Archive for November, 2019

DIMULAI PADA PALUNGAN INI

DIMULAI PADA PALUNGAN INI

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN I [Tahun A] – 1 Desember 2019)

Hasil gambar untuk pictures of manger

Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita daripada waktu kita menjadi percaya. Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang! Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan bermabuk-mabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus dan janganlah menurut tabiat yang bersifat daging untuk memuaskan keinginannya. (Rm 13:11-14) 

Bacaan Pertama Yes 2:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-9; Bacaan Injil: Mat 24:37-44 

Dalam Kitab Suci dikatakan bahwa para gembala menjumpai  Maria dan Yusuf dan bayi Yesus sedang berbaring di dalam palungan (Luk 2:16). Kita seringkali melihat kandang Natal sudah mulai dibuat dengan indah sejak awal masa Adven ini; indah – seringkali dengan biaya yang tidak murah juga.

Namun demikian sejarah Gereja awal memberikan gambaran yang lain tentang tempat kelahiran Yesus. Misalnya sekitar tahun 160 M, S. Yustinus, Martir menulis bahwa, “Yusuf (bersama keluarganya) tinggal dalam sebuah gua karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.” Sekitar tahun 250 M., Origenes mengatakan bahwa banyak orang telah mengunjungi gua yang diperkirakan tempat Yesus dilahirkan dan dibaringkan dalam palungan. Kira-kira 150 tahun kemudian, Santo Hieronimus yang telah tinggal di Betlehem, memberi kesaksian tentang keberadaan gua itu sebagai sebuah tempat peziarahan.

Mengapa kita masih saja dibuat terpesona oleh pertanyaan di manakah Yesus sesungguhnya dilahirkan? Apakah karena sedikit sejarah kekristenan menolong kita untuk menghubungkan kebenaran-kebenaran teologis yang mendalam dengan realitas-realitas kehidupan sehari-hari kita sehari-hari? Barangkali!  Namun demikian, walaupun lokasi dari palungan sungguh menarik, lebih menarik adalah permenungan atas diri sang bayi itu sendiri, dia yang kita panggil sebagai Imanuel, Allah beserta kita.

Desakan Santo Paulus untuk mengenakan Tuhan Yesus Kristus (Rm 13:14) dimulai pada palungan ini. Hal ini dimulai selagi kita melakukan permenungan atas bayi yang dilahirkan di sebuah gua yang serba sederhana dan miskin. Hal ini dimulai ketika kita memeditasikan bayi yang memegang dunia dengan dua tangan-Nya. Hal itu juga dimulai selagi kita memeditasikan bayi Yesus dan melihat Dia sebagai sang Roti Kehidupan.

“Mengenakan Tuhan Yesus Kristus” berarti mengisi pikiran-pikiran kita dengan kebenaran-Nya dan mentaati perintah-perintah-Nya. Semakin penuh kita  mengenakan Kristus, maka semakin penuh pula kemampuan kita untuk bergabung dengan para malaikat pada hari Natal, menyanyikan puji-pujian bagi Dia yang begitu mengasihi dunia dan sudi turun dari surga, menjadi manusia untuk menyelamatkan kita.

Sebuah palungan adalah tempat makan hewan peliharaan. Dengan demikian, pada awal masa Adven ini, lihatlah palungan ini sebagai sebuah simbol dan pengingat: Yesus datang untuk memberi kita makan/minum tubuh dan darah-Nya sehingga “kita dapat mengenakan-Nya”.

Pada hari ini ketika kita menerima komuni ingatlah gua di mana bayi Yesus dilahirkakn. Bayangkan diri saudari/saudara ada di sana bersama-Nya. Lihatlah Dia mengangkat tangan-Nya yang kecil dan memberi hosti kudus kepada anda agar supaya saudari/saudara dapat  dipersatukan dengan Dia.

Pada Masa Adven ini, marilah kita berupaya setiap hari untuk menyediakan waktu istimewa (artinya di samping waktu-waktu doa yang sudah kita tetapkan) selama 10-15 menit saja untuk berada bersama dengan Yesus Kristus dalam doa. Bacaan-bacaan Kitab Suci dalam Misa sepanjang Masa Adven berbicara mengenai kerinduan kita-manusia akan keselamatan dan – malah lebih-lebih lagi – kerinduan Allah untuk menyelamatkan kita-manusia. Perkenankanlah kata-kata dalam Kitab Suci (yang kita percaya sebagai sabda Allah) membenamkan diri dalam hati kita. Marilah juga kita mengundang Roh Kudus untuk menunjukkan dosa-dosa kita serta tindakan-tindakan konkret apa saja yang harus kita lakukan agar mampu mengatasi dosa-dosa itu. Setiap hari, lakukanlah tindakan kasih (tanpa pamrih, tentunya) kepada sesama di sekeliling kita, sebagai ‘tangan-tangan’ Kristus yang bekerja di tengah-tengah dunia. Dengan pertolongan Allah, semua ini akan membebaskan kita agar dapat lebih banyak lagi mengalami kasih Allah.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, kami ingin mendevosikan Masa Adven ini untuk persiapan kedatangan-Mu ke dalam dunia. Tolonglah kami agar dapat ‘terbenam’ dalam kasih-Mu melalui sakramen-sakramen-Mu, doa-doa, pembacaan serta permenungan Kitab Suci, dan laku-tobat kami. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, bantulah kami untuk memandang secara mendalam palungan itu dan melihat setiap pengharapan dan impian dipenuhi dalam diri sang Bayi berbaring di sana. Biarlah kegelapan-kegelapan dosa-dosa kami dikalahkan secara mutlak oleh terang-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil pada hari ini, bacalah tulisan yang berjudul “ANAK MANUSIA AKAN KEMBALI DATANG MENGUNJUNGI KITA” (bacaan tanggal 1-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

Cilandak, 30 November 2019 [Pesta S. Andreas, Rasul]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ANDREAS: SEORANG MURID YOHANES PEMBAPTIS YANG MENJADI SALAH SATU MURID YESUS YANG PERTAMA

ANDREAS: SEORANG MURID YOHANES PEMBAPTIS YANG MENJADI SALAH SATU MURID YESUS YANG PERTAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Andreas, Rasul – Sabtu, 30 November 2019)

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur Danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya dua orang bersaudara yang lain lagi, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu ayahnya, lalu mengikuti Dia. (Mat 4:18-22) 

Bacaan Pertama: Rm 10:9-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Santo Andreas adalah salah seorang murid Yesus yang pertama. Sebagai seorang murid dari Yohanes Pembaptis yang dekat dengan gurunya, Andreas sungguh serius dalam memandang hal-hal yang berhubungan dengan Allah. Pengabdiannya yang sedemikian menunjukkan bahwa untuk waktu yang lama dia barangkali telah memiliki hasrat mendalam untuk mengenal Allah secara pribadi. Kita dapat membayangkan betapa penuh sukacita yang dialami Andreas ketika dia berjumpa dengan Yesus untuk pertama kalinya.

Ketika Yesus menyaksikan Andreas bersama saudaranya – Simon Petrus – menebarkan jala di danau Galilea, Ia mengundang mereka menjadi “penjala manusia”, artinya menarik orang-orang ke dalam kerajaan dengan menggunakan jala Injil (lihat Mat 4:19). Andreas langsung saja menunjukkan ketaatannya, dengan senang hati dia menukar keuntungan materiil dengan ganjaran spiritual. Kisah panggilan Andreas di atas memang agak berbeda dengan penuturan yang terdapat dalam Injil Yohanes, namun perbedaan tersebut tidaklah bersifat hakiki. Injil Yohanes mengungkapkan bahwa Andreas adalah satu dari dua orang murid Yohanes Pembaptis yang mengikut Yesus, menjadi dua orang murid pertama yang menanggapi panggilan Yesus. Kedua murid itu berdiam bersama-sama dengan Yesus pada hari pertama perjumpamaan mereka. Keyakinan Andreas kepada diri Yesus bertumbuh dengan cepat. Hal ini dapat kita rasakan ketika dia bertemu dengan Simon, saudaranya: “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)”, lalu Andreas membawa saudaranya itu kepada Yesus (lihat Yoh 1:35-42). Jadi, kelihatannya Andreas lah yang memperkenalkan Simon Petrus, Yakobus, Yohanes (entah berapa banyak lagi) kepada Yesus.

Pada waktu Yesus memanggil para murid-Nya, Ia memilih orang-orang biasa seperti Andreas, orang-orang yang tidak memiliki kekayaan berlebih, tidak memiliki status, latar belakang pendidikan, apalagi status sosial. Yesus tidak memilih karya-karya mereka atau berbagai karunia atau talenta yang mereka miliki. Yesus memilih hati mereka! Yesus tidak memilih para murid-Nya siapa dan apa mereka dulunya, melainkan akan menjadi apa mereka di bawah pengarahan dan kuasa-Nya. Hal yang sama berlaku untuk kita. Yesus terus memanggil setiap dan masing-masing kita untuk masuk ke dalam suatu relasi yang intim dengan diri-Nya dan Ia mengundang kita untuk ke dalam jalan kekudusan-Nya. Yesus ingin mentransformasikan diri kita melalui kuasa Roh Kudus agar kita dapat meniru Andreas dan orang-orang sepanjang segala masa yang dengan penuh dedikasi mengikuti jejak-Nya. Mereka yang memberikan segalanya demi cintakasih mereka kepada Kristus. Banyak dari orang kudus ini hidup tersembunyi dan sehari-harinya membuat mukjizat-mukjizat lewat cintakasih mereka yang penuh pengorbanan. Yesus mengundang kita untuk menjadi seperti mereka, selagi kita mengikuti-nya semakin dekat dan dekat lagi.

Apakah ada biayanya dalam upaya kita mengikuti jejak Tuhan Yesus? Kalau ada, berapa besar biayanya? Santo Gregorius Agung pernah berkata: “Kerajaan Surga tidak mempunyai tanda harga. Nilai atau harganya adalah sebanyak apa yang anda miliki. Bagi Zakheus harganya adalah separuh dari harta miliknya, karena separuhnya lagi yang telah diperolehnya lewat praktek “haram” yang tidak adil akan diganti olehnya empat kali lipat. Hal ini membuat Zakheus jatuh miskin (dalam hal harta kekayaan). Bagi Simon dan Andreas harganya adalah jala-jala dan perahu yang mereka tinggalkan; bagi si janda miskin dua keping uang tembaga, bagi orang lain mungkin segelas air putih.” Bagaimana dengan kita masing-masing? Mungkin posisi top management, mungkin ejekan,cercaan dan caci-maki dari orang-orang yang mengenal anda.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu yang tanpa batas kepadaku. Penuhilah hatiku dengan rasa syukur dan sukacita karena menjadi murid-Mu. Amin.

Catatan: Untul mendalami bacaan Pertama hari ini (Rm 10:9-18),  bacalah  tulisan yang berjudul “ROH KUDUS TELAH MEMBIMBING ANDREAS KEPADA IMAN YANG HIDUP” (bacaan tanggal 30-11-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2019.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-11-18 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 29 November 2019 [Pesta Semua Orang Kudus Keluarga Besar Fransiskan]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENTINGNYA MEMBACA TANDA-TANDA ZAMAN

PENTINGNYA MEMBACA TANDA-TANDA ZAMAN

(Bacaan Injil Misa,  Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Jumat, 29 November 2019)

Keluarga besar Fransiskan: Pesta Semua Orang Kudus Tarekat

Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka, “Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Orang-orang zaman ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (Luk 21:29-33) 

Bacaan Pertama: Dan 7:2-14; Mazmur Tanggapan: Dan 3:75-81 

Yesus mengatakan kepada para murid-Nya, bahwa sebagaimana pohon ara atau pohon-pohon lainnya yang sudah bertunas menandakan sudah dekatnya musim panas, demikian pula akan ada tanda-tanda yang pasti bahwa kerajaan Allah sudah dekat. Metafora yang digunakan Yesus dipahami dengan baik oleh para pendengar-Nya yang adalah orang-orang Yahudi. Mereka memahami bahwa pohon ara akan berbuah dua kali dalam satu tahun – pada awal musim semi dan pada musim gugur. Kitab Talmud mengatakan bahwa buah pertama dimaksudkan untuk datang pada hari setelah Paskah – saat di mana orang-orang Israel percaya bahwa Mesias akan melayani dalam kerajaan Allah.

Dengan mengajarkan perumpamaan ini, Yesus sebenarnya menjelaskan pentingnya bagi orang-orang untuk membaca “tanda-tanda zaman” seperti para petani harus mendengarkan dan memahami prakiraan cuaca agar berhasil dalam bercocok-tanam, maka kita pun harus mampu untuk mendengar dan mengerti tanda-tanda dari Allah dan karya-karya-Nya dalam kehidupan kita sehingga kita dapat siap untuk kedatangan kerajaan-Nya.

Allah berbicara dengan banyak cara: lewat pembacaan dan permenungan Kitab Suci, lewat ajaran-ajaran Gereja, lewat kata-kata yang diucapkan saudari-saudara Kristiani lainnya, dalam hati kita, bahkan dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia. Akan tetapi, bagaimanakah kiranya kita dapat mengenali suara-Nya di tengah-tengah suara-suara lainnya yang menarik perhatian kita? Rasa percaya (trust) yang didasarkan pada kerendahan hati dan rasa sesal mendalam atas dosa-dosa kita dapat mulai membuka telinga-telinga kita. Mengambil risiko-risiko kecil, senantiasa memohon Roh Kudus agar mengajar kita, semua ini dapat menolong kita bertumbuh dalam keyakinan bahwa Allah tidak ingin meninggalkan kita dalam kegelapan. Jadi, selalu ada kemungkinan bagi kita untuk belajar bagaimana memandang dengan mata iman, mendengarkan dengan telinga-telinga pengharapan, dan memberi tanggapan dengan hati penuh cintakasih.

KKEDATANGANNYA UNTUK KEDUA KALINYA - 4ita tidak mengetahui kapan hari akhir itu akan datang, akan tetapi Yesus mengatakan kepada kita: “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia” (Luk 21:36). Yesus juga memberikan kepada kita tanda-tanda untuk menolong kita agar berjaga-jaga dan dipenuhi hasrat mendalam akan kedatangan kerajaan-Nya. Setiap hari kita dapat menyambut Yesus masuk ke dalam hati kita dan mohon kepada-Nya untuk menunjukkan sedikit lagi rencana-Nya. Allah ingin memenuhi diri kita dengan antisipasi penuh gairah selagi kita menantikan kedatangan-Nya kembali. Marilah kita mendengarkan ketukan-Nya pada pintu hati kita dan menyambut kedatangan kerajaan-Nya dalam kepenuhannya. Peganglah senantiasa kata-kata-Nya: “Perkataan-Ku tidak akan berlalu” (Luk 21:33).

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar mampu mengenali tanda-tanda-Mu hari ini. Apakah yang Kauinginkan untuk kulihat? Bukalah pintu surga, ya Tuhan, agar aku dapat memperoleh pandangan sekilas dari kerajaan-Mu selagi aku berdiri siap untuk menyapa Engkau pada saat kedatangan-Mu kelak. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:29-33), bacalah tulisan berjudul “KETAHUILAH BAHWA KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT” (bacaan tanggal 29-11-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori:  19-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-12-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 November 2019 [Peringatan Wajib S. Yakobus dr Marka, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENDERITAAN UMAT KRISTIANI SEBELUM KEDATANGAN-NYA KEMBALI

PENDERITAAN UMAT KRISTIANI SEBELUM KEDATANGAN-NYA KEMBALI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Kamis, 28 November 2019)

“Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan ketika semua yang telah tertulis akan digenapi. Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesusahan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu.”

“Akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan guncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat.”  (Luk 21:20-28) 

Bacaan Pertama: Dan 6:12-28; Mazmur Tanggapan: Dan 3:68-74

Bacaan Injil pada hari ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama menceritakan kepada kita tentang pengepungan dan kejatuhan kota Yerusalem pada tahun 70. Bagian kedua “meramalkan” kedatangan Anak Manusia pada akhir zaman.

Santo Lukas menulis Injilnya sekitar tahun 75. Penghancuran Yerusalem telah terjadi dan Lukas menceritakannya seperti apa yang telah terjadi sesungguhnya. Akan tetapi, kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya (Parousia) belum terjadi. Lukas menggambarkan hal ini dengan menggunakan bahasa profetis/kenabian yang mendalam. Dari bacaan ini juga jelas bahwa kedatangan Yesus untuk kedua kalinya tidak akan terjadi dalam waktu yang dekat. Umat Kristiani diingatkan bahwa mereka harus menanti, dan sementara mereka menanti mereka pun akan menderita karena penganiayaan-penganiayaan dari pihak-pihak yang anti-Kristiani. Bagaimana pun Yesus sendiri harus melalui Jalan Salib untuk mencapai kemuliaan-Nya. Tentu saja para murid-Nya tidak boleh mengharapkan sesuatu yang lebih ringan.

Iman akan kedatangan Yesus untuk kedua kalinya, iman akan kemenangan final pada akhir zaman, memberikan dukungan kuat kepada umat Kristiani awal, walaupun kedatangan kemenangan ini masih lama. Iman yang sama harus mendukung kita juga. Pengharapan akan kemenangan final ini adalah alasan dasariah untuk menjalani kehidupan Kristiani, untuk setia terhadap panggilan Yesus.

Yesus bersabda, “… bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat” (Luk 21:28). Kata Yunani yang digunakan di sini adalah apolytrosis, artinya suatu “pembelian kembali”. Dalam kasih-Nya, Allah telah membeli kita kembali, umat-Nya.

Nubuatan ini juga diperuntukkan bagi kita semua. Janji Yesus untuk datang kembali berlaku bagi kita juga. Kita telah dibebaskan, ditebus, dibeli kembali. Pengampunan, penyembuhan, keutuhan dan hidup baru dapat menjadi milik kita dalam sakramen-sakramen kasih Allah yang menebus. Bukti dan tanda penebusan yang final adalah kedatangan kembali Yesus dalam kemuliaan.

Dengan demikian, marilah kita bangkit dan mengangkat kepala kita. Kita adalah anak-anak Allah yang telah ditebus. Allah telah mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya. Yang dituntut dari diri kita masing-masing sederhana saja: kita harus tetap setia kepada-Nya!

DOA: Tuhan Yesus, selagi kami menantikan kedatangan-Mu untuk kedua kalinya, kami memuji-muji Engkau untuk pembebasan yang telah Engkau bawa kepada kami dalam Sakramen-sakramen Gereja-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:20-28), bacalah tulisan yang berjudul “KEDATANGAN YESUS UNTUK KEDUA KALINYA” (bacaan tanggal 28-11-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2019.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 26 November 2019 [Peringatan S. Leonardus dr Porto Mauritio, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KALAU KAMU TETAP BERTAHAN, KAMU AKAN MEMPEROLEH KEHIDUPAN [2]

KALAU KAMU TETAP BERTAHAN, KAMU AKAN MEMPEROLEH KEHIDUPAN [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Rabu, 27 November 2019]

Keluarga Fransiskan Conventual: Pesta S. Fransiskus-Antonius Pasani, Imam

Hasil gambar untuk PICTURES OF LUKE 21:12-19

“Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh kehidupan.” (Luk 21:12-19) 

Bacaan Pertama: Dan 5:1-6,13-14,16-17,23-28; Mazmur Tanggapan: Dan 3:62-67 

“Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh kehidupan.(Luk 21:19)

Petikan bacaan Injil di atas adalah sebuah nasihat Yesus yang amat baik bagi kita semua. Kita semua kiranya telah mengalami situasi di mana kesabaran kita sungguh diuji. Misalnya, ketika menyetir mobil di pagi hari menuju tempat kerja, kita dipotong/disalib oleh seorang pengendara sepeda motor sehingga nyaris terjadi tabrakan. Contoh lainnya adalah ketika tingkah laku salah seorang anggota keluarga kita menyebabkan seluruh anggota keluarga terlambat menghadiri Misa Kudus pada suatu Minggu pagi. Tanpa mereka sadari, begitu sering anak-anak sungguh menguji kesabaran para orangtua mereka.

Satu area lagi yang membuat kesabaran kita diuji adalah kelemahan-kelemahan dan kegagalan-kegagalan kita sendiri. Kita kelihatan tidak pernah dapat mengatakan hal yang benar pada saat yang tepat, dlsb. Lagi dan lagi kita membuat resolusi untuk bersikap lebih baik dan santun terhadap seseorang, namun lagi dan lagi kita harus mengakui kegagalan kita. Dosa-dosa yang sama, lagi dan lagi.

Satu tes yang cukup berat atas kesabaran kita – tes yang tidak dapat kita kontrol – adalah penyakit. Bagaimana kita menerima suatu pencobaan sedemikian dari Allah atau tragedi-tragedi lainnya, kematian, berbagai kekecewaan? Kita telah bekerja keras tanpa menghasilkan buah apa pun dari kerja kita. Kita menanam benih-benih, namun curah hujan tidak memadai, bahkan dapat terlalu banyak. Kita bekerja keras di perusahaan dan berharap akan memperoleh promosi jabatan, namun karena sikon yang dihadapi perusahaan, kita harus mengalami PHK. Semua ini adalah tes sesungguhnya atas kesabaran kita. Hal itu tidak merupakan dosa, namun dapat menyeret kita kepada kesalahan-kesalahan seperti kemarahan, kepahitan, menggerutu terhadap Allah, dslb.

Kita juga harus mengingat bahwa menjadi sabar berarti lebih daripada sekadar menanggung sesuatu beban dan bersikap pasif tentang hal itu. Kesabaran adalah kasih (bdk. 1Kor 13:4), dan kasih menuntut tindakan. Hal ini berarti menyapa orang-orang lain dengan “Selamat Pagi” atau “Aku sungguh senang berjumpa lagi dengan kamu” yang keluar dari hati yang tulus, walaupun kita sedang merasa kecewa terhadap orang yang kita sapa karena sesuatu hal.

Marilah kita bayangkan betapa banyaknya konflik dalam sebuah keluarga dapat diselesaikan apabila terdapat kesabaran penuh kasih. Betapa orang-orang di tempat kerja dapat lebih merasa bahagia apabila mereka dapat bekerja bersama dengan sikap sabar satu terhadap lainnya. Betapa lebih bersatu lagi keluarga-keluarga, paroki-paroki dan komunitas-komunitas apabila terdapat keutamaan yang dinamakan kesabaran itu. Tes selanjutnya atas kesabaran kita sudah di ambang pintu. Sudah siapkah kita untuk menghadapinya?

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengingatkan kami bahwa kami harus senantiasa sabar dan penuh ketekunan dalam menghadapi berbagai pencobaan, di mana kesabaran kami diuji. Kami tidak merasa khawatir, ya Tuhan, karena kami percaya bahwa hidup kami berada sepenuhnya di tangan-tangan kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:12-19), bacalah tulisan yang berjudul “KALAU KAMU TETAP BERTEKUN, KAMU AKAN MEMPEROLEH HIDUPMU” (bacaan tanggal 27-11-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 26 November 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TANGGAPAN KITA TERHADAP BERBAGAI NUBUATAN TENTANG AKHIR ZAMAN

TANGGAPAN KITA TERHADAP BERBAGAI NUBUATAN TENTANG AKHIR ZAMAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Selasa, 26 November 2019)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Leonardus de Porto Mauritio, Biarawan

1356353689_nations-at-war

Ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah, betapa bangunan itu dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai-bagai barang persembahan, berkatalah Yesus, “Apa yang kamu lihat di situ – akan datang harinya ketika tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.”

Lalu mereka bertanya kepada Yesus, “Guru, kapan itu akan terjadi? Apa tandanya, kalau itu akan terjadi?” Jawab-Nya, “Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: ‘Akulah Dia,’ dan: ‘Saatnya sudah dekat.’ Janganlah kamu mengikuti mereka. Apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu takut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.”

Ia berkata kepada mereka, “Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang menakutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit. (Luk 21:5-11) 

Bacaan Pertama: Dan 2:31-45; Mazmur Tanggapan: Dan 3:57-61

“Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan.” (Luk 21:10)

Bagaimana kita memberi tanggapan terhadap peringatan-peringatan profetis tentang akhir zaman? Apakah peringatan-peringatan itu menimbulkan rasa takut, kecemasan, atau pengharapan dalam diri kita? Orang-orang dalam setiap zaman sedikit-banyak memiliki semacam perasaan yang terkadang “mengganggu”, apakah achir zaman akan terjadi pada masa hidupnya, khususnya pada saat-saat mereka mengalami peristiwa seperti bencana alam yang sangat mengerikan.

Wabah “Maut Hitam” yang telah membunuh sepertiga penduduk benua Eropa di abad ke-14 dan gempa bumi dahsyat di California yang terjadi di awal abad ke-20 adalah beberapa contoh. Seorang biarawati Amerika turunan Vietnam yang pada tahun 2011 menginap di rumah kami menceritakan betapa dahsyat bencana yang dialaminya di New Orleans ketika badai Katharina mengamuk di sana. Rumah-rumah dalam sekejab saja dihanyutkan dst. Amerika Serikat yang sangat canggih dalam teknologi dan manajemen pencegahan dan penanggulangan bencana alam seakan tak berdaya menghadapi dahsyatnya alam.

Berbagai peperangan dan skala besar maupun kecil masih berlangsung sampai hari ini.

Saudaraku dan kawan sekamarku, seorang Fransiskan sekular dari Rwandha, pada waktu kapitel umum OFS di Brazil pada tahun 2011, bercerita bagaimana saling bunuh antara suku Hutu dan Tutsi berlangsung beberapa tahun silam di negerinya, dan ia adalah “basteran” hasil nikah ayah Hutu dan ibu Tutsi. Orang-orang seperti dia harus lari ke sana ke mari bersama keluarganya karena tidak diterima oleh dua suku yang sedang bertarung itu. Genosida yang terjadi di negara kecil itu memakan korban lebih dari satu juta jiwa orang. Dan menurut dia, ceritanya belum selesai sampai pada malam hari kami berdiskusi di Brazil itu. Hal-hal seperti ini menambah rasa takut dan kekhawatiran kita, apalagi ditambah oleh adanya berbagai ancaman terorisme yang berlatar belakang agama dan ancaman perang nuklir yang menghancurkan.

Sebagai umat Kristiani, kita tidak boleh sampai membiarkan rasa takut menguasai diri kita. Rasa takut dan kekhawatiran berlebihan hanya akan mengakibatkan iman mandul. Mereka yang mengenal kasih Bapa surgawi mengetahui dengan pasti bahwa Dia menginginkan semua orang diselamatkan – sehingga karena kasih-Nya itu Dia mengaruniakan Putera-Nya yang tunggal – Yesus Kristus – untuk menyelamatkan dunia (lihat Yoh 3:16). Oleh karena itu kita harus memandang segala bencana alam, bencana yang disebabkan oleh peperangan dlsb. sebagai kesempatan-kesempatan untuk membangunkan kita agar menjadi sadar, keluar dari comfort zone kita masing-masing dan turut ambil bagian dalam memenuhi kebutuhan dunia di sekeliling kita, kebutuhan akan makan-minum, kebutuhan untuk didengarkan, kebutuhan akan damai-sejahtera dalam keluarga dan lingkungan masyarakat.

Marilah kita memperkenankan “tanda-tanda zaman” mendorong kita kepada hidup pertobatan dan doa pengantaraan (syafaat) bagi orang-orang lain. “Kita harus senantiasa siap-siaga menantikan kedatangan kembali Yesus.” Apakah akhir zaman itu terjadi pada esok hari atau seribu tahun yang akan datang, disposisi hati kita selalu harus sama. Pada suatu hari, ketika Santo Fransiskus dari Assisi sedang bekerja merawat kebunnya, ada orang yang bertanya kepadanya apakah yang akan dilakukannya apabila hari akhir itu tiba. Orang kudus ini begitu yakin akan persiapan yang selama ini dikerjakannya dan dia juga sangat yakin akan kerahiman Allah. Maka, dengan sederhana dia menjawab bahwa dia akan melanjutkan pekerjaannya memotong rumput di kebunnya. Keyakinan seperti itu juga dapat menjadi keyakinan kita!

Yesus pasti akan datang kembali dalam kemuliaan-Nya. Kita memang tidak akan mengetahui kapan Ia akan datang kembali, namun kita mengetahui dari Kitab Suci bahwa pengadilan-Nya yang terakhir akan sangat keras atas orang-orang yang tidak mau bertobat dan pada saat yang sama penuh belas kasihan atas orang-orang yang telah bertobat. Melalui Ekaristi dan Sakramen Rekonsiliasi, baiklah kita memperkenankan darah Yesus membersihkan diri kita, mendoakan keluarga kita, teman-teman kita, kota tempat kita tinggal dan bahkan seluruh dunia. Kita tidak usah merasa takut! Sementara kita semakin dekat dengan Yesus – teristimewa pada masa-masa sulit – kita dapat menjadi duta-duta-Nya ke tengah dunia, memperkenalkan dan menawarkan keyakinan sama yang mengisi hati kita.

DOA: Bapa surgawi, aku menyesal, bertobat dan mohon ampun atas dosa-dosaku dan dosa-dosa orang-orang di sekelilingku. Dalam nama Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, datangkanlah kesembuhan, bimbingan dan pengarahan bagi kehidupan kami, sehingga kami semua dapat sungguh siap-siaga dalam menyambut kedatangan-Nya kembali kelak. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:5-11), bacalah tulisan berjudul “MENANTIKAN KEDATANGAN KEMBALI YESUS KRISTUS DENGAN PENUH KESIAPSIAGAAN” (bacaan untuk tanggal 26-11-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-11-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 25 November 2019

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERKAT DARI KEMISKINAN

BERKAT DARI KEMISKINAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Senin, 25 November 2019)

Peringatan Fakultatif S. Katarina dr Aleksandria, Perawan Martir

OSF Sibolga: Pesta Beata Elisabet dr Reute, Pelindung Kongregasi  Perawan

Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua uang tembaga, ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan seluruh nafkah yang dimilikinya.” (Luk 21:1-4) 

Bacaan Pertama: Dan 1:1-6,8-20; Mazmur Tanggapan: Dan 3:52-56 

Dalam bacaan Injil hari ini, lagi-lagi kita melihat berkat dari kemiskinan dan kutuk atas kekayaan. Janda yang miskin itu sungguh mengasihi Allah karena dia memberikan kepada Allah segala yang dimilikinya. Akan tetapi, orang-orang kaya yang memberi persembahan dari kelimpahan mereka tidak memahami apa artinya cinta-kasih.

Siapa saja yang berurusan dengan pemberian “sedekah” untuk tujuan karitatif dapat menceritakan kepada anda tentang adanya paradoks yang “aneh” dalam hal pemberian berdasarkan kehendak bebas manusia. Berbagai angka statistik gerejawi di dunia Barat menunjukkan bahwa yang memberi paling banyak sumbangan bagi Gereja dan/atau untuk kegiatan-kegiatan karitatif lainnya bukanlah orang-orang kaya, melainkan mereka yang dikategorikan sebagai orang-orang kecil-miskin. Ternyata justru mereka yang miskinlah yang mempunyai share yang jauh lebih besar. Tentu saja ada kekecualian, namun siapa saja yang berpengalaman dalam hal ini akan mengatakan bahwa orang-orang miskin dan berkekurangan-lah yang memberikan dengan kemurahan-hati. Hal ini ternyata belum pernah berubah sejak Yesus mengamati kemurahan-hati sang janda miskin di Bait Suci. Bukankah hal ini merupakan alasan yang jelas mengapa terjadi kesenjangan yang besar antara orang kaya dan miskin di seluruh dunia? Seandainya orang-orang kaya memiliki kasih yang proporsional dengan kemurahan-hati begitu banyak saudari-saudara mereka yang miskin, maka kita dapat membayangkan betapa banyaknya penderitaan manusia dapat teratasi.

Dengan demikian, tidak mengherankanlah kalau kita membaca dalam Injil, bahwasanya Yesus begitu sering berbicara dengan kata-kata yang keras tentang bahayanya kekayaan. Dan juga tidak mengherankanlah jika Yesus selalu menunjukkan preferensinya pada orang-orang miskin. Ini pun bukan merupakan sesuatu hal yang baru. Dalam Perjanjian Lama, Allah menunjukkan kasih-Nya yang istimewa bagi orang-orang miskin, mereka yang terbuang, yang menderita, yang membutuhkan. Cerita besar tentang “pembebasan orang-orang Israel dari perbudakan di Mesir” (Keluaran/Exodus) adalah cerita mengenai belas kasih Allah dan kebaikan hati-Nya bagi orang yang ditindas dan diperbudak. Kitab Mazmur merupakan testimoni tentang kasih Allah bagi orang-orang miskin, mereka yang dilupakan, orang yang tidak dipedulikan oleh siapa pun. Jadi, “preferential option for the poor” sebenarnya bukanlah barang baru yang diciptakan oleh Gereja abad ke-20 karena sudah merupakan warisan bagi kita dari Allah sendiri.

Yesus sendiri memilih hidup dalam kemiskinan. Allah memilih Maria yang miskin dan rendah hati sebagai Ibu bagi Yesus. Santo Fransiskus dari Assisi mengajarkan kepada para pengikut rohaninya, bahwa setiap kali mereka melihat orang miskin, mereka sebenarnya melihat Yesus dan Maria yang hidup miskin. Yesus memilih para rasul-Nya dan murid-Nya dari tengah-tengah orang miskin. Mayoritas dari para sahabat-Nya dan pengikut-Nya adalah orang-orang miskin, dan banyak dari para murid-Nya yang kaya membuat diri mereka miskin, agar dapat meniru perikehidupan sang Guru.

DOA: Roh Kudus Allah, selidikilah hatiku dan bentuklah aku agar menjadi seorang pribadi yang mau dan mampu menghayati hidup kemiskinan sejati seperti dicontohkan oleh Yesus Kristus, Guru, Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:1-4), bacalah tulisan yang berjudul “PERSEMBAHAN YANG BENAR DI MATA ALLAH” (bacaan tanggal 25-11-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-11-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 November 2019 [Peringatan Wajib SP Maria Dipersembahkan kepada Allah] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS