SALIB DAN EKSISTENSI KITA SEBAGAI PARA PENGIKUT/MURID KRISTUS

“Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Luk 9:23)

“Pesta Salib Suci” baru akan kita rayakan pada tanggal 14 September mendatang, namun seperti kita ketahui topik “Salib Kristus” akhir-akhir ini menjadi viral dalam berbagai media sosial. Dengan demikian ada baiknya bagi kita – umat Kristiani – untuk dalam keheningan merenungkan makna Salib Kristus bagi kita masing-masing (anda dan saya) sebagai para pengikut/murid Kristus. Semoga Allah Tritunggal Mahakudus memperkenankan permenungan kali ini disusul dengan permenungan-permenungan lain tentang Salib Kristus.

Petikan Injil di atas diambil dari bacaan di mana Yesus untuk pertama kali memberitahukan kepada para murid-Nya tentang  penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya dan apa saja syarat-syarat untuk mengikut Dia (Luk 9:22-25). Ayat-ayat lain yang menguatkan ayat di atas adalah Mat 10:38 dan Luk 14:27.

Baiklah kita awali permenungan kita dengan mempertanyakan “Siapakah sebenarnya Yesus itu?”  Apakah Dia sekadar seorang baik, barangkali bahkan seorang nabi, yang peri kehidupan-Nya harus kita teladani? Atau, Dia adalah Putera Allah yang menjadi manusia agar supaya kita dapat menjadi anak-anak Allah? Apakah Dia seorang hakim yang kaku-keras, yang siap untuk menghukum setiap dosa kita? Ataukah Dia sang “Anak Domba Allah” yang menyerahkan hidup-Nya sendiri agar kita dapat dibebaskan dari dosa dan ditransformasikan menjadi “gambar dan rupa-Nya” sendiri? 

Apakah pilihan yang ditawarkan oleh Yesus? Apakah ini pilihan untuk menghayati suatu kehidupan yang terus-menerus melibatkan penderitaan: “menyangkal diri dan memikul salib kita” dari hari ke hari, dan secara pasif menerima pencobaan apa saja yang datang menimpa, dengan pengharapan bahwa Allah akan menerima kita? Jawabannya adalah “Tidak!”  Pilihan yang riil adalah untuk mengikuti jejak Yesus Kristus dan menerima apa saja yang dituntut oleh pilihan itu. Sebuah pilihan untuk memusatkan pandangan mata kita pada Yesus Kristus, yang rindu untuk mencurahkan kasih-Nya kedalam hati kita setiap hari. Ini adalah pilihan untuk percaya bahwa dengan dan bersama Yesus kita dapat mengatasi segala halangan, tantangan, atau kesulitan yang bermunculan – baik secara internal maupun eksternal.

Yesus  – dan tentunya para rasul dan murid-Nya yang pertama – mempunyai banyak hal yang ingin diceritakan terkait misteri Salib. Salib-Nya di sini tidaklah terbatas pada salib yang dipikul-Nya dari istana Pilatus menuju bukit Kalvari, melainkan mencakup seluruh kehidupan Yesus dan juga seluruh kehidupan setiap orang Kristiani sejati, sebuah tugas yang diberikan Allah untuk kita lakukan. Santo Paulus meyakinkan kita bahwa Salib Kristus adalah sukacita kita dan kemuliaan kita, dan ia menulis dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus: “Kami memberitakan Kristus  yang disalibkan: Untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah” (1Kor 1:23-24).

Salib adalah jalan kasih yang sempurna dan dedikasi yang total. Keempat kitab Injil membuat jelas: Salib adalah inti kehidupan Yesus sendiri dan akan menjadi inti kehidupan para rasul-Nya dan para murid/pengikut-Nya yang sejati sepanjang masa. Yesus tidak pernah memikirkan segala sesuatu demi kepentingan diri-Nya sendiri. Keprihatinan-Nya senantiasa menyangkut pekerjaan yang diberikan oleh Bapa surgawi kepada-Nya, yakni menyelamatkan umat Allah.

Penderitaan dan pengorbanan memang tidak dapat dipisahkan dari kemuliaan hidup orang Kristani, dengan demikian membuat kita ikut ambil bagian dalam karya penebusan Kristus. Kita tidak menolong saudari dan saudara kita yang menderita agar supaya mereka lepas dari Salib, melainkan untuk membuat diri kita dan saudari-saudara kita itu lebih serupa dengan Kristus, sempurna dalam kasih dan diselamatkan dari si Jahat.

Saudari dan Saudaraku, kita seharusnya merasa bahagia ikut ambil bagian dalam Salib Kristus karena kita mencintai karya-Nya di atas bumi, yaitu memulihkan dan mendamaikan relasi Allah dengan umat-Nya, dan membawa segenap ciptaan kembali kepada keindahannya semula. Marilah sekarang kita berdoa:

Tuhan Yesus Kristus, kami memilih untuk memanggul salib kami setiap hari dan mengikuti jejak-Mu pada hari ini dan hari-hari sepanjang hidup kami. Kami menerima janji-Mu tentang kehidupan. Tuhan, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena telah mengundang kami untuk berada bersama dengan-Mu selalu. Amin.

Cilandak,  1 September 2019 [HARI MINGGU BIASA XXII – TAHUN C]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements