DUA PERUMPAMAAN YESUS TENTANG KERAJAAN SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Peringatan Wajib S. Marta – Senin, 29 Juli 2019)

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”

Ia menceritakan perumpamaan ini juga kepada mereka, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya.”

Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatu pun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh nabi, “Aku mau membuka mulut-Ku menyampaikan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.” (Mat 13:31-35) 

Bacaan Pertama: Kel 32:15-24,30-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:19-23 

“Aku mau membuka mulut-Ku menyampaikan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.” (Mat 13:35)

Sabda Yesus ini merupakan pemenuhan dari apa yang ditulis sang pemazmur dalam Mzm 78:2. Yesus mengatakan ini karena Dia tahu bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga  (Kerajaan Allah) dibutuhkan sesuatu yang lebih daripada sekadar pemahaman intelektual. Pewahyuan ilahi juga dibutuhkan.

Yesus seringkali mengajar dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan yang diambil dari kehidupan sehari-hari atau dari alam sekitar. Hal ini dimaksudkan agar dapat menangkap perhatian para pendengar-Nya dan memicu mereka untuk mengajukan lebih banyak lagi pertanyaan tentang pesan Injil dan hidup yang ingin disampaikan-Nya.

Kedua perumpamaan Yesus dalam bacaan Injil hari ini, yaitu “perumpamaan tentang biji sesawi” dan “perumpamaan tentang ragi” akan mempunyai makna apabila kita berpikir tentang dunia di mana Yesus berbicara. Orang-orang seperti raja Herodes Antipas, yang menindas siapa pun yang menghalangi langkah-langkahnya, mulai berkuasa. Di lain pihak banyak orang tidak mau menanggapi panggilan Yesus untuk menjadi murid-murid-Nya.

Pesan Yesus perihal bagaimana orang-orang harus menghayati kehidupan mereka memang seringkali terdengar indah namun seringkali juga tidak realistis, tentunya dari pandangan mata manusia. Akibatnya adalah bahwa apabila kita memandangnya dari satu sisi saja, maka kita hanya melihat sebagian dari gambar yang ada.

Kekuasaan Allah atas manusia mungkin datang dalam berbagai cara yang sederhana, namun demikian merupakan peristiwa yang penuh kuat-kuasa (Mat 13:31-32). Kerajaan-Nya mempunyai kuasa untuk mengubah pribadi-pribadi dan masyarakat (Mat 13:33). Hanya itulah satu-satunya yang bertahan sampai kekal (lihat “perumpamaan tentang lalang di antara gandum” dalam Mat 13:24-30 dan penjelasan atas perumpamaan itu dalam Mat 13:36-43), akan tetapi saatnya akan tiba di mana karya-Nya akan selesai dan akan menjadi terang bercahaya.

“Perumpamaan tentang biji sesawi” mengingatkan bahwa kepada kita masing-masing telah diberikan iman sebesar “biji sesawi” pada saat kita dibaptis. Apa yang akan kita lakukan dengan benih yang kecil ini? Apabila kita membuka hati kita kepada Allah dengan membaca dan merenungkan sabda-Nya dalam Kitab Suci, apabila kita berdoa, dan datang kepada-Nya dalam Ekaristi, maka secara cukup mengejutkan Dia dapat memperbesar benih iman kita yang kecil itu menjadi suatu pemahaman yang mendalam tentang Kerajaan-Nya. Marilah kita berbalik kepada Yesus sehingga Dia dapat membalikkan hati kita menjadi “tanah yang baik” (lihat Mat 13:23), yang dibutuhkan oleh iman kita untuk berakar dan bertumbuh.

“Perumpamaan tentang ragi” mengingatkan kita bahwa walaupun kita telah dicerahkan untuk mengenal mana yang benar ketimbang mana yang salah, kita membutuhkan “adonan rahmat” guna membangkitkan kita agar melakukan hal-hal yang baik. Allah memberikan pertolongan ini, kekuatan ini, dorongan dan hasrat untuk melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Kita semua pasti pernah mengalami desakan-desakan dalam batin kita untuk memikirkan, mengambil sikap dan/atau melakukan hal-hal tertentu yang baik, namun seringkali kita tidak mempedulikan desakan-desakan batiniah tersebut.

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus, Tuhan Yesus ingin mengajar kita. Marilah kita tingkatkan hasrat kita untuk sungguh menjadikan diri kita murid-murid-Nya yang baik dan sungguh berbuah limpah.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Selagi kami datang menghadap Engkau dalam doa dan permenungan, ajarlah kami dan inspirasikanlah kami. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, buatlah iman kami menjadi iman yang hidup, sehingga dengan demikian kami dapat menjadi perpanjangan tangan-tangan kasih-Mu bagi orang-orang di sekeliling kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:31-35), bacalah tulisan yang berjudul “” (bacaan tanggal 29-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-7-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Juli 2019 [Pesta S. Yoakim dan Anna, Orangtua SP Maria] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS