TELAH MELIHAT YESUS BERARTI TELAH MELIHAT BAPA SURGAWI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Sabtu, 18 Mei 2019)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Feliks dr Cantalice, Biarawan Kapusin

“Sekiranya kamu mengenal aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat dia.” Kata Filipus kepada-Nya, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Kata Yesus kepadanya, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau bahwa aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya.

Percayalah kepada-Ku bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa pun yang kamu minta dalam nama-Ku, aku akan melakukannya, supaya Bapa dimuliakan di dalam anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” (Yoh 14:7-14) 

Bacaan Pertama: Kis 13:44-52; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4

Yesus mengatakan bahwa siapa saja yang melihat Dia, orang itu telah melihat Bapa. Tentunya hal itu merupakan kabar yang sangat baik bagi Filipus dan para rasul lainnya. Mereka dapat memandang Yesus dan melihat Allah sendiri. Akan tetapi, bagaimana halnya sekarang? Bagaimana orang-orang zaman sekarang dapat melihat Allah? Jawabnya: Dalam diri kita! Yesus hidup di dalam diri kita, yaitu para pengikut-Nya (para murid-Nya). Dengan demikian, apabila orang-orang melihat kita, seharusnya mereka  melihat Yesus dan Bapa.

Kebenaran yang sedemikian dapat membuat diri kita menjadi “keder”. Kita bertanya: Bagaimana kita dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh Yesus? Bagaimana saya dapat mengajar dengan penuh kuat-kuasa seperti ditunjukkan oleh Yesus? Namun kita lupa bahwa seringkali dalam hal-hal yang paling sederhanalah orang-orang dapat melihat Yesus dalam diri kita. Misalnya, kata-kata ramah yang diucapkan bibir kita, sebuah senyum persaudaraan, suatu isyarat bahasa tubuh kita yang menunjukkan sikap mendorong serta menyemangati, suatu tindakan kasih pada waktu orang membutuhkan bantuan, sebuah doa syafaat – pokoknya tindakan-tindakan kecil dapat memberi dampak yang lebih jauh daripada yang sering kita pikirkan atau bayangkan. Kalau saja secara sederhana kita mau menghayati suatu kehidupan Kristiani seperti dikehendaki oleh Yesus dan seturut panduan serta bimbingan Gereja, maka sesungguhnya kita dapat menyatakan Yesus dan Bapa kepada orang-orang lain.

Pada suatu ketika, seorang istri yang masih muda (serta ibunya) membawa suaminya dari Manhattan, New York City ke Italia, dengan harapan perubahan iklim akan membuat kondisi kesehatan sang suami menjadi semakin baik. Akan tetapi, tidak lama setelah kedatangan mereka di Italia, sang suami justru meninggal dunia. Sebagai seorang janda, perempuan muda ini berdiam di rumah sebuah keluarga sahabat. Dengan berjalannya waktu, kehidupan keluarga tempat mereka menumpang semakin terlihat olehnya. Suatu kehidupan yang mencerminkan kasih dan kebaikan hati Yesus melalui doa-doa mereka, hospitalitas, dan inter-aksi sehari-hari. Perempuan muda Amerika yang bernama Elizabeth Ann Seton ini begitu terkesan dengan kesaksian hidup yang ditunjukkan keluarga tersebut, sehingga dia memutuskan untuk menjadi Katolik ketika kembali ke Amerika Serikat. Pada tahun-tahun berikutnya, kesaksian hidup perempuan muda ini membawa perempuan-perempuan lain kepada Kristus. Bersama-sama mereka mendirikan sekolah Katolik yang pertama di Amerika Serikat. Semua ini gara-gara Elizabeth Ann Seton [1774-1821] melihat Yesus hidup dalam sebuah keluarga di Italia. Elizabeth Ann Seton dibeatifikasikan pada tanggal 17 Maret 1963 oleh Paus Yohanes XXIII, dan dikanonisasikan pada tanggal 14 September 1975 oleh Paus Paulus VI. Santa Elizabeth Ann Seton adalah Orang Kudus Gereja pertama kelahiran Amerika Serikat.

Kesaksian yang sederhana tentang kasih Kristiani dan kebaikan hati kepada orang-orang lain dapat begitu penuh kuat-kuasa! Ada saat-saat di mana mukjizat dan berbagai tanda heran berfungsi untuk menunjukkan kuasa Allah, dan Yesus dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan ajaib ini melalui kita juga. Namun demikian, hampir selalu ungkapan-ungkapan kasih dan kebaikan hati “biasa-biasa” saja yang justru memperkenankan orang-orang lain melihat Allah dalam diri kita. Dan apabila mereka melihat Allah, mereka melihat “seorang” Bapa yang sangat mengasihi mereka dengan kasih yang kekal-abadi.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau sudi hidup dalam diriku. Tolonglah aku agar mampu menunjukkan kehadiran-Mu kepada orang-orang lain dalam segala hal yang kulakukan dan kukatakan. Bekerjalah lewat diriku untuk menunjukkan kasih Allah kepada semua orang. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:7-14), bacalah tulisan yang berjudul “JANJI YESUS INI BERLAKU JUGA BAGI KITA SEMUA PARA MURID-NYA DI JAMAN NOW” (bacaan tanggal 18-5-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-05 BACAAN HARIAN MEI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-4-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Mei 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements