HAL IKHWAL BERPUASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Sabtu, 6 Juli 2019)

Hari Sabtu Imam

Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata, “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada yang baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. Begitu pula anggur yang baru tidak dituang ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.” (Mat 9:14-17) 

Bacaan Pertama: Kej 27:1-5,15-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 135:1-6 

Beberapa hal yang dipraktekkan oleh Yesus tidak hanya bertentangan dengan praktek-praktek para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, melainkan juga dengan Yohanes Pembaptis dan para muridnya. Kali ini murid-murid Yohanes lah yang datang kepada Yesus dengan pertanyaan cukup rumit ini.Tanggapan Yesus terhadap pertanyaan para murid Yohanes berfokus pada tindakan berpuasa sebagai suatu tanda berkabung. Namun pertanyaan mereka bersifat lebih umum.

Hanya ada satu puasa yang ditentukan oleh Hukum tertulis, yaitu yang berkaitan dengan Hari Raya Pendamaian: “Inilah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu, yakni pada bulan yang ketujuh, pada tanggal 10 bulan itu kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa dan janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan, baik orang Israel asli maupun orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu. Karena pada hari itu harus diadakan pendamaian bagimu untuk mentahirkan kamu. Kamu akan ditahirkan dari segala dosamu di hadapan TUHAN (YHWH)” (Im 16:29-30). Akan tetapi orang-orang Yahudi saleh juga berpuasa dalam kesempatan-kesempatan lain, dan orang-orang Farisi berpuasa dua kali seminggu (Luk 18:12).

Yesus sendiri juga berpuasa di padang gurun (Luk 4:2). Akan tetapi dalam pelayanan-Nya di depan publik Yesus tidak berpuasa, kiranya karena mengisolasi diri-Nya dari orang-orang lain dapat bertentangan dengan misi-Nya yang bersifat inklusif. Biar bagaimana pun juga berpuasa sebagai pengungkapan perkabungan tidak layak dan pantas selagi Yesus – sang mempelai laki-laki – hadir. Pelayanan Yesus adalah suatu perayaan perkawinan, karena Dia datang untuk mengklaim umat sebagai mempelai-Nya. Namun akan datang saat di mana mempelai laki-laki diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Setelah kebangkitan-Nya, Gereja berpuasa sebagai ungkapan kerinduan akan kedatangan kembali sang mempelai laki-laki pada akhir zaman.

Salah satu persoalan yang dihadapi dalam setiap upaya pembaharuan dalam Gereja adalah mereka yang melihat dan bersikap terhadap usulan-usulan pembaharuan sebagai sekadar window dressing. Mereka bersedia untuk menerima upaya pembaharuan selama perubahannya tidak bersifat radikal. Hal inilah yang dikemukakan oleh Yesus dengan menggunakan gambaran “kain/baju” (baru vs tua) dan “anggur dan kantong kulit untuk anggur” (baru vs tua).

Perubahan yang dicanangkan oleh Yesus adalah perubahan yang bersifat radikal! Perubahan-Nya tidak akan mencoba untuk berkompromi dengan mencampur-baurkan hal yang “lama” dan yang “baru”. Jika dibandingkan dengan ayat padanannya dalam Injil Markus, maka versi Matius memuat suatu tambahan. Kalimat terakhir dalam ayat 17 berbunyi: “Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya”. Kalimat terakhir dalam ayat terakhir  di bacaan Injil Markus (Mrk 2:18-22) hanya berbunyi: “Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula”. Kata-kata yang digarisbawahi di atas tidak ada dalam Injil Markus (Injil tertua dan menjadi sumber dari Injil Matius). Apakah kiranya maksud Matius dengan tambahan tersebut?

Matius adalah seorang gembala umat yang sungguh menghendaki pergerakan komunitasnya ke dalam suatu kebaharuan radikal dari Yesus. Namun Matius juga menyadari bahwa unsur keYahudian dalam komunitasnya memiliki banyak kekayaan yang tidak begitu saja boleh  dibuang dalam upaya mengikuti suatu gaya hidup baru secara grosiran (bdk. Mat 13:52).

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin mengenali dan mengalami kehadiran-Mu. Semoga puasa dan doaku menjadi saat-saat di mana keintiman dengan Engkau menjadi semakin bertumbuh selagi aku menantikan pemenuhan dari janji-janji-Mu. Semoga hidup pertobatanku dan ketaatanku terhadap perintah-perintah Allah mengalir ke luar dari sebuah hati yang dipenuhi dengan kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:14-17), bacalah tulisan yang berjudul “MENGAPA MURID-MURID YESUS TIDAK BERPUASA?” (bacaan tanggal 6-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-7-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 Juli 2017 [Pesta S. Tomas, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements