Archive for December 8th, 2019

TANPA NODA DOSA

TANPA NODA DOSA

(Bacaan Injil Misa, HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA DOSA – Senin, 9 Desember 2019)

Keluarga besar Fransiskan: HARI RAYA PELINDUNG DAN RATU TAREKAT

Image result for MARY IMMACULATE CONCEPTION"

Catatan: Hari Raya khusus ini dirayakan pada hari ini karena tanggal 8 Desember 2019 bertepatan dengan hari Minggu Adven II.

Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38)

Bacaan Pertama: Kej 3:9-15,20; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4; Bacaan Kedua: Ef 1:3-6,11-12. 

“Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:38)

Dalam fiat (persetujuan) Maria kepada Allah ini. Lukas menunjukkan kepada kita secara sekilas hati Maria yang tak bernoda. Penulis Injil ini menunjukkan kepada para pembaca Injilnya sebuah hati yang menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Allah – tanpa reserve – yang mengasihi-Nya, dan ingin menyenangkan dan taat kepada-Nya lebih daripada segalanya yang lain. Dikaruniai oleh Allah, dengan bebas Maria merangkul rencana penyelamatan Allah dan rela untuk berkorban apa saja demi terlaksananya rencana tersebut.

Jadi, benarlah – teristimewa pada hari yang istimewa ini – apabila kita menghormati hati Maria yang tak bernoda. Namun benarlah juga apabila pada hari ini kita mengenang hal sama yang menjaga Maria dari efek-efek dosa pada saat ia mulai diperkandung dalam rahim ibunya – keuntungan-keuntungan dari kematian dan kebangkitan Yesus yang kita peroleh pada saat pembaptisan. Ketika kita dibaptis, kita dibasuh bersih dari segala noda dosa, dan surga pun terbuka bagi kita. Roh Kudus menaungi kita, dan Yesus datang untuk hidup dalam hati kita. Kita menjadi mampu memiliki disposisi kasih dan kepercayaan terhadap Allah seperti yang dimiliki oleh Maria. Sesungguhnya, kita semua dapat mempunyai hati yang tak bernoda (Inggris: immaculate heart). Ini bukanlah pernyataan yang berlebihan atau “lebai”!

Tentu saja hal ini tidak akan terjadi secara otomatis. Suatu disposisi seperti yang dimiliki oleh Maria haruslah dibentuk dalam diri kita dengan berjalannya waktu selagi kita melakukan pertobatan atas dosa-dosa kita dan menempatkan diri kita sebagai hamba-hamba yang melayani Allah. Disposisi ini diberi asupan “makanan” setiap kali kita berjumpa dengan Yesus dalam sakramen-sakramen dan dalam doa-doa kita. Disposisi ini akan diperkuat setiap saat kita berjumpa dengan Yesus dalam diri orang miskin dan “wong cilik” pada umumnya.

Kita memang harus berupaya untuk menyingkirkan pikiran-pikiran kita yang penuh kedosaan dan kecenderungan-kecenderungan buruk. Memang upaya seperti ini tidaklah mudah, namun lihatlah ganjaran yang akan kita peroleh kelak! Kita juga dapat memiliki hati yang taat kepada Allah dan senantiasa memiliki komitmen agar rencana Allah menjadi kenyataan. Semakin jauh kita berjalan di atas jalan yang disediakan oleh Yesus, semakin intim pula relasi kita dengan Allah sebagaimana yang telah dialami oleh Maria.

Kita tidak pernah boleh melupakan apa yang telah terjadi atas diri kita pada saat kita dibaptis dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus! Janganlah kita lupa bahwa innocense kita dipulihkan pada saat pembaptisan, demikian juga dengan kemurnian hati, dan kuasa Allah dalam diri kita. Jadi, sebenarnya hati murni seperti yang dimiliki oleh Maria dapat kita miliki juga. Selagi kita berketetapan hati dan terus mengejar kemurnian itu, maka Allah Bapa akan membuat upaya kita itu menjadi kenyataan dalam diri kita.

DOA: Yesus Kristus, aku menyembah Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamatku. Aku memuji kebesaran-Mu, ya Allah Pencipta langit dan bumi. Terima kasih penuh syukur kupanjatkan kepada-Mu karena Engkau telah memberikan kepadaku sebuah hati baru yang tidak lagi digelapkan oleh dosa, melainkan telah dibuat murni oleh darah-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, berikanlah kepadaku kekuatan dan keberanian untuk bekerja sama dengan Engkau dalam pewartaan Injil-Mu kepada dunia di sekelilingku. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Ef 1:3-6,11-12),  bacalah  tulisan yang berjudul “SEBAGAI PUJI-PUJIAN BAGI KEMULIAAN-NYA” (bacaan tanggal 9-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-12-18 dalam situs/blog SANG SABDA. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012)

Cilandak, 6 Desember 2018 [Peringatan S. Nikolaus, Uskup]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEDATANGAN SANG MESIAS-HAKIM

KEDATANGAN SANG MESIAS-HAKIM

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN II (Tahun A), 8 Desember 2019)

Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan Nabi Yesaya ketika ia berkata, “Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.”

Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makannya belalang dan madu hutan. Lalu datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan seluruh daerah sekitar Yordan. Sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan.

Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka, “Hai kamu keturunan ular berbisa. Siapakah yang mengatakan kepada kamu bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi, hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Janganlah mengira bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapak leluhur kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini! Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian setelah aku lebih berkuasa daripada aku dan aku tidak layak membawa kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Alat penampi sudah di tangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi sekam itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.” (Mat 3:1-12)

Bacaan Pertama Yes 11:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:1-2,7-8,12-13,17; Bacaan Kedua: Rm 15:4-9 

“Pada waktu itu”  adalah kata-kata yang tidak jelas secara kronologis, namun Matius menggunakan ungkapan ini sebagai suatu tanda bahwa dia sedang menarasikan sejarah suci. Yohanes Pembaptis bukanlah seorang  guru (rabi) dan juga bukan seorang guru hikmat. Ia dalah seorang nabi. Yohanes berpakaian seperti Elias (2Raj 1:8) dengan mana Yesus kemudian mengidentifikasikan Yohanes (Luk 11:13), ia mencintai padang gurun sebagai sebuah tempat perjumpaan dengan Tuhan (1Raj 19:1-18). Namun demikian, tidak seperti Elias, Yohanes menjauhi kota-kota dan ia hanya berkhotbah di padang gurun.

Seperti dikatakan oleh Yesus sendiri, Yohanes itu lebih daripada sekadar seorang nabi (Mat 11:9). Yohanes adalah seorang bentara, seseorang yang mengumumkan suatu peristiwa, yaitu masuknya Kerajaan Allah atau Kerajaan Surga. Tidak seperti Injil Markus dan Lukas, Matius menaruh pada bibir Yohanes kata-kata sama yang diucapkan Yesus ketika memulai pelayanan-Nya: “Bertobatlah, sebab Kerajaan surga sudah dekat!” (Mat 4:17). Jadi Kabar Baik sudah dimulai dengan Yohanes Pembaptis.

Dengan demikian segalanya dimulai dengan pertobatan. Tidak ada pengalaman akan Kerajaan Surga tanpa pertobatan. Jikalau bagi banyak orang pada zaman modern ini “Kerajaan Surga” terdengar sebagai suatu konsep yang asing, apakah barangkali karena semua itu sekarang begitu jarang dan sedikit sekali kita dengar tentang penghakiman, dosa dan pertobatan? Jalan kepada kebebasan, sukacita dan hidup baru adalah pertobatan dan menerima pengampunan dari Allah.

Namun, pertobatan termaksud harus tulus (lihat Mat 3:7-10).  Dari semua orang yang datang untuk baptisan Yohanes terdapat dua kelompok yang diragukan ketulusan hatinya oleh Yohanes, yaitu orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki. Mereka dijuluki “keturunan ular berbisa” oleh Yohanes.  Mereka mengandalkan garis keturunan mereka dari Bapak Abraham (lihat Yes 51-2), mereka tidak memperhatikan pentingnya melakukan pekerjaan-pekerjaan baik yang akan membuat mereka dapat diterima di mata Allah dan dapat menghadapi penghakiman terakhir dengan baik. Jadi, kita harus menghasilkan buah-buah sesuai dengan pertobatan kita.

Pelayanan Yohanes tidak hanya mempersiapkan masuknya pemerintahan Allah melainkan juga kedatangan “Dia yang lebih berkuasa daripada Yohanes sendiri”, untuk siapa Yohanes tidak layak membawa kasut-Nya sekali pun (lihat Mat 3:11) …… sang Mesias-Hakim.

DOA: Bapa surgawi, belas kasih-Mu adalah tanpa batas. Kami menyembah dan memuji Engkau, karena Engkau mengutus Putera-Mu yang tunggal, Tuhan Yesus Kristus, untuk menebus kami dari semua dosa kami dan juga kematian. Ia-lah juga sang Mesias-Hakim pada pengadilan terakhir kelak. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mat 3:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “BERTOBATLAH, SEBAB KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT” (bacaan tanggal 8-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

(Tulisan in adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-12-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 Desember 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS