengan para murid-Nya, Yesus tidak ingin para murid-Nya berpuasa. Yesus ingin agar para murid-Nya berada dalam keadaan di mana mereka dapat lebih mudah mengalami perubahan-perubahan dalam diri mereka yang diperlukan untuk berasimilasi dan memahami ajaran-ajaran baru yang diberikan-Nya kepada mereka.

Yesus tidak menyalahkan puasa atau berbagai laku-tobat yang menyangkut tubuh orang bersangkutan, namun semua itu harus dilakukan pada waktu dan keadaan yang tepat. Hal seperti itu harus dilakukan secara bijaksana. Ada saat-saat di mana puasa dapat menjadi tindakan yang “salah”, “tidak bijak”, bahkan “tolol”. Misalnya, apabila karena berpuasa seorang ibu tidak memperhatikan anak-anaknya, maka hal itu jelas tidak benar alias salah. Apabila puasa menyebabkan seseorang tidak peduli terhadap sesama yang memerlukan pertolongan dan sedang berdiri di depan matanya, maka sikapnya dan ketiadaan tindakannya untuk menolong orang itu adalah salah.

Ada saat-saat di mana suatu keadaan menuntut kita menggunakan segenap kekuatan kita, baik kekuatan mental maupun kekuatan fisik, untuk mengatasi situasi krisis, suatu perubahan. Seperti diungkapkan dalam berbagai uraian tentang “manajemen perubahan”, perubahan-perubahan apa pun yang diperlukan biasanya tidak mudah untuk diterima, jadi muncul resistensi dengan berbagai alasan, apalagi kalau pekerjaan dasarnya belum dipersiapkan dengan baik. Dalam artian tertentu kita sendiri harus sudah berubah dulu, paling sedikit dalam sikap dan keterbukaan, sebelum kita dapat menerima perubahan-perubahan baik yang diperlukan.

Inilah kiranya yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Dia mengatakan, “Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju ……Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua ……anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula” (Mrk 2:21-22).

Sukacita hidup baru yang datang dari perubahan-perubahan dalam pemberian-hidup yang baik mempunyai tempat dalam kehidupan orang Kristiani. Perayaannya yang cocok tidak memasukkan puasa. Namun sukacita ini, hidup baru ini, pada prinsipnya hanya datang setelah orang yang bersangkutan melakukan pertobatan, penyangkalan diri, dalam artian tertentu: mati terhadap diri sendiri.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau mengajarkan kepada kami kebenaran tentang puasa dan sukacita Hidup Baru di dalam Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “HAL-IKHWAL BERPUASA DAN SATU LAGI PERUMPAMAAN YESUS” (bacaan tanggal 20-1-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul untuk bacaan tanggal 21-1-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Januari 2020 [Peringatan S. Antonius, Abas] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS