IMAN SEORANG BUTA DI DEKAT KOTA YERIKHO

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Senin, 18 November 2019)

Peringatan Fakultatif Pemberkatan Gereja Basilik S. Petrus dan Paulus, Rasul

Keluarga OSCCap. (Ordo II/Klaris): Peringatan Fakultatif B. Salomea, Perawan

Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Mendengar orang banyak lewat, ia bertanya, “Apa itu?” Kata orang kepadanya, “Yesus orang Nazaret lewat.” Lalu ia berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Mereka yang berjalan di depan menegur dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru, “Anak Daud, kasihanilah aku!” Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya, “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang itu, “Tuhan, supaya aku dapat melihat!” Lalu kata Yesus kepadanya, “Melihatlah sekarang, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Seketika itu juga ia dapat melihat, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah, Melihat hal itu, seluruh rakyat memuji-muji Allah. (Luk 18:35-43) 

Bacaan Pertama: 1Mak 1:10-15,41-43,54-57,62-64; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:53,61,134,150,155,158

“Melihatlah sekarang, imanmu telah menyelamatkan engkau!” (Luk 18:42)

Dalam bacaan Injil hari ini, Lukas menyajikan suatu kontras terhadap para murid yang tidak mampu memahami prediksi Yesus akan penderitaan dan sengsara-Nya. Di sini Lukas mengedepankan sebuah episode di mana ada seorang buta yang dicelikkan matanya secara ajaib oleh Yesus dan kemudian langsung saja mengikut-Nya.

Pada waktu itu Yesus sedang dalam perjalanan menuju kota suci Yerusalem melalui kota Yerikho yang terletak sekitar 17 km sebelah timur dari Yerusalem. Dalam Injil Markus Mrk 10:46-52), orang buta tersebut bernama Bartimeus (artinya anak Timeus) dan penyembuhan kebutaannya terjadi ketika Yesus dan rombongan-Nya meninggalkan kota Yerikho. Sebaliknya, Lukas – yang menyukai penyajian secara tematis – menempatkan peristiwa mukjizat penyembuhan ini ketika Yesus dan rombongan-Nya sedang mendekati kota Yerikho, kemudian bergerak ke dalam kota untuk cerita tentang Zakheus (Luk 19:1-10) dan ajaran dengan menggunakan perumpamaan tentang uang mina (Luk 19:11-27), keduanya merupakan klimaks dari bagian Injil ini …… sebelum Ia masuk ke kota Yerusalem.

Pada saat-saat seperti itu tentunya jalan ke Yerusalem sangatlah sibuk dan dipenuhi oleh orang-orang yang sedang menuju kota suci itu untuk merayakan pesta Paskah. Biasanya orang-orang melakukan perjalanan dalam rombongan kafilah karena pertimbangan keamanan, dan adalah suatu praktek yang diterima umum bagi seorang rabi untuk memberi pengajaran kepada rombongan kafilah yang sedang melakukan perjalanan ke kota suci Yerusalem. Yesus juga menggunakan kesempatan ini untuk mengajar kepada siapa saja yang mau mendengarkan pengajaran-Nya. Yesus biasanya diiringi oleh para murid-Nya yang tidak berjumlah banyak dan orang banyak yang ingin mendengar pengajaran-pengajaran-Nya. Ada pula para lawan-Nya yang senantiasa mencari kesempatan untuk menjatuhkan-Nya. Yesus sendiri sampai hari itu telah membangun reputasi diri-Nya sebagai seorang guru/rabi dan seorang penyembuh sakit-penyakit.

Seorang buta sedang duduk di pinggir jalan dan dia mendengar suara orang ramai-ramai yang sedang mendekat. Ia bertanya apa itu, apakah yang sedang terjadi? Kepadanya diberitahukan bahwa seorang nabi dari Nazaret sedang lewat. Orang  buta itu tidak mau Yesus lewat begitu saja; dia mempunyai lebih daripada sekadar rasa ingin tahu saja tentang pribadi Yesus. Ia telah lama menanti-nantikan saat untuk ke luar dari dunianya yang dipenuhi kegelapan dan sekarang Pribadi yang dapat membebaskan dirinya sudah dekat dan tentu dapat mendengar seruannya minta tolong. Orang buta itu pun berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” …… “Anak Daud, kasihanilah aku!” (Luk 18:38,39).

Orang buta itu menyerukan nama Yesus dengan sebuah gelar Mesianis, yaitu Anak Daud, sebuah gelar yang diyakininya dapat menghentikan rombongan yang sedang lewat tersebut. Di sisi lain, dengan memanggil Yesus sebagai Anak Daud, orang buta itu mengakui bahwa Yesus adalah sang Mesias yang dijanjikan, turunan Daud melalui siapa Allah akan memenuhi janji-janji-Nya. Orang-orang yang tidak suka mau membuat orang buta itu diam, namun dia tetap bertekun. Ia kehilangan kesempatan emas untuk disembuhkan jika hanya berdiam diri. Dia harus menarik perhatian Yesus. Sekarang suaranya harus bersaing tidak hanya dengan suara orang banyak, tetapi juga dengan orang-orang yang tidak menyukainya. Orang buta itu berteriak lagi dengan penuh rasa percaya bahwa sang Anak Daud sungguh akan berbelas kasih atas dirinya. Sebuah teriakan yang bernada seakan kehilangan pengharapan namun bukanlah seruan keputus-asaan.

Sepanjang pelayanan-Nya di tengah masyarakat, Yesus tidak pernah merasa jengah mendengar seruan/teriakan minta tolong dari “wong cilik” atau orang-orang yang tersingkirkan dalam masyarakat. Tidak seperti orang-orang yang ingin agar orang buta itu diam, Yesus tahu sekali bahwa damai-sejahtera tidak akan terwujud dengan membungkam atau menutup-nutupi seruan minta tolong yang tulus dari seorang anak manusia. Pengajaran kepada rombongan dapat ditunda sebentar karena si orang buta sudah lama menanti-nantikan saat penyembuhan dari kebutaannya.

Yesus menyuruh orang untuk membawa orang buta itu kepadanya dan kemudian bertanya kepadanya: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” (Luk 18:41). Sebuah pertanyaan sama yang dilontarkan oleh-Nya kepada dua bersaudara putera-putera Zebedeus: Yakobus dan Yohanes (bdk. Mrk 10:36). Maksud Yesus di sini adalah mengundang orang buta itu untuk mengartikulasikan kebutuhannya di hadapan orang-orang yang berkumpul di tempat itu. “Tuhan, supaya aku dapat melihat!” (Luk 18:41), itulah jawaban dari orang buta itu: sebuah doa orang miskin yang sederhana, namun tidak diragukan lagi bahwa itu doa yang keluar dari hati. Ketika menyatakan kebutuhannya, orang buta itu juga mengungkapkan imannya akan Yesus sebagai Tuhan, Tanggapan Yesus: “Melihatlah sekarang, imanmu telah menyelamatkan engkau!” (Luk 18:42). Pada saat orang buta itu dapat melihat, dia berada dalam posisi “muka ketemu muka” dengan Yesus untuk pertama kalinya. Dia melihat Yesus, dan ia menggunakan penglihatannya untuk mengikut Yesus. Sebelumnya, dia hanya dapat menanti-nanti kedatangan Yesus,

Jesus heals blind Bartimaeus Mark 10:46-52

Lukas menutup episode ini dengan catatan yang terasa begitu akrab di telinga kita: “… ia dapat melihat, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Melihat hal itu seluruh rakyat memuji-muji Allah” (Luk 18:43). Kuat-kuasa Allah telah dimanifestasikan di tengah-tengah kumpulan orang banyak, dan ketika hal itu terjadi maka tanggapan yang  natural adalah tindakan memuji-muji Allah. Memang ada alasan kuat bagi kita untuk memuji-muji Allah yang memang sangat prihatin terhadap seruan orang-orang yang penuh penderitaan dalam kehidupan mereka.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Kami datang menghadap hadirat-Mu seperti orang buta di dekat Yerikho, tanpa rasa ragu dan tanpa rasa takut. Bukalah mata hati kami sehingga dengan demikian kami dapat memandang diri-Mu dalam segala kemurnian, kasih, dan kesetiaan. Yesus, Anak Daud, kasihanilah kami! Amin

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 18:35-43), bacalah tulisan yang berjudul “CERITA SI BUTA INI BERAKHIR DENGAN SEBUAH HAPPY ENDING” (bacaan tanggal 18-11-19) dalam situs/blog  http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-11-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  14 November 2019 [Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk. Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS