PERINTAH-NYA UNTUK MENGASIHI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Antonius dr Padua, Imam-Pujangga Gereja – Kamis, 13 Juni 2019)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Antonius dr Padua, Imam Pujangga Gereja

Aku berkata kepadamu: Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu ini jangan menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai habis. (Mat 5:20-26) 

Bacaan Pertama: 1Raj 18:41-46; Mazmur Tanggapan: Mzm 65:10-13

Bacaan Injil hari ini diambil dari “Khotbah di Bukit”. Di sini Yesus mengingatkan kita akan tugas kita untuk mengasihi sesama kita.

Ada kebutuhan besar akan kasih yang lebih lagi dalam dunia. Dalam zaman materialisme ada kecenderungan bagi kita masing-masing untuk memperoleh sebanyak-banyaknya dari kehidupan ini: uang, kenikmatan, kehormatan. Kita sudah begitu individualistis dalam berpikir, bersikap dan berperilaku. Kita sudah terlalu serakah dan tamak. Ini adalah halangan terbesar untuk terciptanya persatuan dan kesatuan umat Kristiani. Kita, orang Kristiani yang Katolik, mungkin saja percaya bahwa saudari-saudara kita Kristiani yang terpisah itu salah dalam iman-kepercayaan mereka, namun hal ini tidak boleh menjadi alasan bagi kita untuk tidak mengasihi mereka dengan kasih Kristiani. Kita harus mengasihi semua orang. Kristus wafat di kayu salib untuk semua orang, dan kita harus memiliki kemauan untuk pergi ke tengah-tengah dunia teristimewa dengan kebaikan, bukannya prasangka dan praduga negatif.

Kasih mempunyai banyak efek yang indah. Kasih meningkatkan energi kita untuk melakukan kebaikan. Kasih memberikan kekuatan kepada kita untuk mengatasi halangan-halangan yang merintangi kita, bahkan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang heroik. Kasih membuat kita penuh dengan sukacita, penuh kegembiraan sejati. Tidak ada apa dan/atau siapa pun yang dapat mengganggu atau membuat kita letih-lesu. Segalanya yang kita lakukan karena/demi kasih terasa ringan, karena kasih adalah kekuatan kita, sukacita kita dan damai-sejahtera kita.

Pada hari ini Yesus Kristus menekankan bahwa kita senantiasa harus berada dalam hubungan baik dengan sesama kita, dengan setiap orang. Apabila tidak, maka kita pun tidak dapat berada dalam hubungan baik dengan Allah, dan akibatnya adalah bahwa banyak kebaikan yang kita melakukan dapat menjadi sia-sia.

Marilah kita mengikuti Kristus seturut apa yang dikatakan-Nya kepada kita: “…… jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Mat 5:23-24).

Kesimpulannya di sini adalah bahwa kasih di mata Allah lebih penting daripada doa. Tanpa kasih tidak ada doa yang sejati. Santo Yohanes Penginjil menulis, “Jikalau seseorang berkata, ‘Aku mengasihi Allah,’ tetapi ia membenci saudara seimannya, maka ia adalah pendusta, karena siapa yang tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya. Inilah perintah yang kita terima dari Dia: Siapa yang mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudara seimannya” (1Yoh 4:20-21). 

Santo Antonius dari Padua [1195-1231]. Pada hari ini tanggal 13 Juni, Gereja memperingati dan keluarga besar Fransiskan merayakan pesta orang kudus ini yang lahir di Portugal dan meninggal dunia di dekat Padua, Italia. Antonius (nama aslinya adalah Fernandez) adalah seorang anak laki-laki tunggal dari sebuah keluarga bangsawan kaya yang kemudian masuk biara Agustinian di Lisboa dan belajar di Universitas di Coimbra. Sebagai seorang imam Agustinian dia sempat berkenalan dengan beberapa orang Saudara Dina (Fransiskan) yang kemudian menjadi proto-martir Ordo Fransiskan. Mereka mati dibunuh di tangan orang-orang Muslim di Afrika. Menyaksikan semua itu, romo muda itu kemudian bergabung dengan Ordo Saudara Dina yang belum lama didirikan oleh Fransiskus dari Assisi. Niatnya untuk menjadi martir Kristus di Afrika tidak kesampaian karena ternyata kehendak Allah memang lain. Perbedaan antara dirinya dengan sang pendiri ordo, adalah bahwa romo muda ini terdidik dan memang pandai. Bahkan, Fransiskus menyapanya sebagai “Uskup-ku”. Kesamaan yang jelas-nyata antara kedua pribadi orang kudus ini adalah ketaatan mereka pada kehendak Allah dan kasih mereka yang mendalam kepada Allah dan sesama. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal “kebosanan” dalam mengikuti jejak Kristus. Banyak sekali mukjizat dibuat Santo Antonius dari Padua selama masa hidupnya, demikian pula setelah kematiannya. Tidak jarang orang banyak lebih mengenal Santo Antonius dari Padua daripada Bapak Rohaninya sendiri, Santo Fransiskus dari Assisi. Seperti Yesus, Antonius meninggal dunia dalam usia muda. Dia dinyatakan kudus oleh Gereja hanya satu tahun setelah wafat-Nya. 

DOA: Tuhan Yesus, kami mengakui desakan-Mu agar kami menerima “kasih” sebagai perintah-Mu yang besar dan agung. Kami mohon rahmat-Mu agar kami dapat sungguh menghayatinya dalam kehidupan kami. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:20-26),  bacalah tulisan yang berjudul “SALAH SATU PERINTAH YESUS KRISTUS YANG KERAS” (bacaan tanggal 13-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-6-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  11 Juni 2019 [Peringatan S. Barnabas, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS