Archive for January, 2020

APABILA KITA MERASA KESEPIAN DAN/ATAU PUTUS ASA, MAKA BERSERULAH KEPADA ALLAH

APABILA KITA MERASA KESEPIAN DAN/ATAU PUTUS ASA, MAKA BERSERULAH KEPADA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa III – Sabtu, 1 Februari 2020)

Pada hari itu, menjelang malam, Yesus berkata kepada mereka, “Marilah kita bertolak ke seberang.” Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak  dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah topan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan memakai bantal. Lalu murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya, “Guru, tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa? Ia pun bangun, membentak angin itu dan berkata kepada danau itu, “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa  kamu begitu  takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain, “Siapa sebenarnya orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Mrk 4:35-41) 

Bacaan Pertama: 2Sam 12:1-7a,10-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:12-17 

“Guru, tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa?” (Mrk 4:38)

Teriakan para murid karena ketakutan dan frustrasi sebenarnya menggemakan teriakan kita kepada Tuhan Yesus manakala situasi-situasi dalam kehidupan kita menggoncang iman kita. Namun sekarang, seperti juga pada saat terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam Injil di atas, berbagai krisis sebenarnya memberikan kesempatan bagi kita untuk bertumbuh dalam rasa percaya kita kepada Tuhan Yesus selagi kita menyaksikan Dia bekerja dalam kehidupan kita. Memang kita sekali-kali dapat merasakan kesedihan mendalam, namun kita tidak pernah boleh melupakan fakta bahwa Yesus adalah Imanuel, Allah yang senantiasa menyertai kita.

Pengalaman-pengalaman para murid di tengah danau menunjukkan kepada kita bahwa Yesus menjunjung tinggi komitmen-Nya sebagai Tuhan (Kyrios) dan Juruselamat kita. Barangkali kita baru saja kehilangan seseorang yang sangat kita kasihi. Barangkali impian kita yang begitu lama tiba-tiba menjadi berantakan. Kita semua mengalami sakitnya patah hati dan setiap hari menghadapi berbagai tantangan hidup dalam dunia yang penuh kedosaan ini. Kadang-kadang rasa sakit kita begitu intens sehingga menutupi kasih besar dari Allah bagi kita. Kita dapat merasa ditinggalkan oleh-Nya dan  merasa heran mengapa Yesus meninggalkan kita justru pada saat-saat kita sangat membutuhkan pertolongan-Nya.

Namun ini bukanlah apa yang dimaksudkan oleh Allah bagi kita. Bapa surgawi ingin menunjukkan kepada kita bahwa Dia ada bersama kita setiap saat, bahkan ketika angin topan dan ombak kehidupan sedang mengamuk dengan dahsyat dan sangat mengancam keberadaan kita. Melalui sakit kita, kelemahan  kita, kekhawatiran dan keputus-asaan kita, Yesus ingin mengajar kita untuk mengandalkan diri kepada-Nya secara lebih total-lengkap lagi. Saat-saat penderitaan dan sakit adalah saat-saat di mana Allah menunjukkan kepada kita kasih-Nya kepada kita yang sejati dan bersifat mengikat.

Apabila anda merasakan kesepian, putus-asa, maka berserulah kepada Allah. Percayalah bahwa Dia akan menghibur anda dan menolong anda mengatasi kesulitan-kesulitan anda. Mohonlah kepada Roh Kudus untuk menghibur dan menyemangati anda setiap hari. Dia akan mengangkat diri anda dengan cara-cara yang tidak pernah anda harapkan. Kesampingkanlah masalah-masalah anda untuk waktu yang cukup lama agar anda dapat sepenuhnya memusatkan perhatian pada Tuhan selagi anda membawa berbagai masalah dan kebutuhan anda kepada-Nya. Dia adalah Tuhan yang berdaulat atas segenap ciptaan dan satu-satunya Allah bagi hidup anda. Apabila terjadi sesuatu yang menyakitkan hati, janganlah hal itu sampai memenjarakan kita sehingga kita tidak dapat berbuat apa-apa. Selagi kita menaruh rasa percaya kita kepada Yesus, maka kita pun akan dihibur menyaksikan bahwa Dia tidak pernah memungkiri janji-Nya kepada siapa pun dan Ia tidak pernah meninggalkan seorang pun.

DOA: Tuhan Yesus, Engkaulah andalanku. Aku menaruh segala sesuatu ke dalam tangan-tangan kasih-Mu. Berdirilah di sampingku, ya Yesus, selagi aku menghadapi kesulitan-kesulitan dan mengalami kepedihan. Aku sepenuhnya menaruh pengharapanku dalam diri-Mu, ya Yesus, karena aku mengetahui bahwa kasih-Mu kepadaku cukuplah untuk menolong aku keluar dari badai kehidupanku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:35-41), bacalah tulisan dengan judul “YESUS MEREDAKAN ANGIN RIBUT” (bacaan tanggal 1-2-20), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-1-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 30 Januari 2020 [Peringatan Wajib S. Yasinta Mareskoti, Perawan – OFS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KERAJAAN ALLAH DIMULAI DENGAN AWAL YANG PALING KECIL

KERAJAAN ALLAH DIMULAI DENGAN AWAL YANG PALING KECIL

(Bacaan Injil Misa Kudus – Peringatan Wajib S. Yohanes Bosko, Imam – Jumat, 31 Januari 2020)

Lalu kata Yesus, “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: Seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu bertunas dan tumbuh, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai  sudah tiba.”

Kata-Nya lagi, “Dengan apa kita hendak membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah kita hendak menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil daripada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ditaburkan,  benih itu tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.”

Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan kemampuan mereka untuk mengerti, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri. (Mark 4:26-34) 

Bacaan Pertama: 2Sam 11:1-4a,5-10a,13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-7,10-11 

“Beginilah hal Kerajaan Allah itu: Seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu bertunas dan tumbuh, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu.”  (Mrk 4:26-27)

Dengan mengajar lewat perumpamaan-perumpamaan, Yesus menggunakan imaji-imaji sederhana untuk menyampaikan kebenaran-kebenaran mendalam tentang Kerajaan Allah. Imaji benih-benih kecil, yang bertunas, tumbuh sampai masak dan dituai menjelaskan kepada kita sesuatu yang penting mengenai efek-efek transformasi dari sabda Allah. Seorang petani harus bekerja keras mempersiapkan tanah untuk ditanami, dan ia harus menjaga tanahnya bebas dari ilalang, hama dan gangguan lainnya. Akan tetapi, si petani tidak dapat membuat benih itu bertunas dan tidak memiliki kendali atas sinar matahari dan curah hujan.

Kerajaan Allah bekerja dengan cara serupa. Kerajaan Allah dimulai dengan awal yang paling kecil dalam hati manusia yang menerima sabda/firman Allah dan bekerja tanpa terlihat, membawa transformasi dari dalam. Sebagaimana sebutir benih yang samasekali tidak mempunyai kuasa untuk mengubah dirinya sendiri sampai saat ditanam ke dalam tanah, maka kita pun tidak dapat mengubah hidup kita untuk menjadi serupa dengan Yesus sampai kita menyerahkan hidup kita kepada Kristus dan mohon Roh Kudus mengubah kita dengan kuat-kuasa-Nya. Apabila benih-benih sabda Allah mulai berkecambah dan bertumbuh, hasilnya adalah tuaian yang berlimpah.

Orang dapat bertanya: “Apakah sabda Allah sunguh bekerja?” “Apakah iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus?” (Rm 10:17). “Apakah firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun?” (Ibr 4:12). Jika demikian halnya, mengapa kondisi dunia seperti sekarang, walaupun ada banyak gereja, ada banyak pengkhotbah, dan ada Alkitab (dengan berbagai versinya)? Jawaban Allah terhadap pertanyaan-pertanyaan sangat penting seperti ini adalah: “…… seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulutku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia; tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya” (Yes 55:10-11). Sabda Allah sungguh bekerja! Ingatlah apa yang dikatakan Paulus: “… firman Allah tidak terbelenggu” (2Tim 2:9).

Kitab Suci menceritakan kepada kita bagaimana sabda Allah menyebar dari Yerusalem ke kota-kota besar kekaisaran Romawi selagi benih-benih Injil tersebar jauh dan luas – kadang-kadang malah ke tempat-tempat yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Tentu saja para rasul Kristus yang pertama tidak mempunyai ekspektasi samasekali untuk memperoleh tuaian berlimpah lewat seorang Saulus dari Tarsus, yang sebelumnya merupakan seorang pengejar dan penganiaya Gereja. Demikian pula dengan Timotius, Titus dlsb. yang tidak pernah mempunyai hubungan dengan Yesus dalam pelayanan-Nya di depan umum. Biarpun begitu, tokh Allah memilih mereka untuk menyebarkan benih-benih Injil.

Kita mungkin saja tidak memiliki kharisma dan keberanian seperti Paulus, atau panggilan menjadi rasul seperti Petrus, namun kita dapat menyebarkan benih-benih sabda Allah yang telah dipercayakan kepada kita. Siapa yang dapat mengetahui di mana benih-benih yang kita sebarkan akan mulai berakar? Kita tidak usah terkejut apabila tanggapan-tanggapan datang dari tempat-tempat yang tidak diharap-harapkan, seperti kasir di supermarket tempat biasa kita berbelanja atau rekan-kerja kita yang sehari-hari yang kelihatan suka terbenam dalam kesibukan kerjanya. Siapa tahu? Bukankah kita hanya merupakan instrumen-Nya, keledai yang dikendarai oleh Yesus ketika memasuki kota Yerusalem? Biarlah Roh Kudus menunjukkan kepada kita (anda dan saya) bagaimana kita dapat menjadi penyebar benih sabda Allah.

Perlu kita ingat bahwa ketiadaan iman seorang pewarta/pelayan Sabda dapat membelenggu dirinya. Berbagi sabda Allah dengan orang-orang lain adalah bagaikan menabur benih di tanah. Seringkali kita sendiri tidak melihat efek-efek langsung dari pekerjaan kita (lihat Mrk 4:26 dsj.). Bahkan kalau pun kita dapat melihat hasilnya,  semua itu diawali dengan tindakan bagaikan menaburkan biji sesawi yang kecil di tanah (lihat Mrk 4:31). Agar bertekun dalam menyebarkan sabda Allah, kita harus menabur oleh/dalam iman dan bukan sekadar mengandalkan penglihatan kita (lihat 2Kor 5:7), Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” mengatakan: “… kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan beroleh hidup” (Ibr 10:39). Saudari dan Saudaraku, marilah kita bekerja dalam iman dan memberi kesempatan kepada sabda Allah untuk bekerja.

DOA: Bapa surgawi, oleh Roh Kudus-Mu, bukalah mataku agar mampu melihat kuasa-transformasi dari sabda-Mu. Tuntunlah aku dalam mensyeringkan Kabar Baik Yesus dengan orang-orang yang kujumpai. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Mrk 4:26-34), bacalah tulisan yang berjudul “BAGI ALLAH, KITA MASING-MASING SANGATLAH BERHARGA” (bacaan tanggal 31-1-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-2-19 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 29 Januari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MENGAJAR DENGAN MENGGUNAKAN PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN

YESUS MENGAJAR DENGAN MENGGUNAKAN PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa III – Kamis, 30 Januari 2020)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan Wajib S. Yasinta Mareskoti, Perawan Ordo III (OFS)

 

Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Mungkinkah orang membawa pelita supaya ditempatkan di bawah tempayan atau di bawah tempat tidur? Bukankah supaya ditaruh di atas kaki pelita? Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap. Siapa yang mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Lalu Ia berkata lagi, “Perhatikanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil. (Mrk 4:21-25) 

Bacaan Pertama: 2Sam 7:18-19,24-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 132:1-5,11-14 

Hari Rabu kemarin kita bersama membaca perumpamaan Yesus tentang seorang penabur (Mrk 4:1-10) yang sangat dihargai pada masa Gereja Perdana.  “Perumpamaan tentang seorang penabur” ini menyentuh hati sejumlah pendengar-Nya sedemikian mendalam sehingga mereka berada bersama Yesus lebih lama lagi dan bersama kedua belas murid memohon kepada-Nya untuk mengajar mereka lebih banyak lagi (Mrk 4:10-11).

Yesus melihat hasrat mereka untuk mendapat pengajaran secara lebih mendalam, sehingga dengan segala senang hati Dia menyediakan waktu ekstra untuk bersama dengan mereka. Kita hanya dapat membayangkan bagaimana Yesus meminta kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kepada-Nya cara terbaik untuk membuka hati orang-orang ini bagi lebih banyak lagi kebenaran-Nya.

Ternyata mengajar dengan menggunakan perumpamaan merupakan cara yang ampuh. Dalam perumpamaan-perumpamaan-Nya, Yesus membanding-bandingkan Kerajaan Allah dengan kegiatan sehari-hari sehingga orang dapat lebih siap memahami ajaran-Nya. Setelah perumpamaan tentang seorang penabur itu, Yesus melanjutkan pengajaran-Nya dengan beberapa perumpamaan lagi: (1) Perumpamaan tentang pelita dan tentang ukuran (Mrk 4:21-25) yang merupakan bacaan Injil hari ini; (2) Perumpamaan tentang benih yang tumbuh (Mrk 4:26-29); (3) Perumpamaan tentang biji sesawi (Mrk 4:30-34).

Yesus sangat senang bilamana orang-orang meminta kepada-Nya untuk mengajar mereka secara lebih mendalam, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, dan untuk memberikan hikmat-Nya kepada mereka. Rasa senang inilah yang berada di belakang kata-kata-Nya, “Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu” (Mrk 4:24). Orang-orang yang menyediakan lebih banyak waktu untuk bersimpuh di kaki Yesus mengalami lebih banyak kasih Allah dan berkat-berkat-Nya, dan mereka pun lebih siap untuk mengikut Yesus.

Bahkan hari ini pun Yesus ingin melanjutkan pengajaran-Nya kepada kita. Ada begitu banyak hal yang dapat diajarkan-Nya kepada kita, hanya apabila kita mau menyediakan waktu setiap hari untuk membaca dan merenungkan sabda-Nya dalam Kitab Suci. Pada saat-saat seperti inilah – ketika kita memberi perhatian sepenuhnya kepada Allah – Ia dapat membuat mukjizat dalam diri kita.

Marilah kita mohon lebih banyak dari Allah dengan menyediakan waktu setiap hari untuk membaca dan merenungkan sabda-Nya dalam Kitab Suci. Setiap kali kita memutuskan untuk memohon lebih banyak dari Allah, kita sebenarnya sedang mengetuk pintu surga, dan Allah telah berjanji bahwa Dia akan senantiasa menjawah kita (lihat Mat 7:7-8).

DOA: Bapa surgawi, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau men-sharing-kan hikmat-Mu dengan kami. Oleh Roh Kudus-Mu, bergeraklah dalam diri kami masing-masing agar timbul keinginan dalam diri kami untuk menyediakan waktu bersama-Mu setiap hari. Kami mengetahui bahwa Engkau akan menanggapi hasrat hati kami ini dengan mencurahkan berkat-berkat melimpah atas Gereja-Mu sehingga semua orang akan sungguh mengenal Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:21-25), bacalah tulisan yang berjudul “MEMPERHATIKAN APA YANG KITA DENGAR” (bacaan tanggal 30-1-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 31-1-19 dalam situs/bloga SANG SABDA) 

Cilandak, 28 Januari 2020 [Peringatan S. Thomas Acquino, Imam Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BAGAIMANA KITA DAPAT MENJADI TANAH YANG BAIK DAN SUBUR?

BAGAIMANA KITA DAPAT MENJADI TANAH YANG BAIK DAN SUBUR?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa III – Rabu, 29 Januari 2020)

Pada suatu kali Yesus mulai mengajar lagi di tepi danau. Lalu datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu. Ia mengajarkan banyak hal dalam  perumpamaan kepada mereka. Dalam ajaran-Nya itu Ia berkata kepada mereka, “Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah tanam-tanaman itu dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. Sebagian jatuh di tanah yang baik, sehingga tumbuh dengan subur dan berbuah. Hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat.” Lalu kata-Nya, “Siapa yang mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu bertanya kepada-Nya tentang perumpamaan itu. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya: Sekalipun memang melihat, mereka tidak memahami, sekalipun memang mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan diberi pengampunan.” Lalu Ia berkata kepada mereka, “Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain? Penabur itu menaburkan firman. Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka. Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu mereka segera murtad. Yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri; itulah yang mendengar firman itu, lalu kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat.” (Mrk 4:1-20) 

Bacaan Pertama: 2Sam 7:4-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:4-5,27-30

“Akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat.” (Mrk 4:20)

Perumpamaan Yesus yang sangat dihargai pada masa Gereja perdana ini sungguh merupakan sebuah tantangan besar bagi kita semua. Sekali sabda Allah ditanam dalam hati kita, kita mempunyai pilihan bagaimana kita akan menanggapi sabda tersebut. Yesus mengajar dengan jelas: Apabila benih gagal berakar dalam diri kita, maka kita tidak akan mampu bertahan ketika menghadapi kesulitan. Tanah yang baik adalah “orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah” (Mrk 4:20). Perumpamaan ini menunjukkan bahwa kita dapat memupuk hati kita sehingga, ketika sang penabur menaburkan benihnya ke dalam diri kita, maka kita akan siap untuk menerima benih (sabda/firman) itu dan memahaminya agar dengan demikian dapat berbuah.

Bagaimana kita dapat menjadi tanah yang baik dan subur? Kita dapat mulai dengan memohon kepada Roh Kudus untuk mengisi diri kita dengan suatu hasrat yang tulus akan sabda Allah dan suatu keterbukaan terhadap kuasa sabda Allah itu guna mentransformasikan diri kita. Kita juga dapat membuat diri kita tersedia bagi Allah sehingga “benih” di dalam diri kita dapat menghasilkan akar yang dalam serta kuat, dan dapat menghasilkan buah secara berlimpah-limpah. Melalui doa-doa harian, bacaan dan studi Kitab Suci serta partisipasi aktif dalam Misa Kudus, kita dapat membawa makanan bagi diri kita secara konstan, menciptakan suatu keadaan di mana benih sabda Allah dapat bertumbuh dan menjadi produktif.

Disamping hati yang baik, jujur dan taat, kita juga membutuhkan kesabaran kalau mau melihat tanaman itu tumbuh dan berbuah seratus kali lipat. Selagi kita berjalan melalui kehidupan kita ini, pastilah kita mengalami berbagai godaan, masalah dan kesulitan. Barangkali kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit sabda itu sehingga tidak berbuah (Mrk 4:18-19). Namun Allah memerintah dalam hati yang kuat berakar pada sabda-Nya. Allah akan melihat kita melalui saat-saat di mana kita tergoda untuk mengambil jalan-mudah, atau ketika kita  mengalami distraksi (pelanturan) yang disebabkan oleh berbagai tuntutan atas waktu dan perhatian kita. Yesus, sang Firman/Sabda Allah, akan menjaga hati kita agar tetap lembut dan lunak. Kalau kita menantikan-Nya dengan sabar, maka Dia tidak akan mengecewakan kita.

Marilah kita menerima sabda Allah dengan kesabaran dan penuh kepercayaan. Marilah kita minta kepada Roh Kudus untuk menanam sabda-Nya dalam-dalam pada diri kita, sehingga tidak ada yang dapat mencabutnya, apakah Iblis, atau godaan-godaan, atau kekayaan, atau kenikmatan-kenikmatan yang ditawarkan dunia. Baiklah kita memusatkan pikiran dan hati kita pada sabda-Nya, mohon kepada Roh Kudus untuk membawa sabda-Nya itu ke dalam diri kita. Baiklah kita membuat Kitab Suci sebagai fondasi kita yang kokoh-kuat.

Sebelum mengakhiri renungan ini, baiklah kita (anda dan saya) bertanya kepada diri kita masing-masing: Secara jujur, sebenarnya keuntungan/manfaat apa yang kuharapkan dengan menjadi pengikut Yesus Kristus? Jenis tanah seperti apakah diriku sebenarnya? Di mana saja aku dapat melihat buah-buah Kerajaan Allah dalam hidupku?

DOA: Bapa surgawi, berkat rahmat-Mu buatlah agar hidup kami berbuah demi kemuliaan-Mu. Tumbuhkanlah dalam hati kami suatu hasrat untuk menerima sabda-Mu. Ubahlah hati kami supaya menjadi tanah yang baik dan subur bagi sabda-Mu untuk tumbuh dan berbuah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:1-20), bacalah tulisan yang berjudul “KITA AKAN MEMAHAMI RAHASIA KERAJAAAN ALLAH JIKA KITA MEMPERKENANKAN BENIH SABDA-NYA BERTUMBUH DALAM DIRI KITA” (bacaan tanggal 29-1-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-1-19 dalam situs/blog SANG SABDA)

 Cilandak, 27 Januari 2020 [Peringatan Fakultatif S. Angela Merici, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PEMISAHAN YANG DISEBABKAN OLEH YESUS

PEMISAHAN YANG DISEBABKAN OLEH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Tomas Acquino, Imam Pujangga Gereja – Selasa, 28 Januari  2020)

Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia. Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya, “Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.”  Jawab Yesus kepada mereka, “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?”  Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Siapa saja yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku.”  (Mrk 3:31-35)

Bacaan Pertama: 2Sam 6:12b-15,17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:7-10

“Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?” (Mrk 3:33)

Bacaan Injil pada hari Senin Pekan lalu tentang “hal berpuasa” diambil dari Mrk 2:18-22. Dalam bacaan Injil tersebut kita membaca apa yang dikatakan Yesus: “… anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula” (Mrk 2:22). Apa yang dikatakan Yesus itu secara tidak langsung menyatakan adanya pemisahan yang tajam dengan Yudaisme zaman itu. Sebagaimana kita saksikan sendiri, “pemisahan” telah dimulai.

Pada suatu hari Sabat, dalam sebuah sinagoga Yesus menyembuhkan seorang laki-laki yang tangannya mati sebelah. Setelah penyembuhan terjadi, keluarlah orang-orang Farisi dan segera membuat rencana bersama para Herodian (pendukung raja Herodes) untuk membunuh Yesus (lihat Mrk 3:6). Di lain pihak Yesus sendiri memanggil kedua belas rasul, tindakan mana dapat memberi kesan negatif dari mereka yang membencinya, bahwa Dia sedang membentuk mereka menjadi kekuatan tandingan berhadap-hadapan dengan Yudaisme sebagai sebuah sistem negara-keagamaan (lihat Mrk 3:13-19).

Perikop selanjutnya (Mrk 3:20-30) menunjukkan bahwa pemisahan terus berlanjut. Yesus tidak mengenal waktu dalam melayani orang banyak. Lupa/tidak sempat makan – lupa/tidak sempat istirahat. Ketika berita tentang hal ini sampai ke telinga anggota keluarga-Nya, mereka pun datang hendak mengambil Dia. Semuanya memang terasa berjalan dengan cara yang tidak normal, maka tidak mengherankanlah apabila mereka mengira bahwa Yesus sudah tidak waras (lihat Mrk 3:20-21).

Di lain pihak ada para ahli Taurat yang datang dari Yerusalem. Mereka mengatakan: “Ia (Yesus) kerasukan Beelzebul”, dan, “Dengan pemimpin setan Ia mengusir setan” (Mrk 3:22). Tanggapan Yesus terhadap pernyataan para ahli Taurat tersebut (Mrk 3:23-30) sebenarnya mematahkan argumen mereka. Jelas kelihatan bahwa para ahli Taurat tersebut tidak sedikit pun melihat kebaikan karya pelayanan Yesus yang penuh kasih dan bela-rasa itu. Rupanya bagi mereka yang terpenting bukanlah penderitaan orang lain, tetapi keuntungan diri sendiri. Segala sesuatu yang menopang atau mendukung posisi mereka dalam masyarakat adalah baik, tetapi yang merongrong kedudukan mereka adalah buruk. Jadi terlihat ada pemisahan lagi.

Yesus bahkan bersedia untuk berpisah dengan kaum keluarga (karena hubungan darah dan daging). Dalam dunia kuno tidak ada pemisahan yang lebih ekstrim daripada memisahkan diri dari keluarga. Keluarga adalah tempat di mana seseorang mendapat perlindungan, pendidikan dan identitasnya, namun terkesan untuk beberapa saat Yesus membiarkan keluarga-Nya “berdiri di luar”, walaupun orang-orang mengatakan kepada-Nya: “Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau” (Mrk 3:33). Jawab Yesus memang agak mengagetkan: “Siapakah ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?” (Mrk 3:33). Kemudian Yesus melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Siapa saja yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku” (Mrk 3:35).

Di sini Yesus menekankan superioritas dari relasi spiritual ketimbang relasi karena ikatan keluarga semata. Yesus menggambarkan sifat dari relasi spiritual kita dengan Allah. Iman menempatkan diri kita dalam suatu jejaring baru dari relasi satu sama lain, dengan Yesus dan dengan Allah. Para pengikut-Nya (Saudari dan Saudara-Nya) akan bersatu bukan karena kepentingan-kepentingan politik atau ekonomi, melainkan dipersatukan oleh hasrat untuk mendengarkan Sabda Allah dan tekun melaksanakannya. Saudari dan Saudara Yesus yang baru ini akan menjadi inti dari suatu masyarakat baru, berdasarkan suatu komitmen total kepada-Nya Sebagai sebuah kelompok mereka akan menjadi jejaring baru bagi pembentukan kesejahteraan dan cintakasih.

Bagi kita umat yang percaya, lambang dari kebersatuan spiritual bukanlah sebuah kota seperti Yerusalem, melainkan perayaan Ekaristi yang menggabungkan kita ke dalam Gereja Universal. Dalam Yesus dan melalui diri kita, dunia dibawa kepada kasih Bapa surgawi.  Sebagai murid-murid Yesus Kristus, kita adalah titik kontak antara Injil dan dunia. Kemuridan adalah ikatan kita bersama.

Sekarang, sebagai murid-murid-Nya, apakah kita (anda dan saya) bersedia untuk senantiasa meletakkan Yesus Kristus di atas segala relasi keluarga menurut darah dan daging? Apakah sumbangan kita (anda dan saya) bagi komunitas pengikut Yesus, misalnya dalam kaitan menjadikan komunitas sebuah keluarga yang saling mengasihi, saling memperhatikan dst.?

DOA: Bapa Surgawi, Engkau tahu bahwa komitmen kami untuk benar-benar mendengarkan sabda-Mu dan dengan tekun melaksanakannya seringkali goyah. Oleh Roh Kudus, tolonglah kami untuk dapat mempersembahkan hidup kami kepada-Mu dan menjadi anggota yang melayani keluarga Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, yaitu Tubuh-Nya sendiri: Gereja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:3-35), bacalah tulisan yang berjudul “ADA YANG LEBIH PENTING DAN UTAMA DARIPADA IKATAN KEKELUARGAAN KARENA HUBUNGAN DARAH” (bacaan tanggal 28-1-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tangal 29-1-19 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 27 Januari 2019 [Peringatan Fakultatif S. Angela Merici, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEBUAH PERMENUNGAN TENTANG YESUS KRISTUS DAN TANGGAPAN KITA TERHADAP SEGALA KEBAIKAN-NYA

SEBUAH PERMENUNGAN TENTANG YESUS KRISTUS DAN TANGGAPAN KITA TERHADAP SEGALA KEBAIKAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Fakultatif S. Angela Merici, Perawan – Senin, 27 Januari 2020)

Ordo Santa Ursula: Hari Raya S. Angela Merici, Pendiri Tarekat (seorang anggota OFS)

Ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata, “Ia kerasukan Beelzebul,”  dan, “Dengan pemimpin setan Ia mengusir setan.”  Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan, “Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis? Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan. Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya. Tetapi tidak seorang pun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Semua dosa dan hujat apa pun yang diucapkan anak-anak manusia akan diampuni. Tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa yang kekal.” Ia berkata demikian karena mereka mengatakan bahwa Ia kerasukan roh jahat.  (Mrk 3:22-30)

Bacaan Pertama: 2Sam 5:1-7,10; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:20-22,25-26

Marilah kita sekarang merenungkan Yesus Kristus, seorang Pribadi yang kita imani sebagai Tuhan dan Juruselamat. Yesus memang Mahalain. Kemurahan-hati-Nya yang besar terhadap orang-orang miskin, orang-orang yang menderita berbagai sakit-penyakit, para pendosa, pengajaran-Nya yang sangat bermutu dan penuh kuasa, kuasa penyembuhan-Nya yang mengalir terus tanpa dapat dibendung, kesucian/kesalehan hidup-Nya ketika hidup sebagai manusia di muka bumi ini. Namun kita merasa seakan-akan sedang menghadapi sebuah teka-teki yang tidak mudah dipecahkan.

Pada suatu hari Yesus berkata kepada para lawan yang sungguh membenci-Nya: “Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapa kamu tidak percaya kepada-Ku?” (Yoh 8:46). Tidak ada seorang pun dari para lawan-Nya yang dapat menjawab Yesus. Tidak ada seorang pun yang dapat menuduh-Nya. Namun, mengapa Yesus menjadi suatu  “tanda kontradiksi” (tanda lawan)? Mengapa mereka memandang Yesus menjadi seorang musuh publik (Inggris: public enemy)? Bagaimana mungkin orang-orang yang mengklaim diri mereka sebagai umat yang menanti-nantikan penebusan Allah justru menolak Yesus mentah-mentah, padahal penebusan sudah datang dan berdiri di depan mata mereka?

Apakah kita (anda dan saya) tidak merasa sungguh terkejut melihat kebutaan para pemuka agama Yahudi, para pemimpin agama Yahudi, atau katakanlah para agamawan. Tidakkah kita merasa kaget melihat sikap angkuh dan “cuwek” mereka ketika mendengar khotbah/pewartaan Yesus tentang Kerajaan Allah dan seruan-Nya agar umat melakukan pertobatan? Tidakkah kita merasa “ngeri” ketika melihat dengan jelas “niat buruk” orang-orang itu terhadap diri Yesus? Bukankah mereka adalah tokoh-tokoh panutan yang dihormati rakyat banyak?

Sekarang, bagaimanakah dengan kita sendiri? Kalau kita terkejut melihat kekurangan-kekurangan para lawan Yesus seperti digambarkan dalam Injil, maka kita pun pantas terkejut jika melihat dan sadar akan kekurangan-kekurangan diri kita sendiri. Bukankah kita sering memperlakukan Yesus sebagai “tanda kontradiksi”? Bukankah tidak jarang kita mengesampingkan ajaran-ajaran-Nya ketika – misalnya sebagai seorang direktur perusahaan – kita harus mengambil keputusan bisnis yang penting menyangkut etika dan moral? Bukankah kita sering menolak Yesus dan malah berkonspirasi dengan mitra kerja atau mitra bisnis kita untuk melawan Dia, yang nota bene adalah Tuhan dan Juruselamat kita? Bukankah kita sering hanya saleh sebagai orang beriman pada hari Minggu saja, dan dari hari Senin sampai dengan Sabtu kita kembali bertindak tanduk  sebagai monster yang menakutkan bagi sesama kita? Mengapa dari hari Senin sampai dengan hari Sabtu kita menipu orang lain, sedangkan pada hari Minggu kita menipu Tuhan? Kita selalu menginginkan diri kita menjadi “yang terbesar”, “yang terhebat”, “yang paling keren atau paling cantik”. “yang paling wah” dlsb. Namun, ingatlah hai Saudari dan Saudaraku yang dikasihi oleh-Nya: Yesus senantiasa mengambil posisi sebagai “yang terkecil”, “yang paling hina-dina” (lihat Mat 25:31-46; teristimewa 25:40,45).

Apa yang diperintahkan oleh Bapa surgawi, itulah yang dilakukan oleh Yesus – malah dengan “biaya” berupa keamanan-Nya, kenyamanan-Nya, bahkan hidup-Nya sendiri. Yesus tidak mengambil apa pun untuk keuntungan diri-Nya sendiri. Dengan tujuan yang jelas-arah, dengan kemurnian hati, dan dengan sikap serta perilaku-Nya yang sederhana dan tak tersaingi oleh nabi-nabi besar yang mana pun, Yesus membawa penebusan kepada umat yang ternyata belum mempersiapkan diri untuk itu. Namun, selagi kita menoleh ke belakang dan  sekeliling kita, kita dapat bertanya kepada diri sendiri, “Apa lagi yang akan membawa penebusan sejati? Penebusan apa lagi yang kita sungguh-sungguh butuhkan?

DOA: Tuhan Yesus Kristus, Engkau sungguh terlalu baik bagi kami. Engkau melakukan dengan begitu sempurna apa yang kami harapkan dan tidak mampu mencapainya. Engkau akan selalu menjadi “tanda kontradiksi”. Untuk alasan itulah Engkau senantiasa menjadi tanda pengharapan dan penebusan bagi kami. Terpujilah nama-Mu yang kudus, ya Tuhan dan Allah kami, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mri 3:22-30), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS DITUDUH MENGUSIR SETAN DENGAN KUASA PEMIMPIN SETAN” (bacaan tanggal 27-1-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-1-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  26 Januari 2020 [HARI MINGGU BIASA III – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERTOBATLAH, SEBAB KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT!

BERTOBATLAH, SEBAB KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT!  

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA III [TAHUN A] – 26 Januari 2020)

Tetapi waktu Yesus mendengar bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, “Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang Sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, – bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang  besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.” Sejak itu Yesus mulai memberitakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” 

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur Danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikiuti Dia. Setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya dua orang bersaudara yang lain lagi, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu, Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.

Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang di antara bangsa itu dari segala penyakit dan kelemahan mereka. (Mat 4:12-23)  

Bacaan Pertama: Yes 8:23b-9:3; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14; Bacaan Kedua: 1Kor 1:10-13,17

Setelah Herodes Antipas menangkap Yohanes Pembaptis, Yesus mengundurkan diri dari padang gurun; bukan untuk melarikan diri dari raja itu, karena Galilea juga merupakan bagian dari daerah kekuasaannya, melainkan untuk menunjukkan sebuah prinsip yang akan seringkali berulang: penolakan terhadap Injil di satu tempat akan membawa pewartaan Injil ke sebuah tempat lain.

Yesus dan Yohanes Pembaptis tidak hanya mempunyai pesan yang sama, mereka juga mengalami kematian di bawah pemerintahan seorang raja yang sama: Herodes Antipas. Apakah Yesus kembali ke Nazaret untuk waktu yang tidak lama atau apakah Dia pindah alamat ke Kapernaum, semuanya tidak jelas. Kapernaum, di tepi danau terletak di wilayah Naftali, yang bersama Zebulon dan yang lain-lain dari kerajaan utara dirampas dan dimasukkan ke bawah kekuasaaan Asiria (Asyur) pada tahun 734 SM. Karena dibanjiri oleh imigran-imigran non-Yahudi (baca: kafir), maka hal ini memberikan alasan bagi orang-orang Yahudi Ortodoks di Yerusalem untuk mencurigai kemurnian doktrinal mereka. Yesaya telah menubuatkan pembebasan mereka, seperti diringkas dalam Yes 5:23-9:1.  Hal ini digenapi ketika Yesus datang ke Galilea. Galilea adalah tanah orang Yahudi, maka kunjungan Yesus ke Galilea menggambarkan bahwa Yesus pertama-tama datang kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel (lihat Mat 10:6; lihat juga15:4). Namun, Galilea juga merupakan “distrik orang-orang kafir” yang memberikan banyak peluang bagi Yesus untuk berkontak dan berinter-aksi dengan orang-orang non-Yahudi. Dengan demikian Galilea menggambarkan komposisi dari komunitas Matius yang terdiri dari orang-orang Yahudi maupun non-Yahudi.

“Sejak itu Yesus mulai memberitakan, ‘Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!’ ” (Mat 4:17) adalah ayat yang sangat penting dalam Injil. Di satu sisi ayat ini memberikan pesan yang seperti pesan Yohanes Pembaptis, namun di sisi lain ayat termaksud mengakhiri bagian dari Injil yang dimulai di bab 3. “Sejak itu Yesus mulai memberitakan” menandakan bagian pertama dari pelayanan Yesus di tengah publik. Bagian kedua ditandakan oleh ayat Mat 16:21, di mana ungkapan yang sama akan digunakan oleh penulis Injil.

Sejak awal pelayanan-Nya di tengah public, Yesus memanggil mengumpulkan sejumlah murid di sekeliling Diri-Nya. Mengapa? Karena Yesus sadar bahwa ajaran-Nya akan hilang jika tidak diintegrasikaan dalam kehidupan pribadi-pribadi dan hidup sebuah komunitas. Komunitas itu – yang sekarang kita namakan Gereja – menjadi garam bumi dan terang dunia (Mat 5:13-16). Jadi, sebelum Yesus mengajar atau membuat mukjizat, Ia harus mempunyai saksi-saksi. Saksi-saksi dimaksud tidak hanya berarti orang-orang yang melihat dan mendengar apa yang dilakukan/diucapkan-Nya, melainkan juga menghayati dan hidup seturut pesan-Nya.

Kata-kata yang diucapkan lewat khotbah dengan cepat dapat terlupakan oleh  orang banyak, yang datang karena keinginan tahu yang bersifat superfisial, tanpa komitmen. Kata-kata tertulis juga dapat menjadi kata-kata yang terkubur mati apabila tidak hidup dalam hati manusia dan diproklamasikan  oleh suatu suara yang hidup.

Murid-murid Yesus harus lebih daripada sekadar murid-murid para rabi Yahudi, bahkan harus lebih daripada sekadar saksi-saksi. Panggilan Yesus mencakup sebuah janji bahwa Dia akan membuat mereka menjadi pejala-penjala manusia, suatu pekerjaan yang akan mereka mulai lakukan ketika Yesus mengutus mereka dalam misi evangelisasi mereka yang pertama (Mat 10).

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih Engkau telah memancarkan terang kasih-Mu ke dalam hidupku yang dipenuhi kegelapan ini. Di tengah-tengah kesibukan sehari-hariku, tolonglah aku agar dapat mengikuti-Mu dengan semangat yang berapi-api sebagaimana yang telah ditujukkan oleh para murid-Mu yang pertama. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 4:12-23), bacalah tulisan yang berjudul “MENANGGAPI SECARA POSITIF PANGGILAN YESUS” (bacaan tanggal 26-1-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 25 Januari 2020 [Pesta Bertobatnya S. Paulus, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS