SAUL: SEORANG YANG GAGAL UNTUK MENYADARI KEBUTUHANNYA AKAN RAHMAT ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Sabtu, 18 Januari 2020)

PEMBUKAAN PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

Ada seorang dari daerah Benyamin, namanya Kisy bin Abiel, bin Zeror, bin Bekhorat, bin Afiah, seorang suku Benyamin, seorang yang berada. Orang ini ada anaknya laki-laki, namanya Saul, seorang muda yang elok rupanya; tidak ada seorangpun dari antara orang Israel yang lebih elok dari padanya: dari bahu ke atas ia lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya. Kisy, ayah Saul itu, kehilangan keledai-keledai betinanya. Sebab itu berkatalah Kisy kepada Saul, anaknya: “Ambillah salah seorang bujang, bersiaplah dan pergilah mencari keledai-keledai itu.” Lalu mereka berjalan melalui pegunungan Efraim; juga mereka berjalan melalui tanah Salisa, tetapi tidak menemuinya. Kemudian mereka berjalan melalui tanah Sahalim, tetapi keledai-keledai itu tidak ada; kemudian mereka berjalan melalui tanah Benyamin, tetapi tidak menemuinya.

Ketika Samuel melihat Saul, maka berfirmanlah TUHAN (YHWH) kepadanya: “Inilah orang yang Kusebutkan kepadamu itu; orang ini akan memegang tampuk pemerintahan atas umat-Ku.” Dalam pada itu itu Saul, datang mendekati Samuel di tengah pintu gerbang dan berkata: “Maaf, di mana rumah pelihat itu?” Jawab Samuel kepada Saul, katanya: “Akulah pelihat itu. Naiklah mendahului aku ke bukit. Hari ini kamu makan bersama-sama dengan daku; besok pagi aku membiarkan engkau pergi dan aku akan memberitahukan kepadamu segala sesuatu yang ada dalam hatimu.

Lalu Samuel mengambil buli-buli berisi minyak, dituangnyalah ke atas kepala Saul, diciumnyalah dia sambil berkata: “Bukankah YHWH telah mengurapi engkau menjadi raja atas umat-Nya Israel? Engkau akan memegang tampuk pemerintahan atas umat YHWH, dan engkau akan menyelamatkannya dari tangan musuh-musuh di  sekitarnya. Inilah tandanya bagimu, bahwa YHWH telah mengurapi engkau menjadi raja atas milik-Nya sendiri. (1Sam 9:1-4,17-19;10:1a) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 21:2-7; Bacaan Injil: Mrk 2:13-17 

Saul – raja Israel yang pertama – dikedepankan dalam bacaan hari ini sebagai seorang pribadi yang “takut akan Allah” dan “memiliki kemampuan”. Ia dikirim oleh ayahnya untuk mencari keledai-keledai betina yang hilang entah ke mana. Bukannya mendapatkan keledai, Saul malah mendapatkan singgasana kerajaan. Apakah Saul dapat menjadi seorang raja Israel yang ideal? Tidak meragukan lagi, dia dapat menjadi seorang raja yang baik. Namun apabila kita membaca cerita selanjutnya dalam Kitab 1Samuel, maka satu persatu kelemahan atau kejelekan pribadinya akan bermunculan ke permukaan selagi Saul gagal memerintah Israel (umat Allah sendiri) dengan rasa penuh kepercayaan kepada kesetiaan Allah dan bimbingan-Nya.

Dalam artian tertentu kita dapat mengatakan, bahwa dalam tindakan mereka menuntut untuk mempunyai seorang raja tanpa peduli akan niat-niat Allah sendiri, orang-orang Israel sebenarnya  mengidap penyakit dalam jiwa mereka, walaupun mereka tidak menyadarinya. Mereka tidak melihat bahwa berbagai falsafah duniawi telah mengendap dalam pikiran mereka dan sekarang mempengaruhi pengambilan keputusan-keputusan mereka. Mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya mereka membutuhkan bimbingan dari YHWH – Allah sendiri.

Independensi dan kemandirian yang keliru ini menciptakan suatu jurang pemisah yang lebar antara Allah dan umat-Nya. Orang-orang yang tidak mengetahui kebutuhan mereka akan Allah akan menggantungkan diri pada berbagai falsafah duniawi, teristimewa penekanan falsafah-falsafah tersebut pada pemusatan (kepuasan/kepentingan) diri sendiri (self-centeredness). Sebaliknya, orang-orang yang mengetahui kebutuhan mereka akan berpaling kepada YHWH agar supaya membimbing mereka dengan rendah hati menundukkan diri kepada kehendak-Nya.

Saul akan menjadi sebuah contoh yang sempurna tentang seorang yang gagal untuk menyadari kebutuhannya akan Allah. Sementara kita terus membaca Kitab 1Samuel, kita akan melihat upaya Saul untuk memimpin Israel secara bebas-lepas dari bimbingan Allah. Saul akan tidak mentaati instruksi-instruksi Allah yang diberikan melalui Samuel dan dengan demikian membawa bencana bagi dirinya sendiri dan juga bagi bangsa Israel secara keseluruhan. Saul dibutakan oleh falsafah-falsafah duniawi tentang kekuasaan, pengejaran dirinya sendiri akan kemuliaan, dan ketakutannya sendiri. Akibatnya adalah, bahwa raja pertama Israel ini luput melihat kebutuhannya yang mendalam akan rahmat Allah, dan ia secara berkelanjutan mengandalkan dirinya sendiri dalam menangani segala masalah yang dihadapinya.

Santo Paulus menulis, “semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah” (Rm 3:23). Dengan lemah lembut namun pasti Bapa surgawi yang sangat mengasihi kita itu akan menyatakan hal ini kepada kita masing-masing. Selagi Dia melakukan hal ini, kita seharusnya merasa terhibur karena kenyataan bahwa Dia tidak ingin menyalahkan/menghukum kita, melainkan hanya menunjukkan kepada kita bela rasa-Nya. Allah Bapa hanya ingin menolong kita untuk mengakui bahwa hanya Yesus lah yang dapat menyembuhkan segala sakit-penyakit yang kita derita dalam jiwa kita. Mengakui kebutuhan besar kita akan Allah tidak akan mengecilkan diri kita,  melainkan memperbaiki rasa percaya kita akan nilai berharga diri kita ini sebagai anak-anak Allah. Oleh karena itu, marilah kita selalu membuka hati kita bagi kehadiran Roh Allah dalam diri kita masing-masing.

DOA: Pancarkanlah sinar terang-Mu ke dalam hatiku, ya Roh Kudus. Nyatakanlah kepadaku area-area yang membutuhkan sentuhan kasih-Mu. Datanglah, ya Dokter Ilahi, dan buatlah aku menjadi seorang pribadi yang utuh: roh, jiwa dan badan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:13-17), bacalah tulisan dengan judul “YESUS MEMANGGIL LEWI” (bacaan tanggal 18-1-20), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 15 Januari 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS