Archive for September, 2019

SYARAT UNTUK MASUK KE DALAM KERAJAAN SURGA

SYARAT UNTUK MASUK KE DALAM KERAJAAN SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Teresia dr Kanak-kanak Yesus, Perawan & Pujangga Gereja, Pelindung Misi – Selasa, 1 Oktober 2019)

Image result for PICTURES OF ST. TERESA OF THE CHILD JESUS

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka dan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”  (Mat 18:1-5) 

Bacaan Pertama: Yes 66:10-14c; Mazmur Tanggapan: Mzm 131:1-3 

“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat 18:3).

Pada hari ini kita merayakan pesta Santa Teresia dari Lisieux [1873-1897], perawan dan Pujangga Gereja. Ketika baru berumur 15 tahun, dengan izin khusus Sri Paus, Teresia masuk sebuah biara Karmel di Lisieux, Perancis. Hanya delapan tahun kemudian, suster muda usia ini meninggal dunia karena penyakit TBC yang dideritanya. Kalau hanya sampai di situ ceritanya, maka tidak ada yang istimewa dari kehidupan suster ini yang memang hidup di dalam tembok biara yang ketat. Namun apa yang diwariskannya meninggalkan rekam jejak yang sangat berpengaruh atas kehidupan Gereja, bahkan sampai hari ini. Teresia adalah contoh baik untuk ditiru kalau kita ingin mengikuti perintah Yesus di atas. Tidak percuma nama panggilannya adalah “Teresa Kecil” atau si “Kuntum Bunga yang kecil”.

Seperti kita ketahui, ada dua orang perempuan kudus dari Ordo Karmelites Tak Berkasut (OCD) – pada zaman yang berbeda – yang bernama Teresia, yang satunya adalah Santa Teresia dari Avila atau “Teresia Besar” yang juga adalah seorang Pujangga Gereja.

Ketika masih berumur 12 tahun Teresia sudah berjanji kepada Kristus: “Yesus di kayu salib yang haus, aku akan memberikan air pada-Mu. Aku akan menderita sedapat mungkin, agar banyak orang berdosa bertobat.” Pendosa pertama yang bertobat berkat doa gadis kecil ini adalah seorang penjahat kelas berat yang dijatuhi hukuman mati tanpa menyesali perbuatan-perbuatan jahatnya. Orang itu bertobat di hadapan sebuah salib sesaat sebelum menjalani hukumannya. Luar biasa!!! Meskipun para suster dalam biara (termasuk dua orang kakaknya) mencintai Teresia, hal ini tak berarti dia luput dari berbagai pencobaan batin dan kekeringan. Karena kematangan jiwanya, Teresia sudah diangkat menjadi magistra novis ketika dia baru berumur 20-an tahun.

Dalam biara dengan klausura ketat, Teresia berjuang untuk menempuh “jalan sederhana” menuju kesucian, yaitu secara konsekuen percaya dan mengasihi Tuhan. Ia selalu menampilkan wajah yang jernih dalam situasi yang bagaimana pun. Orang kudus muda ini menderita sakit paru-paru yang parah dan akhirnya meninggal ketika berusia 24 tahun. Ia mewariskan catatan riwayat pribadi yang ditulis atas permintaan pemimpin biaranya. Judulnya: “Kisah satu jiwa” (Inggris: The Story of a Soul). Di situ Teresia menunjukkan, bahwa kesucian dapat dicapai oleh siapa saja, betapa pun rendah, hina dan biasa-biasa saja orang itu. Caranya adalah dengan melaksanakan pekerjaan-pekerjaan kecil dan tugas sehari-hari dengan penuh cintakasih yang murni kepada Tuhan. Lewat teladan hidupnya, Teresia telah mengajarkan, bahwa kita dapat bersatu dengan Allah dengan mempersembahkan kepada-Nya setiap saat dari kehidupan kita sehari-hari. Persembahan sederhana itu dapat menjadi sarana bagi kita guna mencapai kesucian yang kita rindukan.

Para suster Karmelites di Hanoi, Indo-China (Viet Nam sekarang) memintanya untuk memperkuat biara di sana, namun penyakit yang dideritanya tak mengizinkan. Delapan belas bulan terakhir dari hidupnya adalah periode penderitaan-badani yang sangat menyakitkan bagi Teresia, pada saat yang sama juga merupakan masa pencobaan rohani. Pada bulan Juni 1897 Teresia dipindahkan ke ruangan khusus untuk para penderita sakit di biara dan tidak pernah keluar lagi dari sana sampai saat ajalnya pada tanggal 30 September. Suster muda, sederhana dan suci ini menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah bibirnya mengucapkan sabda-sabda ilahi dari Kitab Suci. Teresia diangkat menjadi seorang beata oleh Paus Pius XI pada tahun 1923 dan Paus yang sama mendeklarasikannya sebagai seorang santa pada tahun 1925.

Pada tahun 1927, bersama dengan Santo Fransiskus Xaverius, Teresa diangkat menjadi pelindung Misi, meskipun belum pernah pergi ke luar negeri. Dia adalah juga pelindung para penjual bunga. Santo Fransiskus Xaverius yang Yesuit itu diutus Yesus Kristus ke ujung-ujung bumi, tidak jauh berbeda dengan yang dialami oleh tujuh puluh murid seperti diceritakan dalam bacaan Injil alternatif di atas (Luk 10:1-12), sedangkan Teresia diutus – melalui doa-doanya – juga ke mana-mana, meskipun secara fisik berkedudukan secara statis dalam selnya. Kita memang suka lupa bahwa kegiatan doa yang benar juga merupakan kegiatan kerasulan. Memang Jalan Tuhan tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata yang berdasarkan akal budi semata. Inilah Penyelenggaraan Ilahi yang penuh dengan misteri. 

Setiap hari, marilah kita menanggapi panggilan Tuhan Yesus Kristus. Memang kadang-kadang barangkali kita merasa tak pantas, namun sebenarnya kepada kita telah diberikan kuasa dan wewenang untuk menjadi “kaki-tangan” Yesus membawa jiwa-jiwa ke surga. Kalau kita berdiam dalam Kristus dan taat mengikuti perintah-perintah-Nya, maka cinta kasih-Nya akan dapat dipastikan mengalir dari dalam diri kita. Baiklah kita melihat setiap hari dengan pengertian bahwa kepada kita telah diberikan suatu kesempatan untuk menjadi saksi Injil, mendoakan orang yang menderita segala sakit-penyakit, fisik maupun rohani, dan mengusir roh-roh jahat.

DOA: Bapa surgawi, Engkau menjanjikan Kerajaan-Mu kepada orang-orang yang bertobat dan menjadi seperti anak-anak kecil. Berikanlah rahmat-Mu kepada kami agar dapat berjalan dengan penuh keyakinan seturut cara Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus, dengan demikian kami dapat melihat kemuliaan-Mu yang kekal. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:1-5), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI SEPERTI ANAK KECIL” (bacaan tanggal 1-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 19-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2019. 

Cilandak, 30 September 2019 [Peringatan Wajib S. Hieronimus, Imam & Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

YANG TERKECIL, DIALAH YANG TERBESAR

YANG TERKECIL, DIALAH YANG TERBESAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Hieronimus, Imam Pujangga Gereja – Senin, 30 September 2019)

Image result for IMAGES OF LUKE 9:46-50

Kemudian timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya , dan berkata kepada mereka, “Siapa saja yang menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.”

Yohanes berkata, “Guru, kami lihat seseorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” Yesus berkata kepadanya, “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.” (Luk 9:46-50) 

Bacaan Pertama: Za 8:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 102:16-21,29,22-23 

Para murid Yesus telah melihat Ia berkhotbah tentang Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan, menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir roh-roh jahat yang merasuki orang-orang, membuat berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya. Setelah memberikan kepada mereka otoritas di atas roh-roh jahat dan kuasa untuk menyembuhkan berbagai penyakit, Yesus juga telah mengutus para murid untuk memberitakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang-orang sakit (Luk 9:1-2). Kecenderungan manusia adalah memperkenankan kuasa masuk ke dalam kepala kita. Dengan demikian, herankah anda kalau membaca bahwa belum apa-apa para murid Yesus sudah saling bertengkar tentang siapa yang paling besar di antara mereka?

Kenyataan bahwa para murid yang sudah begitu dekat dengan Sang Guru, sekarang jatuh ke dalam situasi “persaingan tidak sehat” satu dengan lainnya dapat menyebabkan kita bertanya-tanya apakah mungkin bagi kita bersikap dan berperilaku rendah hati seorang anak dan sepenuhnya tergantung kepada Allah sebagaimana diajarkan oleh Yesus? “Yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar” (Luk 9:48). Namun pengalaman para murid Yesus pertama itu sebenarnya dapat mengajarkan kepada kita pelajaran sebaliknya. Mereka belajar dari kegagalan-kegagalan mereka. Oleh kuasa Roh Kudus, mereka bertumbuh dalam kerendahan hati yang mereka butuhkan untuk peranan pelayanan bagi Kerajaan Allah.

Sejak terkandung-Nya dalam rahim Perawan Maria, Yesus menjalani suatu kehidupan yang rendah hati secara lengkap. Santo Paulus menulis, bahwa Kristus Yesus, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa  seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp 2:6-7). Dengan rendah hati Yesus memperkenankan Bapa menjadi segalanya dalam apa yang dilakukan-nya (lihat Yoh 5:19). Dalam kerendahan hati penuh ketaatan sebagai manusia, Yesus sampai mati di kayu salib (lihat Flp 2:8).

TRahasia untuk menjadi rendah hati terletak pada Yesus sendiri. Kepada siapa di antara kita yang merasa dibebani dengan kesombongan dan sikap serta perilaku mementingkan diri sendiri, Yesus bersabda, “Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku” (Mat 11:29). Dengan demikian, kita berada di jalan menuju kerendahan hati sementara kita memeditasikan Yesus dan semakin dekat dengan kasih-Nya kepada kita. Kunci terhadap kerendahan hati terletak pada kehadiran Yesus yang rendah hati untuk diam dalam hati kita. Baiklah kita seringkali berpaling kepada-Nya, terutama pada hari ini dan berkata, “Buatlah diriku menjadi seperti Engkau, ya Yesus.”

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami berdiam  dalam persekutuan dengan Bapa surgawi, hal mana telah hilang melalui dosa kami namun diperbaharui bagi kami melalui kematian-Mu yang penuh kedinaan dan juga kebangkitan-Mu. Melalui persekutuan ini, semoga kami memperoleh kerendahan hati yang Engkau hasrati untuk kami miliki. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:46-50), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA YANG TERBESAR DALAM KERAJAAN ALLAH?” (bacaan tanggal 30-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 27 September 2019 [Peringatan Wajib S. Vincentius a Paolo, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERUMPAMAAN TENTANG ORANG KAYA DAN LAZARUS YANG MISKIN

PERUMPAMAAN TENTANG ORANG KAYA DAN LAZARUS YANG MISKIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVI [Tahun C] – 25 September 2016)

“Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Ada pula seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, Bapak Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyjukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang di sini ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain itu, di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, Bapak, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar maereka jangan masuk ke dalam tempat penderitaan ini. Tetapi kata Abraham: Mereka memiliki kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkannya. Jawab orang itu: Tidak, Bapak Abraham, tetapi jika seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepada-Nya Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.” (Luk 16:19-31) 

Bacaan Pertama: Am 6:1a,4-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:7-10; Bacaan Kedua 1Tim 6:11-16  

Yesus rindu untuk membebas-merdekakan hati kita dari perbudakan dosa dan memulihkan persatuan kita dengan Bapa surgawi. Dalam “Perumpamaan tentang Orang kaya dan Lazarus yang miskin” yang ditulis hanya oleh Lukas ini, Yesus tidak saja mengilustrasikan kasih Allah bagi orang miskin, melainkan juga Dia mengungkapkan hasrat Bapa surgawi untuk membebaskan kita dari tipu muslihat dan perbudakan dosa.

Dosa orang kaya itu tidak hanya cintanya akan uang, melainkan juga cinta-diri. Dari kedalaman alam maut, si kaya masih saja dikuasai oleh dorongan hatinya untuk memuaskan kebutuhan diri sendiri: “Bapak Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini” (Luk 16:24). Dia tidak menunjukkan sedikit pun tanda-tanda bahwa dirinya menyesali dosa ketamakannya; dia masih menginginkan agar orang-orang lain melayani dirinya.

Di sisi lain, si kaya mencari suatu kesempatan untuk melayani saudara-saudaranya yang masih hidup di dunia, dengan meminta agar Lazarus memperingatkan mereka tentang “tempat penderitaan” di mana dia sekarang berada (lihat Luk 16:28). Apakah hal ini mencerminkan suatu perubahan hati? Tidak sampai begitu! Hal ini hanya menunjukkan bahwa selama hidupnya di dunia, si kaya sadar akan kehendak Allah, namun telah memilih untuk mengabaikannya. Sadar bahwa saudara-saudaranya juga mengabaikan sabda Allah, dia menginginkan terjadinya suatu peristiwa yang bersifat supernatural agar dapat menggoncangkan hati mereka sehingga akhirnya menjadi percaya. Jawaban Abraham mematahkan harapan hampanya itu: “Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati” (Mat 16:31).

Perumpamaan sederhana Yesus ini menunjukkan wawasan sesungguhnya betapa hati manusia dapat mendua atau “salah arah”. Dalam “perjuangan” kita untuk mencapai “kebahagiaan”, kita bekerja dan berjuang; kita akan melakukan hampir segalanya untuk meraih kekayaan, popularitas, atau sukses. Akan tetapi, ketika menyangkut pelaksanaan hal-hal yang berurusan dengan Allah kita dapat berpikir bahwa hampir tidak mungkinlah untuk mentaati-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, biarkanlah Roh-Mu menyelidiki hati kami dan mencabut segala kecintaan kami akan segala hal yang bertentangan dengan kehendak-Mu. Tolonglah kami agar dapat berbuah dan hidup dalam Engkau dan menempatkan hal-hal Kerajaan-Mu di atas segala hal yang lain. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:19-31), bacalah tulisan yang berjudul “CERITA TENTANG ORANG KAYA DAN LAZARUS YANG MISKIN” (bacaan tanggal 29-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggaal 25-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 September 2019 [Peringatan Fakultatif S. Elziar & Delfina, OFS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DIPANGGIL UNTUK MENGHAYATI KEHIDUPAN TERSALIB

DIPANGGIL UNTUK MENGHAYATI KEHIDUPAN TERSALIB

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Sabtu, 28 September 2019

Fransiskan Kapusin (OFMCap.): Peringatan Fakultatif B. Inosensius dr Bertio, Imam Biarawan

Image result for IMAGES OF LUKE 9:43-45

Ketika semua orang itu masih heran karena segala sesuatu yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Dengarlah dan perhatikanlah semua perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia. Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Namun mereka segan menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya. (Luk 9:43b-45) 

Bacaan Pertama: Za 2:1-5,10-11a; Mazmur Tanggapan: Yer 31:10-13 

Yesus telah mengatakan kepada para murid-Nya bahwa diri-Nya akan mengalami banyak penderitaan dan ditolak oleh para pemuka agama Yahudi, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga (Luk 9:22). Sekarang Ia mengatakan kepada mereka lagi bahwa diri-Nya akan diserahkan ke dalam tangan manusia (Luk 9:44). Mereka (para murid-Nya) sungguh tidak mengerti!

Dalam Injil yang ditulisnya, Lukas ingin mengemukakan bahwa kebutaan atau kebebalan para murid itu tidaklah lepas dari rancangan Allah itu sendiri. Bagaimana pun juga Pentakosta belum datang, artinya para murid belum menerima Roh Kudus yang akan menyatakan kepada mereka arti sepenuhnya dari Kalvari. Lukas juga mencatat bahwa para murid merasa takut untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Yesus. Seakan-akan dia mau mengungkapkan bahwa para murid tidak tahu karena mereka tidak ingin/mau tahu (Luk 9:45).

Dalam proses menuju kepada pengenalan akan Allah, bukankah kita juga seringkali dihinggapi rasa takut atau menghindarkan diri dari apa yang kita pikir Allah mungkin mencoba katakan kepada kita? Dengan demikian, betapa indah jadinya untuk mengetahui bahwa kita dapat mengenal Yesus secara pribadi. Melalui Dia kita mengetahui bahwa kita mempunyai seorang Bapa di surga yang kasih-Nya dapat alami setiap hari. Barangkali hal yang pada awalnya agak tidak mudah untuk kita pahami namun setahap demi setahap dapat kita pahami dan imani (semuanya di bawah pengaruh Roh Allah) adalah bahwa “karena Tuhan yang kita ikuti disalibkan, maka kita pun dipanggil untuk menghayati kehidupan tersalib”, suatu crucified life. Sebagai man of the Cross, Santo Fransiskus dari Assisi tahu benar apa makna dari “kehidupan tersalib” itu, yang dihayatinya dengan setia sejak saat pertobatannya sampai saat kematiannya.

Tuhan Yesus tidak hanya membawa serta dosa-dosa kita ke atas kayu salib, Ia juga membawa-serta kita juga: “Aku telah disalibkan dengan Kristus”, tulis Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Galatia (Gal 2:19). Setiap hari kita harus mempasrahkan diri kita kepada karya Roh Kudus Allah selagi kita berupaya untuk mati terhadap kebiasaan-kebiasaan lama kita, dosa-dosa kita, sikap dan perilaku mementingkan diri-sendiri, agar kita dapat menjadi “ciptaan baru”, yang dijiwai dengan hidup Kristus sendiri.

Santo Yohanes dari Salib [1542-1591], seorang pembaharu Ordo Karmelit, menulis tentang bagaimana Allah memurnikan dan membersihkan mereka yang ingin menjadi matang/dewasa sebagai orang Kristiani: “Ah, Tuhanku dan Allahku! Berapa banyak orang datang kepada-Mu mencari penghiburan dan kepuasan bagi mereka sendiri dan menghasrati bahwa Engkau memberikan kebaikan-kebaikan dan karunia-karunia, namun alangkah sedikitnya orang-orang yang ingin memberikan kepada-Mu kesenangan dan sesuatu yang menimbulkan biaya bagi mereka sendiri, mengesampingkan kepentingan mereka sendiri” (Malam Gelap).

Nah, marilah kita tanpa rasa takut mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Allah tentang makna salib Kristus atau bagaimana kita dapat menyenangkan diri-Nya.

DOA: Bapa surgawi, biarlah salib Putera-Mu berlaku pada setiap bagian dari keberadaanku – kecerdikanku, rasa percaya-diriku, simpati-simpatiku, afeksi-afeksiku, selera-seleraku, perasaan-perasaanku, ambisi-ambisiku, pemikiran-pemikiran duniawiku, kemalasanku, pengabaian doaku, keinginan tahu diriku yang tidak sehat, sifat pemarahku, ketidakpercayaanku, kecepatanku dalam mengkritisi orang lain, dan apa saja yang merupakan penghinaan terhadap kekudusan-Mu dan suatu kesempatan yang dapat digunakan Iblis untuk maksud jahatnya. Terima kasih, Bapa! Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 9:43b-45), bacalah juga tulisan yang berjudul “OTORITAS YESUS ATAS CIPTAAN BERHUBUNGAN LANGSUNG DENGAN KETAATAN-NYA KEPADA BAPA” (bacaan untuk tanggal 28-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-9-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 September 2019 [Peringatan Fakultatif  S. Elzear & Delfina, OFS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MESIAS DARI ALLAH

MESIAS DARI ALLAH

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Vincentius a Paolo, Imam – Jumat, 27 September 2019)

Image result for IMAGES OF MATTHEW 16:13-20

Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah  murid-murid-Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka, “Kata orang banyak, siapakah Aku ini? Jawab mereka, “Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia, yang lain lagi mengatakan bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit.” Yesus bertanya kepada mereka, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus, “Mesias dari Allah.” Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa pun.

Kemudian Yesus berkata, “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” (Luk 9:18-22) 

Bacaan Pertama: Hag 2:1b-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 43:1-4 

Apabila kita ingin mengikuti jejak Yesus dengan keyakinan yang mantap, maka kita harus mengetahui siapa Dia sebenarnya. Ketika Yesus bertanya: “Kata orang banyak, siapakah Aku ini?”, maka berbagai jawaban yang diberikan para murid-Nya mencerminkan kepercayaan di tengah masyarakat pada waktu itu (Luk 9:18-19). Semua ini adalah jawaban-jawaban yang menyenangkan, namun tidak berurusan dengan kebenaran sentral bahwa Yesus adalah “Mesias dari Allah”  (Luk 9:20) yang datang ke dunia untuk menyelamatkan kita – umat manusia. Yesus mengetahui bahwa para murid-Nya akan sampai pada kepercayaan ini dan dengan demikian Ia mengajukan pertanyaan kepada mereka tentang tingkat iman-kepercayaan mereka.

Yesus baru saja berdoa seorang diri. Urut-urutan pertanyaan yang diajukan oleh-Nya menyarankan bahwa orang banyak hanya melihat sebagian gambaran saja dari Yesus. Petrus – sementara berbicara atas nama seluruh murid – adalah orang pertama yang memberikan kemuliaan kepada Yesus yang memang diterima-Nya dengan mendeklarasikan Yesus sebagai “Mesias dari Allah”. Saat itu adalah saat yang penuh sukacita dan kemenangan bagi mereka. Mengapa setelah deklarasi Petrus itu, Yesus langsung saja dan dengan cepat berbicara mengenai penderitaan dan kematian-Nya?

PETERS CONFESSIONDengan proklamasinya tentang Yesus sebagai “Mesias dari Allah”, pemenuhan dari harapan-harapan Perjanjian Lama, kelihatannya Petrus akhirnya telah sampai kepada pemahaman tentang siapa Yesus sebenarnya dan mengapa Dia datang ke dunia. Namun, seperti orang buta yang belum sepenuhnya disembuhkan, visi Petrus masih belum jelas.

Selama itu Petrus memang telah mengumpulkan berbagai isyarat kecil yang dikirim oleh Yesus. Yesus juga sangat mengetahui tentang impian-impian yang ada dalam benak para murid-Nya sehubungan dengan kemuliaan dan kejayaan sang Mesias sebagai orang pemimpin dunia. Untuk alasan  itulah Yesus mulai memberitahukan para murid-Nya (termasuk Petrus tentunya) tentang makna yang lebih penuh dari kata-kata Petrus (Mesias dari Allah), yaitu bahwa kemuliaan sang Meeias adalah kemuliaan spiritual, bukan kemuliaan politis.

Sekarang, bagaimana halnya dengan kita sendiri? Kita sering sekali memproklamasikan Yesus sebagai Kristus (Mesias), namun masalahnya apakah kita memahami implikasi sepenuhnya dari apa yang kita permaklumkan? Para murid Yesus berpikir bahwa mereka mengetahui apa yang harus diharapkan dari seorang Mesias: peragaan kekuasaan dan kemuliaan dunia. Mereka tidak memahami bahwa Yesus justru mengalahkan dosa dengan menyerahkan diri-Nya untuk menanggung hukuman yang sebenarnya pantas ditimpakan atas diri kita. Dalam penderitaan sengsara-Nya Tubuh-Nya penuh dengan luka-luka yang merupakan efek-efek dari ketidaktaatan kita.

Sebagian besar dari kita akan setuju bahwa Yesus adalah Mesias. Akan tetapi, sampai berapa jauh kita menghubungkan pernyataan itu dengan kematian-Nya di atas kayu salib? Mungkinkah kita merasa takut untuk melihat  ke dalam hati kita sendiri dan melihat kebutuhan kita akan pengampunan dan pembebasan (pelepasan) dari kedosaan kita? Inilah sebenarnya KABAR BAIK YESUS KRISTUS: Yesus telah mengampuni kita; Dia telah memenangkan bagi kita kebebasan kita dari perbudakan dosa. Kita mempunyai seorang Juruselamat yang sangat mengasihi kita, sehingga kita tidak perlu merasa takut untuk melihat ke dalam hati kita, karena Dia sungguh mengetahui apa yang ada di dalam hati kita itu dan Ia pun menawarkan kebebasan dan kasih-Nya kepada kita. Apa yang diminta oleh-Nya dari kita adalah agar kita datang menghadap-Nya dengan rendah hati dan membuka diri kita bagi kasih-Nya yang menyembuhkan.

DOA: Yesus, kami memproklamasikan bahwa Engkau adalah Mesias, Kristus yang datang ke tengah-tengah dunia karena kasih-Mu, dan kemudian menderita karena dosa-dosa kami. Bukalah mata kami lebar-lebar, ya Tuhan! Tolonglah kami agar mau dan mampu percaya bahwa oleh kematian dan kebangkitan-Mu, Engkau telah mematahkan kuasa dosa dan memberikan kesembuhan bagi siapa saja yang datang menghadap Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPAKAH YESUS BAGIKU” (bacaan untuk tanggal 28-9-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019. 

Cilandak, 25 September 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA TIDAK SENDIRI DALAM BEKERJA

KITA TIDAK SENDIRI DALAM BEKERJA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Kamis, 26 September 2019)

Ordo Fransiskan Sekular [OFS]: Peringatan Fakultatif S. Elzear & Delfina, OFS

Herodes, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan ia pun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan bahwa Yohanes telah dibangkitkan dari antara orang mati. Ada lagi yang mengatakan bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula mengatakan bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit. Tetapi Herodes berkata, “Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa sebenarnya Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?” Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus. (Luk 9:7-9) 

Bacaan Pertama: Hag 1:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-4,5-6a,9b 

Dalam Injil Lukas, bacaan singkat Injil hari ini terletak di antara cerita tentang Yesus mengutus kedua belas  rasul-Nya untuk mewartakan Kerajaan Allah (Luk 9:1-6) dan kembalinya mereka setelah melaksanakan tugas perutusan itu (Luk 9:10-17).  Bacaan ini mengajarkan kepada kita bahwa para murid Kristus akan menghadapi oposisi selagi mereka mewartakan sabda Allah, walaupun barangkali diiringi kebingungan seperti ketika orang-orang itu menilai Yohanes Pembaptis.

Yesus menghadapi oposisi dan demikian pula para pengikut-Nya. Yesus seringkali ditentang oleh para pemimpin Yahudi (Mat 12:14), bahkan oleh para pengikut-Nya sendiri (Mat 16:23). Yohanes Pembaptis menghadapi oposisi dari Herodus Antipas yang menyuruh menangkapnya, menjebloskannya ke dalam penjara dan kemudian memenggal kepalanya. Para murid Yesus juga menghadapi oposisi (lihat Kis 5:17-18), dan Gereja telah menghadapi oposisi dalam berbagai bentuknya sepanjang sejarahnya yang sudah berlangsung selama kurang-lebih 2.000 tahun.

Sabda Allah menyatakan posisi kita di hadapan Allah dan mendatangkan pemisahan ketika mengungkapkan kebutuhan kita untuk mengubah hidup kita dan berbalik kepada Allah. Pesan Salib mengambil tempat sentral dalam pengajaran Yesus dan merupakan alasan mengapa Dia melakukan karya pelayanan-Nya (Luk 9:22). Bahkan Petrus sendiri salah memahami keperluan akan penderitaan sengsara Yesus untuk menebus umat manusia (Mat 16:21-23).

Selagi Injil diwartakan pada masa para rasul, Gereja bertumbuh-kembang secara dramatis (lihat Kis 2:41,47) dan diberkati secara berlimpah. Gereja modern akan diperkuat apabila tetap teguh dalam mewartakan pesan Injil Yesus Kristus secara penuh, pesan yang tidak akan berubah dengan adanya perubahan zaman. Bilamana sabda Allah diwartakan, maka sabda Allah itu akan berbuah dan mencapai tujuan dari pekerjaan itu, seperti ada tertulis dalam Kitab Yesaya; “…… demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku; ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya” (Yes 55:11).

Injil tidak dapat diperlunak karena rasa takut akan adanya reaksi-reaksi yang tidak mengenakkan atau membuatnya menjadi lebih dapat diterima. Bilamana kita  berbicara mengenai kebenaran Allah dalam kasih, dibimbing oleh Roh Kudus, orang-orang akan mengenal Yesus dan menemukan kehidupan di dalam Dia. Injil sebagai sabda Allah yang hidup dan aktif, menyatakan hikmat Allah yang tak terhingga dan kasih yang tak dapat diukur. Injil bukanlah sekadar suatu kode moral atau buku yang memuat panduan-panduan untuk bertindak-tanduk; Injil adalah kuasa dan kasih Allah yang membawa kehidupan baru.

Kita tidak perlu menjadi putus-asa manakala kita menghadapi oposisi terhadap Injil. Ketika Gereja mewartakan keutamaan Kristus, maka Gereja pun akan berkemenangan. Ingatlah, bahwa kita tidak sendiri dalam bekerja, karena Allah telah mengutus Roh Kudus untuk membimbing Gereja (Yoh 16:5-16).

DOA: Tuhan Yesus, melalui Roh Kudus-Mu, buatlah kami semua menjadi orang-orang yang berani dalam mewartakan Injil, agar dengan demikian orang-orang di mana-mana dapat mengenal dan mengalami kasih dan hidup-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Hag 1:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH MEMANGGIL KITA UNTUK MEMBANGUN GEREJA” (bacaan tanggal 26-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http:/sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-9-18 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 24 September 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KUASA ATAS ROH-ROH JAHAT

KUASA ATAS ROH-ROH JAHAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Rabu, 25 September 2019)

Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang-orang sakit, kata-Nya kepada mereka, “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau kantong perbekalan, roti atau uang, atau dua helai baju. Apabila kamu masuk ke dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ. Kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka.” Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi desa-desa sambil memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat. (Luk 9:1-6) 

Bacaan Pertama: Ezr 9:5-9; Mazmur Tanggapan: Tb 13:2-5,8

“Yesus … memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang-orang sakit.”  (Luk 9:1-2)

Mengapa Yesus harus bersusah-payah memberikan otoritas kepada kedua belas murid-Nya untuk mengalahkan roh-roh jahat? Bukankah Yesus dapat sekadar memberdayakan mereka untuk menyembuhkan sakit-penyakit dan mewartakan Injil? Bukankah itu sudah cukup? Kelihatannya tidak! Yesus menyadari bahwa keberadaan roh-roh jahat adalah riil, dan Ia juga tahu bahwa roh-roh jahat itu merupakan ancaman riil terhadap hidup orang banyak. Kita bisa saja membayangkan Iblis sebagai makhluk berwarna merah menyeramkan, bertanduk, berekor dengan ujung tajam, dan memiliki kaki seperti seekor kambing, namun kenyataannya tidaklah sedemikian. Kita bahkan mungkin saja berpikir bahwa cukuplah bagi kita untuk percaya kepada Yesus dan mengakui keberadaan si Jahat di dunia tanpa menerima kenyataan bahwa dia adalah makhluk spiritual yang bertujuan untuk menghancurkan kita.

Posisi yang disebutkan di atas adalah posisi yang berbahaya. Iblis itu riil, dan tindakan-tindakannya terlihat di dunia dan bahkan dalam hidup kita. Dengan dusta dan kebenaran-kebenaran yang setengah-setengah, Iblis mempengaruhi kita dengan bujukan-bujukannya, rayuan-rayuannya dlsb. bahwa Allah tidaklah seluruhnya baik dan mengasihi. Iblis juga menggunakan hal-hal yang jelas-jelas dosa dan ketidakpedulian secara halus untuk memimpin kita kepada mindsets yang bertentangan dengan pesan Injil. Dijuluki “pendusta dan bapak pendusta” (Yoh 8:44). Iblis ingin menghalang-halangi siapa saja untuk mengenal belas kasih Allah dan menerima pengampunan serta rahmat-Nya.

Untunglah bahwa ini bukanlah akhir dari cerita kita! Dengan kematian Yesus di kayu salib, Iblis telah dikalahkan. Kemampuan yang di berikan oleh Yesus kepada para murid-Nya yang pertama untuk mengalahkan Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya bukanlah karunia yang diberikan satu kali saja. Semua orang Kristiani dapat menerima kuasa untuk menolak dusta Iblis, godaan-godaannya, dan keraguan-raguan yang disebabkan olehnya. Kita tidak perlu merasa tak berdaya dan tertindas, dirampas sukacita penebusan kita yang adalah milik kita dalam Kristus. Apabila kita dipersatukan dengan Yesus dalam pembaptisan dan disalibkan bersama Dia, maka kita ikut ambil bagian dalam buah-buah kebangkitan-Nya.

Marilah kita merenungkan kebenaran berikut ini: Bagian lama dari diri kita (anda dan saya) yang berada di bawah pengaruh Iblis telah dihancurkan melalui salib Kristus. Kita harus memperkenankan realitas ini mengendap dalam pikiran dan hati kita, sehingga dengan demikian kita dapat berkonfrontasi dengan Iblis dan roh-roh jahatnya setiap hari dengan penuh kepercayaan diri. Kita pun akan berjalan dengan keyakinan yang lebih besar  lagi dalam hidup baru yang adalah milik kita dalam Kristus.

DOA: Tuhan Yesus, aku bergembira penuh sukacita akan  kemenangan-Mu atas Iblis! Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah memberikan kepadaku kuasa-Mu untuk mengenali dan menolak sengat Iblis. Terpujilah Engkau, ya Yesus, Engkau adalah Tuhan yang tersalib dan bangkit, yang telah memenangkan pertempuran sekali dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “APAKAH TANGGAPAN KITA?” (bacaan tanggal 25-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi atas tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-9-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 September 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS