Archive for August, 2019

YESUS SENANTIASA BERPIHAK PADA ORANG KECIL

YESUS SENANTIASA BERPIHAK PADA ORANG KECIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXII [TAHUN C] – 1 September 2019)

HARI MINGGU KITAB SUCI NASIONAL

Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.

Karena Yesus melihat bagaimana para undangan memilih tempat-tempat kehormatan, Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat daripada engkau, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di tempat yang lebih terhormat. Dengan demikian, engkau akan menerima hormat di depan mata semua orang yang makan bersamamu. Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Lalu Yesus berkata juga orang yang mengundang Dia, “Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau lagi dan dengan demikian engkau mendapat balasannya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasannya pada hari kebangkitan orang-orang benar.” (Luk 14:1,7-14) 

Bacaan Pertama: Sir 3:17-18,20,28-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 68:4-7,10-11; Bacaan Kedua: Ibr 12:18-19,22-24 

Yesus menyaksikan bagaimana orang-orang Farisi yang menjadi undangan saling berebutan tempat kehormatan. Apakah orang-orang itu takut tidak kebagian jatah makanan? Apakah mereka merasa takut tidak kelihatan banyak undangan lainnya?

Kita membaca dalam Injil bahwa orang-orang Farisi seringkali memperhatikan Yesus untuk melihat apa yang akan dilakukan-Nya. Kelihatannya Ia mengambil tempat paling belakang, paling akhir. Bayangkan Allah yang mahakuasa mengambil tempat yang di ujung sana yang nyaris tak terlihat oleh para undangan lainnya. Kemudian Ia menjelaskan mengapa: “Mereka yang mendesak-desak mencari tempat terhormat akan menimbulkan kecemburuan para undangan yang lain dan jelas tidak disukai. Sedangkan orang yang mendahulukan orang lain akan dihormati dan dimuliakan untuk sikap dan perilakunya yang baik itu.”

Setiap orang tidak menyukai seorang pribadi yang sombong dan memandang rendah orang-orang lain. Dalam banyak kesempatan kita dapat mendengar komentar seperti berikut ini: “Saya nggak tahan melihat orang itu; dia senantiasa pura-pura mengetahui segala sesuatu, bertindak-tanduk sebagai Allah yang Mahakuasa saja, bahkan seperti Iblis, dia ingin menjadi lebih baik dari pada Allah. Memang komentar seperti ini agak berlebihan (lebay!), tetapi dalam gradasi yang berbeda banyak kita dapat mendengarnya ketika kumpul-kumpul bersama para sahabat, apakah dalam reuni dll.

Sekarang kita lihat Yesus. Kita dapat melihat bagaimana Allah bertindak dalam tindakan-tindakan Yesus, misalnya bagaimana dia berbela-rasa, berbelas-kasih terhadap orang-orang sakit, yang kerasukan roh jahat, menanggung berbagai penderitaan lainnya dan “wong cilik” pada umumnya. Dalam semua hal ini, apakah Yesus bersikap dan bertindak-tanduk seperti seorang eksekutif yang angkuh? Lihat saja apa yang menjadi pilihan Yesus: orangtua yang miskin; lahir bukan di dalam istana raja, melainkan di kandang hina yang diperuntukkan bagi hewan. Siapa sahabat-sahabat-Nya? Para kaisar, raja dan gubernur? Sama sekali tidak! Seorang raja adalah musuh-Nya yang paling jahat: Herodes Agung mencoba untuk membunuh-Nya. Sahabat-sahabat-Nya yang pertama adalah para gembala dengan aroma tubuh yang tidak lebih baik daripada bau domba-domba mereka.

Siapa yang membenci Yesus? Orang-orang yang kaya dan sombong – mereka yang tidak tahu bagaimana caranya untuk berada di tempat yang paling akhir. Nah, sekarang bagaimana dengan kita? Dapatkah kita menjadi lebih serupa lagi dengan Yesus? Ya, kita memang harus begitu, agar dapat menjadi warga Kerajaan-Nya. Yesus bersabda, “Berbahagialah yang miskin, yang berdukacita, yang lemah lembut, yang dianiaya karena melakukan kehendak Allah …… (lihat “Ucapan bahagia”; Mat 5:3 dsj.). Kepada para murid-Nya, Yesus berkata, “Siapa saja yang terbesar diantara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Mat 23:11-12).

DOA: Roh Kudus Allah, bentuklah aku agar dapat menjadi seorang murid Yesus yang baik. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:1,7-14), bacalah tulisan yang berjudul “YANG MERENDAHKAN DIRI AKAN DITINGGIKAN” (bacaan tanggal 1-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 Agustus 2019 [Peringatan Wajib S. Augustinus, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGGUNAKAN SEGALA KARUNIA/ANUGERAH DARI ALLAH SECARA BIJAKSANA

MENGGUNAKAN SEGALA KARUNIA/ANUGERAH DARI ALLAH SECARA BIJAKSANA

 Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Sabtu, 31 Agustus 2019)

 

“Sebab hal Kerajaan Surga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lubang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam hal kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Sesudah itu, datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam hal yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa Tuan adalah orang yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan memungut dari tempat di mana Tuan tidak menanam. Karena itu, aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! Tuannya itu menjawab, Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Karena itu, seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya pada waktu aku kembali, aku menerimanya serta dengan bunganya. Sebab itu, ambillah talenta itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari dia. Sedangkan hamba yang yang tidak berguna itu, campakkanlah dia ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.”  (Mat 25:14-30) 

Bacaan Pertama: 1Tes 4:9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1,7-9 

Dalam perumpamaan tentang talenta ini, Yesus mengingatkan kita bahwa kita harus menggunakan secara bijaksana segala karunia (anugerah) yang diberikan oleh Allah, jikalau kita mau masuk ke dalam Kerajaan Surga. Dalam perumpamaan ini, seperti juga dalam perumpamaan-Nya yang lain, Yesus mendesak bahwa segalanya yang ada pada kita dan kita gunakan sebenarnya adalah milik Allah. Ia telah memberikan berbagai macam talenta dan hal-hal baik lainnya berkaitan dengan kehidupan ini kepada makhluk ciptaan-Nya, ada yang memiliki nilai tinggi, ada yang bernilai lebih rendah dlsb. Dalam perumpamaan ini segala pemberian dari Allah itu diumpamakan uang, untuk mana setiap hamba hanya berfungsi sebagai administrator-nya. Sang Tuan dengan tegas menugaskan para hambanya untuk menggunakan segala miliknya dengan bijaksana dan agar menghasilkan buah secara berlimpah.

Ketika waktu mereka sudah habis dan sang Tuan kembali, ia menuntut perhitungan dari setiap hambanya yang telah diberikan tugas tersebut. Mereka yang telah memperkenankan karya Allah terlaksana lewat diri mereka memperoleh ganjaran. Mereka akan menjadi para hakim dan pemimpin dalam Kerajaan Allah. “Baik sekali perbuatanmu,” sang Tuan berkata, “karena engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam hal yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” 

Ini adalah peringatan keras bahwa kita tidak boleh menggunakan karunia (anugerah) Allah dengan cara “semau gue” …… untuk kenikmatan diri kita sendiri. Hal-hal baik dalam kehidupan ini bukanlah milik kita sendiri, sehingga kita mau memperlakukannya sesuai kesenangan kita. Semua itu harus digunakan dalam rangka pelayanan bagi Allah dan sesama kita. Perumpamaan ini juga merupakan satu lagi perumpamaan di mana Yesus mengingatkan kita tentang penyalahgunaan kekayaan. Jikalau kita tidak menumbuh-kembangkan kasih mendalam dalam diri kita, suatu semangat berbagi, suatu kemurahan-hati dengan segala yang Allah telah berikan kepada kita, maka kita akan “bernasib” serupa dengan hamba tolol yang menyembunyikan dalam tanah satu talenta yang dipercayakan sang Tuan kepadanya, … dia tidak menggunakan anugerah Allah kepadanya untuk kemuliaan-Nya.

Hanya mereka yang membuat ruangan besar bagi Allah dan sesama, menggunakan dengan baik hal-hal baik yang telah diberikan kepadanya oleh Allah, hanya mereka inilah yang layak memperoleh ganjaran dari Allah.

DOA:  Tuhan Yesus, Engkau “pergi” untuk sementara waktu dan telah minta kepadaku menginvestasikan talenta-talenta dari-Mu dengan bijaksana. Ajarlah aku bagaimana menjadi seorang “investor” yang cerdik. Aku ingin diriku mampu untuk memberikan kepada-Mu hasil yang maksimal. Yesus, biarlah aku menjadi salah satu dari orang-orang yang mendengar Engkau berkata, “Baik sekali perbuatanmu, engkau adalah hamba-Ku yang baik dan setia!”. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:14-30), bacalah tulisan berjudul “JANGANLAH KITA MENIRU PERILAKU HAMBA YANG JAHAT DAN MALAS ITU” (bacaan tanggal 31-8-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-9-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Jakarta, 28 Agustus 2019 [Peringatan Wajib S. Augustinus, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

LIMA GADIS BIJAKSANA DAN LIMA GADIS BODOH

LIMA GADIS BIJAKSANA DAN LIMA GADIS BODOH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Jumat, 30 Agustus 2019

“Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyambut mempela laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedang gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam botol mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Sambutlah dia! Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, Tuan, bukakanlah pintu bagi kami! Tetapi ia menjawab: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, aku tidak mengenal kamu. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari maupun saatnya.” (Mat 25:1-13) 

Bacaan Pertama: 1Tes 4:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,5-6,10-12   

Sebagaimana juga para gadis dalam perumpamaan di atas, kita pun sesungguhnya sedang menanti-nantikan kedatangan sang Mempelai laki-laki yang akan mengundang kita masuk guna turut serta dalam perjamuan nikah-Nya. Dan seperti juga gadis-gadis itu, tidak seorangpun dari kita yang mengetahui kapan Ia akan datang. Namun kita tidak perlu meniru lima orang gadis yang bodoh itu, yang pelitanya padam karena kehabisan minyak. Allah telah memberikan kepada kita pasokan minyak lebih dari cukup agar pelita kita tidak padam – Roh Kudus.

Pada saat kita menerima Sakramen Penguatan, kita diurapi dengan minyak krisma pada saat mana Uskup atau penggantinya mengatakan: “Dimeteraikanlah engkau dengan karunia Roh Kudus”. Hari lepas hari, seberapa lama pun kita harus menantikan kedatangan Yesus untuk kedua kalinya di dunia, setiap saat kita dapat menghubungi Roh Kudus. Paulus menulis bahwa Allah telah “memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita” (2Kor 1:22). Jadi, kita sungguh dapat mengandalkan Roh Kudus untuk mendapatkan bantuan-Nya kapan saja dan di mana saja.

Roh Kudus senantiasa hadir bagi kita, dan Ia sungguh rindu untuk bekerja dalam kehidupan kita. Roh Kudus adalah Roh Kebenaran yang akan membuat kita memahami sabda Allah dalam Kitab Suci dll. (lihat Yoh 16:13-15). Roh Kudus adalah sang Penolong, yang akan mengajarkan segala sesuatu kepada kita dan akan mengingatkan kita akan semua yang telah Yesus katakan kepada kita (lihat Yoh 14:26), dan Roh Kudus adalah Roh Kasih yang dicurahkan ke dalam hati kita (lihat Rm 5:5) sehingga dengan demikian kita dapat mengasihi orang-orang lain.

PERUMPAMAAN TTG SEPULUH GADIS - 003Seperti juga minyak mampu melicinkan serta luka-luka di tubuh kita, maka Roh Kudus mampu memulihkan kesehatan kita manakala kita menderita luka-luka karena dosa. Sebagaimana minyak dapat membuat tubuh seorang penggulat menjadi “lentur” sebelum pertandingan, Roh Kudus pun mampu memperkuat kita dalam perjuangan menghadapi berbagai pencobaan dan godaan. Seperti minyak dapat membuat pelita terus menyala, maka Roh Kudus dapat mengobarkan kerinduan kita akan Tuhan.

Selagi kita menantikan sang Mempelai laki-laki, marilah kita mohon kepada Roh Kudus agar Ia menjaga hati kita untuk tetap berkobar-kobar. “Berjaga-jagalah dengan hati, berjaga-jagalah dengan iman, berjaga-jagalah dengan cintakasih”, demikian tulis Santo Augustinus. “Bersiaplah dengan pelita-pelitamu. Maka, sang Mempelai laki-laki akan merangkulmu dengan penuh kasih dan membawamu ke dalam ruangan perjamuan-Nya, di tempat mana pelitamu tidak pernah akan padam.”

DOA: Roh Kudus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau berdiam dalam diriku. Kobarkanlah dalam diriku api cintakasih-Mu. Segarkanlah kembali diriku, sehinga dengan demikian aku sungguh siap untuk bertemu dengan Yesus pada saat Ia kembali ke dunia untuk kedua kalinya, yaitu pada akhir zaman. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “KITA SEMUA JUGA HARUS BERJAGA-JAGA DALAM MENANTIKAN KEDATANGAN KEMBALI YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 30-8-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-08  BACAAN HARIAN AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2016) 

Cilandak, 28 Agustus 2019 [Peringatan Wajib S. Augustinus, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IA AKAN SENANTIASA BERADA BERSAMA KITA DAN IA AKAN MEMPERKUAT KITA

IA AKAN SENANTIASA BERADA BERSAMA KITA DAN IA AKAN MEMPERKUAT KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Martir – Kamis, 29 Agustus 2019)

Sebab Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, istri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai istri. Memang Yohanes berkali-kali menegur Herodes, “Tidak boleh engkau mengambil istri saudaramu!” Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan kepada Yohanes karena ia tahu bahwa Yohanes orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Setiap kali ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.

Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka Galilea. Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyenangkan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu, “Mintalah apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!”, lalu bersumpah kepadanya, “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!” Anak itu pergi dan menanyakan ibunya, “Apa yang harus kuminta?” Jawabnya, “Kepala Yohanes Pembaptis!” Lalu ia cepat-cepat masuk menghadap raja dan meminta, “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di atas piring!” Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang algojo dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu di sebuah piring besar dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya.

Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan. (Mrk 6:17-29) 

Bacaan Pertama: Yer 1:17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-6,15,17 

Yohanes Pembaptis mewartakan sabda Allah kepada segala lapisan dalam masyarakat: kepada para pangeran dan raja, kepada para imam dan orang biasa, dengan cara yang sama tanpa banyak memperhatikan konsekuensi-konsekuensinya. Seperti juga nabi Yeremia, Yohanes Pembaptis berkhotbah melawan arus deras tsunami korupsi moral dan apatisme spiritual yang mencirikan para pemimpin Israel pada zaman mereka masing-masing (lihat bacaan pertama Yer 1:17-19). Yohanes Pembaptis berdiri tegak membela kebenaran Allah dan berbicara tanpa rasa takut sedikit pun pada saat mereka yang berada di puncak pimpinan negeri menghina hukum Tuhan. Pada akhirnya, Yohanes Pembaptis harus membayar harga/biaya yang tinggi untuk kesetiaannya kepada Allah – yaitu kepalanya sendiri.

Semua orang Kristiani menghadapi tantangan-tantangan serupa dengan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh Yohanes Pembaptis. Siapakah di antara kita yang tidak harus berenang melawan arus budaya yang berlaku … menjadi “tanda lawan” dan membayar biayanya – ketika mencoba untuk mempertahankan komitmen kita kepada Yesus? Walaupun belum mengambil bentuk pengejaran serta penganiayaan dalam skala besar, siapakah di antara kita yang tidak pernah mengalami salah satu bentuk penghinaan, ejekan, olok-olok karena iman-kepercayaan Kristiani kita? Ada yang mengatakan bahwa Yesus tidak hanya datang untuk menolong dan menghibur mereka yang mengalami kesusahan, melainkan juga untuk mendatangkan kesusahan bagi mereka yang hidup nyaman. Bukankah pernyataan ini sedikit banyak menggambarkan kehadiran kita sebagai orang-orang Kristiani di tengah dunia?

Dalam prakteknya, hal ini dapat berarti memegang posisi-posisi yang tidak populer di sekolah atau tempat kerja. Karena iman-kepercayaan kita atau  gaya hidup kita, kita dapat diberi gelar “kuno”, tidak “trendy” dslb. Ketika anda hendak berbagi pesan Injil, anda dapat ditolak atau dituduh melakukan intervensi ke dalam hidup seseorang atau memaksakan kepercayaan anda kepada orang lain. Ini selalu menjadi pengalaman para hamba Allah. Kesetiaan kepada Allah dan menjadi murid Tuhan Yesus yang setia memang mengandung biaya. Inilah biaya kemuridan …… cost of discipleship!

YOHANES PEMBAPTIS DI PENJARAWalaupun ditolak,  bahkan dianiaya – seperti Yeremia dan Yohanes Pembaptis – kita dapat berpegang teguh pada janji Allah, bahwa Dia akan senantiasa berada bersama kita dan Ia akan memperkuat kita. Dia akan menderita dengan mereka yang menderita dan Ia menawarkan penghiburan dan dorongan pemberian semangat tanpa batas. Ia akan terus membentuk diri kita dan mengajar kita bagaimana melayani kebenaran-Nya dengan kasih dan bela rasa, dan Ia terus menguatkan kita untuk apa pun bentuk perjuangan di masa depan. Jika Yohanes Pembaptis dapat bertahan berbulan-bulan lamanya dalam penjara Herodus Antipas, bahkan mengalami kematian sebagai seorang martir, maka kita pun dapat menangani apa saja bentuk pencobaan yang menimpa diri kita – tidak dengan menggunakan kekuatan kita sendiri atau lewat daya tahan kita secara fisik, melainkan dengan berlindung pada Allah yang senantiasa hadir.

DOA: Tuhan Yesus, dengarkanlah doa kami bagi semua orang Kristiani di mana saja mereka berada – di Timur Tengah, di Indonesia, di beberapa negara Afrika dan di banyak tempat lain di dunia yang sedang menghadapi pengejaran dan penganiayaan yang disertai dengan kekerasan maupun tersembunyi. Hiburlah mereka oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu. Tuhan, biarlah diri-Mu menjadi kekuatan dan penghiburan bagi mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:17-29), bacalah tulisan berjudul “YOHANES PEMBAPTIS BERDIRI SEBAGAI PENDAHULU YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 29-8-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-8-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 27 Agustus 2019 [Peringatan Wajib S. Monika] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

CELAKALAH, HAI KAMU ORANG-ORANG MUNAFIK

CELAKALAH, HAI KAMU ORANG-ORANG MUNAFIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Augustinus, Uskup Pujangga Gereja – Rabu, 28 Agustus 2019)

Celakalah kamu, hal ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dicat putih, yang sebelah luarnya memang indah tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan berbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kelaliman.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, lengkapilah juga apa yang sudah dilakukan nenek moyangmu! (Mat 23:27-32) 

Bacaan Pertama: 1Tes 2:9-13;  Mazmur Tanggapan: Mzm 139:7-12 

Bacaan Injil hari ini terdiri dari dua ucapan Yesus yang terakhir dari keseluruhan tujuh “ucapan celaka” yang diucapkan-Nya terhadap para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Dalam ketujuh “ucapan celaka” tersebut, Yesus menamakan mereka sebagai “orang-orang munafik”.

Yesus biasanya bersikap sangat baik hati dan penuh pengampunan terhadap para pendosa. Mengapa sikap ini berubah secara tiba-tiba dalam hal dosa kemunafikan? Yesus jelas melihat para ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu memiliki sedikit sekali niat atau kecenderungan untuk menerima kesalahan mereka, sedikit hasrat untuk melakukan pertobatan sejati. Yesus melihat bahwa satu-satunya pendekatan adalah dengan menggunakan caci-maki yang terasa keras-kuat. Barangkali Yesus telah melihat adanya kebutuhan dalam diri kita dan semua orang yang mengikuti-Nya. Yesus ingin menunjukkan kepada kita  betapa buruknya kemunafikan itu.

Oleh karena itu Tuhan Yesus menjuluki para ahli Taurat dan orang-orang Farisi sama seperti kuburan yang dicat putih, indah dilihat bagian luarnya, namun di dalamnya penuh tulang belulang dan berbagai jenis kotoran. Sampai hari ini pun kuburan di Palestina dicat putih, suatu praktek sejak lebih dari 2.000 tahun lalu. Kuburan yang dicat dengan warna putih akan membantu mengidentifikasi kuburan tersebut.

Dari sinilah muncul istilah white-washing yang berarti menutup-nutupi sesuatu (cover up). Terkait dengan orang-orang Farisi, Yesus mengatakan bahwa kepatuhan pada hukum sebenarnya merupakan cover up untuk sesuatu yang sama sekali tidak sesuai dengan Hukum dan semangatnya.

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIALihatlah, betapa sering kita cenderung untuk melakukan cover up atas kegagalan-kegagalan kita, bahkan dosa-dosa kita. Kita mencoba untuk menyembunyikan kesalahan-kesalahan kita agar kita terlihat sebagai “orang benar” di mata orang-orang lain, padahal selama itu kita sendiri sangat tahu bahwa kita tidak jujur, kita takut ketahuan. Artinya, kita hidup tanpa kedamaian di dalam hati.

Mengakui kesalahan-kesalahan kita adalah jauh lebih baik, demikian pula memohon pengampunan atas dosa-dosa kita, dan kemudian kita pun disembuhkan. Kita membutuhkan penyembuhan dan pengampunan dari Kristus dan juga antara orang satu sama lain. Namun hanya dengan keterbukaan yang jujur kita dapat mengharapkan untuk menerima penyembuhan dan pengampunan.

DOA: Tuhan Yesus, aku mohon belas kasih-Mu dan pengampunan-Mu. Sembuhkanlah aku dari segala ketidakjujuran dan segala kecemasan yang diakibatkannya.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Tes 2:9-13), bacalah tulisan yang berjudul “SANTO PAULUS DIDORONG OLEH KASIH KRISTUS” (bacaan tanggal 28-8-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-8-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Agustus 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARILAH KITA MELIHAT ISI HATI KITA SENDIRI

MARILAH KITA MELIHAT ISI HATI KITA SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Monika – Selasa, 27 Agustus 2019)

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu memberi persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Hai kamu pemimpin pemimpin buta, nyamuk kamu saring dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan.

Celakalah kamu, hai ahli-hali Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih. (Mat 23:23-26) 

Bacaan Pertama: 1Tes 2:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-6

Banyak orangtua dengan penuh kesadaran menyediakan sebuah rumah yang nyaman bagi anak-anak mereka dan mereka juga sangat memperhatikan segala kebutuhan anak-anak mereka. Namun apabila para orangtua tersebut membayar les musik bagi anak-anak mereka dan selalu mengadakan perayaan ulang tahun yang mewah bagi anak-anak mereka, sementara mereka gagal mengajar anak-anak mereka tentang integritas, rasa ingin tahu, ambisi, dan bahkan makna kehidupan itu sendiri, apakah mereka merupakan para orangtua yang baik? Apakah mereka setia dengan apa yang diminta oleh Allah dari mereka? Tidak! Adalah suatu ketidakadilan untuk menekankan perilaku eksternal – yang kelihatan orang lain – namun mengabaikan hidup batiniah. Dapat dikatakan bahwa para orangtua yang begini adalah seperti orang-orang Farisi yang diceritakan dalam Injil hari ini.

Orang-orang Farisi itu mengajar orang-orang untuk memberi bobot lebih berat kepada aspek-aspek praktek keagamaan yang kecil dan kurang penting daripada perintah sentral Allah untuk memperlakukan orang-orang lain dengan belas kasih – “nyamuk kamu saring dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan” , seperti digambarkan oleh Yesus (Mat 23:24). Kerasnya teguran Yesus menunjukkan betapa serius Allah menilai hidup batiniah manusia, bukan yang kelihatan dengan mata. Hal ini  juga menunjukkan bahwa Yesus tidak datang sekadar untuk merekonsiliasikan kita dengan Allah, melainkan antara kita (manusia) satu sama lain juga. Oleh salib-Nya, Dia dapat membebaskan kita dari keserakahan/ketamakan yang telah menyebabkan kita mengabaikan kebutuhan-kebutuhan dalam keluarga-keluarga dan komunitas-komunitas kita.

Marilah kita melihat isi hati kita sendiri. Dapatkah kita (anda dan saya) melihat adanya sifat-sifat orang Farisi dalam diri kita? Tentu saja dapat! Kita mungkin saja ingin untuk setia kepada semangat hukum Allah, namun begitu mudah kita menjadi jatuh dan gagal. Dalam kehidupan kita ini begitu menggoda bagi kita untuk kita salah/keliru menilai, hal-hal yang salah malah kita nilai berharga. Kita fokus pada kepatuhan praktek agama yang bersifat eksternal, yang mudah terlihat oleh orang-orang lain, walaupun pada kenyataannya hati kita penuh dengan noda-noda egoisme, ketamakan, kecemburuan, dlsb. yang tak mampu kita atasi sendiri. Hanya apabila Yesus hidup dalam diri kita maka keadilan Allah dan belas kasih-Nya akan datang ke tengah dunia. Hanya pada saat itulah kita akan mampu untuk membuat pilihan-pilihan yang benar dan bertindak-tanduk seperti seharusnya.

  • Kemungkinan besar tindakan-tindakan dan keputusan-keputusan kita tidak akan membenarkan hal-hal yang salah atau ketidakadilan dalam skala besar. Walaupun demikian, apa yang kita lakukan sehari-hari sungguh berarti. Setiap kali kita menunjukkan kebaikan hati kepada para miskin dan “wong cilik” pada umumnya, kita menganggap lunas utang orang kepada kita, tidak menggerutu lagi karena disakiti, maka berkat-berkat besar mengalir ke dalam diri kita. Para malaikat pun bersukacita. Mengapa mereka bersuka-ria? Karena perubahan hati kita tidak hanya menguntungkan kita, melainkan juga sekali lagi secara sekilas menunjukkan kepada dunia  belas kasih, kemuliaan, dan kuasa Allah sendiri.

DOA: Terpujilah Engkau, ya Tuhan Yesus, karena kemenangan-Mu atas ketidakadilan dan kejahatan! Ajarlah kami untuk menimbang-nimbang segala hal seperti yang Kaulakukan, dan untuk mempraktekkan keadilan dengan melayani dan menolong orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 23:23-26), bacalah tulisan yang berjudul “HAI KAMU ORANG-ORANG MUNAFIK” (bacaan tanggal 27-8-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-8-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 25 Agustus 2019 [HARI MINGGU BIASA XXI – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROH KUDUS SENANTIASA BEKERJA DI TENGAH-TENGAH KITA, KADANG-KADANG DENGAN CARA-CARA BARU DAN BERBEDA

ROH KUDUS SENANTIASA BEKERJA DI TENGAH-TENGAH KITA, KADANG-KADANG DENGAN CARA-CARA BARU DAN BERBEDA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Senin, 26 Agustus 2019)

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Surga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda dan kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Karena itu, kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajahi daratan, untuk membuat satu orang saja menjadi penganut agamamu  dan sesudah hal itu terjadi, kamu menjadikan dia calon penghuni neraka, yang dua kali lebih jahat daripada kamu sendiri.

Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, manakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu? Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang buta, manakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu? Karena itu, siapa saja yang bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya. Siapa saja yang bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang tinggal di situ. Siapa saja yang bersumpah demi surga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya. (Mat 23:13-22)  

Bacaan Pertama: 1Tes 1:2b-5. 8b-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9 

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.” (Mat 23:13)

Memang mudahlah bagi kita berpendapat bahwa orang-orang Farisi adalah sekelompok orang yang bersikap legaslistik dan sombong yang ingin menghancurkan Kerajaan Allah. Sebenarnya mereka bukanlah orang-orang yang paling buruk. Pengabdian mereka kepada Allah dalam artian tertentu sungguh luarbiasa dan mereka senantiasa siap untuk melakukan pengorbanan demi Allah yang mereka sembah dan umat-Nya (Ingatlah apa yang dilakukan oleh Saulus sebelum ia bertobat dan kemudian bernama Paulus). Hasrat mereka yang utama adalah melindungi Yudaisme dari penyusupan oleh sumber-sumber asing seperti kekafiran Roma. Dengan “mati-matian” mereka mempertahankan Kitab Suci dan berupaya untuk menjaga agama mereka agar tetap murni. Inilah segala kualitas mereka yang bagus, dan tentunya mereka adalah orang-orang yang mengesankan sehingga mampu menarik banyak pengikut.

Masalahnya adalah bahwa ada sejumlah orang Farisi yang begitu mati-matian ingin memelihara dan mempertahankan Yudaisme sebagaimana mereka pahami sendiri sehingga mereka samasekali menutup diri terhadap kemungkinan bagi Allah untuk melakukan hal-hal yang baru.  Sungguh tak diduga oleh mereka penyelamatan Allah dapat datang melalui seorang tukang kayu miskin dari Nazaret yang “dekat” dengan para pemungut cukai dan para pendosa serta orang-orang tak beriman lainnya. Bagaimana mungkin Allah menggunakan orang yang tidak sependapat dengan keyakinan mereka?

Dengan mengingat hal ini, kita dapat melihat hati Yesus secara lebih jelas ketika Dia mengutuk orang-orang Farisi. Yesus bukan merasa muak dengan mereka, hati-Nya patah dan hancur melihat kedegilan hati dan sikap sok suci mereka. Bayangkan Yesus mengucapkan kata-kata yang keras dengan air mata berlinang dan suara yang serak. Inilah sekelompok orang yang begitu penuh pengabdian kepada Allah seturut versi mereka sendiri, namun mata mereka dibutakan terhadap rahmat yang tersedia bagi mereka. Sungguh tragis melihat mereka yang tidak mampu mengenali Yesus dan menolak Yesus sebagai sang Mesias yang dinanti-nantikan!

Cerita tentang orang-orang Farisi ini dapat menjadi pelajaran guna mengingatkan kita. Sementara kebenaran-kebenaran teologis tidak pernah berubah, Roh Kudus senantiasa bekerja di tengah-tengah kita, kadang-kadang dengan cara-cara yang baru dan berbeda. Sungguh mudahlah, namun sungguh berbahaya juga, bagi kita untuk mempunyai Allah yang sudah didefinisikan secara pasti. Yesus dapat saja mengundang kita kepada suatu dimensi baru dalam relasi kita dengan diri-Nya. Kita tidak boleh melarikan diri dari hal seperti itu karena hal itu berbeda daripada apa yang selama ini kita ketahui. Marilah kita menggunakan hikmat dan discernment, namun kita juga harus senantiasa siap dan terbuka bagi cara-cara doa yang tidak familiar, mendengar bisikan Roh Kudus yang tidak familiar, dan menunjukkan cintakasih kita kepada umat Allah dengan cara yang tidak familiar juga.

DOA: Roh Kudus, lembutkanlah hatiku. Aku tidak ingin luput melihat diri-Mu selagi Engkau bergerak dalam hidupku dengan cara-cara baru pada hari ini. Aku tidak ingin menjadi terbatas dalam perspektifku tentang Siapa Engkau sebenarnya. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Mat 23:13-22), bacalah tulisan yang berjudul “INILAH BERBAGAI SERUAN CELAKA DARI YESUS” (bacaan tanggal 26-8-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-08 SANG SABDA AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-8-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 21 Agustus 2019 [Peringatan Wajib S. Pius X, Paus]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS