PENEMUAN HARTA TERPENDAM DAN MUTIARA

Peringatan S. Ignatius dr Loyola, Imam – Rabu, 31 Juli 2019

Serikat Yesus: HR S. Ignatius dr Loyola, Imam Pendiri Tarekat

“Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

Demikian pula halnya Kerajaan Surga itu seumpama seorang seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” (Mat 13:44-46) 

Bacaan Pertama: Kel 34:29-35; Mazmur Tanggapan: Mzm 99:5-7,9

Bacaan Injil hari ini memuat dua buah perumpamaan Yesus berkaitan dengaan Kerajaan Surga. Yang pertama adalah “perumpamaan tentang harta yang terpendam” dan yang kedua adalah “perumpamaan tentang “mutiara”. Pertemuan kita dengan Tuhan Yesus itu bagaikan menemukan suatu harta terpendam atau menemukan suatu mutiara yang sangat berharga.

Bagi sementara orang, realitas Kristus “menerjang” mereka secara tiba-tiba dan menentukan. Inilah yang dialami oleh Saulus dalam perjalanannya ke Damsyik untuk menganiaya umat Kristiani (menemukan harta terpendam). Bagi kebanyakan orang, berjumpa dengan Yesus adalah hasil dari suatu pencaharian seperti mencari mutiara. Dalam kedua kemungkinan ini, pengalaman akan Tuhan Yesus Kristus mengubah orang-orang bersangkutan; peristiwa tersebut “memaksa” mereka untuk melakukan “reorganisasi” atas kehidupan mereka. Yesus memang senantiasa mengundang kita untuk berjumpa dengan-Nya, namun pada saat yang sama undangan-Nya tersebut berisikan tantangan untuk kita tanggapi.

Penekanan dari dua perumpamaan yang singkat dalam bacaan Injil hari ini adalah pada “penemuan” kedua objek yang sangat berharga tersebut, bukannya pada objek-objek itu sendiri. Dalam  analisis terakhir, setiap pribadi itu sendirilah yang harus menemukan Tuhan. Tidak ada alur-alur atau lekak-lekuk jalan yang harus diikuti atau puri istimewa yang harus dikunjungi dalam perjalanan ziarahnya. Perjalanan ziarah terpanjang adalah ziarah batiniah yang arahnya ke dalam diri seseorang, bukan arah ke luar dari dirinya. Mengapa? Karena Allah dengan kuat-kuasa-Nya di dalam diri kita sama kuat dengan Allah dan kuat-kuasa-Nya di luar diri kita, yaitu dalam segenap alam ciptaan-Nya.

Satu sarana untuk perjalanan/ziarah batiniah adalah meditasi. Apabila kita mengambil waktu untuk bermeditasi, maka sebenarnya kita melakukan jenis/macam ziarah yang paling kuno dan paling menuntut di mana kita  merasa pasti akan menemukan Tuhan. Di dalam diri kita, kita menemukan kekuatan-Nya yang dapat mewujud-nyatakan pesan Injil.

Catatan yang sangat penting adalah bahwa perjalanan ziarah yang paling panjang, paling dipenuhi kesendirian, dan paling memberi ganjaran positif adalah perjalanan ziarah ke dalam diri kita sendiri – suatu perjalanan ziarah batiniah.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyerahkan diriku sepenuhnya kepada-Mu, agar dengan demikian Roh Kasih-Mu dengan leluasa dapat membimbing diriku dalam ziarah batin yang kulakukan sehingga dengan demikian aku dapat menjumpai Engkau dalam diri sesamaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:44-46), bacalah tulisan dengan judul “HARTA YANG TERPENDAM DAN MUTIARA YANG INDAH” (bacaan tanggal 31-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-087BACAAN HARIN JULI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-8-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 Juli 2019 [HARI MINGGU BIASA XVII – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements