MENGIKUTI JEJAK KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Senin, 1 Juli 2019)

Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang. Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya, “Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”

Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku. Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.” (Mat 8:18-22) 

Bacaan Pertama: Kej 18:16-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8-11

Sekilas lintas perikop ini seakan “salah tempat” dalam Injil Matius bab 8 yang berisikan serangkaian mukjizat Yesus. Setelah selesai bercerita mengenai penyembuhan ibu mertua Petrus dan banyak mukjizat lainnya (Mat 8:14-17) dan sebelum menarasikan serangkaian mukjizat lagi (Mat 8:23-9:8), maka seperti “sandwich”, Matius menyelipkan dua sabda Yesus mengenai “komitmen” dan “kemuridan” yang sangat penting untuk dihayati. Mengapa Matius menyelipkan ajaran Yesus yang keras ini di tengah-tengah cerita-cerita mengenai mukjizat-mukjizat Yesus?

Ada pakar Kitab Suci yang berpandangan bahwa Matius menyelipkan bagian ini (Mat 8:18-22) karena dia sedang memikirkan Yesus sebagai “Hamba YHWH yang menderita”. Matius baru saja memetik Yes 53:4, “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita” (Mat 8:17), maka wajarlah apabila gambaran itu memimpin pemikiran Matius pada gambaran Anak Manusia yang tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Mat 8:20). Kehidupan Yesus di dunia di mulai dalam kandang hewan pinjaman dan berakhir dalam makam pinjaman pula (Plummer, dalam William Barclay, THE DAILY STUDY BIBLE: The Gospel of Matthew – Volume 1, Chapters 1-10, Edinburgh: The Saint Andrew Press, p. 311).  Jadi “teori” ini mengatakan, bahwa Matius menyelipkan bacaan sebanyak lima ayat ini karena bacaan ini dan ayat-ayat sebelumnya menunjukkan Yesus sebagai Hamba YHWH yang menderita.

“Teori” ini bisa saja benar, namun William Barclay berpendapat lebih berkemungkinanlah apabila penyelipan ini terjadi karena Matius melihat adanya satu mukjizat dalam perikop ini. Yang ingin mengikut Yesus dalam kisah ini adalah seorang ahli Taurat, dan ia menyapa Yesus dengan gelar kehormatan tertinggi, yaitu “Guru” (Yunani: didaskalos; Ibrani: Rabbi). Menurut pandangan si ahli Taurat, Yesus adalah guru terbesar yang pernah dilihatnya, dan ajaran-Nya adalah yang paling  berkesan ketimbang ajaran-ajaran yang pernah didengarkannya. Sungguh sebuah “mukjizat” apabila seorang ahli Taurat memberikan gelar “Guru” kepada Yesus, dan ia sendiri ingin menjadi pengikut sang Guru! Yesus dan ajaran-ajaran-Nya sangat menentang “legalisme” sempit di atas mana dibangun agama yang murni berdasarkan Hukum Taurat. Jadi, ajaran Yesus sangat bertentangan dengan pandangan umum yang ada di kalangan para ahli Taurat. Dengan demikian sungguh sebuah mukjizat-lah apabila seorang ahli Taurat datang kepada Yesus dan melihat ada sesuatu yang indah dalam diri-Nya dan ajaran-ajaran-Nya. Kiranya ini adalah mukjizat berkaitan dengan dampak personalitas Yesus Kristus atas orang-orang lain.

Berikut inilah ceritanya! Seorang ahli Taurat dengan begitu meyakinkan mengatakan bahwa dia akan mengikut Yesus kemana saja Dia pergi. Tentu dalam hati banyak orang yang ada di situ berharap bahwa Yesus akan mempergunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Akhirnya, Dia akan mempunyai seorang murid yang dapat dijadikan “asisten” yang handal, …… ahli Taurat gitu lho! Sedikitnya dapat meningkatkan “pamor” kolese para murid di mata khalayak ramai. Bukankah para murid-Nya yang awal baru terdiri dari beberapa orang nelayan saja: Simon Petrus, Andreas, Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya?

Namun hal sebaliknyalah yang terjadi. Jawaban Yesus sungguh mengejutkan kita semua. Seakan-akan Yesus berkata, “Sebelum mengikut Aku – pikir dulu apa yang engkau lakukan. Sebelum engkau mengikut Aku, hitunglah dulu ‘biaya’-nya!” Yesus tidak ingin orang mengikuti jejak-Nya karena emosi-sesaat (misalnya karena terbenam dalam “Tabor experience” untuk beberapa saat lamanya. Yesus menginginkan seorang murid atau pengikut yang sungguh menyadari apa  yang dilakukannya. Dalam kitab Injil yang sama tercatat Yesus pernah bersabda: “Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:38; bdk. Mat 16:24; Mrk 8:34;Luk 9:23).

Juga ternyata menjadi murid Yesus tidak hanya berarti mempunyai pikiran dan ide-ide yang sama dengan Dia, tetapi menuntut suatu penyerahan diri yang mutlak. Siapa saja yang mempunyai keinginan untuk masuk ke dalam lingkungan akrab sebagai murid-murid-Nya harus menjadi milik Yesus Kristus, jadi harus membuang segala sesuatu yang bukan Yesus Kristus. Seorang murid Yesus hanya boleh mempertahankan apa yang diketahuinya seturut kehendak Yesus …… kepasrahan diri yang sempurna.

Rubah mempunyai liang tempat tinggal. Apabila ada bahaya, rubah itu dapat melarikan diri ke dalam liangnya. Bilamana udara dingin, liang adalah tempat untuk menghangatkan tubuhnya. Burung mempunyai sarang, tempat mereka beristirahat. Akan tetapi Anak Manusia tidak mempunyai apa-apa untuk meletakkan kepala-Nya. Dia tidak mempunyai rumah, tidak mempunyai tempat berlindung yang aman. Sesungguhnya hidup Anak Manusia tidak tetap dan tidak mempunyai kepastian. Demikian pulalah seharusnya kehidupan para murid-Nya. Menjadi murid Yesus Kristus berarti meninggalkan kepastian, maka merupakan gambaran kehidupan umat Kristiani sepanjang masa. Yesus memperingatkan bahwa kehidupan kita di dunia ini hanyalah merupakan “jalan seberangan” saja, yaitu bertentangan dengan segala keterlekatan pada hal-hal duniawi, segala keinginan untuk tetap tinggal di dunia ini serta tak ingin maju lebih lanjut. Hidup di dunia berarti mengalir terus dalam arus yang tak henti-hentinya menderas menuju samudera keabadian (Richard Gutzwiller, RENUNGAN TENTANG MATEUS I, Ende, Flores: 1968, hal.136-138).

Sekarang, marilah kita soroti seorang pribadi yang lain. Yang menjadi penghalang bagi orang ini bukanlah keterlekatannya pada hal-hal duniawi, melainkan keterlekatan pada keluarganya. Permintaannya kepada Yesus nampaknya wajar karena merupakan kewajiban terhadap orangtua; apalagi kalau kita memahami bahwa mengurus penguburan orangtua merupakan tugas suci dalam Yudaisme. Tetapi dalam kasus ini permohonan si murid berhadap-hadapan dengan tuntutan Yesus sendiri yang tidak dapat ditawar, bahwa Injil, mengikut Yesus, harus ditempatkan di atas segala sesuatu. Yesus adalah the way of life; yang kurang dari itu sama saja bergabung dengan orang mati. Di sini Yesus mengajukan tuntutan-Nya yang ilahi dan segala tuntutan manusia haruslah menyisih …… mengalah! Apabila suara panggilan Allah diarahkan kepada seseorang, maka dia hanya boleh mengarahkan perhatiannya kepada Allah saja dan tidak boleh menoleh ke belakang lagi. Allah yang hidup sedemikian agungnya, sehingga kalau dibandingkan dengan Dia, segala sesuatu tampak bagi mati dan tak berarti sama sekali.

Juga di sini yang menentukan adalah pandangan akan yang kekal-abadi, sebab dalam hidup kekal tak ada hubungan perkawinan. Mereka tidak kawin, tidak pula dikawinkan (lihat Mat 22:30). Dengan demikian hubungan manusiawi dari hubungan cinta yang duniawi belaka, akan lenyap juga. Oleh karena itu, bagi para murid Yesus hubungan tadi sudah harus ditiadakan. Tempat seorang murid Yesus bukan lagi dalam lingkup keluarga yang kecil, sebab dirinya telah ditarik ke dalam pengabdian dalam Keluarga Allah yang besar, yang terdiri dari orang-orang yang sudah ditebus. Sebagaimana Yesus meninggalkan Nazaret untuk berada dalam perkara-perkara Bapa-Nya, demikian pula para murid Yesus harus meninggalkan Nazaret (zona kenyamanan) hidup kekeluargaannya, untuk menemukan hubungan kekeluargaan dalam Allah.

Mengikuti Yesus Kristus bukanlah merupakan sebagian saja dari kehidupan kita, melainkan suatu totalitas, meliputi seluruh hidup kita, jadi merupakan penyerahan diri secara sempurna. Penyerahan diri sempurna ini merupakan jawaban satu-satunya yang mungkin terhadap panggilan istimewa Allah.

Kedua sabda Yesus dalam bacaan Injil di atas merupakan tuntutan dan jelas bernada “perintah”. Di satu pihak karena Yesus memang sesungguhnya Tuhan, satu-satunya Pribadi yang dapat meminta hal yang sedemikian dan juga benar- benar menuntutnya. Dia menguasai manusia sebagai milik-Nya. Di sisi lain tuntutan-Nya bersifat menentukan sekali karena Dia tahu betapa berat bagi manusia untuk melepaskan diri dari segala sesuatu. Oleh karena itu bagi manusia merupakan suatu keringanan apabila tali pengikat diputuskan samasekali oleh tuntutan yang radikal itu. Si murid harus membongkar jembatan yang dilaluinya serta membakar perahu yang telah ditumpanginya, agar pada saat-saat kelemahan ia tidak kembali lagi. Yesus Kristus menghendaki penyelesaian yang nyata dan jelas-tegas.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepada kami keikhlasan untuk sungguh-sungguh mengikut Engkau, ke mana pun Engkau akan memimpin kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “BAGAIMANA KITA DAPAT MENJADI SEBUAH TEMPAT TINGGAL YANG COCOK BAGI TUHAN?” (bacaan tanggal 1-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-7-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 Juni 2019 [HR HATI YESUS YANG MAHAKUDUS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS