ADA MALAIKAT MEREKA DI SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Para Malaikat Pelindung – Rabu, 2 Oktober 2019)

Image result for images of a child with her guardian angel

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka dan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”  Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu; Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga. Karena Anak Manusia datang untuk menyelamatkan yang hilang.” (Mat 18:1-5,10)

Bacaan Pertama: Kel 23:20-23a; Mazmur Tanggapan: Mzm 91:1-6,10-11

Selama melakukan pelayanan di depan publik sekitar tiga tahun itu Yesus membuat jelas kepada semua pihak, bahwa Allah mengasihi anak-anak dan memegang teguh komitmen-Nya berkaitan dengan perlindungan dan pertumbuhan mereka. Namun adalah kenyataan yang tak dapat dipungkiri, bahwa dunia telah merampas anak-anak dari innocence dan kemurnian mereka. Kita dapat melihatnya dalam film layar lebar maupun di layar televisi, di toko-toko yang menjual mainan anak-anak dan di jalan-jalan kota besar. Di seluruh dunia anak-anak dieksploitasi, dilecehkan secara seksual, dijadikan korban KDRT, dlsb.

Sedikit saja memikirkan bagaimana caranya anak-anak dilecehkan sudah menimbulkan kemuakan dalam diri kita, malah rasa benci terhadap para pelaku yang bertanggung jawab atas pelecehan tersebut; struktur-struktur dalam masyarakat yang dipenuhi kedosaan dan para orang tua yang tidak bertanggung jawab. Di lain pihak kita dapat melihat semua dengan hati seperti hati Yesus sendiri yang dipenuhi belas kasih dan pengampunan. Kita dapat melakukan tindakan-tindakan yang membawa damai sejahtera ke dalam situasi yang sedang dihadapi. Kalau tidak dimungkinkan bagi kita, maka paling sedikit kita dapat berdoa agar masalah-masalah yang ada dapat teratasi. Satu hal yang jelas: Dunia sudah dipenuhi dengan adegan saling mendakwa yang tidak memecahkan masalah samasekali, dengan demikian janganlah kita menambah satu lagi sehingga menambah rumit segala kompleksitas masalah yang sudah ada. Dapatkah anda bayangkan betapa besar kemerdekaan akan hadir dalam keluarga-keluarga apabila dikelilingi dengan bela rasa yang diungkapkan dalam doa-doa dan pengampunan? Apakah anda percaya bahwa doa-doamu dapat mendatangkan suasana penuh damai dalam keluarga-keluarga? Tentu saja dapat! Malah harus! Kita semua adalah anak-anak Allah, dan warisan yang kita terima dari Allah itu sungguh hebat.

Bagi para orangtua, cara terbaik untuk menjaga innocence anak-anak kita adalah dengan memberikan teladan yang baik. Oleh karena itu kita dapat berdoa setiap hari agar diperbaharui dalam Roh, sehingga kita masing-masing dapat menjadi sederhana bagaikan anak-anak kecil dan bersedia menjadi yang paling kecil dan pelayan/hamba dari semua. Dengan pertolongan Allah kita dapat menjadi teladan baik bagi anak-anak kita, bukan hanya dalam bagaimana mereka menjadi orang-orang dewasa yang matang kelak, melainkan juga bagaimana menjadi anak-anak yang taat, yang percaya dan menggantungkan diri kepada Allah Bapa untuk segala kebutuhan mereka.

Bagi kita semua, baiklah kita berdoa untuk menjadi guru-guru yang baik-efektif, penuh kebaikan hati dan kesabaran terhadap anak-anak, dalam kapasitas apa pun kita berhubungan dengan mereka, misalnya sebagai orang tua, guru, dlsb. Inilah warisan kita sebagai umat Allah. Kitab Amsal yang memuat 31 (tiga puluh satu) bab, hanya 3 (tiga) kali saja menyebutkan pendisiplinan secara fisik. Sebagian besar isi kitab itu memuat instruksi di mana orang tua dengan penuh kasih berusaha untuk berkomunikasi dengan seorang anak perlihal cara-cara orang bijak. Sekarang, apakah kita berfungsi sebagai orang tua, guru sekolah, imam, atau tetangga, tugas kita adalah untuk menghayati kehidupan yang selalu benar seperti diungkapkan oleh sabda Allah – dan kemudian mengajarkannya dengan lemah lembut kepada anak-anak dalam kehidupan kita.

DOA: Bapa surgawi, kami berterima kasih kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Putera-Mu untuk memimpin kami semua, Roh Kudus-Mu untuk membimbing kami – dan para malaikat untuk menjaga kami. Berikanlah  rahmat kepada-Mu agar dapat membawa kepada-Mu semua anak-anak yang telah Kaupercayakan kepada kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:1-5.10). bacalah tulisan yang berjudul “MALAIKAT PELINDUNG DISEDIAKAN ALLAH UNTUK MEMBANTU KITA DALAM PERTEMPURAN ROHANI” (bacaan tanggal 2-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-10-18 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 30 September 2019 [Peringatan Wajib S. Hieronimus, Imam & Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS