Archive for June, 2019

MENGIKUT JEJAK KRISTUS

MENGIKUTI JEJAK KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Senin, 1 Juli 2019)

Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang. Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya, “Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”

Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku. Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.” (Mat 8:18-22) 

Bacaan Pertama: Kej 18:16-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8-11

Sekilas lintas perikop ini seakan “salah tempat” dalam Injil Matius bab 8 yang berisikan serangkaian mukjizat Yesus. Setelah selesai bercerita mengenai penyembuhan ibu mertua Petrus dan banyak mukjizat lainnya (Mat 8:14-17) dan sebelum menarasikan serangkaian mukjizat lagi (Mat 8:23-9:8), maka seperti “sandwich”, Matius menyelipkan dua sabda Yesus mengenai “komitmen” dan “kemuridan” yang sangat penting untuk dihayati. Mengapa Matius menyelipkan ajaran Yesus yang keras ini di tengah-tengah cerita-cerita mengenai mukjizat-mukjizat Yesus?

Ada pakar Kitab Suci yang berpandangan bahwa Matius menyelipkan bagian ini (Mat 8:18-22) karena dia sedang memikirkan Yesus sebagai “Hamba YHWH yang menderita”. Matius baru saja memetik Yes 53:4, “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita” (Mat 8:17), maka wajarlah apabila gambaran itu memimpin pemikiran Matius pada gambaran Anak Manusia yang tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Mat 8:20). Kehidupan Yesus di dunia di mulai dalam kandang hewan pinjaman dan berakhir dalam makam pinjaman pula (Plummer, dalam William Barclay, THE DAILY STUDY BIBLE: The Gospel of Matthew – Volume 1, Chapters 1-10, Edinburgh: The Saint Andrew Press, p. 311).  Jadi “teori” ini mengatakan, bahwa Matius menyelipkan bacaan sebanyak lima ayat ini karena bacaan ini dan ayat-ayat sebelumnya menunjukkan Yesus sebagai Hamba YHWH yang menderita.

“Teori” ini bisa saja benar, namun William Barclay berpendapat lebih berkemungkinanlah apabila penyelipan ini terjadi karena Matius melihat adanya satu mukjizat dalam perikop ini. Yang ingin mengikut Yesus dalam kisah ini adalah seorang ahli Taurat, dan ia menyapa Yesus dengan gelar kehormatan tertinggi, yaitu “Guru” (Yunani: didaskalos; Ibrani: Rabbi). Menurut pandangan si ahli Taurat, Yesus adalah guru terbesar yang pernah dilihatnya, dan ajaran-Nya adalah yang paling  berkesan ketimbang ajaran-ajaran yang pernah didengarkannya. Sungguh sebuah “mukjizat” apabila seorang ahli Taurat memberikan gelar “Guru” kepada Yesus, dan ia sendiri ingin menjadi pengikut sang Guru! Yesus dan ajaran-ajaran-Nya sangat menentang “legalisme” sempit di atas mana dibangun agama yang murni berdasarkan Hukum Taurat. Jadi, ajaran Yesus sangat bertentangan dengan pandangan umum yang ada di kalangan para ahli Taurat. Dengan demikian sungguh sebuah mukjizat-lah apabila seorang ahli Taurat datang kepada Yesus dan melihat ada sesuatu yang indah dalam diri-Nya dan ajaran-ajaran-Nya. Kiranya ini adalah mukjizat berkaitan dengan dampak personalitas Yesus Kristus atas orang-orang lain.

Berikut inilah ceritanya! Seorang ahli Taurat dengan begitu meyakinkan mengatakan bahwa dia akan mengikut Yesus kemana saja Dia pergi. Tentu dalam hati banyak orang yang ada di situ berharap bahwa Yesus akan mempergunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Akhirnya, Dia akan mempunyai seorang murid yang dapat dijadikan “asisten” yang handal, …… ahli Taurat gitu lho! Sedikitnya dapat meningkatkan “pamor” kolese para murid di mata khalayak ramai. Bukankah para murid-Nya yang awal baru terdiri dari beberapa orang nelayan saja: Simon Petrus, Andreas, Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya?

Namun hal sebaliknyalah yang terjadi. Jawaban Yesus sungguh mengejutkan kita semua. Seakan-akan Yesus berkata, “Sebelum mengikut Aku – pikir dulu apa yang engkau lakukan. Sebelum engkau mengikut Aku, hitunglah dulu ‘biaya’-nya!” Yesus tidak ingin orang mengikuti jejak-Nya karena emosi-sesaat (misalnya karena terbenam dalam “Tabor experience” untuk beberapa saat lamanya. Yesus menginginkan seorang murid atau pengikut yang sungguh menyadari apa  yang dilakukannya. Dalam kitab Injil yang sama tercatat Yesus pernah bersabda: “Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:38; bdk. Mat 16:24; Mrk 8:34;Luk 9:23).

Juga ternyata menjadi murid Yesus tidak hanya berarti mempunyai pikiran dan ide-ide yang sama dengan Dia, tetapi menuntut suatu penyerahan diri yang mutlak. Siapa saja yang mempunyai keinginan untuk masuk ke dalam lingkungan akrab sebagai murid-murid-Nya harus menjadi milik Yesus Kristus, jadi harus membuang segala sesuatu yang bukan Yesus Kristus. Seorang murid Yesus hanya boleh mempertahankan apa yang diketahuinya seturut kehendak Yesus …… kepasrahan diri yang sempurna.

Rubah mempunyai liang tempat tinggal. Apabila ada bahaya, rubah itu dapat melarikan diri ke dalam liangnya. Bilamana udara dingin, liang adalah tempat untuk menghangatkan tubuhnya. Burung mempunyai sarang, tempat mereka beristirahat. Akan tetapi Anak Manusia tidak mempunyai apa-apa untuk meletakkan kepala-Nya. Dia tidak mempunyai rumah, tidak mempunyai tempat berlindung yang aman. Sesungguhnya hidup Anak Manusia tidak tetap dan tidak mempunyai kepastian. Demikian pulalah seharusnya kehidupan para murid-Nya. Menjadi murid Yesus Kristus berarti meninggalkan kepastian, maka merupakan gambaran kehidupan umat Kristiani sepanjang masa. Yesus memperingatkan bahwa kehidupan kita di dunia ini hanyalah merupakan “jalan seberangan” saja, yaitu bertentangan dengan segala keterlekatan pada hal-hal duniawi, segala keinginan untuk tetap tinggal di dunia ini serta tak ingin maju lebih lanjut. Hidup di dunia berarti mengalir terus dalam arus yang tak henti-hentinya menderas menuju samudera keabadian (Richard Gutzwiller, RENUNGAN TENTANG MATEUS I, Ende, Flores: 1968, hal.136-138).

Sekarang, marilah kita soroti seorang pribadi yang lain. Yang menjadi penghalang bagi orang ini bukanlah keterlekatannya pada hal-hal duniawi, melainkan keterlekatan pada keluarganya. Permintaannya kepada Yesus nampaknya wajar karena merupakan kewajiban terhadap orangtua; apalagi kalau kita memahami bahwa mengurus penguburan orangtua merupakan tugas suci dalam Yudaisme. Tetapi dalam kasus ini permohonan si murid berhadap-hadapan dengan tuntutan Yesus sendiri yang tidak dapat ditawar, bahwa Injil, mengikut Yesus, harus ditempatkan di atas segala sesuatu. Yesus adalah the way of life; yang kurang dari itu sama saja bergabung dengan orang mati. Di sini Yesus mengajukan tuntutan-Nya yang ilahi dan segala tuntutan manusia haruslah menyisih …… mengalah! Apabila suara panggilan Allah diarahkan kepada seseorang, maka dia hanya boleh mengarahkan perhatiannya kepada Allah saja dan tidak boleh menoleh ke belakang lagi. Allah yang hidup sedemikian agungnya, sehingga kalau dibandingkan dengan Dia, segala sesuatu tampak bagi mati dan tak berarti sama sekali.

Juga di sini yang menentukan adalah pandangan akan yang kekal-abadi, sebab dalam hidup kekal tak ada hubungan perkawinan. Mereka tidak kawin, tidak pula dikawinkan (lihat Mat 22:30). Dengan demikian hubungan manusiawi dari hubungan cinta yang duniawi belaka, akan lenyap juga. Oleh karena itu, bagi para murid Yesus hubungan tadi sudah harus ditiadakan. Tempat seorang murid Yesus bukan lagi dalam lingkup keluarga yang kecil, sebab dirinya telah ditarik ke dalam pengabdian dalam Keluarga Allah yang besar, yang terdiri dari orang-orang yang sudah ditebus. Sebagaimana Yesus meninggalkan Nazaret untuk berada dalam perkara-perkara Bapa-Nya, demikian pula para murid Yesus harus meninggalkan Nazaret (zona kenyamanan) hidup kekeluargaannya, untuk menemukan hubungan kekeluargaan dalam Allah.

Mengikuti Yesus Kristus bukanlah merupakan sebagian saja dari kehidupan kita, melainkan suatu totalitas, meliputi seluruh hidup kita, jadi merupakan penyerahan diri secara sempurna. Penyerahan diri sempurna ini merupakan jawaban satu-satunya yang mungkin terhadap panggilan istimewa Allah.

Kedua sabda Yesus dalam bacaan Injil di atas merupakan tuntutan dan jelas bernada “perintah”. Di satu pihak karena Yesus memang sesungguhnya Tuhan, satu-satunya Pribadi yang dapat meminta hal yang sedemikian dan juga benar- benar menuntutnya. Dia menguasai manusia sebagai milik-Nya. Di sisi lain tuntutan-Nya bersifat menentukan sekali karena Dia tahu betapa berat bagi manusia untuk melepaskan diri dari segala sesuatu. Oleh karena itu bagi manusia merupakan suatu keringanan apabila tali pengikat diputuskan samasekali oleh tuntutan yang radikal itu. Si murid harus membongkar jembatan yang dilaluinya serta membakar perahu yang telah ditumpanginya, agar pada saat-saat kelemahan ia tidak kembali lagi. Yesus Kristus menghendaki penyelesaian yang nyata dan jelas-tegas.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepada kami keikhlasan untuk sungguh-sungguh mengikut Engkau, ke mana pun Engkau akan memimpin kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “BAGAIMANA KITA DAPAT MENJADI SEBUAH TEMPAT TINGGAL YANG COCOK BAGI TUHAN?” (bacaan tanggal 1-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-7-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 Juni 2019 [HR HATI YESUS YANG MAHAKUDUS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

YESUS MENGARAHKAN PANDANGAN-NYA KE YERUSALEM

YESUS MENGARAHKAN PANDANGAN-NYA KE YERUSALEM

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XIII [Tahun C] – 30 Juni 2019)

Ketika hampir tiba waktunya Yesus diangkat ke surga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata, “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Akan tetapi, Ia berpaling dan menegur mereka. Lalu mereka pergi ke desa yang lain.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seseorang di tengah jalan kepada Yesus, “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Lalu Ia berkata kepada seorang yang lain, “Ikutlah Aku!”  Tetapi orang itu berkata, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapakku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” Lalu seorang yang lain lagi berkata, “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” (Luk 9:51-62) 

Bacaan Pertama: 1Raj 19:16b,19-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-11; Bacaan Kedua: Gal 5:1,13-18 

Lukas menggunakan perjalanan Yesus ke Yerusalem untuk mengajar kita tentang jalan Kekristenan. Perjalanan itu merupakan sebuah rute menuju kemuliaan, baik bagi Yesus (yang akan dijemput oleh Bapa-Nya) dan  bagi Gereja yang akan mengikut-Nya. Sejak semula Allah senantiasa berniat agar umat-Nya berpartisipasi dalam kehidupan-Nya sendiri dan dalam kemuliaan surgawi (Ibr 2:10; Yoh 17:22-23). Inilah yang ada dalam pikiran-Nya bagi kita sebagai tujuan dan puncak kehidupan kita.

Manakala kita merenungkan perjalanan Yesus ke Yerusalem, maka kita harus mengingat kemuliaan semua hal yang telah terjadi di sana: Sengsara dan kematian-Nya yang menyatakan kasih-Nya yang sempurna kepada Bapa dan bagi kita, umat-Nya; kebangkitan-Nya dari antara orang mati dan sejumlah penampakan yang menyusul kebangkitan-Nya tersebut; dan kenaikan-Nya ke surga dalam kemuliaan di sebelah kanan Bapa-Nya. Waktu-Nya di Yerusalem yang sudah mendekat adalah waktu untuk pemenuhan rencana Allah demi menyelamatkan umat-Nya dan membawa mereka ke hadirat-Nya yang mulia.

Yesus mengarahkan pandangan-Nya dengan ketetapan hati untuk menyelesaikan perjalanan ini, meskipun hal tersebut mencakup juga penolakan dan penderitaan sengsara. Pada waktu orang-orang Samaria menolak Dia, Yesus tidak membiarkan diri-Nya terbawa kemarahan sehingga dapat menyimpang dari tujuan-Nya yang pokok dan utama, walaupun dua orang murid terdekat-Nya, yaitu Yohanes dan Yakobus menjadi marah dan naik pitam. Kita dapat melihat di sini sebuah “model” bagi kehidupan kita sendiri yang penuh pencobaan dan kekecewaan. Akan tetapi Allah ingin agar kita memusatkan perhatian kita pada kemuliaan yang merupakan tujuan panggilan-Nya kepada kita, sehingga dalam setiap situasi kita dapat tetap bergerak dengan mantap menuju tempat tujuan kita yang mulia.

Perhatikanlah bagaimana Yesus mempraktekkan sendiri apa yang diajarkan-Nya! LEADERSHIP BY EXAMPLE !!! (Sebuah corak atau gaya kepemimpinan yang sangat langka di dunia). Dia telah mengajar para murid untuk mengasihi musuh-musuh mereka, untuk memberkati orang-orang yang mengutuk mereka, mendoakan orang-orang yang berbuat jahat kepada mereka, dan untuk memberi pipi yang lain apabila pipi yang satu ditampar (Luk 6:27-31). Dalam kasus ini, Yesus tidak memperkenankan murid-murid-Nya untuk melepaskan kemarahan mereka terhadap sebuah desa Samaria yang penduduknya tidak mau menerima Yesus dan rombongan-Nya. Memang kadang-kadang kita merasa frustrasi apabila orang-orang lain tidak setuju dengan kita, apabila  mereka menolak kebenaran Allah yang kita imani. Biarpun begitu, Yesus tidak ingin kita memakai kemarahan atau kekuatan kekerasan dalam mencoba “membujuk” orang-orang lain agar menerima Kabar Baik keselamatan yang kita wartakan. Sebagai murid-murid-Nya di abad ke-21 ini, kita pun harus meneladan Yesus yang berbicara kebenaran dalam kasih dan tidak pernah memaksa orang-orang yang tidak mau menerima pesan-Nya.

DOA: Roh Kudus, berikanlah kepada kami suatu visi tentang kemuliaan dari Allah bagi Gereja, dan tolonglah kami untuk mengikuti jejak Yesus Kristus dengan penuh ketetapan hati dan sukacita sejati. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:51-62), bacalah tulisan yang berjudul “MENGIKUTI YESUS KRISTUS ITU SAMA SEKALI TIDAK MUDAH” (bacaan tanggal 30-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 Juni 2019 [HR HATI YESUS YANG MAHAKUDUS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARILAH KITA TETAP FOKUS PADA KASIH YESUS

MARILAH KITA TETAP FOKUS PADA KASIH YESUS

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI RAYA S. PETRUS DAN S. PAULUS, RASUL – Sabtu, 29 Juni 2019)

Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya. 

… tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya. Dengan demikian aku lepas dari mulut singa. (2Tim 4:6-8,17-18) 

Bacaan Pertama: Kis 12:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9; Bacaan Injil: Mat 16:13-19

Allah memberikan kepada kita para kudus untuk mendorong kita, menyemangati kita! Selagi kita memperhatikan contoh bagaimana mereka melayani Yesus dan umat-Nya, maka hati kita pun digerakkan (oleh Roh Kudus) untuk meneladan para kudus itu. Namun demikian, kita harus senantiasa menghindarkan diri dari kesalahan bersikap seakan para kudus tersebut adalah “supermen”. Seorang kudus bukanlah seorang “superman”, karena pada kenyataannya mereka tidak berbeda dengan kita. Mereka adalah para perempuan dan laki-laki, yang dalam saat-saat kritis kehidupan mereka (katakanlah ketika mengalami “diskontinuitas” dalam jalan kehidupan mereka), berpaling kepada Allah dan menerima rahmat-Nya. Dengan demikian dimungkinkanlah bagi setiap dan masing-masing kita untuk melakukan hal yang sama.

Petrus dan Paulus adalah contoh-contoh yang indah tentang kemampuan Allah mengambil pribadi-pribadi yang memiliki berbagai kelemahan atau sisi negatif, dan kemudian membalikkan mereka menjadi saksi-saksi Injil yang penuh kuat-kuasa. Tidak ada seorang pun dari mereka berdua mencapai hasil pekerjaan begitu mengagumkan hanya karena kerja-keras, kreativitas dan kemampuan-kemampuan administratif yang unggul. Sebagai akibat dari campur tangan Allah dalam kehidupan mereka, mereka pun disadarkan akan adanya kebutuhan akan diri-Nya dan tertangkap oleh kasih-Nya – cinta kasih yang paling mendesak yang akan pernah dikenal oleh dunia.

Paulus adalah seorang laki-laki brilian yang unggul dalam segala sesuatu yang dilakukannya (lihat Flp 3:4-6). Akan tetapi, melalui situasi-situasi yang dihadapi-Nya dalam kehidupannya, Allah membawa Paulus ke suatu titik di mana dia tidak menginginkan apa-apa lagi selain menjadi seperti Yesus. Petrus juga adalah seorang laki-laki yahg penuh dengan gairah. Ia sangat mengasihi Yesus, namun ia condong untuk menaruh kepercayaan pada hikmat-kebijaksanaannya sendiri. Yesus memperkenankan Petrus untuk melihat keadaan riil dari hati-Nya, dan akibatnya bukanlah keputusasaan, melainkan suatu pengalaman akan kasih dan kerahiman dari seorang Juruselamat yang tidak akan meninggalkannya. Hal ini membawa Petrus kepada cinta kasih kepada Yesus yang semakin besar.

Kita semua dipanggil untuk menjadi para kudus, masing-masing dengan cara kita sendiri. Namun ini hanya akan terjadi apabila kita memperkenankan Yesus untuk membentuk kita. Selagi kita memperkenankan tangan Yesus yang lemah-lembut dan penuh kasih itu memecahkan “benteng bagian luar diri kita yang berwujud kemandirian dalam sikap dan perilaku, maka kita pun berubah menjadi seperti parfum yang mewangi ke segala penjuru, menyegarkan kembali keluarga kita, paroki-paroki kita, lingkungan tempat tinggal kita, tempat kerja kita, dan semua orang yang datang untuk berkontak dengan kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengabdikan hidupku bagi-Mu. Buatlah aku seorang kudus sebagaimana yang Engkau sendiri inginkan dari diriku. Tolonglah aku untuk tetap fokus pada kasih-Mu and bukan pada sukacita dan kesedihan kehidupan ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 12:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “BEBERAPA CATATAN TENTANG S. PETRUS DAN S. PAULUS” (bacaan tanggal 29-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA   http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-6-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Juni 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KARENA CINTA

KARENA CINTA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS [TAHUN C] – Jumat, 28 Juni 2019)

FSGM: Pelindung Utama Tarekat

SCJ: Pesta Nama Tarekat

Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dombaku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.” (Luk 15:3-7) 

Bacaan Pertama: Yeh 34:11-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6; Bacaan Kedua: Rm 5:5b-11 

Pada Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus ini, kita disuguhkan dengan sebuah perumpamaan Yesus, yaitu “Perumpamaan tentang Domba yang Hilang”.  Dari perumpamaan ini diharapkan kita dapat merasakan bagaimana kiranya Hati Yesus itu, …… penuh cintakasih dan belas kasihan.

Bayangkanlah bahwa ada seorang ayah baru saja pulang ke rumahnya di sebuah desa yang terpencil. Pada saat dia pulang, rumah itu sedang terbakar dan tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil terjebak di dalam rumah. Para tetangga yang tidak banyak jumlahnya itu, mengatakan bahwa sudah tidak ada harapan untuk menyelamatkan anak-anaknya. Namun demikian sang bapak keluarga ini – tanpa ragu-ragu – langsung masuk ke dalam kobaran api dan mencari anak-anaknya dari ruangan yang satu ke ruangan yang lain. Satu persatu berhasil diselamatkan olehnya.

Mengapa seseorang melakukan tindakan yang terasa begitu mengabaikan kehati-hatian, tanpa hitung-hitung, malah sembrono, seperti ditunjukkan oleh sang ayah dari tiga orang anak itu? Jawabnya cukup sederhana: Karena cinta! Cintakasih mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal yang tak terbayangkan. Cintakasih melindungi; cintakasih bertekun! Cintakasih berarti menanggung risiko ditolak, bahkan cidera pribadi juga, demi kebaikan orang-orang yang kita cintai. Dalam perumpamaan di atas, Yesus menunjukkan bagaimana Bapa surgawi berupaya secara luarbiasa untuk mencari dan menyelamatkan mereka yang hilang. Allah sampai mengutus Putera-Nya yang tunggal ke dunia (lihat Yoh 3:16-17) bahkan sampai menemui ajal di kayu salib. Semua ini agar manusia kembali ke rumah-Nya.

Bagaimana kalau salah seorang anak yang kita cintai mulai menyeleweng dari iman Kristiani? Dalam hal ini, bayangkanlah dia sebagai seekor domba yang hilang. Bapa surgawi tahu bahwa anak itu “hilang”. Maka Dia pun langsung mencari anak yang hilang itu, tanpa hitung-hitung. Seperti sang ayah yang menerobos sebuah rumah yang sedang terbakar hebat, Allah atau Yesus pun tidak akan berhenti untuk mencari pribadi-pribadi yang kita cintai dan membawa mereka ke tempat yang aman. Sementara itu yang dapat kita lakukan adalah berdoa, berdoa dan berdoa. Sedapat mungkin, jadilah Yesus bagi dia. Bersahabatlah dengan dia, menjadi “telinga yang mendengarkan” baginya, dan berilah dorongan-dorongan positif kepadanya, kasihilah mereka tanpa reserve.

Bayangkanlah dia ditemukan oleh Bapa surgawi. Bayangkan juga pesta penuh sukacita yang diadakan di surgawi kalau mereka kembali kepada hidup iman semula. Santa Monika berdoa untuk anaknya, Augustinus, bertahun-tahun lamanya. Saya pun dapat merasakan bagaimana ibuku untuk bertahun-tahun lamanya tanpa banyak omong berdoa rosario (dan doa-doa lain) bagi diri dan keluarga saya ketika saya  cukup lama tidak ke gereja dan agama (Ilah) saya pada waktu itu adalah kerja dan karir belaka. Santa Monika dan ibuku tidak pernah kehilangan harapan. Mereka terus berdoa untuk anak-anak mereka masing-masing sampai Yesus membawa mereka pulang.

DOA: Tuhan Yesus, pada hari ini aku membawa ke hadapan-Mu orang-orang ini yang telah “hilang”. [Sebutkanlah nama-nama orang yang kita kasihi secara spesifik]. Tuhan, meskipun aku tidak dapat melihat bagaimana Engkau akan berkarya dalam kehidupan orang-orang ini, aku tetap percaya bahwa Engkau mendengarkan doa-doaku dan akan menjawab doa-doa itu. Aku membayangkan orang-orang yang kukasihi ini duduk dalam meja perjamuan-Mu di surga, dan aku berjanji untuk mengasihi dan menjaga mereka sampai mereka kembali pulang kepada-Mu. Tuhan Yesus, jadikanlah hatiku seperti hati-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Mazmur Tanggapan (Mzm 23), bacalah tulisan yang berjudul “TUHAN YESUS ADALAH GEMBALA KITA” (bacaan tanggal 28-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 25 Juni 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENARUH KEPERCAYAAN KEPADA YESUS TANPA RESERVE

MENARUH KEPERCAYAAN KEPADA YESUS TANPA RESERVE

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Kamis, 27 Juni 2019)

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. Pada hari terakhir banyak orang akan  berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!

Jadi, setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.

Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka. (Mat 7:21-29) 

Bacaan Pertama: Kej 16:1-12,15-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:1-5

Yesus mengakhiri “Khotbah di Bukit”-Nya dengan memberi petuah-petuah kepada para pendengar-Nya agar mereka mencari fondasi yang layak untuk membangun kehidupan mereka. Yesus mengilustrasikan konsekuensi-konsekuensi dari pilihan-pilihan baik atau buruk dengan menceritakan sebuah perumpamaan tentang dua orang yang masing-masing mendirikan rumah. Orang yang bodoh membangun rumahnya di atas pasir, sedangkan yang bijaksana mendirikan rumahnya di atas batu. Pada waktu hujan lebat turun dan datang lah banjir, dengan mudah kita dapat mengira-ngira rumah mana yang survive, yang mampu tetap berdiri, dan rumah mana yang runtuh berkeping-keping. Pesan Yesus jelas: Apabila kamu mendirikan kehidupanmu di atas suatu fondasi berupa asap atau udara, maka bangunanmu akan runtuh.

Yesus sendiri adalah kekal, Sabda Allah yang hidup (Yoh 1:1). Ia adalah sang Sabda yang telah diucapkan oleh Allah sejak awal waktu. Dia adalah “gunung batu yang kekal” (Yes 26:4). Santo Paulus menulis kepada jemaat di Korintus: “Sesuai dengan anugerah Allah, yang diberikan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang terampil telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus” (1Kor 3:10-11). Setiap hal yang ilahi, dan setiap hal yang dihasrati Allah, menjadi masuk akal dalam terang Yesus dan kasih-Nya. Oleh karena itu, apabila kita ingin mengetahui bagaimana caranya membangun kehidupan kita, maka kita tidak dapat melakukannya secara lebih baik selain mengambil waktu bersama Yesus dan menjadi mengenal Dia secara intim.

Itulah sebabnya sangat penting bagi kita untuk menyediakan waktu yang teratur setiap hari untuk membaca dan merenungkan sabda Allah di dalam Kitab Suci – teristimewa kitab-kitab Injil yang adalah “jantung hati” segenap Kitab Suci (lihat “Katekismus Gereja Katolik, 125). Di dalam kitab-kitab Injil ini kita berjumpa dengan Yesus, “sang Sabda yang menjadi daging” (Yoh 1:14). Dalam kitab-kitab Injil inilah Yesus dapat berbicara secara paling langsung kepada hati kita. Dibimbing oleh Roh Kudus selagi kita membaca Kitab Suci, teristimewa kitab-kitab Injil, kurun waktu berabad-abad yang memisahkan kita dengan Yesus dari Nazaret seakan dikompres sampai kita bertemu dengan-Nya secara muka ketemu muka dalam suasana doa.

Kitab Suci jauh lebih luas daripada sekadar kumpulan potongan-potongan informasi. Kitab Suci tidak hanya mengajar kehendak Allah, melainkan juga memberdayakan kita untuk mengikuti jejak Yesus Kristus. Dalam mengikuti jejak-Nya kita akan mengenal dan mengalami kebahagiaan sejati dan pemenuhan hasrat-hasrat kita yang terdalam. Dengan mengenal Yesus secara pribadi dan menyerupakan kehidupan kita dengan kehendak-Nya, kita menjadi seperti orang yang bijaksana yang membangun suatu fondasi yang kokoh. Apapun yang menghalangi jalan kita kita, fondasi ini cukup kuat untuk menangani segala halangan yang menghadang kita. Marilah kita menaruh kepercayaan kepada Yesus, tanpa reserve.  

DOA: Yesus, Putera Bapa, nyatakanlah diri-Mu kepadaku melalui sabda-Mu. Aku ingin mengenal-Mu dan mengasihi-Mu lebih lagi agar dengan demikian aku dapat membangun kehidupanku di atas fondasi kokoh, yang adalah Engkau sendiri. Aku menaruh kepercayaan kepada-Mu tanpa reserve, ya Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan:  Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:21-29), bacalah tulisan yang berjudul “SEMBILAN AYAT TERAKHIR DARI KHOTBAH DI BUKIT” (bacaan tanggal 27-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-6-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Juni 2019 [HR KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SETIAP POHON YANG BAIK MENGHASILKAN BUAH YANG BAIK

SETIAP POHON YANG BAIK MENGHASILKAN BUAH YANG BAIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Rabu, 26 Juni 2019)

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang baik. Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi, dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. (Mat 7:15-20) 

Bacaan Pertama: Kej 15:1-12,17-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9

Siapa sih yang tidak ingin mampu memberikan segalanya kepada Allah sebagai tanda terima kasih penuh syukur untuk segala hal yang dilakukan-Nya bagi kita? Akan tetapi, apabila kita memeriksa hidup kita, kita temukan dalam diri kita kelemahan-kelemahan karakter, pola-pola dosa, ketidakmampuan untuk mengasihi seperti Tuhan mengasihi. Bilamana kita membaca kata-kata dalam Kitab Suci seperti ini,  “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Mat 7:16), maka mudah bagi kita untuk menjadi ciut-hati atau  berketetapan hati untuk mencoba lebih keras lagi guna menjadi seorang pribadi yang lebih baik. Akan tetapi, kedua pendekatan itu tidak membantu.

Yesus menawarkan sebuah jalan yang lebih baik ketika Dia berkata: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa”  (Yoh 15:5). Hidup yang penuh kasih dan penuh kemurahan hati tidak datang sekadar dari upaya untuk mencoba lebih keras lagi namun mengalir dari relasi kita dengan Yesus dan keterbukaan kita terhadap karya Roh Kudus. Kita menghasilkan buah ilahi, artinya kita mencerminkan karakter Allah apabila kita bertumpu pada fondasi yang adalah Putera-Nya, Yesus Kristus. Kita menghasilkan buah Roh (Gal 5:22,23) jika kita memberikan ruangan untuk Roh Kudus membangun hidup-Nya dalam diri kita.

Kita tidak dapat membereskan kelemahan-kelemahan kita atau menghasilkan buah-buah kehidupan Allah berdasarkan kekuatan kita sendiri. Apabila kita melihat kelemahan-kelemahan dalam diri kita, maka pertama-tama baiklah kita pergi menghadap Tuhan yang tinggal dalam kita melalui pembaptisan dan memohon kepada-Nya agar kita berakar lebih dalam lagi dalam Dia. Hanya Dia yang berurusan dengan segala dosa dan kelemahan dengan mencurahkan darah-Nya dapat berurusan dengan dosa-dosa dan kelemahan-kelemahan kita. Hanya salib Kristus yang dapat menjadi senjata ampuh untuk mengatasi kegelapan hati kita. Tentu kita harus taat kepada Allah dan mengatakan “tidak” kepada kecenderungan kita untuk berdosa. Kita harus senantiasa melawan berbagai dorongan batiniah yang bersifat negatif, namun kita harus belajar melakukan perlawanan ini dengan kuasa Allah, bukannya dengan menggunakan kekuatan sendiri.

Oleh karena itu, pada awal setiap hari, marilah kita menguduskan hidup kita kepada Allah, menyetujui pekerjaan-Nya dalam diri kita. Jika kita memperkenankan hidup Allah mengalir di dalam dan melalui diri kita, maka sikap-sikap dan tindakan-tindakan kita akan diarahkan kepada jalan yang benar. Lalu, melalui sutu persatuan yang intim dengan Tuhan, kita akan menghasilkan buah sesuai dengan panggilan-Nya kepada kita.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Aku datang kepada-Mu dengan tangan hampa dan penuh kerinduan untuk menerima hidup-Mu sendiri. Aku percaya bahwa Engkau ingin menjadi “pokok anggur” bagi diriku, memegang aku erat-erat, memberi asupan makanan kepadaku, memampukan aku untuk berbuah. Aku ingin berdiam dalam Engkau, karena Aku tahu tanpa Engkau aku tidak dapat berbuat apa-apa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “BUAH-BUAH YANG BAIK MENGANDAIKAN KEBERADAAN AKAR-AKAR YANG BAIK” (bacaan tanggal 26-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-6-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Juni 2019 [HR KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MANUSIA MENDAMBAKAN UNTUK DIPERLAKUKAN DENGAN PENUH KASIH

MANUSIA MENDAMBAKAN UNTUK DIPERLAKUKAN DENGAN PENUH KASIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Selasa, 25 Juni 2019)

“Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Masuklah melalui pintu yang sempit, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Mat 7:6,12-14) 

Bacaan Pertama: Kej 13:2,5-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 15:2-5

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Mat 7:12). Ayat ini dalam dunia manajemen dikenal sebagai THE GOLDEN RULE (bdk. Tob 4:15). Memang itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi, yang digenapi oleh Yesus Kristus lewat ajaran-Nya dan kehidupan-Nya sendiri.

Sekarang, siapakah dari kita yang tidak ingin diperlakukan dengan penuh kasih? Kita semua mendambakannya, teristimewa apabila perlakuan penuh kasih itu adalah dari Allah sendiri. Janji akan hidup dalam Roh adalah, apabila kita menghargai kasih Allah – menjaga saat-saat doa dan pembacaan Kitab Suci serta melakukan yang terbaik untuk mengikuti dorongan-dorongan Roh Kudus – maka Dia akan memberdayakan kita untuk melakukan hal-hal yang bahkan tidak mungkin dilakukan secara “normal”. Dengan demikian “pintu yang sempit” dan “jalan yang sesak” menjadi manageable, dan kita pun akan bergembira menghayati suatu kehidupan yang pada faktanya melawan gelombang dunia. Sepanjang zaman, menjadi murid Kristus adalah menjadi “tanda lawan”, yang tidak ikut-ikutan dengan “dunia”.

Apabila kita ingin mampu memperlakukan orang-orang lain dengan kasih sebagaimana kita sendiri dambakan, maka pertama-tama kita harus mengalami belas kasih Allah dan bela rasa-Nya. Kita perlu sekali mengetahui dan mengenal kasih-Nya yang intim bagi kita masing-masing, yaitu bahwa Dia adalah seorang Bapa penuh kasih, yang sungguh berbahagia untuk menyambut kita apabila kita datang menghadap hadirat-Nya. Selagi kita datang kepada-Nya, kita pun akan mengalami kasih-Nya yang dicurahkan oleh-Nya ke dalam hati kita melalui Roh Kudus-Nya. Pengalaman seperti inilah yang akan memberdayakan kita untuk mengasihi orang-orang di sekeliling kita.

Selagi kita berjalan dengan kasih Allah, maka kasih-Nya itu akan mengalir deras melalui diri kita kepada orang-orang lain. Semakin kita mengenal dan menghargai kasih-Nya, semakin besar pula dorongan yang kita rasakan untuk berbagi kasih-Nya itu dengan siapa saja yang kita temui. Kita akan digerakkan oleh Roh Kudus untuk melakukan tindakan-tindakan kebaikan. Tindakan-tindakan itu tidak perlu mengambil rupa tindakan-tindakan yang spektakular, misalnya “tindakan-tindakan kecil” seperti menjaga dan memelihara seorang anak tetangga, yang ibunya sedang sakit, atau berdoa dengan seorang teman yang kesepian dan baru saja disakiti hatinya; akan tetapi kita harus mencari Tuhan dengan segenap hati kita sehingga Dia dapat menggerakkan kita untuk mengasihi orang lain.

Oleh karena itu, marilah kita mengasihi Tuhan Allah. Baiklah kita berhati-hati untuk tidak melakukan apa saja yang dapat membuat sedih Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita. Dengan pertolongan-Nya, kita dapat melakukan hal-hal yang sebelumnya kita pikir tidak mungkin dapat kita lakukan. “Jalan yang sempit” akan menjadi semakin menarik bagi kita, dan kita semakin mempunyai kerinduan untuk melakukan hal-hal yang akan menyenangkan Allah. Marilah sekarang kita memuji-muji Allah untuk semua cara berbeda-beda yang digunakan-Nya untuk menyatakan kasih-Nya kepada kita. Sementara kita semakin dekat kepada Allah dan memperkenankan-Nya menyatakan hati-Nya kepada kita, kita akan menyadari betapa penuh sukacita kita dalam mengikuti jalan kasih-Nya.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu yang Kaucurahkan ke dalam hati kami masing-masing. Oleh Roh Kudus-Mu ajarlah kami untuk mengikuti jejak Kristus lewat pintu yang sempit dan jalan yang penuh sesak. Penuhilah diri kami masing-masing dengan kasih-Mu sehingga, sebagai murid-murid Kristus yang setia, kami dapat menyalurkan kasih-Mu itu secara berlimpah kepada orang-orang di sekeliling kami. Jagalah diri kami agar selalu menyenangkan-Mu, ya Allah kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:6,12-14), bacalah tulisan yang berjudul “SEMPITLAH PINTU DAN SESAKLAH JALAN YANG MENUJU KEPADA KEHIDUPAN” (bacaan tanggal 25-6-19 dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-6-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Juni 2019 [HR KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS