Archive for September, 2019

MENDENGARKAN FIRMAN ALLAH DAN MELAKUKANNYA

MENDENGARKAN FIRMAN ALLAH DAN MELAKUKANNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Selasa, 24 September 2019)

Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mendekati Dia karena orang banyak. Orang memberitahukan kepada-Nya, “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.” Tetapi Ia menjawab mereka, “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (Luk 8:19-21) 

Bacaan Pertama: Ezr 6:7-8,12b,14-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-5

“Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (Luk 8:21)

Sabda Yesus ini sungguh terdengar “keras”! Apakah Yesus sedang mencoba untuk meminimalisir ruang bagi keluarga-Nya di dalam hati-Nya? Samasekali tidak! Ia menawarkan kepada kita semua kata-kata penuh kuasa berkaitan dengan janji dan pemberian dorongan serta semangat. Kita semua dapat menjadi ibu, saudari, atau saudara bagi Yesus, para pembawa keserupaan keluarga. Kita semua dapat menjadi pelayan/hamba yang sederhana dan rendah hati seperti Maria selagi kita berdoa, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Doa ini dapat kita ucapkan pada setiap tingkat kehidupan kita.

Transformasi kita ke dalam keluarga Yesus dimulai pada saat kita dibaptis dan bertumbuh selagi kita mendengar sabda Allah melalui doa dan pembacaan serta permenungan sabda-Nya dalam Kitab Suci – namun tidak berakhir di situ. Sementara kita mulai memahami panggilan kita dan peranan kita dalam Kerajaan Allah, maka kita harus mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melaksanakan/melakukan sabda Allah itu. Kita harus pergi ke tengah-tengah dunia untuk melayani, mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus, dan berdoa bersama orang-orang lain. Doa kontemplatif itu memang penuh kuat-kuasa dan merupakan bagian hakiki dari perjalanan kita dengan Allah, namun doa kontemplatif sendiri tidaklah cukup. Kontemplasi kita harus menghasilkan buah dalam rupa tindakan-tindakan kita dan cara kita bergerak di tengah dunia ini.

Yesus mengatakan kepada kita bahwa Dia akan menghakimi apakah kita milik-Nya atau bukan, tidak hanya dengan melihat kualitas dan jumlah doa-doa kita, melainkan juga dengan tindakan-tindakan nyata yang kita lakukan karena cintakasih dan ketaatan terhadap sabda-Nya (Mat 25:31-46). Yakobus menggemakan kebenaran yang sama ketika dia menulis, “Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata, ‘Selamat jalan, kenakanlah pakaian hangat dan makanlah sampai kenyang!’, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya mati” (Yak 2:15-17).

Cintakasih kita kepada Yesus, yang dipupuk melalui doa dan perhatian pada sabda-Nya, akan berkembang dan berwujud dalam tindakan-tindakan nyata ketika kita pergi ke tengah dunia untuk berjumpa dengan orang-orang lain. Ini adalah suatu bagian yang hakiki untuk menjadi seorang anggota keluarga Kristus. Bilamana kita melihat seseorang yang sedang sakit atau susah, marilah kita menawarkan diri kepadanya apakah kita dapat berdoa bersamanya. Apabila kita berbicara dengan kawan sekelas atau kerabat kerja yang sedang kebingungan, maka patutlah kita men-sharing-kan terang Injil dengannya. O, kuat-kuasa Roh Kudus dapat bekerja melalui diri kita secara dahsyat. Kita tidak pernah boleh lupa bahwa kita merupakan bagian dari keluarga Allah.

DOA: Tuhan Yesus, berdayakanlah diriku agar dapat menjadi perpanjangan tangan-Mu, mata-Mu dan suara-Mu di tengah dunia ini. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 8:19-21), bacalah tulisan yang berjudul “MENANGGAPI FIRMAN ALLAH DENGAN MENGATAKAN YA” (bacaan tanggal 24-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-9-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 September 2018 [HARI MINGGU BIASA XXV – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SETIAP RAHASIA KERAJAAN ALLAH PADA AKHIRNYA AKAN DINYATAKAN

SETIAP RAHASIA KERAJAAN ALLAH PADA AKHIRNYA AKAN DINYATAKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Padre Pio dr Pietrelcina, Imam –  Senin, 23 September 2019)

Keluarga Fransiskan Kapusin (OFMCap. & OSCCap.: Pesta S. Pius dr Pietrelcina (Padre Pio), Imam

Image result for IMAGES OF LUKE 8:16-18

“Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki pelita, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan. Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, bahkan apa yang dianggapnya ada padanya, akan diambil juga.” (Luk 8:16-18) 

Bacaan Pertama: Ezr 1:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 126:1-6 

Kadang-kadang kata-kata yang diucapkan oleh Yesus memang dapat membuat orang bingung, misalnya yang berikut ini: “Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, bahkan apa yang dianggapnya ada padanya, akan diambil juga” (Luk 8:18). Sekilas lintas kata-kata Yesus ini dapat membuat kita merasa bahwa Dia bersikap kritis terhadap mereka yang serba berkekurangan – walaupun bukan karena kesalahan mereka. Namun apabila kita merenungkannya dengan lebih mendalam, maka kita pun disadarkan bahwa dalam hal ini Yesus berbicara mengenai apa yang telah diberikan-Nya kepada para pendengar-Nya: sabda pewartaan-Nya. Pembedaan yang dibuat Yesus adalah dalam hal bagaimana sabda-Nya itu diterima oleh para pendengar-Nya. Yesus memuji orang-orang yang menerima sabda-Nya dengan penuh syukur dan iman, karena mereka secara sukarela menerapkan dalam kehidupan mereka apa yang mereka terima dari Yesus dan kemudian menghasilkan buah (lihat Luk 8:15).

Yesus mendorong para pengikut-Nya untuk menaruh perhatian pada sabda-Nya dan Ia berjanji: “Tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan” (Luk 8:17). Setiap rahasia Kerajaan Allah pada akhirnya akan dinyatakan. Setiap misteri yang penuh teka-teki bagi kita – misalnya mengapa Yesus harus mati pada kayu salib, mengapa Allah memperkenankan adanya penderitaan, mengapa beberapa anggota keluarga kita lebih terbuka terhadap Allah daripada para anggota keluarga yang lain dlsb. – akan terungkap, dan kita akan melihat hal-hal tersebut dengan kejelasan yang melampaui batasan-batasan intelek manusia.

Bagaimana kita dapat menemukan jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini? Melalui meditasi yang dilakukan dalam suasana doa dan studi atas sabda Allah. Semakin banyak kita melibatkan diri dalam mempelajari hikmat Allah, semakin terbentuk pula pikiran kita seturut pikiran Allah. Kita akan mulai berpikir seperti Allah berpikir, dan kita akan mengenal serta mengalami damai-sejahtera yang datang dari permenungan kita atas “dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah” (Rm 11:33). Dengan demikian, bersama Santo Paulus kita akan mampu memproklamasikan: “Kami memiliki pikiran Kristus” (1Kor 2:16).

Yesus berjanji bahwa apabila kita berpegang teguh pada apa yang telah kita terima, maka hal itu akan bertumbuh dan berbuah dalam diri kita. Selagi kita diberi makan oleh sabda Allah, terang dari hikmat-Nya akan memancar keluar dari diri kita, menembus kegelapan dunia. Kesaksian hidup kita akan menarik orang-orang lain kepada kita, dan kita akan mampu mensyeringkan hikmat yang telah kita terima dari Allah dengan mereka. Marilah kita memperkenankan sabda Allah dalam Kitab Suci untuk membentuk diri kita sehingga kita dapat menjadi duta-duta Yesus  untuk dunia.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah menaruh terang-Mu di dalam diri kami melalui sabda-Mu. Semoga terang-Mu dalam diri kami memancar keluar kepada semua orang yang kami temui. Datanglah, ya Tuhan, dan taklukkanlah kegelapan dengan terang kebenaran-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 8:16-18), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH SUMBER SEGALA TERANG” (bacaan tanggal 23-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-9-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 September 2019 [Peringatan Wajib Martir-martir Korea] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KAMU TIDAK DAPAT MENGABDI KEPADA ALLAH DAN KEPADA MAMON

KAMU TIDAK DAPAT MENGABDI KEPADA ALLAH DAN KEPADA MAMON

(Bacaan Injil Misa Kudus – HARI MINGGU BIASA XXV [TAHUN C], 22 September 2019)

Image result for IMAGES OF LUKE 16:1-13

Kemudian Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apa ini yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungjawaban atas apa yang engkau kelola, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak kuat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Terimalah surat hutangmu, duduklah dan tulislah segera: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Terima surat hutangmu, dan tulislah: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang. Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”

“Siapa saja yang setia dalam hal-hal kecil, ia setia juga dalam hal-hal besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam hal-hal kecil, ia tidak benar juga dalam hal-hal besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Jikalau kamu tidak setia mengenai harta orang lain, siapakah yang akan memberikan hartamu sendiri kepadamu?

Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Luk 16:1-13) 

Bacaan Pertama: Am 8:4-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 113:1-2,4-8; Bacaan Kedua: 1Tim 2:1-8;  Bacaan Injil (versi singkat): Luk 16:10-13

Yesus mengajarkan bahwa mereka yang tidak menjadi hamba dari sumber daya yang mereka miliki adalah orang-orang yang mengetahui bagaimana menggunakan berbagai sumber daya tersebut dengan bijak. Mereka dapat hidup dengan berkelimpahan atau berkekurangan seturut “sikon” yang mereka hadapi. Namun kemampuan untuk berhenti dari ketergantungan akan hal-hal yang bersifat materiil dan berpaling kepada Allah untuk kebutuhan-kebutuhan kita tidaklah datang secara otomatis. Sifat dari kejatuhan kita ke dalam dosa adalah sedemikian rupa sehingga kita merasa sulit untuk mempercayai keberadaan penyelenggaraan ilahi. Sebaliknya, kita  menggantungkan diri pada dunia ini dan menaruh kenikmatan kita di atas kebutuhan-kebutuhan orang-orang lain.

Satu-satunya jalan keluar dari spiral kejatuhan ini adalah dengan menyerahkan hidup kita kepada Yesus – memutuskan bahwa kita tidak lagi memerintah atas diri kita sendiri, melainkan menempatkan diri kita di bawah otoritas-Nya. Selagi kita memberi kesempatan kepada Yesus untuk menyatakan diri-Nya kepada kita, hati kita pun akan dibakar dengan cintakasih kepada-Nya. Kita akan melihat kemahaunggulan-Nya dan menaruh kepercayaan bahwa Dia akan selalu memperhatikan segala kebutuhan kita.

Melayani Allah bukanlah terutama sebuah isu tentang melakukan segala hal yang diperintahkan-Nya.  Mengasihi Allah adalah sebuah isu yang riil. Ini adalah suatu masalah bagaimana membiarkan diri-Nya menangkap afeksi-afeksi kita. Fondasi lainnya dari kehidupan Kristiani kita (selain mengasihi-Nya) adalah lemah dan pada akhirnya akan hancur berantakan. Bilamana kita melihat kasih-Nya bagi kita, maka secara alami kita pun merasa ditarik untuk ingin mentaati-Nya dan melayani-Nya. Dunia pun tidak lagi menarik kita sebagaimana halnya dahulu.

Bagaimana kita dapat memusatkan pandangan kita kepada Allah? Jenis perubahan ini biasanya tidak terjadi dengan mendadak. Sebaliknya, kita dapat mengambil langkah-langkah kecil setiap hari. Kita dapat menyediakan waktu untuk berdoa setiap pagi, mohon kepada Yesus untuk memenuhi diri kita dengan kasih-Nya. Setiap malam hari, sebelum kita pergi tidur, kita dapat bertanya kepada diri kita sendiri siapa saja yang kita layani pada hari ini dan menyesali serta bertobat apabila kita melihat dosa dan kelemahan. Kita dapat mengunjungi kamar pengakuan secara teratur untuk menerima sakramen rekonsiliasi dan juga menghadiri perayaan Ekaristi guna menerima Tubuh-Nya dalam Komuni Kudus. Dengan demikian kita menerima kekuatan dan rahmat yang dicurahkan oleh-Nya. Allah ingin menunjukkan kepada kita di mana prioritas kita sesungguhnya. Marilah kita pada hari ini menyediakan waktu sejenak untuk memohon kepada Tuhan agar menunjukkan kepada kita siapa sebenarnya yang kita layani: Allah? Diri kita sendiri? Benda-benda materiil?

DOA: Bapa surgawi, apa yang kumiliki adalah segala sesuatu yang telah Engkau berikan kepadaku – kebebasanku, keluargaku, rumahku, seluruh keberadaanku. Tolonglah aku agar mau dan mampu mengembalikan semua itu kepada-Mu. Aku hanyalah memohon kasih dan rahmat-Mu. Dengan kasih dan rahmat-Mu itu, aku akan cukup kaya dan tidak membutuhkan apa-apa lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari (Luk 16:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “LEBIH BAIKKAH DIRIKU KETIMBANG ORANG-ORANG FARISI? (bacaan tanggal 22-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 September 2019 [Peringatan S. Fransiskus Maria dr Camporosso, Biarawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

IKUTLAH AKU!

IKUTLAH AKU!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Matius, Rasul & Penulis Injil – Sabtu, 21 September 2019)

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”  Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:9-13) 

Bacaan Pertama: Ef 4:1-7,11-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5

KEMURIDAN - YESUS MEMANGGIL MATIUSSejak pertama kali bertemu dengan Yesus selagi dia sedang bekerja di tempat pemungutan cukai, Matius memberi tanggapan penuh sukacita terhadap undangan Yesus kepadanya untuk berbalik dari cara hidupnya yang lama dan kemudian menggunakan seluruh sisa hidupnya sebagai seorang murid Kristus, misionaris dan penginjil. Ada tradisi yang mengatakan bahwa Matius mewartakan Injil di tengah-tengah orang-orang Yahudi untuk selama 15 tahun setelah kebangkitan Kristus, lalu melanjutkan pelayanan evangelisasinya di Persia, Makedonia dan Syria.

Cerita tentang panggilan Matius seharusnya memberikan kepada kita dorongan yang kuat. Yesus tidak datang untuk mencari orang-orang yang telah sempurna. Dia datang mencari yang hilang …… orang berdosa! Ingatlah bagaimana orang-orang Farisi menggerutu ketika Yesus duduk pada meja makan bersama Matius dkk. Orang-orang Farisi itu mengatakan, bahwa tidak pantaslah bagi seorang rabi berhubungan dengan para pemungut cukai dan pendosa. Namun Yesus menandaskan bahwa justru orang-orang berdosalah yang mau diundangnya ke dalam kerajaan-Nya. Dalam hal ini Yesus mengutip sebuah ayat Perjanjian Lama (Mat 9:13; bdk. Hos 6:6; Mat 12:7).

Maka, jangan pikir bahwa kita harus suci-suci dulu sebelum menyerahkan hidup kita kepada Yesus. Matius adalah contohnya. Kita dapat menyerahkan hidup kita kepada Kristus sekarang juga. Tidak ada masalah bagi Yesus Kristus untuk menerima kita (anda dan saya) sebagai milik-Nya. Juga janganlah kita merasa risau kalau merasakan diri kita tidak memiliki karunia atau talenta yang khusus. Yesus akan memberikan kepda kita segala rahmat yang kita butuhkan untuk hidup pelayanan kita bagi Dia.

Yesus mungkin saja tidak memanggil kita untuk menjadi seorang penginjil purnawaktu seperti yang dibuat-Nya atas diri Matius – atau mungkin juga memanggil kita untuk menjadi seorang full-timer sebagai seorang penginjil. Apa pun panggilan-Nya kepada kita, panggilan itu tentunya menyangkut peranan kita masing-masing sebagai seorang saksi-Nya dalam keluarga, para sahabat kita, para kerabat kerja kita, untuk menolong mereka menerima Yesus dalam hidup mereka. Marilah kita mengingat, bahwa justru dalam tindakan sehari-hari kita yang penuh ketaatan – menghadiri Misa Harian, membaca dan merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci untuk beberapa menit lamanya setiap hari, melakukan pemeriksaan batin dan mohon pengampunan Tuhan atas dosa-dosa kita – maka kita sebenarnya mengatakan “ya” terhadap panggilan Yesus. Oleh karena itu, marilah kita mulai dengan langkah-langkah kecil ini, dan kita pun akan menemukan kuat-kuasa Allah bekerja melalui diri kita dengan cara-cara yang tidak pernah kita harapkan atau bayangkan sebelumnya.

Selagi anda menanggapi panggilan Yesus untuk menjalani suatu kehidupan yang baru, ingatlah bahwa Yesus ada di samping anda di setiap langkah yang anda buat. Oleh karena itu, janganlah menunda-nunda untuk mengatakan “ya” kepada-Nya. Jika anda mengatakan “ya” kepada-Nya, maka “ya” anda itu akan membuat diri anda seorang pencinta yang penuh gairah kepada Tuhan dan terang yang sungguh memancarkan cahaya di tengah dunia ini.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena engkau memanggilku keluar dari kegelapan untuk masuk ke dalam terang-Mu. Aku ingin hidup bagi-Mu. Tolonglah aku menemukan seorang pribadi pada hari ini, kepada siapa aku dapat men-sharing-kan kasih-Mu. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 9:9-13), bacalah tulisan yang berjudul “AKU DATANG BUKAN UNTUK MEMANGGIL ORANG BENAR, MELAINKAN ORANG BERDOSA” (bacaan tanggal 21-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-9-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 September 2019 [Peringatan S. Fransiskus Maria dr Camporosso, Biarawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PEREMPUAN-PEREMPUAN YANG SETIA MENGIKUTI-NYA

PEREMPUAN-PEREMPUAN YANG SETIA MENGIKUTI-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Andreas Kim Taegon, Imam & Paulus Chong Hasang, dkk. Martir-martir Korea – Jumat, 20 September 2019)

Related image

Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat dan berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana istri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan harta milik mereka. (Luk 8:1-3) 

Bacaan Pertama:  1Tim 6:2c-12; Mazmur Tanggapan: 49:6-10,17-20 

Sebagian besar dari karya pelayanan Yesus digunakan oleh-Nya untuk berkhotbah di kota-kota dan kampung-kampung di Galilea, untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan sambil diiringi oleh para rasul-Nya dan murid-Nya yang lain. Bayangkanlah seorang rabi dan rombongannya berjalan kaki melalui jalan-jalan berdebu (yang tak beraspal) di bawah panas teriknya matahari, dan rabi ini juga ditemani oleh sejumlah perempuan yang melayani keperluan Yesus dan seluruh rombongan-Nya. Bayangkanlah pula betapa radikal hal ini di mata orang-orang Yahudi pada abad pertama – teristimewa mereka yang tergolong para pemuka agama yang melihat penampilan luar sebagai hal yang paling penting. Pada zaman Yesus, kaum perempuan – secara sosial maupun spiritual – dipandang lebih rendah daripada kaum laki-laki. Nah, kenyataan ada sejumlah perempuan mengikuti seorang rabi dalam perjalanan misi dari satu tempat ke tempat lainnya dipandang sebagai suatu skandal, bahkan dosa!

Di sepanjang sejarah umat manusia, Allah telah memilih orang-orang yang dipandang tidak berharga dari sudut pandang dunia menerima dan menjadi saksi-saksi Injil. Sebelumnya, pada awal Injil Lukas, kita melihat bagaimana Maria menanggapi panggilan Allah untuk menjadi bunda Yesus dengan “ya”-nya yang penuh sukacita dan kerendahan hati di hadapan keagungan Allah (Luk 1:46-55). Kemudian Injil Lukas menceritakan sebuah cerita tentang seorang perempuan pendosa yang tergerak oleh belas kasih Yesus dan kasih-Nya, mematahkan segala adat-istiadat sosial Yahudi yang berlaku dengan mengurapi kaki-kaki Yesus dengan minyak narwastu yang mahal (Luk 7:36-50). Injil Lukas juga menceritakan tentang seorang Samaria yang biasa dipandang hina oleh orang-orang Yahudi menunjukkan kemurahan hati yang luarbiasa, yang tidak dapat ditunjukkan oleh seorang imam dan seorang Lewi sebelum dia (Luk 10:30-37). Ada pula sebuah perumpamaan Yesus dalam Injil Lukas tentang seorang anak yang mbalelo, yang sudah “rusak” dan penuh dosa, menemukan kasih dan penerimaan dalam pelukan ayahnya (Luk 15:11-32).

Yesus memilih orang-orang yang dina – yang rendah hati – karena mereka seringkali adalah orang-orang yang paling mudah untuk diajar dan paling setia. Perempuan-perempuan yang mengikuti Yesus juga tidak lebih buruk dalam hal dosa ketimbang para pengikut-Nya yang laki-laki, akan tetapi kelihatannya mereka lebih siap untuk menerima belas kasih-Nya dan tetap setia kepada-Nya. Para perempuan itu mengikuti-Nya sampai masuk ke Yerusalem dan  beberapa dari perempuan-perempuan ini berdiri di kaki salib Yesus di bukit Kalvari, pada saat-saat Yesus meregang nyawa, padahal para rasul yang laki-laki sudah lari ketakutan entah ke mana (Luk 23:49), kecuali Yohanes – murid yang dikasihi-Nya (lihat Yoh 19:24-27).

Kesetiaan para pengikut Yesus yang perempuan pada akhirnya memperoleh ganjaran. Beberapa dari perempuan-perempuan ini diberi privilese sebagai rasul-rasul pertama yang memberi kesaksian akan kebangkitan Yesus (Luk 24:10). Barangkali sejarah tidak mempunyai banyak cerita tentang perempuan-perempuan ini, namun di mata Bapa surgawi mereka bersinar terang seperti bintang-bintang di langit yang bercahaya gemerlapan, memberi kesaksian atas kuat-kuasa kasih Allah yang memiliki daya untuk membuat transformasi.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat melihat kemiskinanku dan kebutuhanku akan pengampunan dari-Mu seperti yang dilakukan para perempuan yang mengikuti Engkau dengan setia. Aku mengaku bahwa diriku miskin dan kecil dalam dunia ini. Namun aku percaya, bahwa melalui imanku kepada-Mu, Engkau akan membuat diriku besar dalam Kerajaan surga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 8:1-3), bacalah tulisan yang berjudul “SEJUMLAH PEREMPUAN YANG SETIA” (bacaan tanggal 20-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-9-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak,  18 September 2019 [Peringatan/Pesta S. Yosef dr Copertino, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DOSAMU TELAH DIAMPUNI

DOSAMU TELAH DIAMPUNI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Kamis, 19 September 2019)

Peringatan Fakultatif: Santo Yanuarius, Uskup Martir

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Fransiskus Maria dr Camporosso, Biarawan

Related image

Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan dengannya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah botol pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan airmatanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya, “Jika Ia ini nabi, tentu ia tahu bahwa perempuan itu seorang berdosa.” Lalu Yesus berkata kepadanya, “Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.” Sahut Simon, “Katakanlah, Guru.”

“Ada dua orang yang berhutang kepada seorang yang membungakan uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan lebih mengasihi dia?” Jawab Simon, “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” Kata Yesus kepadanya, “Betul pendapatmu itu.” Sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon, “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasuhi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tidak henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak mengasihi. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia mengasihi.” Lalu Ia berkata kepada perempuan itu, “Dosamu telah diampuni.” Orang-orang yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka, “Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa-dosa?” Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu, “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan damai!” (Luk 7:36-50) 

Bacaan Pertama: 1Tim 4:12-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:7-10 

Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya, “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu bahwa perempuan itu seorang berdosa.” (Luk 7:39)

Pertanyaan saya sehubungan dengan pikiran Simon orang Farisi seperti diungkapkan dalam ayat di atas adalah, “Kok Simon tahu ya, bahwa perempuan itu seorang pendosa, seorang WTS, seorang PSK?” Namun demikian, marilah kita tinggalkan pertanyaan saya itu.

Kita memang tidak dapat menyangkal bahwa cerita tentang seorang perempuan berdosa ini adalah salah satu cerita yang paling populer dari cerita-cerita yang terdapat dalam keempat kitab Injil. Bayangkan sebuah botol pualam yang tidak murah dan dari dalamnya mengalirlah minyak narwastu yang sangat mahal yang digunakan untuk meminyaki kaki Yesus. Sebelum itu kaki Yesus dibasahi dengan airmata seorang perempuan yang mestinya cantik-menawan dan diseka dengan rambutnya sendiri. Sebuah pemandangan yang sungguh luar biasa, sebuah adegan yang menyentuh hati siapa saja yang telah melakukan pertobatan dan mengalami pengampunan-Nya, namun merupakan sebuah adegan yang menjijikan bagi mereka yang masih hidup dalam kemunafikan. Ide tentang seorang WTS yang berderai air mata pertobatan, sukacita, dan kasih karena telah mengalami perjumpaan dengan Yesus terasa begitu “abadi” karena masih memiliki kuat-kuasa untuk menggerakkan hati kita, bahkan pada hari ini, dua ribu tahun setelah untuk pertama kalinya cerita ini dicatat.

Tindakan-tindakan perempuan ini begitu memaksa kita untuk merenungkan pengungkapan cintakasih yang luarbiasa, berani, bahkan kelihatan tolol, sehingga kita pun mulai berpikir apakah kita dapat menemukan satu contoh lain yang serupa. Pada titik inilah kita merasa seakan tidak ada apapun yang dapat dibandingkan, ketika kita memperoleh kasih Yesus sendiri bagi kita masing-masing. Apa yang dilakukan oleh perempuan ini begitu dramatis, namun tidak dapat dibandingkan dengan kasih Yesus bagi kita yang begitu berlimpah. Yesus begitu mengasihi kita sehingga Dia bersedia secara sukarela memberikan nyawa-Nya sendiri, keseluruhan diri-Nya, tidak hanya bagi orang-orang yang banyak mengasihi – seperti perempuan berdosa dalam cerita Injil hari ini – melainkan juga bagi mereka yang memiliki hati dan pikiran sempit seperti Pak Simon orang Farisi itu.

Bagaimana kita dapat mencirikan cinta kasih sebagaimana yang diperagakan oleh perempuan berdosa tersebut? Bagaimana kita dapat menemukan kata-kata yang “pas” untuk mengungkapkan hasrat menggairahkan dari Yesus bagi kita masing-masing? Santo Alfonsus Liguori pernah menulis seperti berikut: “Allah mengasihi kita sejak kita belum eksis. Ia mengasihi kita lebih dahulu. Allah tidak menyelamatkan Putera-Nya yang tunggal justru agar dengan demikian Ia dapat menyelamatkan kita. Bagaimana Dia dapat gagal memberikan kepada kita dan Putera-Nya semua hal yang baik?”

Bukankah kita semua ingin mendengar Yesus berkata kepada kita bahwa dosa-dosa kita telah diampuni? Bukankah kita semua ingin Ia mengatakan kepada kita, “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan damai”? Sekarang, marilah kita membayangkan Yesus sedang memandangi kita.  Bayangkan kasih dan bela-rasa yang di wajah-Nya. Siapakah Yesus ini? Dialah Pribadi satu-satunya yang mengetahui dan mengenal kita luar-dalam. Dialah satu-satunya Pribadi yang mengetahui secara menyeluruh segala perjuangan kita, dosa-dosa dan kelemahan-kelemahan kita. Dia turut ambil bagian dalam pengharapan dan sukacita kita, kerinduan kita dan mimpi kita. Dia mengampuni semua dosa kita. Kasih-Nya – personal dan intim – secara berkesinambungan mengalir ke luar dari hati-Nya ke dalam hati kita masing-masing. Seandainya kita tega meninggalkan “seorang” Allah seperti ini, …… apa kata dunia?

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengasihi jiwaku dan memberikan “hidup baru” kepadaku. Aku sungguh mengasihi Engkau, ya Tuhan! Oleh Roh Kudus-Mu, aku menjadi bebas untuk hidup dalam damai-sejahtera dan kasih yang dipenuhi dengan sukacita. Terima kasih, Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:36-50), bacalah tulisan yang berjudul “PERGILAH DENGAN DAMAI!” (bacaan tanggal 19-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019. 

(Tulisan adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-9-18   dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 September 2019 [Pesta Stigmata Bapa Kita Fransiskus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENDENGARKAN SUARA ALLAH DAN PERCAYA

MENDENGARKAN SUARA ALLAH DAN PERCAYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Rabu, 18 September 2019)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Yosef dr Copertino, Imam

Related image

Kata Yesus, “Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini dan dengan apakah mereka dapat disamakan? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis. Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.” (Luk 7:31-35) 

Bacaan Pertama: 1Tim 3:14-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-6 

Tidak sedikit orang yang begitu terbius dengan pembenaran diri sendiri, begitu ketatnya sehingga menutup diri mereka terhadap rahmat Allah. Yesus datang untuk menyampaikan kabar baik keselamatan bagi semua orang. Keempat Injil dipenuhi dengan berbagai narasi tentang orang-orang yang mencari Yesus dan menaruh kepercayaan mereka pada-Nya.

Namun Yesus tidak membatasi diri pada mereka yang mencari Dia. Dalam Bacaan Injil hari Selasa kemarin (Luk 7:11-17) diceritakan bahwa ketika Yesus memasuki kota Nain Ia berpapasan dengan sebuah iringan jenazah. Yang meninggal dunia adalah seorang anak muda dan ibundanya sudah hidup menjanda. Ketika Yesus melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Atas dasar inisiatif-Nya sendiri Yesus menghampiri usungan jenazah dan menyentuhnya. Kemudian Ia menyuruh anak muda yang sudah mati itu untuk bangkit, dan anak muda itu pun hidup lagi.

Syarat satu-satunya yang diperlukan kalau seseorang mau menerima rahmat dari Allah adalah, bahwa dia harus mendengarkan suara-Nya. Kalau kita mendengarkan dan percaya, maka Dia akan menyelesaikan selebihnya. Allah akan memperhatikan agar rahmat yang dicurahkan-Nya berbuah dalam diri orang itu. Tugas orang itu adalah menjaga agar rahmat Allah yang dicurahkan kepadanya dijaga. Siapa saja yang mendengarkan Allah dengan baik akan mencapai hasil yang melampaui kemampuan-kemampuannya sendiri, justru karena kuasa dari rahmat-Nya.

Kita bersyukur karena mengetahui bahwa Yesus mencari setiap orang – bahkan orang yang selalu diabaikan malah dihina oleh mereka yang kaya dan/atau berkuasa. Dalam Luk 7 kita melihat bahwa Yesus mau berjumpa dengan siapa saja, tidak ada diskriminasi dalam bentuk apapun yang dianut oleh-Nya. Ia menyembuhkan hamba seorang perwira Romawi yang kafir (7:1-10); seperti telah disinggung di atas, Yesus membangkitkan anak muda di Nain yang belum pernah dikenalnya (7:11-17); Yesus  menyembuhkan banyak orang dari segala penyakit dan penderitaan  dan dari roh-roh jahat serta mencelikkan mata orang buta (7:21); Ia berdialog dengan murid-murid Yohanes Pembaptis (7:18-20.22-23); Ia mengajar orang banyak, termasuk para pemungut cukai yang dihina dalam masyarakat (7:24-35); dan Yesus diurapi oleh perempuan berdosa (7:36-50). Dewasa ini pun Allah sangat berhasrat untuk menyentuh orang-orang di sekeliling kita. Harapan Kabar Baik Yesus Kristus juga diperuntukkan bagi mereka. Kalau kita peka terhadap sentuhan dan sapaan Roh Kristus, maka Dia akan menunjukkan kepada kita bagaimana berbagi Kabar Baik dengan para sahabat dan teman kita, para tetangga kita, dan para anggota keluarga besar kita. Dia akan mencurahkan rahmat-Nya kepada mereka yang mendengarkan dan percaya – karena kesetiaan-Nya tidak tergantung pada kebenaran kita, melainkan pada cintakasih-Nya yang tanpa syarat.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang mahatinggi, Engkau adalah sumber segala kebaikan. Hanya Engkau saja yang baik, yang paling baik. Dengan penuh rasa syukur kami berterima kasih kepada-Mu, ya Bapa, karena Engkau memberikan Putera-Mu yang tunggal demi keselamatan kami. Dia setia kepada kami, dengan demikian kami pun bertekad bulat untuk memberitakan Kabar Baik-Nya kepada orang-orang yang kami jumpai. Bapa, perkenankanlah Roh Kudus-Mu menolong kami menaruh kepercayaan sepenuhnya pada kuasa rahmat-Mu agar dapat mengalir melalui diri kami dan terus mengalir kepada orang-orang lain di sekeliling kami. Kami berdoa demikian, dalam nama Yesus, Tuhan dan Juruselamat kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau, Bapa, dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:31-35), bacalah tulisan yang  berjudul “MENJADI PRIBADI YANG TANGGUH” (bacaan tanggal 18-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-9-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 September 2019 [Pesta Stigmata Bapa Kita Fransiskus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS