POKOK AJARAN YESUS TENTANG ZINA

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa X – Jumat, 14 Juni 2019)

“Kamu telah mendengar yang difirmankan: Jangan berzina. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya. Jika matamu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh di campakkan ke dalam neraka. Jika tanganmu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa daripada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.

Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan istrinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zina, ia menjadikan istrinya berzina; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berzina.”  (Mat 5:27-32) 

Bacaan Pertama: 2Kor 4:7-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:10-11,15-16 

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus menyempurnakan Hukum yang ada dengan menekankan pentingnya sikap batiniah dan kesetiaan kuat dari seorang pribadi, teristimewa yang menyangkut hal-hal seksual.

Yesus mengingatkan kita bahwa walaupun perzinahan/perselingkuhan dapat merusak hidup perkawinan kita, nafsu dalam hati dan pikiran seorang pribadi dapat menjadi sama jahatnya. Mengapa? Karena mempunyai kemampuan untuk merusak relasi dalam hidup perkawinan dengan kekuatan merusak yang sama beratnya. Yesus mengatakan bahwa karena Dia mengetahui sekali bahwa apabila kita memperkenankan pikiran-pikiran yang tidak bersih merasuki diri kita, maka semua itu akan merugikan diri kita sendiri dan mereka yang sungguh kita kasihi (misalnya pasangan hidup dan anggota keluarga kita masing-masing). Yesus memandang pemikiran penuh nafsu dengan sangat serius sehingga Dia mendeklarasikan hal sedemikian sebagai sama seriusnya dengan melakukan perzinahan.

Yesus mengetahui benar bahwa jika kita memperkenankan pemikiran-pemikiran kotor/ penuh nafsu menguasai diri kita, maka kita sebenarnya melibatkan diri dalam penyembahan yang salah arah. Secara salah kita percaya bahwa kita dapat memperoleh kepuasan dalam ketidaksetiaan kita, mencapai kebahagiaan dengan melanggar perjanjian dan relasi cintakasih yang samasekali tidak mencerminkan kasih Allah yang murni. Inilah sebabnya mengapa orang menjadi terluka secara batiniah. Allah sendiri memanggil kita dan meminta kita untuk sepenuhnya puas dengan kasih-Nya karena inilah satu-satunya kasih yang akan membawa kita kepada kepenuhan sejati. Ini adalah kasih yang akan membawa segala relasi kita dalam tatanan yang benar.

Martabat kita sebagai anak-anak Allah paling terlihat nyata dalam kasih yang bersifat pengorbanan diri – tipe cintakasih yang dimaksudkan sebagai tanda hidup perkawinan Kristiani. Cintakasih tipe ini mengungkapkan kemampuan kita untuk berpikir dan memilih dan menjadi satu dengan orang-orang lain. Hal ini berarti memberikan diri kita sendiri demi orang-orang lain. Di lain pihak, nafsu ke luar dari dorongan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan diri kita yang bersifat sesaat. Sebagai suatu sakramen, perkawinan adalah tanda luar dari rahmat yang menunjuk kepada suatu realitas yang jauh lebih mendalam. Allah menciptakan manusia seturut gambar dan rupa-Nya (lihat Kej 1:26,27), dan kita diciptakan untuk mengasihi semurni Allah mengasihi manusia. Jikalau kita berpikir penuh nafsu, maka hal ini berarti kita memperkenankan dosa untuk menggerogoti kasih sejati dari Allah.

Menjaga/memelihara kesetiaan kita terhadap pasangan kita atau Allah bukanlah sekadar masalah apa yang kita lakukan dengan tubuh/fisik kita, melainkan juga menyangkut dengan apa yang kita lakukan dengan pikiran-pikiran kita, perasaan-perasaan kita dan hati kita. Kekuatan untuk menciptakan, menjaga/memelihara atau merusak suatu relasi, semuanya ada dalam diri kita sendiri. Patut diingat bahwa ikatan spiritual dari perkawinan dapat dirusak dengan cara-cara lain di luar perzinahan. Ketidaksetiaan dimulai dari pikiran kita.

Saudari dan Saudari terkasih, marilah kita menanggapi panggilan Yesus kepada kemurnian. Ia sungguh mengasihi kita dan ingin agar kita semua berbahagia. Marilah kita bergegas menghadap hadirat Allah dan memohon kepada-Nya agar memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita. Hanya kasih-Nya saja yang dapat membuat kita puas lahir batin. Marilah kita menghadap Yesus dan memohon kepada-Nya agar kita dapat ikut ambil bagian dalam kasih-Nya sehingga hidup perkawinan kita dapat ditransformasikan secara lebih mendalam lagi ke dalam berbagai pencerminan kemurnian ilahi. Marilah kita membawa kasih murni Kristus kepada orang-orang lain selagi kita menemukan kebenaran siapa sebenarnya kita dalam Dia dan panggilan khusus yang telah diberikan-Nya kepada kita.

DOA: Bapa surgawi, tolonglah aku untuk menata dengan baik segala pemikiranku dan hasratku seturut martabatku dan panggilanku sebagai murid Kristus. Tolonglah aku untuk menjaga pikiranku agar tetap fokus pada-Mu dan untuk selalu menghormat pasangan hidupku, orang-orang di sekelilingku, dan diriku sendiri. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:27-32), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENYERANG SEGALA MACAM KEMUNAFIKAN” (bacaan tanggal 14-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-6-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Juni 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS