MENGENAL KEBAIKAN ALLAH DAN KESETIAAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Sabtu, 16 November 2019)

Peringatan Fakultatif S. Margarita dr Skotlandia

Peringatan Fakultatif S. Gertrudis, Perawan

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan bahwa mereka harus selalu berdoa tanpa jemu-jemu. Kata-Nya, “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan, “Perhatikanlah apa yang dikatakan hakim yang tidak adil itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Apakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” (Luk 18:1-8) 

Bacaan Pertama: Keb 18:14-16,19:6-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:2-3,36-37,42-43

Yesus memang dapat membingungkan kita dengan perumpamaan-perumpamaan-Nya. Juga terasa agak keterlaluan jika kita membanding-bandingkan hakim yang tidak adil itu dengan Allah. Akan tetapi, seperti seringkali terjadi dengan perumpamaan-perumpamaan, maksudnya adalah untuk menggarisbawahi bahwa Allah dapat melakukan kebaikan yang jauh lebih besar daripada apa yang dapat dilakukan oleh manusia mana pun. Jika seorang berdosa (si hakim) akhirnya tergerak juga untuk bertindak adil, betapa lebih besar lagi kebaikan yang dapat dilakukan Allah. Yang jelas apabila manusia menuntut keadilan, maka Allah menjawabnya dengan cinta kasih.

Yesus mengajar perumpaman tentang janda yang bertekun ini karena Dia ingin para murid-Nya memahami bahwa dengan mengenal kebaikan Allah dan kesetiaan-Nya, maka hal ini akan memampukan mereka mencontoh atau mengikuti jejak-Nya. Melihat  betapa lengkap dan total Yesus mengasihi dan taat kepada Bapa-Nya juga dapat memberikan kepada kita jaminan bahwa Allah pantas untuk kita percayai tanpa henti.

Hakim yang tidak takut akan Allah itu memberikan apa yang diinginkan oleh sang janda supaya dirinya bebas dari gangguan sang janda. Akan tetapi, HAKIM kita adalah yang terbaik dari segala bapak dan hakim. Dia hanya menginginkan apa saja yang baik bagi kita. Lewat doa-doa kita dapat membawa segala urusan kita kepada-Nya, dengan keyakinan teguh bahwa Dia akan mendengar setiap doa kita dan akan memberi tanggapan-Nya dengan cara-cara yang paling baik bagi kita – dan hal inilah yang merupakan tantangan dari perumpamaan Yesus ini.

Dapatkah kita (anda dan saya) percaya bahwa Allah sungguh ingin membuat diri kita bahagia? Kita masing-masing sungguh berharga di mata-Nya. Yang diminta oleh-Nya adalah bahwa kita mendekati-Nya dengan suatu hasrat untuk menyusun rencana-rencana dengan cara-cara-Nya. Inilah kunci untuk damai sejahtera yang ditemukan oleh sang pemazmur: “Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati. Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya” (Mzm 25: 9-10).

Apabila kita membawa berbagai kebutuhan kita ke hadapan Allah dengan hati yang terbuka dan dengan ketekunan yang dimiliki sang janda, maka kita pun akan mulai mengenali suara-Nya melalui Kitab Suci dan melalui orang-orang lain. Kita akan melihat Dia bekerja di dalam diri kita, dan kita akan merasakan kehadiran-Nya dalam hidup kita sehari-hari. Kita akan mengalami kuat-kuasa-Nya untuk mengubah hati kita sehingga dengan demikian kita akan mencintai kehendak-Nya daripada kehendak kita sendiri. 

Kita mungkin saja tidak dapat melihat atau memahami bagaimana suatu situasi yang khusus sesungguhnya adalah bagian dari rencana Allah, namun kita akan tetap menaruh kepercayaan bahwa Allah akan menjawab doa-doa kita dengan cara-cara yang jauh lebih besar daripada yang dapat kita bayangkan. Ini adalah iman yang dicari Yesus pada saat Ia kembali kelak.

Marilah kita memusatkan perhatian kita terutama pada belas kasih Allah dan kesetiaan-Nya, kemudian pada urusan-urusan kita sendiri. Tidak ada sesuatu pun atau seorang pun yang dapat merenggut sukacita yang kita miliki karena mengenal Kristus, Putera Allah yang Mahasetia, yang memenuhi janji-janji keselamatan seperti tercatat dalam Kitab Suci. Dia pulalah yang akan memimpin kita kepada rumah abadi bersama Bapa.

DOA: Bapa surgawi, penuhilah diriku dengan kasih yang sungguh besar kepada-Mu sehingga membuat aku dapat berdoa kepada-Mu tanpa rasa takut atau khawatir akan penolakan dari-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 18:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH MEMBEBASKAN KITA DARI KEMATIAN DENGAN MENGUTUS PUTERA-NYA YANG TUNGGAL KE TENGAH DUNIA UNTUK MENGALAHKAN IBLIS DAN MAUT” (bacaan tanggal 16-11-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal tanggal 17-11-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 November 2019 [Peringatan S. Didakus dr Alkala, Biarawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS