MENGAMPUNI SAMPAI TUJUH PULUH KALI TUJUH KALI [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Kamis, 15 Agustus 2019)

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.

Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

Setelah Yesus mengakhiri perkataan itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang Sungai Yordan. (Mat 18:21-19:1)

Bacaan Pertama: Yos 3:7-10-11,13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 114:1-6 

Petrus mengajukan sebuah pertanyaan kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Petrus tentunya memandang dirinya cukup bermurah hati karena bersedia mengampuni sampai tujuh kali, namun bagi Yesus sikap dan perilaku seperti dikemukakan oleh Petrus itu tidaklah cukup. Bagi Yesus, pengampunan itu haruslah tidak terbatas (Mat 18:21-22).

Agar pendapat-Nya dapat dipahami dengan benar, Yesus mengajarkan sebuah perumpamaan. Dua orang pemain kunci dalam perumpamaan-Nya adalah seorang raja yang berniat untuk mengadakan perhitungan dengan para hambanya, dan seorang hamba yang berhutang kepada raja sebanyak sepuluh ribu talenta, suatu jumlah yang sangat besar – hutang yang praktis tidak akan mampu dilunasinya. Sang raja kemudian memerintahkan supaya hamba itu dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Hukuman berat ini menyebabkan si hamba (yang sudah berstatus debitur macet) itu bersembah sujud di depan sang raja. Ia mohon agar raja sabar dan segala hutangnya akan dia lunasi. Hati sang raja menjadi tergerak oleh belas kasihan, sehingga dia membebaskan si hamba dan menghapuskan hutangnya (Mat 18:24-27).

Kemurahan hati sang raja dalam perumpamaan ini mencerminkan Allah yang penuh bela rasa, mahapengampun dan maharahim (maha berbelaskasih). Allah ingin agar kita masing-masing mencerminkan kerahiman yang telah kita terima dalam kehidupan kita sendiri, dengan menjadi berbela rasa juga kepada orang-orang lain. Roh Kudus ingin bekerja di dalam diri kita untuk memupuk hati yang berbela rasa, yang mencerminkan aspek karakter Yesus yang paling indah.

Setiap hari kita diberi kesempatan untuk menunjukkan bela rasa terhadap orang-orang di sekeliling kita – orang-orang miskin, orang-orang yang menderita sakit-penyakit, para single parents dan anak-anak mereka yang masih kecil-kecil, orang-orang yang sedang ditimpa berbagai kemalangan, kekhawatiran, keputusasaan, orang-orang yang membutuhkan simpati dari hati yang penuh bela rasa dst. Di mana saja kita menemukan mereka (termasuk dalam rumah kita sendiri), baiklah kita memakai semboyan sederhana namun penuh makna ini: “Seperti Kristus yang sedang berbela rasa”.

Hati yang berbela rasa menjadi langka apabila kita melupakan belas kasihan dan bela rasa yang telah kita terima dari Allah. Si hamba dalam perumpamaan di atas begitu cepat melupakan belas kasihan sang raja atas dirinya. Dengan demikian dia tidak mampu untuk berbelas kasihan terhadap rekannya. Seorang hamba lain yang berhutang kepadanya hanya sejumlah seratus dinar saja. Allah tidak suka melihat sikap dan perilaku seperti ditunjukkan oleh si hamba yang telah diampuni oleh raja tadi. Oleh kuasa Roh Kudus-Nya, Bapa surga ingin membentuk dalam diri kita masing-masing suatu hati yang penuh bela rasa, sebagaimana yang dimiliki Putera-Nya, Yesus Kristus.

DOA: Bapa surgawi, aku bersukacita dan berterima kasih penuh syukur untuk bela rasa dan kerahiman yang telah kuterima dari-Mu melalui Putera-Mu, Yesus Kristus. Aku ingin, ya Allahku, agar menjadi mampu menunjukkan kepada orang-orang lain belas kasihan dan bela rasa yang sama, seperti yang telah kuterima. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 18:21-19:1), silahkan bacalah tulisan yang berjudul “TENTANG PENGAMPUNAN” (bacaan tanggal 15-8-19), dalam situs/blog SANG SABDA http:/sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-8-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 Agustus 2019 [Peringatan Fakultatif B Markus dr Aviano, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS