DIMULAI PADA PALUNGAN INI

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN I [Tahun A] – 1 Desember 2019)

Hasil gambar untuk pictures of manger

Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita daripada waktu kita menjadi percaya. Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang! Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan bermabuk-mabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus dan janganlah menurut tabiat yang bersifat daging untuk memuaskan keinginannya. (Rm 13:11-14) 

Bacaan Pertama Yes 2:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-9; Bacaan Injil: Mat 24:37-44 

Dalam Kitab Suci dikatakan bahwa para gembala menjumpai  Maria dan Yusuf dan bayi Yesus sedang berbaring di dalam palungan (Luk 2:16). Kita seringkali melihat kandang Natal sudah mulai dibuat dengan indah sejak awal masa Adven ini; indah – seringkali dengan biaya yang tidak murah juga.

Namun demikian sejarah Gereja awal memberikan gambaran yang lain tentang tempat kelahiran Yesus. Misalnya sekitar tahun 160 M, S. Yustinus, Martir menulis bahwa, “Yusuf (bersama keluarganya) tinggal dalam sebuah gua karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.” Sekitar tahun 250 M., Origenes mengatakan bahwa banyak orang telah mengunjungi gua yang diperkirakan tempat Yesus dilahirkan dan dibaringkan dalam palungan. Kira-kira 150 tahun kemudian, Santo Hieronimus yang telah tinggal di Betlehem, memberi kesaksian tentang keberadaan gua itu sebagai sebuah tempat peziarahan.

Mengapa kita masih saja dibuat terpesona oleh pertanyaan di manakah Yesus sesungguhnya dilahirkan? Apakah karena sedikit sejarah kekristenan menolong kita untuk menghubungkan kebenaran-kebenaran teologis yang mendalam dengan realitas-realitas kehidupan sehari-hari kita sehari-hari? Barangkali!  Namun demikian, walaupun lokasi dari palungan sungguh menarik, lebih menarik adalah permenungan atas diri sang bayi itu sendiri, dia yang kita panggil sebagai Imanuel, Allah beserta kita.

Desakan Santo Paulus untuk mengenakan Tuhan Yesus Kristus (Rm 13:14) dimulai pada palungan ini. Hal ini dimulai selagi kita melakukan permenungan atas bayi yang dilahirkan di sebuah gua yang serba sederhana dan miskin. Hal ini dimulai ketika kita memeditasikan bayi yang memegang dunia dengan dua tangan-Nya. Hal itu juga dimulai selagi kita memeditasikan bayi Yesus dan melihat Dia sebagai sang Roti Kehidupan.

“Mengenakan Tuhan Yesus Kristus” berarti mengisi pikiran-pikiran kita dengan kebenaran-Nya dan mentaati perintah-perintah-Nya. Semakin penuh kita  mengenakan Kristus, maka semakin penuh pula kemampuan kita untuk bergabung dengan para malaikat pada hari Natal, menyanyikan puji-pujian bagi Dia yang begitu mengasihi dunia dan sudi turun dari surga, menjadi manusia untuk menyelamatkan kita.

Sebuah palungan adalah tempat makan hewan peliharaan. Dengan demikian, pada awal masa Adven ini, lihatlah palungan ini sebagai sebuah simbol dan pengingat: Yesus datang untuk memberi kita makan/minum tubuh dan darah-Nya sehingga “kita dapat mengenakan-Nya”.

Pada hari ini ketika kita menerima komuni ingatlah gua di mana bayi Yesus dilahirkakn. Bayangkan diri saudari/saudara ada di sana bersama-Nya. Lihatlah Dia mengangkat tangan-Nya yang kecil dan memberi hosti kudus kepada anda agar supaya saudari/saudara dapat  dipersatukan dengan Dia.

Pada Masa Adven ini, marilah kita berupaya setiap hari untuk menyediakan waktu istimewa (artinya di samping waktu-waktu doa yang sudah kita tetapkan) selama 10-15 menit saja untuk berada bersama dengan Yesus Kristus dalam doa. Bacaan-bacaan Kitab Suci dalam Misa sepanjang Masa Adven berbicara mengenai kerinduan kita-manusia akan keselamatan dan – malah lebih-lebih lagi – kerinduan Allah untuk menyelamatkan kita-manusia. Perkenankanlah kata-kata dalam Kitab Suci (yang kita percaya sebagai sabda Allah) membenamkan diri dalam hati kita. Marilah juga kita mengundang Roh Kudus untuk menunjukkan dosa-dosa kita serta tindakan-tindakan konkret apa saja yang harus kita lakukan agar mampu mengatasi dosa-dosa itu. Setiap hari, lakukanlah tindakan kasih (tanpa pamrih, tentunya) kepada sesama di sekeliling kita, sebagai ‘tangan-tangan’ Kristus yang bekerja di tengah-tengah dunia. Dengan pertolongan Allah, semua ini akan membebaskan kita agar dapat lebih banyak lagi mengalami kasih Allah.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, kami ingin mendevosikan Masa Adven ini untuk persiapan kedatangan-Mu ke dalam dunia. Tolonglah kami agar dapat ‘terbenam’ dalam kasih-Mu melalui sakramen-sakramen-Mu, doa-doa, pembacaan serta permenungan Kitab Suci, dan laku-tobat kami. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, bantulah kami untuk memandang secara mendalam palungan itu dan melihat setiap pengharapan dan impian dipenuhi dalam diri sang Bayi berbaring di sana. Biarlah kegelapan-kegelapan dosa-dosa kami dikalahkan secara mutlak oleh terang-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil pada hari ini, bacalah tulisan yang berjudul “ANAK MANUSIA AKAN KEMBALI DATANG MENGUNJUNGI KITA” (bacaan tanggal 1-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

Cilandak, 30 November 2019 [Pesta S. Andreas, Rasul]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS