SALIB KRISTUS YANG AGUNG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Rabu, 6 November 2019)

Pada suatu kali ada banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, dan berkata: Orang ini mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.

Atau, raja manakah yang kalian mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.  (Luk 14:25-33) 

Bacaan Pertama: Rm 13:8-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-2,4-5,9 

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengatakan, “Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk 14:27). Seorang penyair pernah menulis, bahwa “dia yang ingin sesuatu yang berharga haruslah menyerahkan/ mengorbankan sesuatu yang berharga pula.” Hal itu berarti, bahwa kita tidak dapat memiliki kasih yang sejati tanpa disiplin-diri yang sama riilnya. Para dokter, musisi, artis, ilmuwan, pengarang, guru, inventor, dlsb. – semua telah menyadari bahwa kebesaran (Inggris: greatness) hanya datang dengan disiplin-diri. Pekerjaan jujur adalah sebuah salib yang berat, namun hal itu diterima dengan penuh sukacita demi cinta akan tujuan yang ingin dicapai. Spiritualisasikanlah kebenaran ini, dan kita pun akan mempunyai salib sehari-hari yang dibicarakan Yesus. Yesus menyerahkan segalanya untuk mengejar kasih-Nya yang besar dan agung, rencana Bapa perihal penebusan. Santo Paulus menulis: “ (Yesus) ……telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:7-8).

Salib sehari-hari adalah ungkapan kasih. Kasih yang sejati membuat seseorang “menyangkal dirinya” dan mengikut Kristus (lihat Luk 9:23), karena kasih membuat dirinya menyerahkan/melepaskan segalanya yang mengganggu upayanya untuk mengejar orang yang dikasihi. Cinta-diri membuat seseorang memandang segala gangguan – betapa kecilnya sekalipun gangguan itu – sebagai “salib sehari-hari”. Pandangan salah sedemikian hanyalah membuat orang “termanja” dalam self-pity. Sesungguhnya sebagian besar dari kesulitan-kesulitan kecil yang kita pertimbangkan sebagai pengorbanan besar adalah ungkapan dari sikap kita yang mementingkan-diri sendiri. Kita membesar-besarkan perasaan tidak enak yang kecil-kecil dan memproyeksikan semua itu menjadi salib-salib yang bersifat artifisial. Jika kita mau berpegang teguh pada kebenaran, maka seharusnya kita memandang semua kesulitan kecil itu sebagai sekadar keratan-keratan kayu yang kecil atau serbuk gergaji yang jatuh di sana-sini dari kayu salib. Tetapi semua itu bukanlah salib itu sendiri, melainkan tanda-tanda kasar-sederhana dari kelemahan kita.

Salib yang dipikul oleh Yesus dan yang diminta-Nya untuk kita pikul adalah hidup dari kasih Kristiani itu sendiri, “baptisan” besar/agung ke mana keseluruhan hidup-Nya diarahkan. Salib adalah status kehidupan kita: kerasulan kita, tugas-tugas harian kita, perkawinan kita, keluarga kita, tugas mengajar kita (kalau kita guru), tugas perawatan kita (kalau kita perawat), studi kita, pekerjaan kita – apa pun kerja kasih yang tidak mementingkan-diri dan pengabdian  yang telah diberikan Allah kepada kita. Kejengkelan hati sehari-hari yang kecil-kecil hanyalah bayangan dari salib yang besar, karena salib itu bagaikan sebatang pohon tinggi, dari pohon mana kasih Allah dicurahkan secara berkelimpahan. Salib agung itulah “hal berharga” untuknya segala “hal berharga” lainnya akan kita serahkan/lepaskan dengan penuh sukacita.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, kemenangan Salib-Mu adalah kemenangan kasih-Mu yang maha-sempurna. Jagalah kami agar dapat tetap menjadi murid-murid-Mu yang baik, yang senantiasa mau dan mampu memikul salib kami masing-masing dan mengikut Engkau dengan setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:25-33), bacalah tulisan yang berjudul “SEGALA SESUATU HARUS DILEPASKAN UNTUK MENGIKUT YESUS (bacaan tanggal 6-11-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2019. 

(Tulisan ini besumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 5 November 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS