BAHAYA DARI KELIMPAHAN HARTA-KEKAYAAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Bernardus, Abas Pujangga Gereja – Selasa, 20 Agustus 2019)

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sekali lagi Aku berkata, lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Ketika murid-murid mendengar itu, sangat tercengang mereka dan berkata, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.”

Lalu Petrus berkata kepada Yesus, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki dan saudaranya perempuan, atau bapak atau ibunya, atau anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.

Tetapi banyak orang yang pertama akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang pertama.” (Mat 19:23-30) 

Bacaan Pertama: Hak 6:11-24a;  Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9,11-14 

Yesus menggambarkan dengan jelas bahaya dari kelimpahan harta-kekayaan. Orang-orang yang materialistis – yang mementingkan materi dalam hidup ini – disibukkan sehari-harinya dengan kekayaan dan kenikmatan-kenikmatan hidup, dan mereka tidak akan menjadi matang (dewasa). Hasrat mereka dan kasih mereka tidak dapat mengembang. Mereka adalah orang-orang yang diperbudak oleh berbagai macam “kebutuhan”, misalnya mode/fashion yang paling akhir, sebuah rumah yang serba lengkap dan mewah dan dua-tiga mobil baru yang mahal-mahal, agar setiap ruang diperlengkapi dengan televisi model terakhir, lemari es yang super-modern dan kerap kali menjamu tamu-tamu penting dengan makanan-minuman pesanan dari perusahaan catering kelas satu. Dengan cara hidup begini, jiwa orang bersangkutan pun dengan cepat dapat tercekik.

Sayang sekali kasih tidak dapat tumbuh dengan subur di mana kekayaan materiil berkelimpahan, karena seseorang harus mengosongkan dirinya agar dapat mengasihi secara murni. Ketamakan dan kecemburuan secara tetap mengancam kasih; harta-kekayaan membuatnya menuntut tanpa belas kasih. Hal tersebut sungguh merusak.

Orang-orang seperti itu mengabaikan upaya-upaya Kristiani untuk menjamin terciptanya keadilan bagi orang-orang yang tertindas, pertolongan bagi orang-orang yang menderita, atau bantuan bagi mereka yang miskin, karena pekerjaan seperti ini terasa tidak mengenakkan, tidak nyaman! Mereka akan memberi sumbangan atau “sedekah” untuk upaya karitatif, hanya jika tidak membutuhkan pengorbanan pribadi. Dalam teori mereka setuju bahwa “setiap orang harus mempunyai kesempatan yang sama”, dan “persamaan hak adalah ide yang baik”, namun mereka tidak pernah mengganggap serius peringatan akan kehampaan dan bahaya dari hidup semata-mata untuk uang, kenikmatan dunia, popularitas dan kekuasaan. Bagi orang-orang jenis ini semua peringatan ini adalah omong-kosong para pengkhotbah saja! Mereka sungguh dikuasai oleh rasa cemburu atau iri hati ketika melihat orang-orang lain yang lebih “hebat”. Kalau mereka diberi kesempatan, maka mereka pun akan tanpa malu-malu mengeruk segala hal yang “baik” dalam kehidupan ini dengan kedua tangan mereka.

Bagaimana dengan Kristus, yang mempunyai segalanya dan mengosongkan diri-Nya? (Flp 2:7). Bagaimana dengan para kudus – para martir, para rasul, para kontemplatif dan mereka yang secara sukarela memilih hidup miskin di segala zaman – yang meninggalkan segalanya untuk mengikuti jejak Kristus dan melayani sesama mereka? Apakah orang-orang ini merupakan orang-orang sinting dan/atau aneh karena hanya mereka saja yang mengetahui bagaimana mengasihi?

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahabaik, janji-Mu adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah (bdk. Mzm 12:7). Jagalah diriku dari dosa, ya Tuhan Allahku, walaupun orang-orang kaya tersandung jatuh karena sibuk dengan harta kekayaan mereka, dan para penguasa yang hidupnya hanya untuk hal-hal duniawi juga jatuh dari “takhta” mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:23-30), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH MENAWARKAN KESELAMATAN-NYA KEPADA SETIAP ORANG” (bacaan tanggal 20-8-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-8-18 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 17 Agustus 2019 [HARI RAYA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements