Archive for December, 2019

MARIA TETAP MENGUNDANG KITA SEMUA UNTUK MENJADI SEPERTI DIRINYA

MARIA TETAP MENGUNDANG KITA SEMUA UNTUK MENJADI SEPERTI DIRINYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA SP MARIA BUNDA ALLAH, Hari Oktaf Natal –Selasa, 1 Januari 2020)

Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkataan itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Kemudian kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka’ Ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya (Luk 2: 16-21).

Bacaan Pertama:  Bil 6:22-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3, 5-6,8; Bacaan Kedua: Gal 4:4-7

“Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah, kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu.” (Mzm 67:6)

Sementara masa Natal berjalan terus, Roh Kudus mengundang kita untuk merenungkan peristiwa-peristiwa di sekitar kelahiran Yesus.  Pada hari pertama tahun yang baru ini, Gereja merayakan HARI RAYA SP MARIA BUNDA ALLAH.  “Bunda Allah” (THEOTOKOS = pembawa Allah) adalah gelar yang diberikan kepada Maria oleh para Bapak Konsili Efesus di tahun 431. Para Bapak Konsili Efesus menyadari bahwa dengan memberi Maria gelar Theotokos ini, mereka memberi pujian tertinggi kepada Puteranya, Yesus Kristus. Pada waktu itu berkembanglah bid’ah Arianisme yang hanya mau menyebut Maria sebagai Christotokos, artinya pembawa/bunda Kristus. Bagi kaum bid’ah ini Yesus Kristus hanyalah manusia yang suci, bukan Allah. Dengan pemberian gelar Theotokos kepada Maria, para Bapak Konsili Efesus sebenarnya memproklamasikan bahwa Yesus Kristus bukanlah sekadar seorang manusia suci atau nabi biasa seperti para nabi yang terdahulu. Yesus adalah sungguh Allah yang kekal dan Pribadi kedua dari Allah Tritunggal Mahakudus, pada saat yang sama Dia adalah seorang manusia sepenuhnya.

Pesta Besar yang kita rayakan pada hari ini secara istimewa memiliki arti penting karena mengajak kita untuk memusatkan perhatian kita pada fakta bahwa Maria mengandung dalam rahimnya dan melahirkan Putera Allah. Sejak saat perkandungan-Nya dalam rahim perawan Maria, Yesus dari Nazaret memiliki segala kepenuhan kasih Allah, rahmat dan kuasa dalam diri-Nya sebagai seorang pribadi manusia. Pada waktu para gembala berdatangan ke tempat bayi Yesus berada, mereka menyampaikan sebuah laporan tentang malaikat yang telah mengumumkan kelahiran sang Mesias. Sementara melakukan tugas-tugas keibuannya, Maria memperhatikan sekali kata-kata para gembala tentang Anak yang baru dilahirkannya.

Inilah misteri yang disimpan dalam hati dan direnungkan oleh Maria, bahkan lama setelah para gembala meninggalkan mereka bertiga (lihat Luk 2:19). Maria tidak ribut-ribut perihal berbagai bahaya yang mengancam keluarganya. Dia tidak merasa khawatir atau cemas mengenai apa yang mungkin terjadi di masa depan, atau merasa menyesal tentang apa yang mungkin telah terjadi di masa lalu apabila dia dan Yosef (Yusuf) tidak diminta untk membesarkan Putera Allah. Sebaliknya, Maria secara hati-hati mengamati segala cara kerja Allah sementara dia melahirkan Yesus dan mulai merawat dan membesarkan Dia. Maria tidak membiarkan sabda Allah dan perbuatan-perbuatan-Nya menjadi sekadar kenangan yang perlahan-perlahan akan hilang lenyap, melainkan memeliharanya hidup dalam hatinya.

Hal ini terjadi 2.000 tahun lalu. Kita dapat membayangkan betapa banyaknya harta-kekayaan rohani yang terdapat dalam hati Maria. Maria telah mensyeringkan harta-kekayaan ini dengan umat manusia dari abad ke abad, teristimewa pada abad-abad terakhir ini lewat penampakan-penampakan yang luarbiasa menakjubkan. Di setiap tempat di mana Maria menampakkan diri, pesannya praktis sama: “Bertobatlah, tinggalkanlah hidup kedosaanmu, dan berikanlah hatimu kepada Yesus.”  Ini adalah pesan yang murni dan jelas. Dari mana Maria dapat begitu penuh kejelasan dan penuh cintakasih dalam menyampaikan pesannya yang sedemikian efektif? Dari hatinya yang selalu merenungkan apa yang dialaminya dan hati yang keras mendorongnya untuk berbagi (sharing) pesan Puteranya sendiri: “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk 1:15).

Maria menyimpan segala sesuatu yang dialaminya dalam hati dan merenungkannya, sambil menyerahkan diri sepenuhnya kepada Roh Kudus. Sekarang dia mengundang kita semua untuk menjadi seperti dirinya. Agar kita berdoa dalam keheningan, mengambil sikap atataat dan patuh terhadap Allah. Dengan demikian kita pun dapat dimampukan untuk menjadi pembawa Kristus ke tengah dunia. Kalau belum tercakup dalam resolusi Tahun Baru yang kita buat kemarin, baiklah kita tambahkan satu lagi, yaitu untuk lebih mendekatkan diri kita lagi kepada Yesus Kristus lewat pembacaan dan permenungan Kitab Suci, teristimewa keempat kitab Injil dan bacaan-bacaan Perjanjian Baru lainnya. Tahun yang baru ini semoga dapat menjadi rahmat besar bagi kita sementara kita menyediakan waktu dan perhatian yang secukupnya guna membaca dan merenungkan sabda-Nya. Renungkanlah dalam batin anda apa yang ditulis dalam Kitab Suci. Perkenankanlah Roh Kudus bekerja secara mendalam dalam kehidupan anda. Insya Allah, dengan demikian, seperti Maria kita pun dapat menjadi bejana Allah yang indah.

DOA: Roh Kudus, datanglah dan masuklah ke dalam hidupku secara mendalam dan penuh kuasa, teristimewa pada tahun yang baru ini. Penuhilah diriku dengan Yesus dan sabda-Nya, seperti Engkau memenuhi diri Maria. Tolonglah aku agar dapat menghayati dan memproklamasikan Injil Yesus Kristus lewat kata-kata dan kesaksian hidupku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 2:16-21), bacalah tulisan yang berjudul “BUNDA ALLAH” (bacaan tanggal 1-1-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-01 BACAAN HARIAN  JANUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-1-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 30 Desember 2019

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENGURAPAN DARI YANG KUDUS

PENGURAPAN DARI YANG KUDUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Ketujuh Dalam Oktaf Natal – Selasa, 31 Desember 2019)

Peringatan Fakultatif Santo Silvester I, Paus

Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kami dengar bahwa antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Dari hal inilah kita mengetahui bahwa ini benar-benar waktu yang terakhir. Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, tentu mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya nyata bahwa mereka semua tidak termasuk pada kita. Tetapi kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus, dan dengan demikian kamu semua mengetahuinya. Aku menulis kepadamu, bukan karena kamu tidak mengetahuinya dan karena kamu juga mengetahui bahwa tidak ada dusta yang berasal dari kebenaran. (1Yoh 2:18-21) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-2,11-13; Bacaan Injil: Yoh 1:1-18 

“Kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus dan dengan demikian kamu semua mengetahuinya.” (1Yoh 2:20)

“Surat Yohanes yang Pertama” ditulis karena sebagian warga komunitas Kristiani awal telah memisahkan diri dari Gereja. Yohanes menyebut mereka “pendusta” dan “antikristus” (lihat 1Yoh 2:22). Mereka menyangkal bahwa Yesus adalah sungguh Allah yang merendahkan diri menjadi manusia, sehingga dengan demikian mereka menyangkal baik Bapa maupun Putera. Karena ulah mereka yang keluar meninggalkan Gereja itu, maka di antara para anggota jemaat yang tetap setia ada juga  yang bertanya-tanya apakah mereka sungguh-sungguh mengikuti jalan Tuhan. Oleh karena itu Yohanes menulis surat ini guna mendorong serta menyemangati umatnya. Yohanes mengatakan kepada mereka, bahwa untuk melindungi umat terhadap ajaran sesat, Allah telah memberikan kepada mereka “pengurapan dari Yang Kudus” yang akan mengajar mereka (lihat 1Yoh 2:20). Pengurapan yang sama juga telah kita terima – ROH KUDUS.

Tidak seperti halnya pengetahuan yang kita peroleh dari berbagai buku pelajaran, maka pengetahuan yang datang atau berasal dari Roh Kudus tidak pernah sekadar bersifat teoritis. Karena kasih-Nya kepada kita, Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan para pendosa dan dalam nama-Nya Bapa mengutus Roh Kudus untuk mengajarkan kepada kita segala sesuatu dan mengingatkan kita akan sabda dan tindakan-tindakan Yesus. Setelah membasuh kaki-kaki para murid-Nya, Yesus bersabda: “Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14:26).

Lewat baptisan, doa, pembacaan serta permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci, dan sakramen-sakramen, kita dapat belajar mendengar suara lemah-lembut Roh Kudus di dalam hati kita, yang mengajar kita menemukan kebenaran ilahi. Peranan Roh Kudus adalah untuk membuka mata kita agar dapat memahami makna sabda Allah dalam Kitab Suci dalam proses sehari-hari yang penuh dinamika dari kehidupan kita. Roh Kudus ingin memberdayakan kita agar mampu mendengar undangan Allah yang begitu banyak dalam Kitab Suci, agar hidup kita diubah dan mengalami dampak dari rahmat-Nya yang dicurahkan ke atas diri kita.

Yohanes mengatakan, bahwa kehadiran antikristus merupakan sebuah tanda dari akhir zaman (lihat 1Yoh 2:18). Memang menyedihkanlah kalau kita berpikir bahwa para antikristus itu berasal dari kalangan kita-kita juga, namun kita harus selalu waspada kalau tidak ingin sampai tertipu oleh mereka. Allah telah memberikan pengurapan-Nya guna melindungi kita. Apabila kita memelihara serta menjaga agar hati kita  tetap sederhana serta merendah,  dan kita tetap berada bersama/dalam Kristus, maka Allah akan tetap menjaga kita dalam kebenaran-Nya dengan membebas-merdekakan kita dari dosa yang merupakan akar segala kebingungan dan penipuan.

Sekarang adalah saatnya bagi kita semua untuk menyusun resolusi TAHUN BARU. Jika anda seperti orang banyak, maka tidak sulitlah bagi anda untuk menyusun berbagai sasaran/tujuan yang ingin anda capai demi perbaikan pribadi. Namun sebelum melakukan hal itu, perhatikanlah bahwa anda mohon pertolongan Roh Kudus terlebih dahulu untuk membimbingmu. Ingatlah bahwa “kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus” (Yoh 2:20). Roh Kebenaran ingin memberikan inspirasi dan pewahyuan kepada mereka yang mencari Dia. Hal ini sungguh mengedepankan karunia yang indah untuk mempersiapkan awal dari suatu tahun yang baru!

Apakah anda tergolong orang-orang “modern” jaman NOW yang demikian sibuk terlibat dalam media sosial lewat Facebook, Twitter, Instagram, WA-WA dll.? Atau selalu sibuk menekuni/mempelajari “gadgets” baru lainnya agar tidak sampai dicap “gaptek” oleh teman-teman atau anak-anak anda sendiri? Dalam hal ini, barangkali resolusi-resolusi anda dapat mencakup “penyediaan waktu yang cukup untuk berdoa dan merenungkan berkat-berkat Allah setiap harinya, waktu untuk mendengarkan sabda-sabda  yang memberikan kehidupan dari Roh Kudus kepada kita.

Kita tidak pernah tahu apa yang akan dikatakan oleh Roh Kudus kepada kita. Barangkali Dia akan menolong anda membaca Kitab Suci agar kata-kata di dalamnya menjadi lebih jelas lagi bagi anda, kata-kata itu menjadi “sabda hidup” yang selalu segar dan relevan bagi anda. Mungkin di tengah-tengah situasi yang penuh kekacauan/kerusuhan, Roh Kudus akan memulihkan perspektif anda dengan mengingatkan bahwa Allah menciptakan dunia dan melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik (lihat Kej 1:31). Barangkali ketika rasa kesal dan cemburu anda terhadap orang-orang yang telah menyakiti hati anda semakin meningkat dan dorongan untuk menghakimi orang-orang lain itu juga semakin terasa mendesak, maka Dia akan membuat anda sangat mengasihi orang-orang itu, sehingga anda mendoakan kebaikan bagi mereka. Begitu banyak kemungkinan yang ada bagi Roh Kudus, malah tak terbatas, karena Dia adalah Allah sendiri.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, marilah kita sambut TAHUN BARU 2020 ini dengan doa kepada Roh Kudus. Buatlah ini sebagai nomor satu dalam daftar resolusi Tahun Baru kita masing-masing: “UNTUK MEMBUKA HATI  KITA BAGI KEBENARAN ALLAH DAN PENGURAPAN ROH KUDUS”.

DOA: Roh Kudus, semoga aku mengalami pengurapan-Mu secara lebih mendalam pada tahun yang baru ini. Teruslah mengingatkan daku akan kehidupan yang telah dimenangkan Kristus bagi diriku sendiri dan sesamaku. Berdayakanlah aku agar mampu hidup dalam iman, rasa percaya dan pengharapan akan segala karya Bapa surgawi yang sangat mengasihi daku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama Misa hari ini (1Yoh 2:18-21), bacalah tulisan dengan judul “DIRI ANDA TELAH DIURAPI OLEH ALLAH” (bacaan tanggal 31-12-19), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 31-12-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 30 Desember 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGANLAH KAMU MENGASIHI DUNIA DAN APA YANG ADA DI DALAMNYA

JANGANLAH KAMU MENGASIHI DUNIA DAN APA YANG ADA DI DALAMNYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Keenam dalam Oktaf Natal – Senin, 30 Desember 2019)

Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, sebab dosamu telah diampuni oleh karena nama-Nya. Aku menulis kepada kamu, hai bapak-bapak, karena kamu telah mengenal Dia, yang ada sejak semula. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu telah mengalahkan yang jahat. Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, hai bapak-bapak, karena kamu mengenal Dia, yang ada sejak semula. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah tinggal di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat.

Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih kepada Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, tidak berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya. (1Yoh 2:12-17) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 96:7-10; Bacaan Injil: Luk 2:36-40

Yohanes memberi pesan kepada kita: “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya” (1Yoh 2:15). Ketika Yesus bertemu dengan Nikodemus pada suatu malam, Ia bersabda: “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini ……” (Yoh 3:16). Terasa ada pertentangan antara kedua ayat ini.  Karenanya, bagaimana kita merekonsiliasikan kedua ayat ini? Dunia kita adalah manifestasi kebaikan Allah, namun karena dosa manusia kita juga melihat berbagai distorsi dan kegelapan. Di satu sisi terjadi wabah penyakit dan bencana alam, dan di sisi lain korupsi serta imoralitas dalam setiap lini birokrasi pemerintahan dan masyarakat; keduanya membuktikan bagaimana dosa telah memperkenalkan unsur-unsur tidak murni ke dalam ciptaan Allah yang “sungguh amat baik” (Kej 1:31).

Jadi, apa yang dimaksudkan oleh ayat 1Yoh 2:15 di atas?  Di sini tentunya Yohanes tidak mengajar kita untuk menolak ciptaan Allah. Sesuai dengan apa yang dikatakan di atas, dunia tempat kita tinggal ini adalah salah satu pencerminan paling kuat tentang kebaikan dan kasih Allah. Yohanes menggunakan kata ‘dunia’ untuk hal-hal yang terasingkan dari Allah. Dia berbicara mengenai wilayah yang berada di bawah pengaruh kekuasaan Iblis, “penguasa dunia ini” (Yoh 12:31). Dalam artian ini, ‘dunia’ adalah bagian dari masyarakat manusia yang kehidupannya didorong oleh keangkuhan dan banyak hasrat pribadi yang tidak baik, yang jelas tidak berasal dari Allah, malah melawan-Nya.

Allah menciptakan kita didorong oleh suatu hasrat agar kita mengenal Dia dan mengasihi-Nya sepanjang segala masa. Di lain pihak, Iblis berketetapan hati untuk menjauhkan diri kita dari Allah, dengan melibatkan kita dalam kelekatan-kelekatan “tidak sehat” pada hal-hal baik yang telah diciptakan Allah itu. Iblis membujuk kita agar terjerumus lebih dalam lagi kepada hasrat-hasrat tak-terkendali: untuk menumpuk harta-kekayaan lebih lagi, untuk mengumpulkan gelar akademis lebih banyak lagi, untuk mengejar karir lebih tinggi lagi malah dengan merugikan/mencelakaka YOn orang lain, dst. Iblis dapat saja menjanjikan kebebasan, kenikmatan dan keamanan, namun ingatlah bahwa dia biasa “menyamar sebagai malaikat Terang” (2Kor 11:14). Tentang Iblis sebagai “tukang bohong”, dalam kesempatan lain Yesus berfirman sebagai berikut: “Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. …… ia adalah pendusta dan bapak pendusta” (Yoh 8:44). Hasrat-hasrat buruk dan sikap serta perilaku mementingkan diri sendiri itu tidak akan pernah memberi kepuasan kepada orang bersangkutan. Orang itu tidak akan menemukan kebahagiaan sejati dalam kecanduannya pada berbagai kenikmatan duniawi. Ujung-ujungnya adalah kekecewaan, kehampaan dan kesendirian……. tidak jauh lagi dari perangkap-kekal si Iblis.

Sesungguhnya Yesus mempunyai rencana yang lebih baik bagi kita. Dia hidup dan mati sehingga dapat memenangkan jiwa kita. Yesus menawarkan kepada kita cintakasih, sukacita dan keamanan yang sejati. Hal-hal ini bersifat kekal. Kita dapat mulai mencicipinya dengan mengatakan “tidak” kepada Iblis dan “ya” kepada Allah. Oleh karena itu, marilah kita membuat pilihan dengan bijaksana. Marilah kita menjaga hati kita, dan berhati-hatilah ke mana kita memusatkan afeksi-afeksi kita. Yesus adalah pribadi yang paling baik hati, paling mengasihi. Di lain pihak Iblis adalah pembunuh dan pendusta. Marilah kita berhenti mendengarkan rayuan-rayuan dunia dan godaannya yang menyesatkan. Marilah kita berkata “ya” kepada Yesus dan memberikan cintakasih kita kepada-Nya. Baiklah kita semakin menghasrati kasih Allah yang merupakan sumber kebahagiaan yang tak pernah gagal, bukannya segala macam nafsu dan kecanduan akan hal-hal yang beraroma dosa.

DOA: Roh Kudus, ajarlah aku tentang keagungan Yesus. Penuhilah hati kami dengan cintakasih-Nya. Buatlah agar aku sungguh menghasrati-Nya. Tolonglah aku dapat memandang dengan jernih bahwa segala hasrat akan hal-hal yang menyangkut kenikmatan duniawi itu merupakan tipu daya Iblis. Lindungilah aku dari cengkeraman si Jahat dan berikanlah kepadaku kemerdekaan dan damai-sejahtera yang sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Yoh 2:12-17), bacalah tulisan yang berjudul “KITA DAPAT BERTEMPUR DENGAN PENUH KEPERCAYAAN MELAWAN IBLIS” (bacaan tanggal 30-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019.

(Tulisan adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-12-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 27 Desember 2019 [Pesta S. Yohanes, Rasul Penulis Injil]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGHORMATI PARA ORANG TUA

MENGHORMATI PARA ORANG TUA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PESTA KELUARGA KUDUS, YESUS, MARIA DAN YUSUF – Minggu, 29 Desember 2019)

Memang Tuhan telah memuliakan bapa pada anak-anak-Nya, dan hak ibu atas para anaknya diteguhkan-Nya. Barangsiapa menghormati bapanya memulihkan dosa, dan siapa memuliakan ibunya serupa dengan orang yang mengumpulkan harta. Barangsaiapa menghormati bapanya, ia sendiri akan mendapat kesukaan pada anak-anaknya pula, dan apabila bersembahyang, niscaya doanya dikabulkan. Barangsiapa memuliakan bapanya akan panjang umurnya, dan orang yang taat kepada Tuhan menenangkan ibunya serta melayani orang tuanya sebagai majikannya.

Anakku, tolonglah bapamu pada masa tuanya, jangan menyakiti hatinya di masa hidupnya. Pun pula kalau akalnya sudah berkurang hendaklah kaumaafkan, jangan menistakannya sewaktu engkau masih berdaya. Kebaikan yang ditunjukkan kepada bapa tidak sampai terlupa, melainkan dibilang sebagai pemulihan segala dosamu. (Sir 3:2-6,12-14)

Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-5; Bacaan Kedua: Kol 3:12-21; Bacaan Injil: Mat 2:13-15,19-23 

Seturut Kitab Suci, kasih itu mengandung pengorbanan, tanpa kepentingan diri sendiri (=tanpa pamrih), dan bersifat menebus – memiliki makna yang jauh daripada definisi dunia tentang cintakasih! Di dalam keluarga, Allah memanggil kita untuk mengasihi dengan menghormati dan mentaati mereka yang diberi otoritas di atas kita. Allah juga membuat janji-janji yang menakjubkan untuk ketaatan kita. Apabila kita menghormati orang tua kita, maka dosa kita akan dipulihkan, serupa dengan mengumpulkan harta; doa-doa kita didengar (lihat Sir 3:3-5).

Di lain pihak, Allah mengharapkan para orangtua untuk mempraktekkan dengan bijaksana otoritas mereka atas anak-anak mereka. Misalnya pada waktu Maria dan Yosef (Yusuf) pada akhirnya menemukan Yesus di Bait Allah setelah tiga hari lamanya mencari-cari Dia, Maria tidak mempunyai persoalan untuk mengatakan kepada Yesus tentang kecemasan mereka. Maria berkata kepada Yesus yang pada waktu itu baru berumur 12 tahun: “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Lihat, bapak-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau” (Luk 2:48). Apabila kita membaca nas ini, kita harus berhati-hati agar tidak meromantisir situasi pada waktu itu. Maria sungguh cemas dan gelisah kehilangan Anaknya, dan kata-katanya ini keluar langsung dari hatinya.

Seringkali para orangtua ingin anak-anak mereka untuk sangat mengasihi mereka sehingga mereka ragu-ragu untuk mempraktekkan otoritas yang diberikan Allah kepada mereka. Namun suatu hubungan antara para orangtua dan anak-anak mereka melibatkan suatu pengharapan bahwa anak-anak itu akan menghormati para orangtua mereka. Dalam hal ini, Maria dan Yosef adalah “para orangtua teladan” (model parents). Walaupun mereka tidak dapat memahami sepenuhnya rencana-rencana Allah bagi Yesus, mereka terus mengharapkan Yesus untuk tetap menghormati dan taat kepada mereka, suatu hal yang memang seharusnya begitu.

Secara sangat manusiawi, Yesus “bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya” (lihat Luk 2:52). Tidak ragu-ragu lagi, Maria dan Yosef harus mengajar Yesus bagaimana menghormati apa artinya menghormati kedua “orangtua”-Nya.  Selagi Yesus belajar bagaimana menghormati dan mendengarkan para orangtua-Nya yang di dunia, Dia pun bertumbuh dalam kemampuan untuk mendengarkan Bapa-Nya yang di surga.

Bacaan Injil hari ini menceritakan tentang menyingkirnya keluarga kudus ke Mesir dan kembalinya mereka ke tanah Israel dari pengungsian, begitu suasana dinilai aman. Peristiwa pengungsian ke Mesir dan pulang kembalinya keluarga kudus ke tanah Israel ini adalah cerita yang menunjukkan kesepakatan penuh kasih yang harus ada dalam relasi antara pribadi para anggota keluarga. Pada hari “Pesta Keluarga Kudus” ini, marilah kita mendoakan semua keluarga di seluruh dunia.  Semoga keluarga-keluarga mencerminkan secara lebih penuh relasi cintakasih yang terjalin antara Yesus, Maria dan Yosef.

DOA: Bapa surgawi, semoga semua anak-Mu sepanjang zaman mengenal dan mengalami sukacita menjadi menjadi bagian dari keluarga-Mu. Bimbinglah kami agar selalu menghormati mereka yang diberikan otoritas di atas kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 2:13-15,19-23), bacalah tulisan yang berjudul “BETLEHEM – MESIR – NAZARET” (bacaan tanggal 29-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-12-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 27 Desember 2019 [Pesta S. Yohanes, Rasul Penulis Injil]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGAPA HERODES TAKUT KEPADA BAYI KECIL INI?

 KEMAMENGAPA HERODES TAKUT KEPADA BAYI KECIL INI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA KANAK-KANAK SUCI, MARTIR, Hari Keeempat dalam Oktaf Natal – Jumat, 28 Desember 2019) holy_innocents_picSetelah orang-orang majus itu berangkat, tampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata, “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” Yusuf pun bangun, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya digenapi apa yang difirmankan Tuhan melalui nabi, “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.” [1]

Ketika Herodes tahu bahwa ia telah diperdaya oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang ditanyakannya dengan teliti kepada orang-orang majus itu. Dengan demikian digenapi firman yang disampaikan melalui Nabi Yeremia, “Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi .” [2] (Mat 2:13-18) 

[1] bdk. Hos 11:1; [2] Lihat Yer 31:15 

Bacaan Pertama: 1Yoh 1:5-2:2; Mazmur Tanggapan: Mzm 124:2-5,7-8

Menyingkirnya Keluarga Kudus ke Mesir dan pembunuhan anak-anak tak bersalah oleh Herodes merupakan suatu ilustrasi yang dramatis tentang pertempuran antara kegelapan dan terang. Walaupun seluruh hidup Yesus, dari Betlehem sampai ke bukit Kalvari, ditandai oleh penganiayaan, namun tidak ada kuasa apa pun – baik kuasa manusia maupun kuasa Iblis – yang dapat menggagalkan pekerjaan yang harus diselesaikan-Nya. “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (Yoh 1:5).

Mengapa Herodes takut kepada bayi kecil ini? Karena raja ini tidak tahu bahwa Yesus datang ke tengah dunia untuk menaklukkan hati dan jiwa manusia, bukan merebut negeri dan takhta para raja. Untuk membunuh seorang anak kecil, Herodes tidak merasa ragu sedikit pun untuk memerintahkan kematian banyak anak yang tidak bersalah. Ia menghancurkan anak-anak yang lemah dan tidak dapat membela diri karena rasa takut telah menghancurkan hatinya sendiri. Untuk memperpanjang kehidupannya sendiri, Herodes mencoba untuk membunuh Kehidupan itu sendiri.

holy-innocents-le-massacre-des-innocents-francois-joseph-navezWalaupun Herodes menggunakan kekuatan dan kekejaman untuk mewujudkan tujuan-tujuan jahatnya, Yesus membalikkan tragedi ini menjadi suatu kemenangan bagi Kerajaan Allah. Kanak-kanak Suci di Betlehem menjadi saksi dari kuat-kuasa rahmat Allah. Mereka mati untuk Kristus, sang Mesias, meskipun mereka tidak mengetahuinya. Walaupun mereka tidak dapat berbicara, Yesus membuat mereka menjadi saksi-saksi bagi diri-Nya yang layak dan pantas. Yesus membebaskan jiwa-jiwa mereka dari cengkeraman Iblis dan membuat mereka anak-anak angkat Allah. Mereka ikut ambil bagian dalam kemuliaan dan pemerintahan-Nya yang penuh kemenangan.

Santo Paulus mengingatkan kita bahwa kita pun ikut ambil bagian dalam kemenangan Yesus, bahkan ketika kita merasa dikalahkan. “Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Rm 8:28). Kemunduran, kegagalan, dlsb., tidak ada sesuatu pun yang kita harus hadapi dalam hidup ini yang harus/dapat memisahkan kita dari Kristus. Kasih-Nya dapat berjaya di atas segalanya, baik dalam kehidupan pribadi kita dan dalam dunia secara keseluruhan.

Pada zaman ini, kita menghadapi suatu kejahatan yang melampaui kejahatan pembunuhan massal gaya Herodes: pembunuhan anak-anak yang belum sempat dilahirkan dalam jumlah yang tidak terhitung banyaknya. Apa yang dapat membalikkan arus dari perkembangan budaya kematian ini? Kasih Allah dapat dan akan menang, bahkan dalam hal ini. Ya, suatu kejahatan sangat besar sedang terjadi. Ya, kita harus berdoa untuk melawannya dan berupaya untuk mengubah “trend” dalam budaya modern kita ini. Namun demikian, baiklah kita menghindari tindakan kekerasan dan melakukan perjuangan kita bukan karena rasa frustrasi, keputus-asaan, atau kebencian terhadap mereka yang melawan kita. Ingatlah bahwa tidak ada apa atau siapa pun yang dapat menghalangi dan menggagalkan pekerjaan Yesus, sang Terang Dunia (Yoh 8:12; 9:5).

DOA: Bapa surgawi, hiburlah semua anak-anak korban aborsi. Bawalah mereka langsung menghadap takhta-Mu. Terima kasih, ya Allah yang baik, sumber segala kebaikan, satu-satunya yang baik. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 2:13-18) bacalah tulisan yang berjudul “PERTEMPURAN ANTARA KEGELAPAN DAN TERANG” (bacaan tanggal 28-12-19), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-12-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Desember 2019 [Pesta S. Stefanus, Martir Pertama]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YOHANES, RASUL PENULIS INJIL: MURID YANG DIKASIHI YESUS

YOHANES, RASUL PENULIS INJIL: MURID YANG DIKASIHI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA YOHANES RASUL-PENULIS INJIL, Hari Ketiga dalam Oktaf Natal – Kamis, 27 Desember 2019)

Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus dan berkata kepada mereka, “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.”

Lalu berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat daripada Petrus sehingga lebih dahulu sampai ke kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kafan terletak di tanah; akan tetapi, ia tidak masuk ke dalam. Kemudian datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kafan terletak di tanah, sedangkan kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kafan itu, tetapi terlipat tersendiri di tempat yang lain. Sesudah itu, masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. (Yoh 20:2-8) 

Bacaan Pertama: 1Yoh 1:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,5-6.11-12 

Seorang imam muda telah beberapa tahun melayani sebagai pastor pembantu di sebuah paroki. Untuk kurun waktu yang cukup lama, imam yang memang berwajah muda belia (katakanlah, baby face) itu membuat sejumlah warga paroki cenderung untuk “menghakimi” dia sebagai naif dan tidak berpengalaman. Barangkali mis-persepsi serupa mempengaruhi bagaimana sebagian dari kita memandang Santo Yohanes Penginjil yang pestanya dirayakan oleh Gereja pada hari ini.

Menurut tradisi, Yohanes disebut sebagai “murid yang dikasihi Yesus” (lihat Yoh 20:2). Orang kudus ini juga dilukiskan sebagai seorang rasul muda-usia yang menaruh kepalanya di atas punggung Yesus pada waktu Perjamuan Terakhir. Namun gambaran seperti ini tentang Yohanes dapat saja menutupi kekuatan pribadi sang rasul yang datang dari relasi penuh keintiman sedemikian dengan diri Yesus.

Injil mencatat, “… ia melihatnya dan percaya” (Yoh 20:8). Ini adalah dasar dari kedekatan Yohanes dengan Yesus, yaitu kasihnya dan imannya bahwa Yesus wafat dan bangkit untuk kita-manusia. Kasih yang ditunjukkan oleh Yohanes di kubur pada hari Minggu Paskah tidak bersifat statis, melainkan terus membawanya sepanjang masa hidupnya yang diperkirakan sangat panjang. Karena Yohanes cukup rendah hati untuk memperkenankan keakrabannya dengan Yesus bertumbuh, maka dikatakan bahwa dia telah menunjukkan kekuatan yang luarbiasa ketika mengalami pencobaan-pencobaan berat dalam hidupnya. Memang kita tidak memiliki kepastian mengenai kehidupan Yohanes, namun beberapa tulisan yang berasal dari abad kedua dan ketiga kelihatannya memberi kesaksian yang mendukung komitmen tak-tergoyahkan dari sang rasul terhadap Yesus walaupun pada saat-saat dia menanggung penderitaan: dipenjara, percobaan pembunuhan atas dirinya dengan memasukkannya ke dalam sebuah ketel yang berisikan minyak mendidih, dan pengasingan sementara dirinya dari kota Efesus. Melalui itu semua, Yohanes memberi contoh tentang iman yang tak tergoyahkan dalam kuat-kuasa Tuhan Yesus yang telah bangkit.

Dari abad ke abad, berbagai tradisi menyangkut Yohanes Penginjil disampaikan dari generasi ke generasi berikutnya: dari Santo Ireneus (c.125-c.201) yang mengenal Santo Polykarpus (c.69-c.155) yang adalah seorang murid dari Santo Yohanes. Inilah bagaimana Injilnya sampai kepada kita juga. Selama 2.000 tahun, umat Kristiani yang setia telah menyampaikan kabar-kabar bahwa Yesus datang  untuk menyatakan kasih Bapa surgawi yang bersifat intim. Sekarang, kita harus mengambil peranan dalam rangkaian komunikasi tersebut. Marilah kita masing-masing meneladan Santo Yohanes dengan bertumbuh dalam keintiman dengan Yesus dan memperkenankan Kabar Baik tentang Kasih Allah disampaikan melalui kita kepada generasi yang akan datang.

DOA: Bapa surgawi, aku ingin terhitung sebagai salah seorang murid Yesus Kristus yang dikasihi oleh-Nya. Aku ingin bertumbuh dalam keintiman relasi dengan Yesus, untuk lebih mengenal lagi Allah Tritunggal Mahakudus, dan dengan kasih dalam hidupku …… untuk men-sharing-kan Injil dengan generasi-generasi yang akan datang. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Yoh 1:1-4), bacalah tulisan berjudul “MENGGANTUNGKAN DIRI SEPENUHNYA PADA YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 27-12-19) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-12-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Desember 2019 [PESTA S. STEFANUS, MARTIR PERTAMA]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEMARTIRAN DIAKON STEFANUS

KEMARTIRAN DIAKON STEFANUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PESTA SANTO STEFANUS, MARTIR PERTAMA, Oktaf Natal – Kamis, 26 Desember 2019)

Stefanus, yang penuh dengan anugerah dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak. Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut Orang-orang Merdeka – mereka berasal dari Kirene dan Aleksandria – bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia. Mereka berdebat dengan Stefanus, tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara. Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, hati mereka sangat tertusuk. Mereka menyambutnya dengan kertak gigi. Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu katanya, “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.”  Tetapi berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga, mereka menyerbu dia. Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya dengan batu. Saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang pemuda yang bernama Saulus. Sementara mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya, “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” (Kis 6:8-10; 7:54-59) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 31:3-4,6,8,16-17; Bacaan Injil: Mat 10:17-22

Pada hari ini, hanya satu hari setelah Hari Raya Natal, kita menghormati Santo Stefanus, murid Yesus pertama yang mati sebagai martir-Nya. Stefanus adalah salah satu dari 7 (tuhuh) orang diakon pertama dalam Gereja awal, yang ditugaskan untuk melayani distribusi keperluan sehari-hari kepada umat sebagian umat Gereja Yerusalem, yaitu para janda yang berasal dari orang-orang Yahudi yang berbicara dalam bahasa Yunani (Kis 6:1-6). Apakah job qualification bagi Stefanus dan enam orang lainnya untuk menjadi diakon dalam Gereja? “Terkenal baik dan penuh Roh dan hikmat” (Kis 6:3). Tentang Stefanus, “Kisah para Rasul” mencatat: “… mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus …” (Kis 6:5). Stefanus begitu dipenuhi dengan Roh Kudus, sehingga dengan penuh keberanian berkhotbah di jalan-jalan dan membuat mukjizat-mukjizat sebagaimana telah diperbuat oleh Yesus.

Ketika Stefanus ditangkap dan dibawa ke hadapan Mahkamah Agama, Roh Kudus memberikan kepadanya kata-kata pembelaan diri untuk diucapkan, seperti yang telah dijanjikan oleh Yesus kepada setiap murid-Nya: “Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis di rumah-rumah ibadat atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu khawatir bagaimana kamu harus membela diri dan apa yang harus kamu katakan. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan” (Luk 12:11-12). Bahkan ketika dia sedang ditimpuki batu oleh para penganiayanya, sesaat sebelum kematiannya, Stefanus masih mampu (dimampukan) untuk berbicara kebenaran dan memberitakan belas kasih Allah terhadap para musuhnya: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” (Kis 7:60).

Kata-kata terakhir yang diserukan oleh Stefanus ini tidak datang kepadanya secara ajaib. Kata-kata ini adalah ekspresi terakhir dari seseorang yang hidupnya secara total bergantung pada Roh Kus, dan kata-kata itu adalah suatu pencerminan dari apa yang Roh Kudus ingin lakukan untuk kita. Roh Kudus ingin mentransformasikan kita ke dalam keserupaan dengan Yesus. Selagi kita belajar untuk menyerahkan mindsets kita, asumsi-asumsi kita, rencana-rencana kita, bahkan afeksi-afeksi kita kepada Tuhan, kita pun akan dibentuk dan diubah oleh Roh Kudus-Nya. Kita akan menemukan kuat-kuasa yang kita perlukan untuk dapat ke luar dalam kasih dan berjumpa dengan orang-orang lain, bahkan para “musuh” kita, yang mendzolomi kita, yang membenci kita.

Yesus datang ke tengah dunia untuk mengundang kita ke dalam hidup yang senantiasa dipenuhi dan dipimpn oleh Roh Kudus (Inggris: A Spirit filled and Spirit led life). Sesungguhnya kita sudah memiliki potensi untuk hal ini dalam hati kita. Allah yang hidup berdiam dalam diri kita oleh kuasa Roh Kudus. Ia telah ada di sana, menantikan kita untuk berbalik kepada-Nya dan menerima kuat-kuasa-Nya. Hadiah Natal apalagi yang lebih baik yang mungkin kita terima?

Setiap pagi, baiklah kita memberikan hati kita kepada Roh Kudus. Dan dengan berjalannya hari, kita tidak boleh lengah mendengarkan bisikan-bisikan Roh Kudus, kata-kata-Nya yang penuh kasih, bimbingan-Nya dan koreksi-koreksi-Nya atas berbagai kesalahan/dosa kita. Selagi kita melakukan semua ini, kita pun akan melihat terjadinya perubahan dalam semua ini, kita pun akan melihat terjadinya peruban dalam diri kita. Kita menjadi lebih sabar, berbicara dengan lebih lemah lembut, membuang sikap yang suka menghakimi orang lain, bahkan dimampukan untuk mengashi mereka yang mendzolimi diri kita, yang tidak memahami kita, yang membenci kita – semua dimungkinkan karena kita telah mendengarkan suara Roh Kudus.

DOA: Roh Kudus, Engkau adalah sumber kekuatanku, pengharapanku, dan kasihku. Lebarkanlah pintu gerbang hatiku sehingga sang Raja Damai dapat masuk ke dalamnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 6:8-10; 7:54-59) bacalah tulisan berjudul “YA TUHAN YESUS, TERIMALAH ROHKU” (bacaan tanggal 26-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-12-18 dalam situs/blog

Cilandak,  24 Desember 2019

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS