MARILAH MENINJAU KEMBALI HIDUP PERTOBATAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Sabtu, 26 Oktober 2019)

Image result for IMAGES OF LUKE 13:1-5

Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampur Pilatus dengan darah kurban yang mereka persembahkan. Yesus berkata kepada mereka, “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya daripada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? “Tidak!”, kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian. Atau sangkamu kedelapan belas orang yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya daripada kesalahan semua orang lain yang tinggal di Yerusalem? “Tidak”, kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian.”

Kemudian Yesus menyampaikan perumpamaan ini, “Seseorang mempunyai pohon ara yang ditanam di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Lihatlah, sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan sia-sia! Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!” (Luk 13:1-9) 

Bacaan Pertama: Rm 8:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6 

Dalam bagian pertama bacaan Injil hari ini (Luk 13:1-5) tercatatlah dua peristiwa. Yang pertama adalah sebuah peristiwa berdasarkan kehendak seorang pribadi manusia yang bernama Pilatus. Orang yang satu ini memang seorang manusia yang brutal-kejam dan hal ini diteguhkan oleh tulisan-tulisan sejarawan Yosefus. Gubernur Romawi ini telah menghancurkan sebuah pemberontakan orang-orang Zelot dari Galilea yang bertujuan menumbangkan pemerintahan yang berkuasa. Penindasan politis memang terjadi sepanjang sejarah umat manusia di mana-mana, dan kali ini terjadi di Yerusalem. Peristiwa yang kedua sepenuhnya merupakan kecelakaan: sebuah menara runtuh di Yerusalem.

Setiap peristiwa dapat membawa pesan bagi kita. Sebuah “pesan”, apabila kita tahu bagaimana membacanya dengan/dalam iman. Penderitaan sakit ini, kegagalan itu, sukses ini, masa “sunyi-sepi sendiri” itu, persahabatan itu, tanggung jawab ini, musibah itu, anak itu yang memberikan kepadaku sukacita atau anak ini yang membuatku senantiasa merasa khawatir-cemas, sikap dan perilaku istriku, suamiku, dll. – semua ini sesungguhnya merupakan tanda-tanda. Apakah yang Allah ingin beritahukan kepada kita melalui tanda-tanda ini? Apakah tanda yang ingin disampaikan oleh dua peristiwa itu?

Setelah berbicara mengenai dosa manusia berkaitan dengan dua peristiwa itu, dua kali Yesus berkata, “Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian” (Luk 13:3,5). Pada zaman Yesus – bahkan sampai pada hari ini – korban-korban suatu peristiwa yang menyedihkan dipandang sebagai hukuman atas dosa-dosa mereka. Ini adalah jalan mudah untuk membenarkan diri, dan membuat diri seseorang sebagai pribadi yang memiliki “nurani yang baik”. Namun penafsiran Yesus berbeda: segala musibah, bencana dan peristiwa-peristiwa yang tidak membahagiakan bukanlah hukuman dari Allah. Dalam hal ini Yesus bersikap tegas tanpa ragu sedikit pun.

Pada hakikatnya semua musibah dan sejenisnya itu adalah suatu undangan yang diperuntukkan bagi semua orang untuk bertobat. Semua kejahatan yang menimpa diri kita dan sesama kita adalah tanda-tanda kelemahan kita sebagai manusia. Kita tidak boleh menjadi mangsa dari “rasa aman yang keliru”. Seperti peziarah-peziarah, di atas bumi ini kita semua sedang melakukan perjalanan ziarah menuju rumah Bapa, tujuan akhir kita. Oleh karena itu kita harus mengambil posisi yang tegas, tidak plintat-plintut. Peninjauan kembali atas peristiwa-peristiwa dalam kehidupan kita tidak boleh menggiring kita untuk malah menghakimi orang-orang lain (hal sedemikian terlalu mudah untuk kita lakukan), melainkan untuk melakukan pertobatan pribadi.

Kemudian Yesus menceritakan “perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah” (Luk 13:6-9). Dalam perumpamaan ini, seseorang mempunyai pohon ara yang ditanam di kebun anggurnya dan ia datang ke kebunnya untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi tidak menemukannya. Pemilik kebun itu berkata kepada pengurus kebun anggur itu: “Lihatlah, sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan sia-sia! (Luk 13: 7). Sekali lagi, di sini Yesus berbicara mengenai suatu kebutuhan mendesak … Marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: “Apakah aku ini sebatang pohon ara yang “steril”, mandul – tidak berbuah – bagi Allahku … dan bagi sesamaku?

Menanggapi perintah si pemilik kebun anggur, si pengurus kebun berkata: “Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!” (Luk 13:8). Ini adalah unsur paling penting dalam menafsirkan tanda-tanda zaman, yaitu “kesabaran Allah”! Bagaimana pun perlunya bagi kita untuk tidak kehilangan sesaat pun bagi pertobatan kita, kita tetap harus memiliki kesabaran yang besar terhadap orang-orang lain, juga dalam melakukan doa syafaat bagi mereka.

Kita selalu cenderung untuk menghakimi orang-orang lain dengan cepat, mengorbankan mereka tanpa pikir-pikir panjang lagi. Namun demikian, Yesus memberikan kepada kita sebuah contoh: Ia mencangkul tanah di sekeliling pohon ara yang tidak berbuah, memberikannya pupuk. Ini adalah sebuah tanda dari sikap Allah terhadap kita … Ini adalah sikap Yesus terhadap diriku pada HARI INI … “Jika tidak, tebanglah dia!” “Satu tahun lagi” bagiku untuk berbuah! Akhir zaman sudah dekat … sudah dimulai …

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Biarkanlah aku menggunakan dengan baik waktu yang Kauberikan kepadaku. Terima kasih, ya Tuhan Yesus, Engkau memberikan Roh Kudus untuk menuntun diriku dalam hidup pertobatan ini. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 13:1-9), bacalah tulisan yang berjudul “JIKALAU KAMU TIDAK BERTOBAT” (bacaan tanggal 26-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-10-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 Oktober 2019 [Peringatan Fakultatif S. Yohanes dr Kapestrano, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS