ALLAH DAN KERAJAAN-NYA ADALAH MISTERI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Kamis, 14 November 2019)

Keluarga besar Fransiskan: Peringatan Wajib/Fakultatif S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk. Martir

 Ketika ditanya oleh orang-orang Farisi kapan Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.”

Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh orang-orang zaman ini. (Luk 17:20-25) 

Bacaan Pertama: Keb 7:22-8:1; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:89-90,130,135,175 

Yesus sungguh ingin kita mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan dan bahwa Kerajaan-Nya ada di sini, ada di antara kita; bahwa Kabar Baik-Nya adalah untuk sekarang ini. Ia mengatakan kepada orang-orang Farisi yang bersikap skeptis dan tidak percaya, “… sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk 17:21).

Kalau kita masing-masing mau jujur dengan diri kita sendiri, maka kita harus mengakui bahwa begitu sering manusia (termasuk anda dan saya) berkeinginan untuk mempunyai Allah yang berada di dalam kontrol/kendali mereka, atau paling sedikit masih di dalam jangkauan intelegensia mereka sendiri yang terbatas. Cukup sulitlah untuk hidup dengan nyaman di dalam sebuah dunia yang (kita kira) kita pahami dan kendalikan. Namun lebih sulit lagi kiranya jika kita hidup dengan nyaman, tetapi disertai misteri.

Demikian pula orang-orang Farisi dan semua orang yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sama; mereka ingin berurusan dengan Kerajaan Allah seperti persoalan-persoalan yang lain, bahkan seperti menangani bencana alam yang dapat diprediksi sebelumnya. Memang sangatlah menghibur/menyenangkan apabila kita mampu menempatkan Kerajaan Allah dalam waktu dan ruang, jadi dalam keadaan siap-siaga guna menyambut Kerajaan itu pada saat kedatangannya – seperti halnya pada waktu kita bersiap-siap menyambut kedatangan angin topan yang akan melanda desa/kota kita; yang sudah diramalkan arah dan kekuatannya dll. oleh BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika).

Satu hal memikat dari iman-kepercayaan yang benar adalah bahwa Allah adalah misteri, demikian pula Kerajaan Allah. Andaikan berbagai pertanyaan yang menyangkut Allah dan Kerajaan-Nya dapat dijawab dengan begitu mudah dan/atau mendapatkan solusi dengan mudah, maka bukan tidak mungkin kita menjadi merasa tertipu oleh para guru agama dan gembala kita. Susahnya dengan orang-orang Farisi, dan dengan kita juga, adalah mengenalinya karena mata kita seringkali dibutakan oleh terlalu banyak urusan lain. Orang-orang Farisi dibutakan oleh “legalisme” mereka. Kita dibutakan oleh semua jenis pertimbangan duniawi.

Yesus mengatakan bahwa Kerajaan Allah ada di antara kita. Jelas tidak begitu, bukan? Begitu banyak penderitaan, begitu banyak penindasan dan kekerasan yang kita lihat setiap hari, bukan? Di sisi lain, begitu sedikit cinta kasih yang ada di sekeliling kita.  Apakah Kerajaan Allah cocok (Inggris: compatible) dengan semua penderitaan, kebencian, kemarahan, kekerasan, ketiadaan damai yang kita lihat terus saja berlangsung di sekeliling kita? Tentu saja tidak! Namun ada satu jawaban terhadap segala keburukan yang disebutkan tadi. Kerajaan Allah tidak dipaksakan atas diri siapa saja. Yesus sebagai Tuhan bukanlah seorang diktator, bukan seorang tyrant. Ia tidak akan mengganggu kebebasan kita.

Akan tetapi, apabila kita memperkenankan Dia sebagai Tuhan, kalau kita memperkenankan-pemerintahan-Nya, kerajaan-Nya, mengatur hidup kita, maka damai sejahtera-Nya, kasih-Nya, sukacita-Nya dan segala buah Roh Kudus akan datang ke dalam kehidupan kita. 

Apabila semua orang dan semua bangsa mau menerima pemerintahan Allah, menerima kenyataan bahwa Yesus adalah Tuhan atas segalanya, maka kejahatan-kejahatan yang begitu tidak cocok dengan Kerajaan Allah – kemiskinan, penindasan, kekerasan, ketiadaan damai antara bangsa-bangsa, kebencian – semua ini akan menghilang. Paling sedikit semua hal itu akan banyak berkurang dan kita pun akan mampu mengenali pemerintahan Allah di tengah-tengah kita.

Jadi, di mana harus kita mulai? Pertama-tama kita harus mengingat bahwa bangsa-bangsa terdiri dari orang-orang, manusia! Dengan demikian kita harus mulai dengan diri kita sendiri. Hari demi hari kita harus mencoba untuk hidup bersama Yesus sebagai Tuhan. Kehendak-Nya harus menjadi faktor paling penting dalam semua keputusan kita. Apa yang menurut Dia merupakan hukum yang paling utama – mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia – haruslah menjadi hukum yang paling  utama dalam kehidupan kita. Maka kita akan melakukan bagian kita untuk membuat pemerintahan Allah menjadi kelihatan. Dalam hal ini, kita harus menyadari bahwa kita masing-masing diciptakan untuk mengasihi, dan tidak ada misteri yang lebih besar daripada hal itu.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, oleh Roh Kudus tolonglah kami untuk mengasihi-Mu tanpa banyak bertanya ini-itu dan kami sungguh menginginkan agar Engkau menjadi Tuhan dalam hidup kami, sehingga dengan demikian kami dapat menjadi tanda-tanda kecil dari Kerajaan-Mu. Kami juga berjanji untuk menantikan kedatangan-Mu kembali dengan penuh kepercayaan kepada-Mu, walaupun kami tidak memiliki pengertian sepenuhnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:20-25), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH ADALAH SANG HIKMAT-KEBIJAKSANAAN ITU SENDIRI” (bacaan tanggal 14-11-19) dalam situs/blog SANG SABDA http:/sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-11-18 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 12 November 2019 [Peringatan S. Yosafat, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS