GURU, JAWAB-MU ITU TEPAT SEKALI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Sabtu, 23 November 2019

Peringatan Fakultatif S. Klemens I, Paus Martir

Peringatan Fakultatif S. Kolumbanus, Abas

Kemudian datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya, “Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seseorang yang mempunyai saudara laki-laki, mati, sedangkan istrinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan istrinya itu dan memberi keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, merekanya semuanya mati tanpa meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristrikan dia.” Jawab Yesus kepada mereka, “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Mereka tidak dapat mati lagi, sebab mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam cerita tentang semak duri, di mana ia menyebut sebagai Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.” Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata, “Guru, jawab-Mu itu tepat sekali.” Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus. (Luk 20:27-40) 

Bacaan Pertama: 1Mak 6:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 9:1-4,6,16b,19

Di bawah pengaruh Yunani dan Persia, orang-orang Farisi percaya akan kehidupan setelah kematian dan juga percaya akan kebangkitan badan. Sebuah kelompok Yahudi yang lebih konservatif – orang Saduki – tidak percaya kepada kedua-duanya.

Pada dasarnya Yesus setuju dengan orang-orang Farisi dalam hal ini. Orang-orang Saduki tidak setuju. Inilah yang melatarbelakangi konfrontasi antara Yesus dan orang-orang Saduki seperti terdapat dalam bacaan Injil hari ini. Mereka mencoba untuk menegasi kemungkinan adanya kebangkitan badan dan melemahkan ajaran Yesus dengan mengajukan kasus seorang perempuan yang telah kawin dengan tujuh orang bersaudara seturut hukum Levirat. Mereka bertanya kepada Yesus: “Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristrikan dia” (Luk 20:33).

Yesus cuma mengulang ajaran-Nya tentang kebangkitan badan, lalu menjelaskan bahwa kehidupan dalam keabadian akan berbeda  dan persoalan  seperti yang dikemukakan oleh orang-orang Saduki itu idak akan ada. Jawaban Yesus memang baik,namun jawaban-Nya yang terbaik datang belakangan, yaitu  dengan kebangkitan pribadi-Nya dari makam.

Di segala abad dan di mana-mana, umat Kristiani mengakui dan mempermaklumkan kepercayaan mereka akan imortalitas jiwa dan kebangkitan badan. Kebenaran sentral dari agama kita didramatisir secara liturgis pada perayaan Paskah dan setiap Misa (Perayaan Ekaristi). Itu adalah pesan yang memberi makna kepada liturgi-liturgi pemakaman kita, dan dilambangkan dengan kehadiran lilin Paskah yang menyala. Dari awal-awalnya, kita sebagai Gereja telah mempermaklumkan – dalam kredo/pengakuan iman – kepercayaan kita akan kebangkitan badan dan hidup yang kekal. Dalam Pengakuan Iman hasil Konsili Nikea Konstantinopel, bunyinya seperti berikut ini: “Aku menantikan kebangkitan orang mati dan hidup di akhirat” (Puji Syukur, hal. 3).

Seperti juga Yesus yang berjaya atas ketidaksetujuan orang-orang Saduki, kita pun harus berjaya atas keragu-raguan kita sendiri dan perlawanan dari berbagai pihak. Kita adalah warga di bumi dan juga di surga. Kematian adalah hari ulang tahun kita yang kedua – hari ulang tahun kita masuk ke dalam kekekalan. Karena kita bukanlah malaikat dan tetap manusia, maka kita tidak lengkap tanpa badan kita. Oleh karena itu Yesus meyakinkan kita bahwa ada kebangkitan badan dan kehidupan kekal.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau telah mengikat diri-Mu kepada kami masing dalam kasih. Persatukanlah kami dengan Engkau dan transformasikanlah semua pilihan kami menjadi tanggapan-tanggapan terhadap kasih-Mu yang besar dan agung. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini [ Luk 20:27-40], bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH BUKANNYA ALLAH ORANG MATI, MELAINKAN ALLAH ORANG HIDUP” (bacaan tanggal 23-11-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2019. 

Cilandak, 20 November 2019

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS