APAKAH KITA SENDIRI MEMBERIKAN KASIH KRISTUS KETIKA KITA MELAYANI ORANG-ORANG LAIN?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Selasa, 7 Januari 2020)

Peringatan Fakultatif S. Raimundus dr Penyafort, Imam

Ketika mendarat, Yesus melihat orang banyak berkerumun, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.

Pada waktu hari mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepda-Nya dan berkata, “Tempat ini terpencil dan hari mulai malam. Suruhlah mereka pergi ke kampung-kampung dan desa-desa sekitar sini, supaya mereka dapat membeli makanan bagi diri mereka.” Tetapi jawab-Nya, “Kamu harus memberi mereka makan!” Kata mereka kepada-Nya, “Haruskah kami pergi membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?” Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!” Sesudah mengetahuinya mereka berkata, “Lima roti dan dua ikan.” Lalu Ia menyuruh orang-orang itu, supaya semua duduk berkelompok-kelompok di atas rumput hijau. Mereka pun duduk berkelompok-kelompok, ada yang seratus, ada yang lima puluh orang. Setelah mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap syukur, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya menyajikannya kepada orang-orang itu; begitu juga Ia membagikan kedua ikan itu kepada mereka semua. Lalu mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti sebanyak dua belas bakul penuh dan sisa-sisa ikan. Yang ikut makan roti itu ada lima ribu orang laki-laki. (Mrk 6:34-44) 

Bacaan Pertama: 1Yoh 4:7-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:2-4,7-8 

Hari-hari yang sungguh melelahkan. Kedua belas rasul baru saja kembali dari perjalanan misioner mereka dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan (Mrk 6:30), dan selama absen mereka Yesus sendiri pun tanpa mengenal lelah terus mewartakan Injil Kerajaan Allah kepada orang banyak dan berbuat kebaikan seperti biasanya. Sementara itu Yesus juga telah menerima kabar tentang kematian Yohanes Pembaptis (Mrk 6:14-29). Maka, ketika berkumpul kembali dengan 12 orang murid-Nya itu, Yesus ingin membawa mereka ke tempat yang terpencil untuk beristirahat dan berdoa berdoa bersama, karena saking sibuk melayani orang banyak sampai-sampai makan pun mereka tidak sempat. Lalu berangkatlah mereka mereka dengan perahu menyendiri ke tempat yang terpencil (Mrk 6:31-32).

Akan tetapi, upaya mereka untuk mengundurkan diri (retret) dari kesibukan sehari-hari itu ketahuan oleh banyak orang. Injil Markus menggambarkannya dengan singkat-jelas: “Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat bergegas-gegaslah orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka” (Mrk 6:33). Orang-orang itu memiliki kerinduam mendalam untuk dapat melihat sang “pembuat mukjizat” dan para murid-Nya, sehingga tanpa menyadarinya mereka telah mengganggu rencana Yesus untuk melakukan “retret” bersama para murid-Nya yang terdekat itu.  Bagaimana dengan Yesus? Melihat orang banyak itu, maka “tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka” (Mrk 6:34). Yesus tidak hanya memberi pengajaran kepada orang banyak itu, karena seperti kita akan lihat, Dia juga memberi mereka makan – secara ajaib lewat sebuah mukjizat pergandaan roti dan ikan – dalam sebuah lokasi terpencil, jauh dari keramaian kota.

Bagaimana Yesus memberi orang banyak yang berjumlah lebih dari 5000 orang itu? Dengan memerintahkan para murid-Nya untuk memberi makan kepada mereka: “Kamu harus memberi mereka makan!” (Mrk 6:37). Yesus memanggil para murid-Nya (pengikut-Nya) supaya meneladan diri-Nya dalam hal memberikan waktu dan energi untuk menolong orang-orang yang membutuhkan. Bahkan ketika para murid-Nya “memprotes” karena merasa tidak mampu, Yesus sendiri memberdayakan mereka. Yesus sebenarnya dapat secara langsung melakukan sendiri pemberian makanan tersebut, namun Ia mengundang para murid-Nya untuk ikut ambil bagian.

Sebagaimana yang terjadi sekitar 2000 tahun itu dengan para murid-Nya yang pertama, Yesus juga ingin memberdayakan kita masing-masing untuk melakukan pekerjaan Kerajaan-Nya pada hari ini – dengan cara-cara biasa sehari-hari atau pun lewat mukjizat dan berbagai tanda heran. Walaupun kita berpikir bahwa diri kita tidak mempunyai apa-apa untuk diberikan, Yesus memanggil kita untuk melayani para anggota keluarga kita, para sahabat kita, para kerabat kerja kita, bahkan para “musuh” atau “lawan” kita. Yesus ingin agar kita membawa “roti pemberi hidup”-Nya kepada semua orang yang kita jumpai.

Saudari-Saudara yang dikasihi Kristus, sekarang masalahnya adalah apakah kita melihat diri kita sendiri memberikan kasih Kristus ketika kita melayani orang-orang lain? Apakah kita melihat tugas-tugas kewajiban kita sehari-hari sebagai kesempatan-kesempatan memberikan kepada orang-orang yang kita layani itu “sesuatu untuk dimakan”? Apakah kita anda senantiasa mencari peluang-peluang untuk mewartakan tentang Yesus kepada para sahabat kita, atau mengajak mereka untuk berdoa bersama? Marilah kita memohon kepada Yesus untuk bekerja melalui diri kita. Perkenankanlah hidup-Nya dan kasih-Nya bertumbuh dalam diri kita masing-masing agar kita dapat menjadi sebuah instrumen Kerajaan Allah bagi-bagi orang-orang di sekeliling kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah “roti” satu-satunya yang akan memuaskan kebutuhan umat-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, sediakanlah bagiku berbagai sumber-daya yang kubutuhkan untuk memberi makanan kepada semua orang yang kujumpai. Tuhan Yesus, aku ingin menjadi murid-Mu yang baik. Terima kasih Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mrk 6:34-44), bacalah tulisan yang berjudul “BELAS KASIHAN YESUS” (bacaan tanggal 7-1-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-1-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 6 Januari 2020 [Peringatan Fakultatif B. Didakus Yosef dr Sadiz, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS