BERSIMPUH DI DEKAT KAKI YESUS

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Selasa, 8 Oktober 2019)

2013_LT-Martha

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah desa. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedangkan Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata, “Tuhan, tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Tetapi Tuhan menjawabnya, “Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil dari dia.” (Luk 10:38-42) 

Bacaan Pertama: Yun 3:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 130:1-4,7-8 

MARIA DAN MARTHA - 3Adakah yang lebih baik daripada bersimpuh di dekat kaki Yesus? Namun demikian, walaupun kepada kita diberikan kesempatan indah sedemikian setiap hari, begitu mudahnya kita membiarkan diri kita menjadi begitu disibukkan dengan urusan tetek-bengek sehari-hari, sehingga tidak ada waktu yang tersedia untuk berada bersama Yesus dalam keheningan. Berapa banyak dari kita yang bersikap dan berperilaku seperti Marta?  Kita melihat semua hal yang harus dilakukan dan diselesaikan pada suatu hari tertentu, namun pada hari itu kita sebenarnya kehilangan kesempatan untuk menerima rahmat dari Yesus.

Lama juga Yesus menanti-nanti untuk memberikan rahmat-Nya kepada kita. Namun Ia memberikan rahmat-Nya hanya apabila kita datang kepada-Nya dan duduk dalam keheningan dihadapan hadirat-Nya. Hal ini bukan berarti bahwa kita harus mengabaikan kebutuhan orang-orang lain atau tidak peduli pada tanggung-jawab kita berkaitan dengan dunia di sekeliling kita. Hal utama yang harus dilakukan adalah menjaga prioritas kita agar tetap ditaati dan tidak memperkenankan adanya hal lain yang menghadang jalan kepada kasih kita yang pertama, yaitu Yesus.

Kita semua dapat belajar dari ketekunan Maria. Begitu banyak hal yang dapat membuatnya keluar dari saat-saat istimewanya dengan Yesus. Kelihatannya Marta mengetahui segala sesuatu yang perlu dilakukan dalam rumah tangga mereka. Akan tetapi Maria memiliki rasa lapar dan haus untuk mengenal Tuhan dan dia memilih untuk membuat Tuhan sebagai prioritas tertinggi. Semakin kita merasa lapar dan haus akan Tuhan, maka semakin banyak pula kita mengesampingkan berbagai distraksi (pelanturan) yang menghalangi kita untuk berada bersama-Nya.

MARIA DAN MARTA - 001Apakah kita (anda dan saya) merasa tidak mempunyai waktu untuk berdoa? Marilah kita memeriksa kembali prioritas-prioritas kita dan melihat apakah ada hal-hal yang perlu diperbaiki. Apabila telepon berdering ketika kita sedang berdoa, maka sepatutnyalah kita  tidak menjawabnya. Kita tentu dapat meminta kepada orang-orang yang tinggal di dalam rumah kita untuk membantu menjaga saat-saat hening kita dengan Tuhan. Apabila pikiran kita dipenuhi dengan begitu banyak distraksi, maka kita dapat membuat catatan perihal distraksi-distraksi tersebut, lalu kita langsung menyingkirkan catatan kita itu. Jikalau datang pemikiran dalam kepala kita bahwa “berdoa” atau “tidak berdoa” sama saja, maka baiklah kita membaca apa yang tercatat dalam Kitab Suci perihal doa, misalnya dari Luk 11:1-13 dan banyak lagi. Kita dapat menggunakan bacaan-bacaan Kitab Suci guna menyemangati dan mendorong serta mengisi diri kita dengan pengharapan.

Maria dari Betania adalah salah seorang contoh penting dalam Kitab Suci kalau kita berbicara mengenai masalah doa-berdoa. Oleh karena itu, baiklah kita memohon kepada Tuhan untuk memberikan kepada kita masing-masing sebuah hati dan ketetapan hati seperti yang dimiliki Maria, saudara perempuan dari Marta dan Lazarus dari Betania.

DOA: Bapa surgawi, oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu buatlah diriku seperti hamba-Mu, Maria dari Betania. Tolonglah aku untuk menghargai setiap menit dari waktuku bersama Engkau. Berikanlah kepadaku sebuah hati yang sangat menginginkan duduk dalam keheningan di hadapan-Mu, mendengarkan Engkau dalam doa, dan berterima kasih penuh syukur untuk karunia-karunia indah yang telah Kauberikan kepadaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:38-42), bacalah tulisan yang berjudul “APAKAH YANG DAPAT KITA PELAJARI DARI EPISODE SINGKAT YANG MENYANGKUT YESUS, MARTA DAN MARIA DI BETANIA?” (bacaan tanggal 8-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategrori: 19-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-10-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 6 Oktober 2019 [HARI MINGGU BIASA XXVII – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS