SEORANG BENDAHARA YANG TIDAK JUJUR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Jumat, 8 November 2019)

Kemudian Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apa ini yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungjawaban atas apa yang engkau kelola, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak kuat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Terimalah surat hutangmu, duduklah dan tulislah segera: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Terima surat hutangmu, dan tulislah: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang.”  (Luk 16:1-8) 

Bacaan Pertama: Rm 15:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4 

Bayangkanlah suatu situasi dalam dunia bisnis. Pak Alex telah bekerja lebih dari sepuluh tahun lamanya dalam sebuah perusahaan kontraktor besar di bidang pelayanan pemeliharaan gedung kantor, pabrik dan gudang. Karirnya ini telah mampu membawanya sampai suatu posisi penting dalam perusahaan itu. Kepada Pak Alex sekarang dipercayakan kontrak-kontrak paling besar termasuk kewenangan dalam aspek keuangannya.

Karena suksesnya ini Pak Alex juga menjalani hidup yang nyaman dan rumahnya pun terletak di lokasi yang tergolong “‘elit” (bukan ekonomi sulit). Namun beberapa tahun kemudian ada gosip beredar yang menyebabkan atasannya mempertanyakan integritas Pak Alex. Tidak lama kemudian Pak Alex akan digeser dari kedudukannya dan digantikan oleh orang lain. Tidak ada banyak perusahaan yang mempunyai lowongan untuk jabatan senior seperti yang dipegang Pak Alex, dan dia tidak mempunyai keterampilan teknis yang diperlukan untuk berhasil di bidang-bidang lain. Juga tidak mudahlah bagi keluarganya beradaptasi dengan suatu perubahan sedemikian. Dunia Pak Alex pun menjadi berantakan. Apakah yang harus dilakukan oleh Pak Alex dalam hal ini? Atasan Pak Alex sudah siap untuk mengambil tindakan terhadap dirinya, dan waktunya tinggal sekitar satu minggu lagi. Pak Alex harus bertindak cepat untuk menyelamatkan dirinya dari situasi kelabu yang sedang dihadapinya.

Hari ini, sekitar satu jam lagi Pak Alex mempunyai business appointment dengan langganan terbesar perusahaannya untuk membahas jumlah hutang perusahaan langganan itu dan pembayarannya. Tiba-tiba dia mendapat ide: mengapa tidak memberikan keringanan yang berarti bagi langganannya itu dengan menetapkan fee yang lebih ringan, bukankah hal ini masih berada dalam kewenangannya? Memang dengan begitu perusahaannya memperoleh pendapatan yang relatif lebih kecil, namun bukankah dengan demikian Pak Alex sudah mempunyai “pegangan” seandainya dia  diberhentikan kerja tidak lama lagi? Karena ada pihak/orang yang “berhutang budi”!

Cerita ini pada hakekatnya merupakan pengulangan dari perumpamaan Yesus tentang bendahara yang tidak jujur. Dalam perumpamaan itu Yesus kembali (Luk 12:13-34) kepada pertanyaan tentang kekayaan dan mengajar para murid-Nya mengenai penggunaan uang.

Dari sudut etika, tidak diragukan lagi bahwa apa yang dilakukan oleh bendahara yang tidak jujur itu tidak dapat diterima, namun justru hal ini bukanlah fokus dari pengajaran Yesus. Yesus memuji sang bendahara karena dengan cerdik dia menilai keadaan yang dihadapinya dan mengambil tindakan dengan cepat guna memperoleh manfaat terbaik untuk masa depannya. Sebagai umat Kristiani kita mengetahui mengenai hidup kekal dan kebenaran-kebenaran yang seharusnya membentuk keputusan-keputusan kita di sini dan sekarang. Pada waktu kita harus bekerja untuk keselamatan kita di dunia, dapatkah kita – seperti si bendahara – melihat inti permasalahannya dengan kejernihan hati? Dapatkah kita mentuntaskan pekerjaan kita dengan tindakan-tindakan yang menentukan, sehingga menjamin posisi kita kelak di surga?

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah aku untuk menggunakan uangku dengan bijaksana. Berikanlah kepadaku sebuah hati yang mampu menggunakan uangku dan waktuku untuk proyek-proyek yang akan memuliakan nama-Mu. Setiap hari tanamkanlah dalam diriku kepastian akan ‘takdir’ kekalku, dan berikanlah kepadaku suatu ketetapan hati agar mampu menjalani hidup di bumi ini dengan gambaran surga selalu di hadapanku. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:1-8), bacalah tulisan berjudul “CERITA TENTANG SEORANG BENDAHARA YANG CERDIK” (bacaan tanggal 8-11-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com;  kategori: 19-11  BACAAN HARIAN NOVEMBER 2019

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-11-17 dalam situs/blog SANG SABDA

Cilandak, 7 November 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS