TUAIAN MEMANG BANYAK, TETAPI PEKERJA SEDIKIT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Ambrosius, Uskup Pujangga Gereja – Sabtu, 7 Desember 2019)

Hari Sabtu Imam

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu kata-Nya kepada murid-murid-Nya, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu, mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”

Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan.

Ia bersabda: “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu  berikanlah pula dengan cuma-Cuma. (Mat 9:35-10:1.6-8)  

Bacaan pertama: Yes 30:19-21.23-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:1-6 

Hati manusiawi Yesus tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak. Ia memandang orang banyak itu dengan mata seorang Gembala Baik. Di mata-Nya orang banyak itu terlihat sebagai kawanan domba yang tidak mempunyai gembala. Kita tahu bahwa Yesus memang adalah sang Gembala Baik, namun Injil hari ini menunjukkan bahwa Yesus menginginkan agar kedua belas murid-Nya menjadi gembala-gembala juga. Dia memberi amanat kepada kedua belas murid itu dan mengutus mereka untuk mewartakan Kerajaan Allah. Hal ini menandakan sebuah langkah penting dalam rencana Allah bagi umat-Nya. Hal ini membuat kabar baik tersedia bagi orang-orang yang semakin bertambah dalam jumlah. Pada akhirnya Injil dapat diwartakan secara berkesinambungan dari tahun ke tahun, untuk selama 20 abad setelah peristiwa yang diceritakan dalam Injil ini terjadi.

Mereka yang mewartakan Injil dipanggil untuk bekerja melalui kuat-kuasa Roh Kudus yang memberikan arahan bagi kehidupan kita. Hal ini sebenarnya merupakan pemenuhan janji yang dibuat oleh nabi Yesaya: “… dan telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: ‘Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya’, entah kamu menganan atau mengiri” (Yes 30:21). Pada waktu Yesus mengutus para rasul, Ia memberikan kepada mereka otoritas yang riil untuk menyembuhkan segala macam penyakit, membangkitkan orang mati, mengusir roh-roh jahat dan lain sebagainya.  Otoritas ini merupakan suatu kesaksian atas kebenaran dari proklamasi Kerajaan Allah. Setelah itu Yesus bersabda: “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu  berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat 10:8). Yesus mau agar kita turut ambil bagian dalam tugas kegembalaan dengan memberikan kepada orang-orang lain berbagai karunia yang kita telah terima. Untuk tujuan itulah kita perlu merenungkan berbagai  karunia yang ada pada kita.

Karunia anda bisa saja belarasa, misalnya. Apabila anda melihat seseorang yang membutuhkan pertolongan, katakanlah seorang tetangga yang sakit, hatimu tergerak oleh belas kasihan dan anda pun langsung menolong orang yang sakit itu at all cost  tanpa pamrih. Atau, karunia anda mungkin saja suatu kemauan untuk memperhatikan orang yang memerlukan teman-bicara yang mau mendengarkan curhatnya. Atau, karunia yang ada pada anda adalah mempunyai cukup dana untuk menolong orang miskin dalam bidang keuangan atau memberikan sumbangan untuk kegiatan-kegiatan karitatif. Kita harus sadar, bahwa setiap kali kita menolong orang lain, kita sebenarnya memberikan karunia dari Kristus sendiri. Akhirnya setiap talenta atau apa saja yang kita miliki adalah ikut ambil bagian dalam pribadi Kristus. Oleh karena itu dengan menolong orang-orang lain, kita memberikan karunia dari Kristus sendiri. Dengan mengasihi dan melakukan perbuatan-perbuatan baik kepada orang yang memerlukan bantuan, kita membuat Kristus menjadi hidup. Kita menjadi suatu Adven yang berkesinambungan, sehingga Kristus selalu mempunyai suatu kelahiran baru dalam dunia kita.

Dapat saja orang berpikir, setelah 2.000 tahun melakukan pewartaan seperti digambarkan dalam Injil (artinya dengan penuh kuat-kuasa Roh Kudus yang diiringi oleh banyak mukjizat dan tanda heran lainnya), maka seluruh dunia mestinya sudah berhasil dipertobatkan oleh Gereja! Memang seyogianya begitu. Sayangnya terdapat kekurangan pekerja, seperti Yesus sendiri katakan: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit” (Mat 9:37). Bahkan dari mereka yang jumlahnya relatif sedikit ini pun tidak semua dapat menunaikan tugas sebagai pewarta dari sebuah Gereja yang mewartakan (evangelical Church) karena sebagian besar sibuk bertugas mengurusi/memelihara Gereja yang sudah mapan (jadi lebih menekankan Church maintenance). Namun ketidak-berhasilan itu juga dapat disebabkan oleh para pewarta itu sendiri, misalnya tidak terdapatnya product-market match dalam homili/khotbah dan sejenisnya (misalnya homili/khotbah yang tidak membumi di hadapan umat yang kebanyakan terdiri dari para transmigran dengan tingkat pendidikan yang relatif rendah). Selain itu kegagalan pewartaan dapat juga disebabkan oleh penolakan, sikap apatis, bahkan perlawanan berupa kekerasan atau hostilitas dari pihak-pihak di luar Gereja dll.

Santo Ambrosius [c. 334-397]. Pada hari ini, tanggal 7 Desember, kita memperingati Santo Ambrosius, uskup agung Milano dan salah seorang dari empat orang Bapak Gereja di Barat (Augustinus, Hieronimus, Gregrorius Agung). Sebelum diangkat menjadi uskup, Ambrosius pernah menjadi gubernur provisi Liguria dan Emilia. Ketika dipilih menjadi uskup, Ambrosius belum dibaptis. Namun sejak dia memangku jabatan uskup, seluruh hidupnya diabdikan demi umatnya: Ia tekun mempelajari Kitab Suci; memberikan khotbah setiap hari Minggu dan hari raya gerejawi serta menjaga persatuan dan kemurnian ajaran Katolik. Dengan penuh hikmat-kebijaksanaan dia membimbing kehidupan rohani umat; mengatur ibadah hari Minggu dengan menarik, sehingga umat dapat berpartisipasi secara aktif; mengatur dan mengusahakan bantuan bagi pemeliharaan kaum miskin-papa dan mempertobatkan orang-orang berdosa. Ambrosius adalah seorang uskup yang sangat baik dalam melayani umatnya. Ambrosius memang seorang gembala baik, yang dengan tulus-hati mencoba berusaha meniru sang Gembala Agung, Yesus Kristus. Sebagai seorang pemimpin Gereja, Ambrosius berhasil menyurutkan pengaruh kaum bid’ah Arianisme. Ketika Kaisar Theodosius menumpas pemberontakan dan melakukan pembantaian besar-besaran (genosida), Kaisar dikucilkan dari umat (diekskomunikasikan). Untuk diterima kembali ke dalam Gereja, Kaisar harus bertobat dan mengungkapkan penyesalannya di depan umat.

Ambrosius tak peduli kaisar atau wong cilik, apabila berdosa harus bertobat. “Kalau Yang Mulia meneladan Raja Daud ketika berdosa, maka Yang Mulia harus mencontoh dia pula ketika bertobat!” – “Kepala Negara adalah anggota Gereja, bukan tuannya”, itulah kata-katanya kepada Kaisar.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami untuk merindukan bimbingan-Mu. Buatlah agar telinga kami ingin sekali mendengar firman-Mu dan hati kami haus akan kebenaran, kapan dan di mana saja. Kami mohon agar Roh Kudus-Mu memberdayakan kami lewat karunia-karunia Roh yang diperlukan,  untuk menjadi pewarta Injil yang tangguh ke mana saja kami akan Kaukirim, untuk ikut ambil bagian dalam membangun Kerajaan Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:33-10:1.6-8), bacalah tulisan yang berjudul “DENGAN MEMBERIKAN DIRI KITA KEPADA ORANG-ORANG LAIN”

(bacaan tanggal 7-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama  untuk bacaan tanggal 9-12-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 5 Desember 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS