MARIA TETAP MENGUNDANG KITA SEMUA UNTUK MENJADI SEPERTI DIRINYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA SP MARIA BUNDA ALLAH, Hari Oktaf Natal –Selasa, 1 Januari 2020)

Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkataan itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Kemudian kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka’ Ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya (Luk 2: 16-21).

Bacaan Pertama:  Bil 6:22-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3, 5-6,8; Bacaan Kedua: Gal 4:4-7

“Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah, kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu.” (Mzm 67:6)

Sementara masa Natal berjalan terus, Roh Kudus mengundang kita untuk merenungkan peristiwa-peristiwa di sekitar kelahiran Yesus.  Pada hari pertama tahun yang baru ini, Gereja merayakan HARI RAYA SP MARIA BUNDA ALLAH.  “Bunda Allah” (THEOTOKOS = pembawa Allah) adalah gelar yang diberikan kepada Maria oleh para Bapak Konsili Efesus di tahun 431. Para Bapak Konsili Efesus menyadari bahwa dengan memberi Maria gelar Theotokos ini, mereka memberi pujian tertinggi kepada Puteranya, Yesus Kristus. Pada waktu itu berkembanglah bid’ah Arianisme yang hanya mau menyebut Maria sebagai Christotokos, artinya pembawa/bunda Kristus. Bagi kaum bid’ah ini Yesus Kristus hanyalah manusia yang suci, bukan Allah. Dengan pemberian gelar Theotokos kepada Maria, para Bapak Konsili Efesus sebenarnya memproklamasikan bahwa Yesus Kristus bukanlah sekadar seorang manusia suci atau nabi biasa seperti para nabi yang terdahulu. Yesus adalah sungguh Allah yang kekal dan Pribadi kedua dari Allah Tritunggal Mahakudus, pada saat yang sama Dia adalah seorang manusia sepenuhnya.

Pesta Besar yang kita rayakan pada hari ini secara istimewa memiliki arti penting karena mengajak kita untuk memusatkan perhatian kita pada fakta bahwa Maria mengandung dalam rahimnya dan melahirkan Putera Allah. Sejak saat perkandungan-Nya dalam rahim perawan Maria, Yesus dari Nazaret memiliki segala kepenuhan kasih Allah, rahmat dan kuasa dalam diri-Nya sebagai seorang pribadi manusia. Pada waktu para gembala berdatangan ke tempat bayi Yesus berada, mereka menyampaikan sebuah laporan tentang malaikat yang telah mengumumkan kelahiran sang Mesias. Sementara melakukan tugas-tugas keibuannya, Maria memperhatikan sekali kata-kata para gembala tentang Anak yang baru dilahirkannya.

Inilah misteri yang disimpan dalam hati dan direnungkan oleh Maria, bahkan lama setelah para gembala meninggalkan mereka bertiga (lihat Luk 2:19). Maria tidak ribut-ribut perihal berbagai bahaya yang mengancam keluarganya. Dia tidak merasa khawatir atau cemas mengenai apa yang mungkin terjadi di masa depan, atau merasa menyesal tentang apa yang mungkin telah terjadi di masa lalu apabila dia dan Yosef (Yusuf) tidak diminta untk membesarkan Putera Allah. Sebaliknya, Maria secara hati-hati mengamati segala cara kerja Allah sementara dia melahirkan Yesus dan mulai merawat dan membesarkan Dia. Maria tidak membiarkan sabda Allah dan perbuatan-perbuatan-Nya menjadi sekadar kenangan yang perlahan-perlahan akan hilang lenyap, melainkan memeliharanya hidup dalam hatinya.

Hal ini terjadi 2.000 tahun lalu. Kita dapat membayangkan betapa banyaknya harta-kekayaan rohani yang terdapat dalam hati Maria. Maria telah mensyeringkan harta-kekayaan ini dengan umat manusia dari abad ke abad, teristimewa pada abad-abad terakhir ini lewat penampakan-penampakan yang luarbiasa menakjubkan. Di setiap tempat di mana Maria menampakkan diri, pesannya praktis sama: “Bertobatlah, tinggalkanlah hidup kedosaanmu, dan berikanlah hatimu kepada Yesus.”  Ini adalah pesan yang murni dan jelas. Dari mana Maria dapat begitu penuh kejelasan dan penuh cintakasih dalam menyampaikan pesannya yang sedemikian efektif? Dari hatinya yang selalu merenungkan apa yang dialaminya dan hati yang keras mendorongnya untuk berbagi (sharing) pesan Puteranya sendiri: “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk 1:15).

Maria menyimpan segala sesuatu yang dialaminya dalam hati dan merenungkannya, sambil menyerahkan diri sepenuhnya kepada Roh Kudus. Sekarang dia mengundang kita semua untuk menjadi seperti dirinya. Agar kita berdoa dalam keheningan, mengambil sikap atataat dan patuh terhadap Allah. Dengan demikian kita pun dapat dimampukan untuk menjadi pembawa Kristus ke tengah dunia. Kalau belum tercakup dalam resolusi Tahun Baru yang kita buat kemarin, baiklah kita tambahkan satu lagi, yaitu untuk lebih mendekatkan diri kita lagi kepada Yesus Kristus lewat pembacaan dan permenungan Kitab Suci, teristimewa keempat kitab Injil dan bacaan-bacaan Perjanjian Baru lainnya. Tahun yang baru ini semoga dapat menjadi rahmat besar bagi kita sementara kita menyediakan waktu dan perhatian yang secukupnya guna membaca dan merenungkan sabda-Nya. Renungkanlah dalam batin anda apa yang ditulis dalam Kitab Suci. Perkenankanlah Roh Kudus bekerja secara mendalam dalam kehidupan anda. Insya Allah, dengan demikian, seperti Maria kita pun dapat menjadi bejana Allah yang indah.

DOA: Roh Kudus, datanglah dan masuklah ke dalam hidupku secara mendalam dan penuh kuasa, teristimewa pada tahun yang baru ini. Penuhilah diriku dengan Yesus dan sabda-Nya, seperti Engkau memenuhi diri Maria. Tolonglah aku agar dapat menghayati dan memproklamasikan Injil Yesus Kristus lewat kata-kata dan kesaksian hidupku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 2:16-21), bacalah tulisan yang berjudul “BUNDA ALLAH” (bacaan tanggal 1-1-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-01 BACAAN HARIAN  JANUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-1-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 30 Desember 2019

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS