KEMUNAFIKAN ITU BAGAIKAN SEBILAH PISAU BERMATA DUA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Ignatius dr Antiokhia – Kamis, 17 Oktober 2019)

Celakalah kamu, sebab kamu membangun makam nabi-nabi, padahal nenek moyangmu telah membunuh mereka. Dengan demikian, kamu mengaku bahwa kamu membenarkan perbuatan-perbuatan nenek moyangmu, sebab mereka telah membunuh nabi-nabi itu dan kamu membangun makamnya. Karena itu, hikmat Allah berkata: Aku akan mengutus kepada mereka nabi-nabi dan rasul-rasul dan sebagian dari antara nabi-nabi dan rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya, supaya dari orang-orang zaman ini dituntut darah semua nabi yang telah tertumpah sejak dunia dijadikan, mulai dari darah Habel sampai kepada darah Zakharia yang dibunuh di antara mezbah dan Rumah Allah. Bahkan, Aku berkata kepadamu: Semuanya itu akan dituntut dari orang-orang zaman ini. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi.”

Setelah Yesus berangkat dari tempat itu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus-menerus mengintai dan membanjiri-Nya dengan berbagai pertanyaan. Mereka berusaha menjebak-Nya, supaya mereka dapat menangkap-Nya berdasarkan sesuatu yang diucapkan-Nya. (Luk 11:47-54) 

Bacaan Pertama Rm 3:21-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 130:1-6 

Yesus menuduh orang orang Farisi “telah mengambil kunci pengetahuan” (Luk 11:52). Yesus tidak hanya meyakinkan mereka bahwa mereka sendiri belum masuk ke dalam pengetahuan dan hikmat itu sendiri, namun ajaran mereka telah menghalang-halangi orang lain untuk mengenal kebenaran.

Orang-orang muda dengan cepat dapat mendeteksi adanya kemunafikan dalam diri para orangtua mereka. “Ayahku terus saja melarang-larang aku merokok padahal aku tahu pasti bahwa beliau pun merokok, walaupun secara diam-diam dan sekali-kali saja.” Ada juga yang mengatakan, “Generasi yang lebih tua sungguh tidak memahami kita. Namun aku yakin sekali bahwa mereka tidak lebih baik daripada kita pada waktu mereka cukup muda untuk menikmati hidup ini.”

“Mereka seharusnya tidak marah-marah kepadaku dengan berteriak-teriak seperti itu. Lihatlah kekacau-balauan dunia yang dibuat oleh ulah generasi mereka.” “Mereka terus saja berkhotbah betapa buruknya minuman keras itu, namun setiap kali mereka pulang ke rumah aku dapat mencium bau napas mereka, …… penuh aroma miras.”

Apakah protes-protes ini, keluhan-keluhan ini, sama tuanya dengan sejarah umat manusia? Kita bisa saja bertanya-tanya kepada diri kita sendiri. Setiap generasi baru kaum muda bangkit untuk menuduh kemunafikan generasi yang lebih tua, untuk menuduh masyarakat karena berbagai kejahatan yang dilakukan dalam dunia, dst. – namun tidak ada satu generasi pun yang kelihatan berhasil menuntaskan upaya perbaikan atas “kekeliruan-kekeliruan” yang dibuat di masa lampau oleh mereka yang mendahului. Bayangkanlah bagaimana generasi mendatang (sekarang masih anak-anak kecil) di Indonesia tercinta ini akan memaki-maki generasi di atas mereka yang telah menggiring negeri ini menuju keterpurukan dan harus memikul beban utang negara yang begitu fantastis jumlahnya. Juga bagaimana kekayaan negara berupa berbagai sumber daya alam yang konon berlimpah-ruah sudah menjadi sedemikian menyusut, sebagian besar disebabkan kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh para “pemimpin” yang terdiri dari pribadi-pribadi serakah dan tamak, yang lebih memilih kenyamanan diri mereka daripada kepentingan/kesejahteraan umum. Sekarang, pertanyaannya adalah apakah yang telah kita lakukan berkaitan dengan keluhan-keluhan kita sendiri?

Orang-orang Farisi selama berabad-abad mencoba untuk memecahkan masalah pelik seperti ini dengan melipat-gandakan jumlah hukum/peraturan. Berbagai hukum/ peraturan itu dapat menjadi “benteng kebenaran” yang dengan bebas dapat didengung-dengungkan oleh para pemuka agama setiap saat mereka berkhotbah seturut kebutuhan audiensi yang ada. Berbagai hukum/peraturan ini juga ditaati oleh orang-orang yang “saleh-lugu”, pokoknya mematuhi semua hukum/peraturan yang tersurat (belum tentu yang tersirat). Berbagai hukum/peraturan itu juga dengan mudah dapat diabaikan oleh sebagian lagi orang, yang akan bersikap dan berperilaku seturut “sikon” yang ada.

Kemunafikan itu bagaikan sebilah pisau yang bermata dua. Kita menggunakannya dalam melawan orang-orang lain untuk menutup-nutupi kesalahan-kesalahan atau kegagalan-kegagalan kita sendiri. Mengapa koq selalu begitu mudahnya bagi kita untuk melihat kemunafikan dalam diri orang-orang lain, tetapi tidak dalam diri kita sendiri? Memang kelihatannya seakan-akan tidak ada jalan keluar dari “lingkaran setan”, kecuali jalan kejujuran yang bersifat terbuka.

Sekali peristiwa di dekat pintu gerbang Yerikho, Yesus bertanya kepada seorang buta yang bernama Bartimeus, apakah yang dikehendaki orang buta itu untuk dilakukan Yesus atas dirinya. Bartimeus menjawab dengan jujur penuh keterbukaan, “Rabuni, aku ingin dapat melihat!” (Mrk 10:51). Permohonan atau doa Bartimeus ini adalah sebuah doa yang dibutuhkan oleh kita semua. Kita membutuhkan kejujuran, agar Yesus Kristus  dapat melihat siapa diri kita sebenarnya. Kemunafikan tidak pernah dapat dikalahkan, kecuali kalau kita masing-masing mau belajar untuk mengalahkan kemunafikan kita sendiri. Tidak ada seorang pun yang dapat melakukannya untuk Saudari-Saudara!

DOA:  Tuhan Yesus, bebaskanlah diriku dari pengucapan kata-kata yang mengandung kebencian, dan jagalah aku jangan sampai ketidakbenaran membutakan jalanku. Jagalah agar aku tidak terlibat dalam rancangan-rancangan jahat terhadap orang lain dan buatlah diriku semakin kudus dari hari ke hari. Perkenankanlah aku berdiam di dekat hadirat-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:47-54), bacalah tulisan yang berjudul “SERUAN CELAKA YANG DITUJUKAN KEPADA ORANG-ORANG FARISI” (bacaan tanggal 17-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Oktober 2019 [Peringatan Wajib S. Teresia dr Yesus, Perawan Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS