KECUALI DI TEMPAT ASALNYA SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Jumat, 2 Agustus 2019)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Maria Ratu para Malaikat, Portiunkula

Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata, “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mukjizat-mukjizat itu? Bukankah ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi, dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” Lalu mereka menolak Dia. Kemudian Yesus berkata  kepada mereka, “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.” Karena mereka tidak percaya, tidak banyak mukjizat diadakan-Nya di situ. (Mat 13:54-58)  

Bacaan Pertama: Im 23:1,4-11,15-16,27,34-37; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:3-6,10-11 

“Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.” (Mat 13:57)

Penduduk Nazaret – kota asal Yesus – kelihatannya marah terhadap seorang pribadi yang mereka kenal betul dan mereka pikir orang biasa-biasa saja dan sekarang “berpretensi” menjadi seorang rabi.  Jadi, di sini familiaritas penduduk Nazaret dengan Yesus tidak menjadi asset, melainkan merupakan suatu liability bagi mereka. Justru karena mengenal Yesus dengan baik, mereka menempatkan Yesus dalam kerangka pemikiran yang dipenuhi dengan preconceived ideas tentang diri-Nya. Ketidakpercayaan mereka terkulminasi dalam kemarahan; bagi mereka keberadaan Yesus sebagai seorang guru agama yang mencuat dalam popularitas  (sedang naik daun) adalah sebuah skandal.

Matius menempatkan cerita ini langsung setelah pengajaran-pengajaran Yesus dalam bentuk perumpamaan-perumpamaan (Mat 13:1-52) dengan maksud untuk mengkontraskan antara “orang banyak yang datang berbondong-bondong dan mengerumuni Dia di pantai” (lihat Mat 13:1-2) dengan “mereka yang mendengar pewartaan-Nya di rumah ibadat (sinagoga) di kampung-Nya sendiri – Nazaret” (Mat 13:54), yaitu orang-orang yang mempunyai sikap EGP – tidak peduli – tidak mau spesial susah-susah mencari diri-Nya. Perbedaannya terletak di sini: Mereka yang berkumpul di sekeliling Yesus adalah memang orang-orang yang mencari suatu relasi yang lebih mendalam dengan Allah, sedangkan mereka yang mendengar pengajaran-Nya di sinagoga di Nazaret adalah orang-orang yang memiliki keinginan tahu tapi suam-suam kuku. Di ujung cerita, orang-orang yang suam-suam kuku inilah yang menolak Yesus. Para murid – rendah hati, berdosa, memiliki rasa takut akan Allah – mendengarkan Dia, kemudian ditransformasikan menjadi bejana-bejana yang penuh kuat-kuasa.

Bagaimana “familiaritas” dengan Yesus dapat menghalangi kita, bahkan menggiring kita kepada ketidakpercayaan? Dengan mudah kita dapat meyakinkan diri kita sendiri: “Allah itu kan begitu besar, begitu agung, dan Ia begitu sibuk, jadi bagaimana mempunyai waktu untuk memperhatikan persoalan-persoalanku yang kecil-kecil ini?” Kita juga dapat berpikir: “Tidak mungkin Dia mau melakukan sesuatu yang baik dalam hidupku hari ini. Aku begitu berdosa, begitu lemah, terlalu jauh dari diri-Nya.” Barangkali kegairahan kita untuk mengenal Dia, yang mungkin pernah kita miliki, telah memudar, atau karena kekecewaan-kekecewaan hidup, telah berubah menjadi apatisme.

Dalam kondisi apa pun kita sekarang, marilah kita tetap berdiri di dekat Yesus, berpegang pada diri-Nya dengan segala kekuatan kita. Kita harus tetap berupaya mengenal Dia secara lebih mendalam. Tidak cukuplah hanya mengagumi-Nya dari jarak jauh. Kita harus terus berupaya untuk mendekati-Nya, meminta, mencari dan mengetuk, agar Ia mau menyatakan diri-Nya lebih dan lebih lagi kepada kita. Baiklah kita membuka hati dan memperkenankan-Nya berbicara kepada hati kita masing-masing.

DOA: Tuhan Yesus, tariklah diriku kepada-Mu. Aku menolak segala ketidakpercayaan dan familiaritas palsu dengan diri-Mu. Aku percaya bahwa mereka yang mencari Engkau akan menemukan diri-Mu. Buatlah mukjizat dalam hatiku, ya Tuhan. Dengarlah kerinduan hatiku kepada-Mu. Aku mengasihi-Mu, Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:54-58), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH KITA MENGUNCI YESUS” ( bacaan tanggal 2-8-19) dalam situs/blog blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-8-18 dalam situs SANG SABDA)

Cilandak, 31 Juli 2019   

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS