Archive for August 20th, 2019

PERGI JUGALAH KAMU KE KEBUN ANGGURKU

PERGI JUGALAH KAMU KE KEBUN ANGGURKU

(Bacaan Injil Misa, Peringatan Wajib S. Pius X, Paus – Rabu, 21 Agustus 2019)

“Adapun hal Kerajaan Allah sama seperti seorang pemilik kebun anggur yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar lagi dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergilah juga kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Lalu mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam pemilik kebun itu berkata kepada mandornya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk pertama. Lalu datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk pertama, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada pemilik kebun itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi pemilik kebun itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir. (Mat 20:1-16) 

Bacaan Pertama: Hak 9:6-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 21:2-7

“Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.” (Mat 20:7)

Seorang imam di luar negeri pernah mengungkapkan bahwa gambaran Gereja kita pada hari ini adalah bagaikan pertandingan sepak bola kelas dunia. Puluhan ribu orang penonton di stadion berteriak-teriak sambil menabuh genderang guna menyemangati kesebelasan masing-masing, sedangkan di lapangan  22 orang sedang bertarung mati-matian. Puluhan ribu penonton membutuhkan olah raga yang sungguhan, sedangkan yang bertarung memerlukan istirahat! Sebagian besar pekerjaan dalam Gereja dikerjakan oleh kaum berjubah yang berjumlah relatif sedikit kalau dilihat dari jumlah keseluruhan umat. Mungkin pernyataan imam itu benar dan mungkin juga salah. Namun dapat dikatakan bahwa hal ini benar sekali pada masa sebelum Konsili Vatikan II [1962-1965]. Pasca Konsili – dengan berjalannya waktu – keadaannya membaik tahap demi tahap, walaupun masih jauh dari yang diharapkan. Bukankah Allah menginginkan kita agar pergi juga ke kebun anggur-Nya? (Mat 20:7).

Salah satu dokumen terpenting hasil Konsili Vatikan II adalah “Dekrit Apostolicam Actuositatem tentang Kerasulan Awam [AA]”. Dokumen ini dapat dikatakan merupakan sebuah terobosan berkaitan dengan peran kaum awam dalam Gereja. Dokumen itu a.l. mengatakan: “Dalam Gereja terdapat keanekaan pelayanan, tetapi kesatuan perutusan. Para Rasul serta para pengganti mereka oleh Kristus diserahi tugas mengajar, menyucikan dan memimpin atas nama dan kuasa-Nya. Sedangkan kaum awam ikut serta mengemban tugas imamat, kenabian dan rajawi Kristus, menunaikan bagian mereka dalam perutusan segenap Umat Allah dalam Gereja dan di dunia” (AA, 2; lihat juga “Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium tentang Gereja [LG], 31). Dokumen AA ini juga mengatakan: “Kristus yang diutus oleh Bapa menjadi sumber dan asal seluruh kerasulan Gereja. Maka jelaslah kesuburan kerasulan awam tergantung dari persatuan mereka dengan Kristus yang memang perlu untuk hidup, menurut sabda Tuhan: ‘Barang siapa tinggal dalam aku dan Aku dalam dia, ia menghasilkan buah banyak, sebab tanpa aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa’ ” (Yoh 15:5; AA,4).

Sebenarnya kita semua telah dipanggil dan diberdayakan untuk memberitakan Injil Yesus Kristus, berdoa untuk/dengan orang sakit, menyampaikan ajaran-ajaran Yesus, dan mendirikan keadilan dan kedamaian di masyarakat di mana kita tinggal. Pertanyaan yang harus diajukan oleh kita masing-masing adalah: “Bagaimana aku menanggapi undangan ini?”

Barangkali kita (anda dan saya) meragukan panggilan kita. Kita mungkin saja merasa tidak pantas, atau kurang berpendidikan, atau tidak kompeten. Kita dapat merasa bahwa hanya imam-imam tertahbis saja yang harus dipercayakan dengan pekerjaan-pekerjaan gerejawi. Memang ada pelayanan yang hanya dapat dilakukan oleh imam tertahbis, jadi tidak dapat digantikan oleh seorang awam. Namun demikian pula halnya dengan panggilan kita sebagai umat awam, juga tidak dapat digantikan oleh orang lain. Panggilan Allah tidaklah terbatas pada pribadi-pribadi yang sangat terdidik. Ingatlah bahwa para rasul Kristus sendiri pada awalnya hanyalah orang-orang biasa tanpa latar belakang pendidikan yang hebat. Demikian pula panggilan Tuhan tidaklah ditujukan kepada orang-orang yang ultra-suci. Bahkan Santo Paulus sendiri – sang Rasul – menamakan dirinya orang “yang paling berdosa” (1 Tim 1:15).

Allah tidak memanggil orang-orang yang qualified, melainkan Ia membuat orang-orang yang dipanggil-Nya menjadi qualified. Nah, kita semua dipanggil! Selagi kita pergi ke luar dan “bereksperimen”, maka kita semua dapat belajar bagaimana mendengarkan Roh-Nya dan tetap patuh terhadap Roh-Nya tersebut. Allah akan menunjukkan kepada kita (anda dan saya) bagaimana membantu mendirikan Kerajaan-Nya di sini, di atas bumi. Dengan berpaling kepada-Nya dalam iman, kita dapat belajar bagaimana memperkenankan hidup Yesus memenuhi hati kita sedemikian sehingga berlimpah dengan kasih yang secara alamiah memberikan kehidupan bagi orang-orang lain.

DOA: Tuhan Yesus, di sini aku yang dengan rendah hati datang menghadap-Mu. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu bentuklah aku. Aku akan pergi ke mana saja seturut kehendak-Mu. Aku akan melakukan apa saja seturut kehendak-Mu. Aku akan berbicara apa saja yang Engkau inginkan aku bicarakan kepada orang-orang lain. Tuhan Yesus, berjanjilah kepadaku hanya satu hal ini – kehadiran-Mu sepanjang pekerjaan melayani mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 20:1-16), bacalah tulisan yang berjudul “SEBUAH PERUMPAMAAN TENTANG KERAJAAN ALLAH” (bacaan tanggal 21-8-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2015) 

Cilandak, 18 Agustus 2019 [HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

BAHAYA DARI KELIMPAHAN HARTA-KEKAYAAN

BAHAYA DARI KELIMPAHAN HARTA-KEKAYAAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Bernardus, Abas Pujangga Gereja – Selasa, 20 Agustus 2019)

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sekali lagi Aku berkata, lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Ketika murid-murid mendengar itu, sangat tercengang mereka dan berkata, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.”

Lalu Petrus berkata kepada Yesus, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki dan saudaranya perempuan, atau bapak atau ibunya, atau anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.

Tetapi banyak orang yang pertama akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang pertama.” (Mat 19:23-30) 

Bacaan Pertama: Hak 6:11-24a;  Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9,11-14 

Yesus menggambarkan dengan jelas bahaya dari kelimpahan harta-kekayaan. Orang-orang yang materialistis – yang mementingkan materi dalam hidup ini – disibukkan sehari-harinya dengan kekayaan dan kenikmatan-kenikmatan hidup, dan mereka tidak akan menjadi matang (dewasa). Hasrat mereka dan kasih mereka tidak dapat mengembang. Mereka adalah orang-orang yang diperbudak oleh berbagai macam “kebutuhan”, misalnya mode/fashion yang paling akhir, sebuah rumah yang serba lengkap dan mewah dan dua-tiga mobil baru yang mahal-mahal, agar setiap ruang diperlengkapi dengan televisi model terakhir, lemari es yang super-modern dan kerap kali menjamu tamu-tamu penting dengan makanan-minuman pesanan dari perusahaan catering kelas satu. Dengan cara hidup begini, jiwa orang bersangkutan pun dengan cepat dapat tercekik.

Sayang sekali kasih tidak dapat tumbuh dengan subur di mana kekayaan materiil berkelimpahan, karena seseorang harus mengosongkan dirinya agar dapat mengasihi secara murni. Ketamakan dan kecemburuan secara tetap mengancam kasih; harta-kekayaan membuatnya menuntut tanpa belas kasih. Hal tersebut sungguh merusak.

Orang-orang seperti itu mengabaikan upaya-upaya Kristiani untuk menjamin terciptanya keadilan bagi orang-orang yang tertindas, pertolongan bagi orang-orang yang menderita, atau bantuan bagi mereka yang miskin, karena pekerjaan seperti ini terasa tidak mengenakkan, tidak nyaman! Mereka akan memberi sumbangan atau “sedekah” untuk upaya karitatif, hanya jika tidak membutuhkan pengorbanan pribadi. Dalam teori mereka setuju bahwa “setiap orang harus mempunyai kesempatan yang sama”, dan “persamaan hak adalah ide yang baik”, namun mereka tidak pernah mengganggap serius peringatan akan kehampaan dan bahaya dari hidup semata-mata untuk uang, kenikmatan dunia, popularitas dan kekuasaan. Bagi orang-orang jenis ini semua peringatan ini adalah omong-kosong para pengkhotbah saja! Mereka sungguh dikuasai oleh rasa cemburu atau iri hati ketika melihat orang-orang lain yang lebih “hebat”. Kalau mereka diberi kesempatan, maka mereka pun akan tanpa malu-malu mengeruk segala hal yang “baik” dalam kehidupan ini dengan kedua tangan mereka.

Bagaimana dengan Kristus, yang mempunyai segalanya dan mengosongkan diri-Nya? (Flp 2:7). Bagaimana dengan para kudus – para martir, para rasul, para kontemplatif dan mereka yang secara sukarela memilih hidup miskin di segala zaman – yang meninggalkan segalanya untuk mengikuti jejak Kristus dan melayani sesama mereka? Apakah orang-orang ini merupakan orang-orang sinting dan/atau aneh karena hanya mereka saja yang mengetahui bagaimana mengasihi?

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahabaik, janji-Mu adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah (bdk. Mzm 12:7). Jagalah diriku dari dosa, ya Tuhan Allahku, walaupun orang-orang kaya tersandung jatuh karena sibuk dengan harta kekayaan mereka, dan para penguasa yang hidupnya hanya untuk hal-hal duniawi juga jatuh dari “takhta” mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:23-30), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH MENAWARKAN KESELAMATAN-NYA KEPADA SETIAP ORANG” (bacaan tanggal 20-8-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-8-18 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 17 Agustus 2019 [HARI RAYA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS